Kembali

1022 Words
Dua tahun berlalu, ketiga sahabat ini telah menjalani kehidupan nya masing-masing. Aldi kini tengah bekerja di kantornya sebentar lagi akan naik jabatan. Sementara Rania yang memutuskan untuk kembali mengurus butiknya setelah kepergian Winda. Ya, Winda pergi mencari kehidupan baru dan mengubur cintanya untuk Aldi, Winda pergi ke prancis sejak dua tahun lalu. Sementara Syifa kini telah memasuki tahun ketiga usianya. Setiap hari Syifa diurus oleh seorang babysitter saat orangtua nya bekerja. Syifa tumbuh menjadi seorang anak yang lucu dan pintar, selain itu pipinya yang gembil juga membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas.   Suatu pagi sebelum berangkat kerja Rania menyempatkan waktu untuk memasak untuk Aldi, dan memandikan Syifa. Setelah Aldi berangkat kerja dan pengasih Syifa datang barulah Rania bisa pergi ke butik. Namun tiba-tiba sebuah video call masuk ke hp nya, Rania kaget begitu mengetahui bahwa yang tertulis di layar telponnya adalah Winda. 'Sudah lama sekali Winda tidak ada kabar, ada apa ya dia menelpon' ucap Rania dalam hati.   "Hai Win" ucap Rania begitu panggilan nya terhubung dan terlihat wajah Winda di seberang sana.   "Haii apa kabar? Aku kangen banget" ucap Winda dengan sangat antusias seolah lupa dengan permasalahan yang telah terjadi beberapa tahun lalu. "Baik, kamu dimana? Kenapa gak pernah ada kabar? Kamu kok pergi gak bilang sih"ucap Rania tak kalah antusias nya dengan Winda. "Hahaha... Kamu kalau nanya satu-satu dong. Oh ya, nanti sore aku boleh kan main ke rumah kamu?" tanya Winda.   "Tentu boleh dong, aku tunggu kamu sore nanti yah. Sekarang aku harus ke butik nih, nanti sore kita ngobrol sepuasnya" ucap Rania.   "Oke" kemudian Winda menutup telponnya. Dia menghela nafas, 'Sudah waktunya aku menyelesaikan permasalahan yang pernah terjadi. Setelah sebelumnya aku memilih pergi' gumam Winda.   *** Rania pulang lebih cepat hari ini, dia akan menyiapkan makan malam untuk Winda dan suaminya. Rania begitu merindukan Winda, setelah apa yang terjadi Rania tidak pernah sedikit pun mengurangi rasa sayangnya pada Winda. Saking sibuknya tadi di butik membuat Rania lupa mengabari Aldi masalah Winda. 'Sudah lah biar ini menjadi kejutan untuk Aldi.' Gumamnya, segera dia pergi menuju kediamannya. Setelah sampai Rania segera menemui Syifa, Syifa adalah satu-satunya penghilang lelah setelah seharian bekerja. Namun kali ini Rania melihat ada seorang wanita yang sedang menemani Rania bermain. Rania kaget saat mendapati jika wanita itu adalah Winda. Rania berhambur ke pelukan Winda dan memeluknya erat.   "Kamu kok udah kesini aja? Katanya mau sore hari?" tanya Rania.   "Iya, aku baru aja dateng. Habisnya aku udah kangen banget sama Syifa" kekeh Winda.   "Kamu habis dari butik? Bagaimana keadaan butik sekarang?" tanya Winda.   "Kamu tau, setelah kepergian kamu butik jadi terbengkalai. Kamu tau sendiri aku kan ngurus Syifa. Tapi Alhamdulillah sekarang butik sudah kembali seperti semula, kamu akan kembali lagi ke butik kan?" tanya Winda.   "Benarkah? Maaf yah, aku pergi gak bilang waktu itu. Tapi aku percaya kamu bisa bikin butik jadi lebih maju" ucap Winda sambil tersenyum.   "Itu semua aku lakukan karena aku gak mau butik yang sudah kita bangun jadi berantakan, kamu tau kan kita sangat susah payah mendirikan butik itu." ucap Rania. Winda kembali memeluk Rania. Sudah waktunya jam Aldi pulang kerja, Rania belum sempat masak karena sibuk mengobrol dengan Winda. Saat Aldi masuk kedalam rumahnya didapati Rania sedang mengobrol. Sama halnya dengan Rania, Aldi juga terlihat kaget saat melihat Winda ada di rumahnya. Sementara Winda yang melihat kedatangan Aldi merasa sedikit canggung. Rasa yang telah Winda kubur dalam-dalam ternyata sedikit runtuh saat melihat wajah tampan Aldi. Tapi Winda segera menguatkan hatinya agar tidak merusak kebahagiaan mereka lagi.   "Hai" sapa Winda.   "Kamu kok ada disini? Kapan datang?" tanya Aldi masih dengan rasa takut dan heran akan kedatangan Winda. Aldi takut jika Winda akan mencoba merusak kebahagiaan dia dan Rania.   "Itu, aku tadi pagi udah bilang mau main kesini. Aku juga baru datang kok, maaf yah jika kedatangan aku ngedadak gini" ucap Winda. Rania segera mengajak Aldi untuk duduk di dekat nya, Rania yakin jika Aldi pasti masih kesal dengan Winda. Dan ini bisa dijadikan momen untuk memperbaiki kembali persahabatan mereka.   "Mas duduk dulu yah, kita bicara dulu." Aldi pun menurut, beberapa saat suasana menjadi hening. Semua larut dalam pikirannya masing-masing.   "ehem... Jadi kedatangan aku kesini bukan tanpa tujuan, aku sengaja datang kesini untuk meminta maaf pada kalian atas kebodohan yang aku lakukan. Aku kemarin pergi untuk menenangkan hati, dan aku sadar jika aku memang salah." ucap Winda mengawali pembicaraan.   "Syukurlah kalau kamu sudah sadar, aku harap kali ini kamu sudah benar-benar sadar atas kesalahan kamu dan kamu tidak akan melakukannya lagi."ucap Aldi. Dulu Aldi memang kesal pada Winda, tapi dalam lubuk hati terdalamnya ada setitik sayang dan Rindu untuk Winda. Tentu saja rasa itu hanya sebatas seorang sahabat.   "Iya Win, jauh sebelum ini kami sudah memaafkan kamu. Persahabatan kita jauh lebih besar dari kesalahan yang udah kamu buat." ucap Rania sambil memegang tangan Winda.   "Terimakasih, aku sangat malu dengan perlakuanku dulu" lirih Winda.   "Sebaiknya kita lupakan kejadian dulu, sekarang kita harus menatap masa depan" ucap Aldi.   "Apa persahabatan kita akan kembali seperti dulu?" tanya Winda lirih.   "Tentu saja, semua tidak akan pernah berubah." ucap Rania. Dia memeluk Winda erat, dan Aldi pun tersenyum. 'akhirnya semua kembali lagi' gumam Aldi dalam hati.   "Semua memang akan tetap sama, kecuali kalau kamu sudah tidak jomblo lagi" ucap Aldi meledek.   "Yeee... Sekarang aku sudah punya pacar kali, bule lagi. Nanti rencananya dia akan datang ke indo." ucap Winda dengan senyum yang mengembang.   "Benarkah?" tanya Rania ikut senang, dan dibalas Winda dengan anggukan.   "Syukurlah kalau begitu, berarti aku gak akan meledek kamu lagi" ucap Aldi, sementara Winda memutar bola matanya malas.   "Sebaiknya kita makan dulu" ucap Aldi.   "Aku lupa masak mas, gimana dong?" tanya Rania kaget.   "Yah Ran, aku datang bukannya disambut dengan masakan kamu." ucap Winda pura-pura marah.   "Ya udah, gimana kalau kita makan di luar aja? Udah lama juga kan gak makan bareng" ajak Aldi. Semua mengangguk setuju. 'Semoga persahabatan kita akan selalu abadi sampai surga.' do'a Rania dalam hati.   "Ya udah kamu mandi dulu mas aku sekalian mau siapin Syifa dulu. Dia kan harus diajak, masa iya ditinggal" ucap Rania.   "Pantesan tadi bau apa gitu? Taunya ada yang belum mandi" cibir Winda. Aldi menjitak kepala Winda sebelum meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD