Yang ngerasa pemilik buku ini, besok gw tunggu di rooftop ~Axel
Menyebalkan, mengapa bisa buku itu ada ditangan Axel. Lantas aku teringat dengan kejadian beberapa saat lalu. Ya ampun, mengapa aku bisa seceroboh itu? Mengapa bisa aku meninggalkan buku itu di hall tempat aku duduk tadi? Aku segera membuka line, membuka sebuah grup lalu mengetikkan sebuah pesan.
JAMET KUDASI
Syrzdn: P
Syrzdn: Weh tolong.
Dlvn: Ngapa lo Sya?.
Wavi: 2
Aldo: 3
Veron: 999
Syrzdn: tolong dongg itu masak bku gw kbwa Axel, ambilinn.
Aksa: Buku apan? Kok bsa kbwa Axel?.
Syrzdn: Jadi kan tadi gw duduk kan di hall trs habis ngelurin bbrpa brang, eh bkunya ktngglan.
Sebuah dering telepon mengagetkanku, aku segera mengangkat telepon, itu Veron. Terdengar beberapa tawa dari arahnya, membuatku menekuk muka sebal.
“Gue jadi bayangin deh gimana muka sebelnya Syara sekarang,” kata Aldo.
“Apa-apaan ternyata kalian lagi ngumpul,” kataku dari seberang telepon, sambil mengerucutkan bibirku.
Aku masih terlalu sebal dengan respon mereka, mereka masih saja menertawakanku.
“Terus mau lo apa hm? Lo mau kita bantu ambilin bukunya?” kata Aksa tiba-tiba.
“Nah peka nih, iyalah mau masa enggak,” kataku sedikit kegirangan.
“Dikasih apan gue kalo bantuin lo?” Delvan menyahut, ikut merespon keinginanku.
“Masak gitu doang mau bayaran,” nadaku terdengar sebal, ketika mengetahui respon Delvan.
“Ya iyalah, didunia ini kagak ada yang namanya gratisan Sya,” kata Delvan kembali.
“Gini deh, kita bantuin, tapi lo besok harus ikut kerumah Veron, masakin kita-kita, gimana?” itu bukan Delvan, tapi Aldo.
“Dih apa-apaan, nanti gue izinnya gimana dong ke saudara gue, ntar ditanya aneh-aneh ish,” kataku.
“Yaudah, ambil sendiri deh,” “Iya-iyaa, gue ikut,” jawabku dengan cepat sebelum Veron melanjutkan kalimatnya. Aku mendengar sebuah deruan senang dari telepon sebrang, membuatku diam-diam menyunggingkan sebuah senyum.
Pagi telah tiba, membuatku menjalankan segala rutinitas pagi. Pagi ini, aku tidak telat bangun, juga tak mendengar teriakan ibu didapur, hanya suara mbak Cici dan mbak Uyik yang terdengar menggema. Aku segera turun kedapur, mengambil segelas s**u serta mengoleskan selai dalam sebuah roti untuk sarapan. “Mbak ibuk, kemana?” tanyaku pada kedua saudara perempuanku itu. “Ibuk kan ke Malang, sama mas Anto,” kata mbak Cici. Aku baru ingat kalau nenekku merindukan ibu. Ibuku sering pulang pergi dari Jakarta ke Malang hanya untuk mengunjuki nenekku itu. Kadang aku kasian, namun harus bagaimana lagi.
“Pagi,” kata mas lion, lalu duduk di seberangku. Tak lama, aku merasakan sebuah tangan mengusap puncak kepalaku, membuatku menoleh cepat. Mas Adi, saudara lelaki ku yang satu itu memang sangat suka mengusap puncak kepalaku. Sifatnya yang terlihat cuek didepan, namun dia seringkali tiba tiba menuju kamarku hanya untuk menggangguku. Atau mungkin mas Lion, sifatnya juga tidak berbeda jauh dengan mas Adi, namun dia lebih menyebalkan lagi. Aku lebih canggung kala bersama mas Lion daripada mas Adi. Kala aku berangkat dengan mas Adi, sesekali dia masih sering mengajakku berbicara, menghancurkan sebuah kecanggungan yang ada. Mungkin hanya sekedar bertanya ‘nanti pulang jam berapa?’ atau mungkin hal-hal lain yang kadang membuatku sebal dan senang dalam satu waktu.
“Umm, mas, nanti aku izin pulang telat ya, mau main dulu sama temen,” kataku dengan perasaan sedikit takut. Tidak, aku tidak takut kalau tidak diizinkan untuk pulang terlambat, aku hanya takut pertanyaan pertanyaan lain yang tidak aku inginkan terungkap dalam bibir mereka.
Ketakutanku menjadi nyata, kala mas Lion tiba tiba membuka suaranya “temen yang mana?” kata mas Lion tiba tiba.
“Temen kelas lah, mas Lion mah belum kenal sama temen-temen baruku, masa iya aku tunjukin sekarang,” kataku mencari alasan yang tepat.
“Ya nggakpapa lah, biar mas Lion sama mas Adi tau kamu temenan sama siapa aja,” itu bukan mas Lion, melainkan mas Adi. Saudara-saudaraku memang paling pintar kalau bekerja sama membuat adiknya ini terdiam. Lihatlah, bahkan mbak Cici dan mbak Uyik sudah sedikit tertawa dengan kediamanku ini. Kejadian ini bukan yang pertama terjadi untukku. Karena sebelumnya, setiap kali aku akan keluar pasti di introgasi seperti ini.
“Yaudah, pulangnya jangan terlalu sore,” kata mas Lion, membuatku tersenyum.
“Iya-iyaa,” jawabku.
Pagi ini terlihat sejuk, mentari terihat terang, seolah tengah memancarkan sebuah kebahagiaan. Kali ini aku berangkat dengan mas Lion. Seperti biasa, aku hanya terdiam, menikmati suasana pagi yang terlihat menenangkan. Jalanan pagi ini masih terlihat sepi, membuat dunia seolah tenang, tanpa banyaknya asap kendaraan bermotor. Aku menyukai suasana kali ini yang begitu menenangkan. Kicauan burung yang bergegas mencari makan kini menjadi melodi indah yang terdengar dalam telingaku. Membuatku memejamkan mata, lantas mulai meresapi segala kicauannya, seolah kicauan-kicauan itu tengah mencurahkan segala keluh kesahnya pagi ini.
Mobil berhenti tepat didepan gerbang. Aku segera pamit ke mas Lion, lantas bergegas memasuki sekolah. Langkahku terhenti, kala seseorang tanpa sengaja menghadang langkahku, membuat aku yang sedaritadi menundukkan kepala, menengok untuk melihat siapa dia.
“Lo lagi, Lo lagi,” kata Axel. Lelaki tengil yang pernah menabrakku saat mos. Kali ini, aku tak akan melupakan namanya, sebab karena dia, banyak omongan simpang siur tentangku yang dibicarakan oleh para perempuan di sekolah ini.
Aku bergegas minggir, ingin melewatinya, namun dia mengikuti langkah kakiku, sehingga jalanku kembali terhalang olehnya.
“Bisa nggak, nggak usah cari gara gara?” kataku yang sedari tadi diam.
“Nggak,” katanya.
Aku mendengar sebuah tawa dari arah belakang, membuatku menoleh. Tersangka utamanya kini adalah Veron. Dia memegang bukuku, lantas aku menoleh kembali kepada Axel.
“Oh, jadi lo yang punya buku itu, gue udah baca semua,” katanya. Aku terkejut, lantas menjawabnya “Nggak sopan banget sih, buka-buka buku orang,” kataku padanya.
“Lebih nggak sopan lagi sama setiap sajak yang lo tulis, ngapain ngarahnya ke orang yang udah punya pacar,” katanya sok tau.
Aku kembali menengok ke belakang, melihat veron dan yang lain, kurasa mereka tidak mendengar apa yang di katakan Axel sebelumnya.
“Nggak usah sok tau deh, gue nulis gituan Cuma karena pingin, nggak ada maksud lain,” kataku, aku segera berbalik, untuk mengambil bukuku yang ada ditangan Veron.
“Nih, udah gue bantuin ambil, jangan lupa janji lo semalem,” kata Veron sembari memberikan bukuku.
“Iii apa-apaan, nggak jadi, lo sekongkol sama dia kan,” kataku sebal.
