Part 5: Veron

1947 Words
Tiap orang pasti menginginkan seseorang yang istimewa bukan? Seseorang yang senantiasa ada buat dia, juga selalu menjadi teman kala dia terluka. Tak bisa di pungkiri, bahwa aku juga menginginkannya. Seseorang yang selalu ada untukku dikala aku ingin bercerita, mengeluhkan segala beban yang selalu ku tanggung sendirian. Seperti, yaa mungkin Veron. Dia tampan. Sering menjadi pusat perhatian. Tingkahnya yang lucu seringkali membuat semua orang tertawa. Dia adalah anak basket yang banyak di kenal oleh para perempuan. Nggak jarang anak perempuan menggodanya “Veron, aku mau dong jadi keringatnya kamu, biar bisa nempel terus,” atau “Veron, mau aku elapin nggak keringetnya,” lantas Veron hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang semakin membuat siapapun terpesona. Menyebalkan. Namun, jangan pernah berharap kepada Veron, sebab siapapun yang dengan berani mengungkapkan perasaan kepadanya, pasti akan mendapat sebuah penolakan. Sebab, hingga kini hanya ada satu orang yang berhasil memikat hatinya. Diantara mereka berlima, Veron memang yang paling peduli, dia juga yang paling bisa untuk mendekati orang lain. terbukti dari percakapanku dan dia di waktu orientasi sekolah, menjadi awal untuk cerita kita. Kalimatnya, seringkali terlampau menyebalkan untuk di dengar. Namun tanpa sadar, justru kalimat-kalimat itu yang lebih aku butuhkan daripada sebuah kata “sabar,”. Dia adalah temanku bercerita, serta mengeluh. Namun, seolah hafal dengan jawabannya, aku bahkan tak pernah bosan untuk bercerita kepadanya. Meskipun hanya di tanggapin dengan “udah jalanin aja, kan emang ini tugas jadi manusia,” sembari memegang pundakku, seolah menyalurkan kekuatan. Pernah juga aku mengatakan “Ron, gue nggak suka di bumi,” lantas dia menjawab “lo kan emang bukan orang bumi Sya, lo itu sebenernya lebih mirip alien, nggak cocok dibumi,” sebuah candaan yang sungguh menyebalkan bukan, namun tetap saja, membuatku menyunggingkan sedikit senyuman. Setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya seringkali membuatku merasa tenang. Seperti menikmati sebuah pemandangan senja yang terlukis di langit. Ya seperti itulah gambaran Veron, meneduhkan. Dibalik sifatnya yang menyebalkan, dia selalu memiliki cara untuk membuat tenang. Terlebih sikapnya kepadaku, nggak jarang teman-teman perempuanku mengatakan “Sya, tuker posisi yuk, gue juga pengen anjir di perhatiin sama cowok-cowok gitu” hadehh. Dia memang menyebalkan, namun kedatangannya dikelas membuat aku merasa bebas dan lebih terbuka. Nggak ada lagi Syara yang pemalu atau jutek. Bahkan aku nggak ragu buat ikut mereka ke kantin berlima. Ketika sebelumnya kantin adalah hal yang paling aku hindari, bersama merekalah kantin adalah tempatku nongkrong waktu jam kosong. Dekat dengan Veron membuatku merasakan masa indah sekolah. Veron sering mengacak kepalaku sambil tertawa. Dia juga pernah berdiri di belakangku, ketika di acara konser. Ketika suasana benar-benar ramai, dan aku benar-benar risih dengan keadaan itu, dia berdiri dibelakangku, seolah menjadi tameng agar yang lain lebih berjarak denganku. Aku sempat terbawa perasaan dengan perlakuannya yang begitu istimewa. Lalu apakah aku langsung memiliki kisah romansa ala-ala teenfict? Hm lucu. Saat itu, aku belum mengetahui kalau Veron begitu menyukai Naysilla, lantas membuatku sedikit terbawa perasaan akan perlakuannya. Bagian akhirnya, saat itu aku jalan dengan mereka berempat, dan Wavi mengambil foto kami. Nggaklama, Nay datang dengan beberapa temannya. Veron diam, memandang Nay dengan pandangan teduh, penuh cinta. Siapapun yang melihat, pasti mengetahui kala Veron menyimpan sebuah rasa suka. Kalau aja saat itu aku nggak mengendalikan diriku, mungkin aku akan menyiram kepala Veron dengan minuman yang ku bawa. Sebab, siapa sih perempuan yang nggak terbawa perasaan ketika ada seorang lawan jenis memberinya sebuah perhatian lebih?. “Suka sama dia?” kalimatku mengagetkannya, membuat Veron menatap kearahku. Dia hanya menatap, tanpa menjawab. “Kalau suka yang ungkapin Ron, nggak enak tau mendam perasaan diam-diam itu,” lanjutku, sembari tersenyum menatap kedepan. “Udah kok Sya, dianya nggak mau, katanya temenan aja,” jawab Veron. Aku terkekeh pelan. Ternyata, lelaki tampan seperti nya bisa juga ya menjadi sad boy. Aku tertawa dalam hati, entah menertawakan ke-sadboy-an Veron, atau menertawakan diriku sendiri yang pernah bernasib sama dengannya. Pagi itu, aku tengah melanjutkan membaca novel. Sembari menunggu bel masuk, aku duduk di taman belakang sekolah. Menyelami alam imajinasi untuk sebuah dunia yang fana. Nggak lama kemudian, terdengar beberapa orang sedang berdebat dengan Nay. Mungkin bisa disebut perundungan. Nggak begitu parah, hanya beradu mulut, namun terlihat jelas oleh mata kepalaku sendiri kalau Nay tengah terpojokkan. Aku hanya mengawasinya dari jauh, sebelum akhirnya, salah satu dari mereka hampir saja memukul Nay. Aku segera berlari, menepis lengannya serta melemparnya kasar. “Ini sekolah, tempat buat belajar bukan cari musuh,” kataku dengan sedikit jutek. “Siapa lo? Ngapain lo ikut campur urusan gue?” dia mendorongku, membuatku memundurkan langkah kebelakang. Aku menatapnya sebentar. Dengan wajah datar khas ku, aku membalas kalimatnya. “Pertama, gue nggak ada urusan sama lo, kedua, lo yang ganggu acara baca novel gue pagi ini, ketiga, Nay temennya Axel, lebih tepatnya pacar Veron, lo tau kan kalau gue ngomong ke mereka lo bakal habis, apalagi kalau Veron tau lo mau nampar Nay,” sembari menekankan kata pacar, aku menoleh kepada Nay sebentar, lantas, kembali menatap perempuan yang entahlah aku bahkan tidak mengetahui namanya. Perlahan, aku menatap badge namanya, “Rastia Annisa, gue tau lo suka sama Veron, tapi jangan berlebihan,” kataku padanya. “Suka boleh, bodoh jangan, nggak kelihatan keren, yang ada kelihatan murahan,” lanjutku, lantas menarik Nay meninggalkan mereka. “Lo nggakpapa?” tanyaku pada Nay. Kadang aku heran sama dia. Dia cantik, pawangnya banyak, namun kenapa dia nggak berani melawan kalau dirundung? Ini bukan pertama kalinya aku melihat dia dirundung seperti ini, mungkin sudah ketiga kalinya. Sebelumnya masih biasa saja, hanya sekedar adu argumentasi, terus, Veron atau Axel sama teman-temannya muncul, membela Nay. Namun kali ini entahlah mungkin kalau saja tadi aku tidak