Hari ini adalah hari terakhir MOS. Hari dimana kita sebagai junior di tuntut untuk membuat dua buah surat. Menyebalkan. Aku memang suka menulis, namun mengapa harus surat untuk senior? Coba saja mereka mengadakan hal yang lebih memiliki manfaat sedikit, mungkin menulis puisi, menyuarakan isi hati lewat sajak-sajak. Ah sungguh kemungkinan yang mustahil. Mana mungkin mereka menyukai sajak? Apalagi sajak-sajak tidak penting yang seringkali ku tulis dalam buku usang milikku.
Aku pergi menjauh dari keramaian, bercengkrama dengan sepi, yang seolah tak tau diri. Mereka seolah menarikku menjauh, membuatku bermain dalam dunia semu yang ku ciptakan dalam kepalaku. Lantas aku mengambil buku serta pena dalam tas, mencoba menuangkan sebuah isi fikiran dalam secarik diksi.
Aku menulis setiap kata pada bait-bait sunyi
Tentang langit juga kenangan yang seringkali bertanya pada sepi
Atau sekilas kejadian yang senantiasa berputar dalam memori
Ingin kuungkapkan dalam sebuah diksi
Namun mengapa bisik kata tak dapat kutulis dari bibir ini?
Sebuah diksi yang sejenak mengingatkanku akan sebuah kenangan. Kenangan pahit, yang sempat membuatku terluka dalam diam. Tak apa, mungkin akan sembuh, tapi entah kapan.
Aku kembali mengembalikan buku serta penaku kedalam tas, lantas memasang earphone kedalam telingaku. Sebuah lagu dari Ruth B, dengan judul Superficial Love terdengar menggema dalam telingaku, membuatku memejamkan mata, lantas merilekskan fikiran sejenak, setelah menghadapi keramaian yang sungguh menyebalkan.
Sepi senantiasa menjadi temanku. Teman untukku bersandar, teman untukku bercerita, bahkan mungkin sepi sudah menjadi bagian penting dalam diriku. Seolah keramaian adalah hal yang paling tidak aku inginkan. Itu memang benar, aku tidak menyukai keramaian, namun aku juga tidak membencinya. Tapi, tanpa aku sadari, sepi juga seringkali menamparku dengan kenangan-kenangan yang tak pernah aku inginkan.
Beberapa waktu berlalu, aku segera kembali ke LABANA, karena jam sudah menunjukkan waktu masuk.
“Halo adik-adik, selamat pagi, oke, karena hari ini adalah hari terakhir MPLS, kita nggak akan ngasih tugas yang berat-berat, karena kita disini akan seneng-seneng aja,” kata sang ketua osis, yang entahlah aku bahkan telah melupakan namanya.
Acara demi acara telah di laksanakan, pertunjukan beatbox, menyanyi, menari, bahkan juga komedi. Kini, penyerahan surat untuk kakak osis telah tiba. Para senior segera menuju barisan kelas 10, untuk mengambil semua surat. Aku segera memberi suratku, bahkan mungkin tidak bisa di sebut surat, karena kalimat yang aku tulis dalam secarik kertas tersebut hanyalah “Dear kak osis: maaf dan terimakasih.” tanpa sebuah salam pembuka, juga salam penutup.
Aku suka menulis surat, namun surat-surat itu senantiasa aku terbangkan, membalut sebuah rasa rindu berupa diksi yang terbawa angin entah dibawa kemana. Atau hanyut bersama air seolah membuang segala rasa rindu, yang entah pada siapa kini tertuju.
“Woy,” kata seseorang membuyarkanku dalam lamunan. Dia adalah Aldo tentu saja bersama ke empat sekawanannya “apaan sih ngagetin aja,” kataku padanya. “Nglamun aja lo Sya, kemana aja lo?” itu bukan Aldo, melainkan Wavi. “Orang daritadi disini,” kataku agak sewot.
“Eh Sya, habis di tabrak siapa lo kemaren?” tanya Veron yang entah sejak kapan sudah duduk di depanku.
“Nggak tau, cowok sinting,” kataku dengan sedikit malas. Entahlah aku masih agak sebal dengan kejadian kemarin. Manusia disini juga, cepat sekali berita itu menyebar. Bukan cuma adegan tabrakan itu aja yang jadi gosip seantero sekolah, namun juga banyak perempuan yang mengatakan kalau aku sok cantik, caper, dan lain sebagainya. Namun apa peduliku dengan itu semua, aku benar-benar tidak peduli.
Veron menertawakanku, seolah muka sebalku adalah hal lucu baginya. “Lagian lo itu Sya, harusnya mah sama kita-kita aja, nggak usah jauh-jauh, dapet masalah kan jadinya,” kata veron.
“Yaa kan malu kalau sama kalian terus, lagian kemaren gue Cuma jalan sama Disa, habis dari perpus, eh cowok gila itu malah nabrak, nggak tau diri banget, udah nabrak bukannya minta maaf malah ngatain caper,” kataku dengan sedikit kesal. Aksa yang sedari tadi diam, tiba-tiba terkekeh pelan, aku tau kalau dia menertawakan kekesalanku.
Kadang aku heran, mengapa banyak orang suka sekali menertawakanku kala sedang sebal, padahal kalau di lihat kembali, tidak ada hal lucu kala aku tengah sebal. Hufft menyebalkan.
“Eh, Sya, masa bodo ya sama orang lain, Cuma lo yang boleh masuk sama geng kita, ye gak Sa,” Delvan berbicara, sembari merangkulkan tangannya kearah Aksa.
“Sya, lo se nggak mau itu pegangan sama cowok? Alergi atau gimana?” kata Aksa. “bukan muhrim,” jawabku sekenanya.
Enggak, aku bukan perempuan yang begitu taat pada agama, bahkan terkadang aku sadar diri masih sering telat sholat subuh karena bangun terlalu siang, atau bahkan melupakan sholat isya’ karena tidur terlalu sore. Aku hanya ingin menjaga jarak dengan para lelaki, bukan karena terlalu taat pada agama, atau seperti hal hal yang di katakan orang orang tentangku. ‘caper’ ‘sok cantik’ ‘sok baik’ dan lain sebagainya, namun karena sebuah kisah klasik masa lalu yang sempat membuatku terluka.
“Anjir mantul bener dah jawaban calon makmum gue, demen nih gue cewek yang kayak gini,” kata Delvan. Cowok satu itu memang benar-benar menyebalkan, membuatku ingin menimpuknya dengan novel yang tengah k****a. Seperti yang sering kulakukan pada mas Lion kala mencari gara-gara denganku. “Yee, gue timpuk juga lo,” kataku sembari mengarahkan novel yang tengah ku pegang menuju kepala Delvan. Lantas Delvan segera menghindar, membuatku urung untuk menimpuknya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga jam pulang pun akhirnya tiba. Hari ini, aku pulang naik bus karena ketiga saudaraku, tidak bisa menjemputku.
Aku menunggu bus di halte sembari memainkan ponsel pintarku. “Geser dong,” kata seseorang membuatku spontan menengok kesamping, lantas, menggeser sedikit membuatnya duduk di sebelahku. Dia Aksa. “Tumben naik bus,” kata nya padaku. “Iya, nggak ada yang jemput,” kataku. “Yaudah, ayo bareng gue,” katanya. “Enggak,” jawabku cepat. Apa jadinya nanti kata saudaraku, kalau aku pulang di antar seorang lelaki. Akan banyak omongan nggak penting, membuatku risih, yaa seorang Syara kan memang suka hidup dalam kenyamanan. Nggak perlu aman, yang penting nyaman.
“Lo bawa motor, terus ngapain kesini? Nggak langsung pulang aja?” tanyaku pada Aksa. “Males pulang, yaudah gue temenin lo nunggu bus,” katanya kembali. Setelah itu, tak ada percakapan diantara kami, hingga bus tiba tiba datang, membuatku bergegas menaikinya. Meninggalkan Aksa di halte.
Hari ini cukup melelahkan, aku segera bergegas untuk mengistirahatkan tubuh. Menyumpal kedua telingaku dengan earphone, lantas memutar sebuah melodi santai untuk merilekskan fikiran.
Aku membuka aplikasi i********:, lantas sebuah notifikasi membuatku terkejut. Akun osis memposting sebuah sajak tanpa nama, bukan, yang membuatku terkejut bukan postingannya, namun sajaknya. Sajak itu adalah sajak yang beberapa saat lalu kutulis. Aku segera merogoh tasku, mencari-cari buku yang seringkali kugunakan untuk menulis setiap sajak dalam fikiranku. Lantas aku membaca kembali caption yang tertera dalam postingan tersebut.