“Udah ayok, masuk kelas, masih pagi nggak usah sebel sebel,” kata Aksa dengan tiba-tiba. Dia merangkul pundakku, membuatku hanya pasrah mengikuti langkahnya tanpa membantah apapun.
“Buku itu, segitu pentingnya ya buat lo?” tanya Wavi dengan tiba-tiba kepadaku. Aku terdiam sebentar lalu menjawab pertanyaan Wavi dengan tenang. “Iyalah, itu buku isinya kutipan puisi yang gue ambil dari novel,” kataku, dia terdiam entahlah percaya atau tidak, namun setidaknya, alasan itu sudah lebih dari cukup untuk menutupi kebohonganku kali ini.
Pagi ini pelajaran produktif, tugas yang diberikan guru telah selesai aku kerjakan, membuatku bosan dalam kelas karena tidak ada tugas lagi. Aku melihat Disa, temanku satu itu, sangat serius mengerjakan tugas, membuatku enggan untuk mengganggunya.
“Sya, keluar yuk,” kata Aldo mengajakku.
“Boleh emang?” tanyaku.
“Tugas lo udah selesai kan?” tanya Aldo kembali.
“Iya, udah,” jawabku.
“Yaudah ayok kagak bakal dah dimarahin,” katanya.
“Vel, tugas lo udah selesai juga kan? Cabut yok,” ajakku pada Vella.
“Boleh deh ayok,” katanya.
Aku mengikuti kelima lelaki itu. Mereka berhenti di kantin paling pojok, tempat yang biasa digunakan para lelaki untuk berkumpul, membuatku kurang nyaman dengan hal itu.
“Uhm, Vel, kita ke tempat lain aja deh, malu disitu cowok semua,” kataku pada Vella.
“Alah, nggakpapa kali Sya, lagian itu cuma kelasnya Axel doang,” kata Vella.
Aku sedikit terkejut dengan hal itu. Aku melihat Nay tiba tiba duduk di sebelah Axel. Sedikit canggung dengan suasana ini.
Aku baru tau kalau pacar Vella ternyata teman Axel. Bukan hanya teman, melainkan satu geng dengan Axel.
“Diem aja daritadi, kenapa lo?” tanya Aksa tiba-tiba, membuat yang lain menolehkan pandangannya kepadaku.
“Hah? Enggak nggakpapa,” kataku kembali.
“Mau minum?” kata Delvan tiba tiba mengarahkan minumnya kepadaku.
“Enggak usah,” kataku.
Vella tengah asik dengan pacarnya, membuatku bingung harus melakukan apa. Terlebih mereka semua sudah akrab, membuatku benar-benar canggung dengan hal ini.
Sekilas, aku melihat Nay. Aku sedikit iri akan kedekatan Nay dengan mereka. Membuatku menghela nafas pelan. Veron seakan peka dengan kecanggunganku, membuatnya kembali berbicara.
“Sya, gue mau gombal,” kata Veron tiba tiba.
“Hm?” jawabku.
“Nggak jadi deh,” katanya kembali membuatku menolehkan padanganku kepadanya.
“Gue maunya seriusin lo bukan gombali lo,” katanya membuatku sedikit salah tingkah.
“Apaan sih, garing,” jawabku, singkat.
“Garing gitu juga lo salting,” Kata Delvan sambil tertawa.
“Kalian cocok,” Nay yang sedari tadi diam, tiba tiba mengeluarkan suaranya.
“Hah enggak,” jawabku cepat.
“Veron sama Syara, nanti lo cemburu Nay,” kata Wavi tiba-tiba, membuat yang lain tertawa.
“Kalo gue sama Syara, nanti yang ada Axel cemburu,” kalimat Veron kembali membuatku terkejut. Aku hanya diam, lebih banyak mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Mereka tertawa dengan sikapku, namun aku tanpa sengaja bertatap mata dengan Axel, lantas mengalihkan pandanganku. Dia bersikap biasa aja, hanya tersenyum, namun tipis, nyaris tidak terlihat.
Perhatian yang mereka berikan, membuatku terlampau nyaman, sampai aku lupa akan satu hal. Bahwa, setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan? Entah perpisahan yang manis atau perpisahan pahit dengan banyak luka yang menggores dalam d**a.