melerainya, dia akan menampar Nay. “Heem, nggakpapa kok Sya,” katanya sembari tersenyum. Senyumnya manis pantas saja Veron tergila-gila kepadanya. “Btw, makasih, Ya.” Lanjutnya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Seseorang menarik tangan Nay dengan paksa, membuat aku dan dia terkejut. “Ngapain lo deket-deket sama Nay? Mau nge-bully dia juga?” kalimatnya membuatku melotot. “Paan sih, kalau nggak tau apa-apa jangan asal komentar. Itu mulut apa cabe dah, pedes amat,” aku pergi meninggalkan mereka, sembari meredakan rasa kesal yang kini mendominasi. “Cemberut aja neng pagi-pagi,” kata Veron, kala aku sudah duduk dibangku ku. “Kenapa?” lanjutnya. Aku menarik napas sebentar, hingga akhirnya, aku menjawab “Gapapa,”. “Kalo gapapa lo juga nggak bakal cemberut gitu Sya,” kata Veron kembali. “Sya, ayo mabar Sya,” teriakan Delvan membuyarkan obrolanku dengan Veron. Membuatku menoleh padanya. “Mabar apaan?” tanyaku padanya. “Naena,” jawabannya begitu menyebalkan, membuatku mengumpat. “Anjing,” jawabku dengan kesal. “Woah, lo barusan ngomong kasar Sya,” Wavi tiba-tiba mendekatiku, kala mendengarku mengumpat. Lihat, bahkan mereka tertawa mengetahuiku mengumpat. Jangankan ngomong anjing, ngomong anjir saja baru aku lakukan ketika bertemu dengan mereka. ‘Ya tuhan, lindungilah hambamu ini dari teman-teman minim akhlak seperti mereka’ batinku berdoa, sembari mengelus pelan dadaku. “Asli, dari tadi gue dibikin kesel mulu dah,” aku akhirnya meluapkan emosiku. “Pertama cewek gajelas yang sok-sok an mau ngerundung orang, terus Axel yang ngomong pedes,” aku mengatakannya dengan sedikit emosi. “Eh Ron, lo temenan deket kan sama Axel? bilangin noh, jadi cowok mulutnya dijaga, perasaan itu mulut lemes bener dah, iya tau lidah nggak punya tulang, tapi manusia masih punya otak buat mikir, masih punya hati buat ngrasain,” kataku terlihat begitu emosi. Mereka hanya terkekeh pelan, menyadari emosiku yang kini begitu membuncah. “Habis di apain lo sama Axel, sampe emosi gitu,” Aldo ikut nimbrung, ketika mendengar keluhanku soal Axel. “Ehm,” dari pintu, Axel masuk kedalam kelasku, lantas mendekatiku. Membuat Veron, Aldo, Wavi dan Delvan menatap kearahnya. “Maaf,” katanya sembari menyerahkan sebungkus coklat. Aku tidak menggubrisnya, lantas, kembali duduk dengan sebuah novel dihadapanku. “Sya, jangan diemin gue dong,” katanya. Orang tuh memang paling mempan kalau didiemin, supaya tau rasa. Veron dan yang lainnya hanya terkekeh pelan, menyadari tingkah Axel yang tengah sebal karena aku diamkan, juga sikapku yang kini sedang cemberut layaknya seorang perempuan yang tengah ngambek kepada kekasihnya. Axel mengambil novelku, membuatku menolehkan kepala. “Apasih,” kataku. “Iya.... maaf gue salah, bakal di kontrol deh ini mulut lain kali,” bagus deh kalau dia sadar. Aku mengambil coklat serta novelku yng ada di genggamannya. “Hm, iya gue maafin,” kataku, masih dengan nada jutek. “Lo masih jutek gitu,” katanya, membuatku sebal. “Iyaa gue maafin,” aku menolehkan wajahku kepadanya, sembari tersenyum dengan terpaksa. Veron, Delvan, Aldo, dan Wavi tertawa terbahak, melihat tingkah kita. “Sya, makasih ya,” Nay masuk sembari tersenyum padaku. “Hmm iyaa sama-sama Nay,” kataku sembari tersenyum. “Giliran sama Nay aja manis, sama gue sepet,” kata Axel. “Cemburu kok sama Nay, ya gak Sya,” Wavi mengatakannya dengan terkekeh. “Eh, Nay, Veron ngajak mau ngajak lo jalan, tapi dia nggak berani bilang,” aku mengatakannya, membuat semua orang menatapku. “Apa? Iyakan Ron? Lo kemaren malem cerita ke gue mau ngajak Nay jalan kan?” aku mengkode Veron supaya meng-iyakan ucapanku. “H-hah? Iya,” jawabnya cepat. “Lo ikut juga ya Sya? Masak gue Cuma berdua doang sama Veron,” kata Nay, membuatku mengerutkan kening. “Enggak ah, masak gue jadi obat nyamuk diantara kalian, mending gue dirumah aja deh habisin novel gue,” aku memindahkan posisi, yang semula berdiri, kini kembali duduk sembari membuka novelku. “Yaudah,” Axel menyahut, membuatku menoleh padanya. “Yaudah apa?” tanyaku kepadanya. “Yaudah kalau lo nggak mau jadi obat nyamuk, lo sama gue aja,” jelas Axel. “Gue ikut,” Delvan berseru, membuatku menoleh kepadanya. “Gue juga,” kata Aldo dan Wavi bersamaan. “Yaudah, nanti biar Nay sama Veron aja, kita barengan,” usulku pada mereka, membuat mereka menyetujuinya. “Cakep dah tu,” kata Delvan. “Mau kemana?” Aksa tiba-tiba muncul, sembari bertanya. “Mau jalan, lo ikut nggak?” tanyaku padanya. “Boleh, ayok kabarin aja nanti,” jawabnya. “Nay, gue tanya lagi nih ke lo, gue serius lo mau nggak jadi cewek gue?” Veron berbicara dengan serius. Dia tak membawa setangkai mawar, atau sekotak coklat, sebab aku tau dia sudah bersiap dengan penolakan. “Nggak ada yuppi?” dengan polosnya, Nay menjawab pertanyaan Veron dengan hal menyebalkan. “Ron, gue juga serius, masak lo nembak gue nggak ada bawa yuppi,” duhh siapapun yang melihat ini pasti akan gemas dengan tingkah lucu Nay. “Gue takut lo tolak Nay, makannya gue nggak bawa apa-apa,” jawab Veron jujur. “Yauda, gue terima kalau ada yuppi nya,” kata Nay, dengan wajah cemberut. “Terima dulu aja deh, yuppi nya besok,” Veron memohon kepada Nay. “Beneran?” jawab Nay kembali. membuat Veron menganggukkan kepala. “Yaudah,” Nay menjawab dengan pipi yang terlihat bersemu merah, sembari mengalihkan pandangannya kearah lain. “Yaudah apa?” jawab Veron meyakinkan jawaban Nay. “Yauda iya, kita pacaran,” Nay menjawab dengan cepat, sembari menahan malu dan terbawa perasaan dalam satu waktu. Tak lama, Veron memeluk Nay erat, menyalurkan kebahagiaan yang dia terima. Aku, Delvan, Aldo, Wavi, Aksa, dan juga Axel, mendekat, tersenyum melihat mereka kini telah resmi berpacaran. Pada akhir kisah ini, aku kembali sadar, kala berteman dengan lawan jenis, nggak perlu membawa segala perasaan, menutup semua hati rapat-rapat karena pertemanan hanya membutuhkan rasa kasih sayang, tanpa adanya perasaan. Sedikit menyebalkan memang, lantas bagaimana kita menguasai hati kala perasaan tiba-tiba muncul? Inilah pentingnya sifat bodo amat. Sesekali, kita perlu bersikap bodo amat dengan kalimat yang di lontarkan orang lain, apalagi, perhatian yang diberikan oleh orang lain. Kadang manusia memang terlalu percaya diri, sampai lupa kalau suatu hal yang berlebihan, justru yang paling sering menciptakan luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD