Kecelakaan

1081 Words
Persahabatan ketiga orang yang sempat bersitegang kini telah kembali seperti semula. Semua sudah melebur masa lalu dan tidak ada niatan untuk mengungkapnya kembali. Winda juga sekarang sudah kembali ke butik, untuk kembali membangun butik itu bersama Rania. Setiap hari Winda selalu datang untuk menjemput Rania, lebih dari itu Rania sebenarnya ingin bisa melihat Syifa. Aduh bayi Rania itu memang sangat membuat orang yang melihatnya jatuh cinta.   "Hallo Syifa sayang, tante bawa boneka nih buat kamu" ucap Winda mengeluarkan boneka dari dalam totebag nya.   "Aaa ma aa" ucap sifa dengan bahasa bayinya yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Lihat lah bagaimana menggemaskan nya Syifa, dia tampak bahagia menerima boneka dari tantenya itu.   "Win, kamu sudah datang? Aku belum siap nih" ucap Rania yang muncul ke kamar Syifa. Sudah menjadi kebiasaan Winda yang selalu masuk ke rumah Rania tanpa izin, dan ruang pertama yang ditujunya adalah kamar Syifa. Rania pun sudah tidak heran dengan kebiasaan Winda.   "Gak papa kali, aku juga baru dateng sekalian mau ngajak Syifa main dulu. Gemes banget sih anakmu ini Ran." ucap Winda dan mencubit Syifa yang tengah bermain dengan mainan barunya.   "Ya lihat saja ibunya dong, kan anak itu gak akan jauh dari orang tua nya" kekeh Rania, sementara Winda memutar bola matanya malas.   "Aldi sudah berangkat?" tanya Winda.   "Baru aja berangkat, kamu gak papa yah disini dulu. Aku mau mandi" ucap Rania dan di setujui oleh anggukan Winda. Rania pun pergi meninggalkan Winda yang asik mengajak ngobrol gadis kecilnya. Saat melewati ruang makan, Rania tidak sengaja melihat kotak makan yang harus dibawa Aldi ke kantor. Rupanya Aldi melupakan bekal sarapan yang harus dibawanya ke kantor. Tadi Aldi memang buru-buru untuk berangkat karena ada meeting mendadak sehingga memilih untuk sarapan di kantornya. 'Gimana nih, mas Aldi kok ninggalin bekalnya, dia kan punya mag. Kalau sampai telat sarapan dia bakal sakit.' gumam Rania dalam hati.   "Sebaiknya aku anterin aja ke kantor, lagian kan kantornya lumayan deket dari rumah" ucap Rania pada dirinya dan segera membawa pergi bekal makanan yang dia buat.   "Win, aku titip Syifa bentar yah. Aku mau nganterin bekal makan ke kantor mas Aldi dulu. Kamu gak papa kan agak lama nungguin aku nya?" tanya Winda.   "Ya udah pergi aja Ran, aku masih mau ngajak Rania main kok" ucap Winda dengan senyum di wajahnya.   "Aduh maaf ya, aku jadi ngerepotin. Atau kalau gak, nanti kalau aku belum dateng juga kamu berangkat duluan aja. Nanti bakal ada pengasuh Syifa kok kesini" ucap Rania.   "Iya, gak usah dipikirin. Kamu cepetan aja berangkat, nanti aku jagain Syifa kok kayak sama siapa aja" ucap Winda. Kemudian Rania pergi menuju kantor suaminya. Mobil Rania segera melaju bergabung dengan puluhan mobil yang ada di jalan raya. Hanya perlu sepuluh menit untuk menuju tempat tujuan. Rania perlu berjalan kedalam kantor dengan melewati sebuah gedung yang sedang di renovasi. Rania berjalan dengan sangat hati-hati, ada perasaan was-was dalam hatinya yang tidak tau berasal dari mana.   Benar saja pirasat buruk Rania membawa malapetaka, seorang pegawai yang tengah bekerja tidak sengaja menjatuhkan sebuah balok kayu. Semua orang telah berusaha untuk memperingatkan Rania agar segera menjauh, namun sayang balok kayu itu jatuh tepat mengenai kepala Rania. Seketika Rania terjatuh dengan darah segar yang mengucur dari pelipisnya, semua orang berhambur mendekati Rania. Sementara di rumah Rania, Syifa yang tengah bermain tiba-tiba saja menangis keras. Winda juga sangat kaget dengan tangisan Syifa.   "Kenapa sayang, tadi kan kamu sedang main. Ada apa nak?" Winda segera menggendong Syifa mencoba menenangkan nya. Bukannya berhenti justru tangisannya semakin mengeras, membuat Winda semakin panik. Sepertinya Syifa merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada mamanya. Tak berapa lama telpon rumah berbunyi, kerena belum ada asisten rumah tangga yang datang jadi Winda yang mengangkatnya.   "Hallo dengan keluarga ibu Rania?" tanya seseorang di seberang sana.   "Iya betul, ada apa ya pak?" tanya Winda yang masih berusaha menenangkan Syifa.   "Kami dari pihak kepolisian, ingin memberitahukan bahwa saudari Rania telah mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang dibawa menuju rumah sakit." Winda menganga tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.   "Yang benar pak? Apakah anda sudah memberi tahu suaminya?" tanya Winda yang masih terkejut.   "Belum bu, tadi panggilan telpon suaminya tidak tersambung. Nanti kami akan coba hubungi kembali" ucap polisi tersebut. Setelah sambungan telpon mati Winda segera bergegas menuju ke rumah sakit, dia membawa serta Syifa karena pengasuhnya belum datang juga. Untunglah Syifa kini sudah tidak menangis lagi.   "Semoga kamu ga apa-apa Ran," ucap Winda. Sesampainya di rumah sakit, dia segera menuju ke ruang IGD untuk menemui Rania. "Bagaimana keadaan Rania sus?" tanya Winda pada seorang suster yang baru keluar dari ruang IGD.   "Masih ditangani dokter mbak, sebaiknya anda tunggu sebentar." ucap suster itu ramah, kemudian kembali masuk kembali kedalam.   "Ya Allah, selamatkan Rania" kata itu yang tidak pernah terlepas dari mulutnya semenjak berada didalam mobil. Tak selang berapa lama, Aldi datang dengan berlari menuju kearah Winda. Winda bisa melihat betapa khawatir nya Aldi saat ini. Melihat itu Winda sadar jika cintanya untuk Rania sangat besar.   "Win, bagaimana keadaan Rania?" tanya Aldi.   "Masih di periksa dokter Al" jawab Winda.   "Bagaimana semua ini bisa terjadi?" ucap Aldi dengan mata yang sudah berkaca.   "Aku gak tau Al, tadi pagi dia pamit buat nganterin bekal kamu yang tertinggal. Setelah itu aku gak tau apa yang terjadi, aku mendapat kabar jika Rania kecelakaan." terang Rania. Aldi akhirnya tak kuasa menahan air matanya. Winda segera memeluk Aldi mencoba menenangkan nya.   "Yang sabar ya Al, kita berdo'a sama-sama untuk keselamatan Rania. Aku percaya Rania itu orang kuat, dia pasti bisa lewatin ini semua" ujar Winda.   "Ini semua terjadi karena aku Win, aku harusnya gak lupa bawa makanan. Rania pasti khawatir mag ku kambuh makanya dia mau nganterin makanan itu ke kantor." Aldi terus menyalahkan dirinya. Winda mencoba menenangkan Aldi dengan mengusap pundaknya.   "Kamu gak boleh ngomong gitu, semua ini sudah ada yang ngatur Al. Aku yakin Rania bisa melewati ini semua. Kamu harus kuat untuk Syifa Al" ucap Winda, pandangan Aldi beralih pada Syifa yang tengah tertidur.   "Maaf ya sayang, papa gak bisa jagain mama kamu" ucap Aldi mengecup kening Syifa. Tak lama kemudian ruangan periksa Rania terbuka dan muncullah dokter. Aldi dan Winda segera menghampiri dokter itu.   "Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Aldi.   "Istri bapak kritis, karena benturan yang keras pada kepalanya. kita doakan yang terbaik ya pak. Semoga bu Rania bisa melewati ini semua." ucap dokter itu kemudian pergi meninggalkan mereka. Mendengar itu seketika tubuh Aldi terhuyung dan merasa runtuh. Aldi merasa ada begitu banyak beban yang dipikulnya saat ini. Hatinya hancur melihat separuh hatinya tengah berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD