Lidah itu bermain- main di kedua p****g Ana bergantian disertai desahan-desahan Ana.
"Apakah nikmat..? Bagaimana dengan ini..." Goda si bandot tua, dikenyot-kenyotnya p****g d**a itu seperti sedang menyusu.
Membuat pandangan Ana nanar dipenuhi dengan birahi.
Ana meliuk-liukkan tubuhnya diatas perut buncit pria tua itu. Merangsang gairah bandot tua itu.
" Masukkan..." Pinta si bandot tua setelah merasa batang penisnya kembali tegak. Gairahnya menggebu ingin merasakan lobang Ana lagi.
Dengan senang hati Ana memposisikan dirinya diatas pangkal paha bandot tua itu.
Memposisikan batang itu perlahan memasuki liangnya yang sempit.
Membuat bandot tua itu mengerang keenakan. Matanya hanya bisa merem melek meluapkan rasa penuh kenikmatan.
"Aaahhhh..." Desah pria tua itu saat Ana mulai bergerak perlahan naik turun memberikan sensasi yang sangat nikmat pada batangnya di dalam liang itu.
Matanya yang penuh kabut birahi menatap nanar dan pasrah pada Ana yang gerakannya terus menggoda birahinya. Baru beberapa hentakan saja dirinya sudah tak dapat menahan pelepasannya.
"Oughh..." Erang pria tua itu disertai semburan lahar panasnya yang menetes dari lubang v****a Ana diatasnya. Kemudian batangnya terkulai lemah keluar dr liang itu. Napasnya ngos-ngosan tampak sangat kelelahan.
Ana menatap pria tua itu kecewa.
"Aku belum apa-apa lho.." desah Ana
Pria tua itu hanya memyeringai.
"maaf..umurku sudah tak muda lagi." Ujarnya sambil tersenyum bahagia. Baru kali ini sexnya benar-benar terpuaskan.
Dia senang Ana melayaninya tanpa rasa jijik. Awalnya dia pikir Ana enggan melayaninya. Karena umurnya yang tua dan tubuhnya yang gemuk dengan perut buncit membuat banyak wanita yang melayaninya dengan terpaksa.
" Kamu bergabung saja dengan yang lainnya. Aku sudah benar-benar tidak kuat lagi" ujar pria tua itu dengan suara lemah kelelahan.
Ana menatap sekeliling.. orang-orang di sekitarnya tampak sibuk dengan kegiatan pergumulan mereka masing-masing.
Kemanakah dia harus bergabung.. sedangkan melihat pergumulan mereka membuat pangkal paha Ana semakin berkedut meminta dipuaskan.
Saat ada suara jeritan seorang wanita yang telah mencapai puncaknya maka kesitulah Ana akan menempatkan dirinya.
Dihampirinya si pria yang tampak berumur sama dengan si bandot tua yang dilayaninya sebelumnya. Hanya saja perutnya tak setambun si bandot tua.
Orang itu masih menggenjot menghantam si wanita dibawahnya yang mendesah dan mengerang kesakitan. Suaranya yang pelan sepertinya sudah kelelahan serta lubangnya sudah terasa perih karena permaina si pria yang kasar.
Wanita itu tampaknya akan pingsan kelelahan dan kesakitan.
" Akulah lawanmu.." bisik Ana sambil menjilati daun kuping si pria untuk merangsangnya.
Si pria menggelinjang geli saat daun kupingnya dijilati Ana. Pancingan Ana berhasil. Fokus pria itu beralih pada dirinya.
"Wah-wah kamu berhasil menumbangkan bandot tua itu" ujarnya melihat si bandot tua terkulai lemah diatas sofanya.
" Giliranmu berikutnya" senyum Ana, merebahkan dirinya diatas sofa.
Kedua pahanya dibuka lebar siap menyambut. Jarinya membuka belahan vaginanya menantang.
"Kemarilah...." tantang Ana dengan tatapan lapar pada p***s pria itu.
Si pria tentu dengan senang hati menyambut tantangan Ana, batang penisnya segera diarahkan ke dalam lobang v****a Ana yang sudah siap menerimanya.
"Oughh.. sempitnya" desis pria itu, dengan kasar di desakkannya batang itu memasuki lubang sempit itu hingga pangkal penisnya.
Pria itu diam sejenak merasakan sensasi penisnya yang dijepit kuat oleh otot-otot lobang v****a Ana.
Kemudian perlahan ditariknya p***s itu membuat dia melenguh nikmat.
"Oughhhh... Astaga...enaknyaa...ahhh"
"Ash...aahh...masukkan lagi" erang Ana.
Permainan pria itu adalah permainan keras. Dia akan memasukkan dengan keras batang penisnya hingga pangkal kemudian menarik penisnya hingga keluar dari lubang dan memasukkannya lagi dan dikeluarkannya lagi. Sengaja menyiksa lawan mainnya.
Tapi tidak dengan Ana. Dia justru menikmati sensasi itu. Mulutnya terus mendesah-mendesah nikmat setiap benda itu keluar masuk. Sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri. Tangan satunya lagi mengocok-ngocok klitorisnya sendiri.
"Arrkkhh.." erang si pria akhirnya mulai mempercepat hentakannya. Bokongnya maju mundur menggempur dengan tempo kecepatan yang semakin laju.
Hingga akhirnya lahar panas menyembur bersama dengan hentakan terakhirnya yang keras dan erangan pelepasannya yang kuat.
Ana menggenggam batang p***s pria itu yang keluar dr liang vaginanya. Cairan m**i pria itu ikut keluar dr lubang vaginanya. kemudian mengurut-urut batang itu hingga kembali mengeras lagi dan memasukkan lagi kembali kedalam lubang miliknya.
" Lanjut.." seringai Ana masih dengan tatapan lapar akan birahi.
Pria itu tertawa senang, dia pun merasa belum puas. Pria itu pun kembali menggenjot Ana. Rasanya sangat nikmat di dalam liang Ana.
Rasanya tidak pernah ada rasa puas untuk mereguknya nikmatnya. Lubang itu selalu sempit dan nikmat. Pwmiliknya selalu merangsangnya untuk meminta lagi dan lagi. Hingga dia melenguh untuk kesekian kalinya mereguk nikmat. Dan menyemburkan laharnya.
Kali ini tubuhnya sudah tak sanggup. Dia roboh kelelahan dan menyerah.
Ana terus menggila. Butuh lebih dan lebih lagi.
Saat ada dua orang pria yang masih dengan stamina prima menggempur wanita yang tampak sudah kepayahan segera dihampirinya.
Kali ini dia menggandeng keduanya untuk menghadapinya sekaligus.