Mencoba Bicara

1065 Words
Rania kini tengah bersiap menata diri untuk pergi ke suatu tempat, menemui Winda untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dialami keduanya. Beberapa hari ini hubungan mereka tidak cukup baik, jangankan untuk bertatap muka sekedar bertamya kabar lewat telepon saja tidak mereka lakukan. Biasanya tiada hari yang mereka lewati tanpa berbincang, baik lewat telpon maupun secara langsung. Saat Rania memutuskan untuk mengajak Winda bertemu dia harus extra bersabar dan membujuk Winda. Ya, awalnya Winda memang menolak untuk bertemu dengan Rania, dia merasa begitu malu atas perbuatan yang telah dilakukannya tempo hari. Tapi akhirnya Winda bersedia untuk bertemu dengan Rania.   Tepat pukul 13.00 Rania sudah berada di tempat janjian mereka, mereka bertemu di sebuah cafe tempat mereka nongkrong sebelum Rania menikah. Rania mengamati setiap sudut tempat ini, bayangan mereka berputar di dalam otaknya. Rania masih ingat bagaimana tawa bahagia selalu mengiringi obrolan mereka di tempat ini. Rania masih tidak menyangka jika semua kejadian ini akan terjadi pada persahabatan nya.   "Ran" sapa Winda, Rania tersenyum ramah dan mempersilahkan Winda untuk duduk.   "Mau pesan sesuatu?" tanya seorang pelayanan yang menghampiri mereka.   "Ice coffee" ucap keduanya bersamaan, Rania dan Winda bersitatap sedetik kemudian mereka berdua tertawa. Minuman itu memang menu favorit yang selalu mereka pesan ketika berkunjung ke tempat ini.   "Ice coffee 2 yah mas" ucap Rania, kemudian pelayanan itu pergi. Sedetik kemudian suasana mulai kembali tegang. Mereka tidak menyangka jika hubungan mereka akan bisa secanggung ini.   Rania mengeluarkan buku dari diary dari dalam tasnya, menarik nafas dalam sebelum akhirnya mengatakan. "Win, aku menemukan ini di kamarmu. Maaf karena aku telah lancang untuk membacanya. Dan untuk semua yang terjadi aku minta maaf"   Winda hanya terdiam tak bersuara, saat ini hatinya sedang berperang. Satu sisi dia juga ingin meminta maaf atas apa yang terjadi, tapi egonya mengatakan jika dia juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang diimpikannya sejak dulu.   "Win dengar, aku tidak pernah tau perasaan kamu yang sebenarnya pada Aldi. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya sejak awal? Kenapa kamu tidak beri tahu isi hati kamu sebelum cinta dalam hati aku tumbuh Win?" tanya Rania.   "Seandainya dulu aku mengatakan semuanya apa mungkin semua ini tidak akan terjadi? Semuanya akan tetap sama, Aldi tidak akan pernah mencintai aku. Mungkin memang sudah nasib aku yang tidak akan mendapatkan kebahagiaan dari orang yang aku cintai" perkataan Winda membuat Rania makin merasa bersalah.   "Apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah bagian dari rencana yang ditetapkan oleh Allah. Semua sudah terjadi dan waktu tidak bisa di putar, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjalani semua dengan ikhlas. Aku juga percaya kamu akan menemukan cinta kamu sendiri." ucap Rania.   "Yah aku tau, tapi sepertinya semua kebahagiaan aku udah kamu renggut saat pertama kali kamu masuk dalam kehidupan kami." lirih Winda namun masih sangat jelas terdengar di telinga Rania.   "Winda, kamu itu satu-satunya sahabat yang aku punya. Aku gak mau hanya karena masalah ini persahabatan kita jadi berantakan." ucap Rania, mendengar itu ego Winda kembali meninggi.   "Hanya? Kamu bilang hanya? Kamu sadar gak sih, setiap hari aku harus menahan sakit saat melihat orang yang aku cintai hidup bersama orang lain. Mungkin bagi kamu ini hanya masalah kecil, tapi bagi aku ini masalah besar Ran. Oh iya aku lupa, kamu kan tidak berada di posisi aku. Jadi kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan. Kamu hanya ada di posisi paling beruntung dimana semua orang mencintai kamu, dan apa yang kamu mau selalu bisa kamu dapat. Ya kan, itu maksud kamu?" ucap Winda dengan emosi, air mata keduanya sudah sama-sama keluar dari sarangnya.   "Maaf, seandainya ada yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahan aku, pasti akan aku lakukan" ucap Rania.   "Jika aku minta agar kamu melepas Aldi, dan memberikannya padaku apa kamu akan bersedia?" Rania diam seribu bahasa. Jelas sekali Rania tidak akan mungkin melakukan apa yang diucapkan Winda. Jika hal itu Rania lakukan, bagaimana nasib Syifa.   "Kamu gak bisa jawab kan? Karena tidak akan ada seorang wanita pun yang rela kehilangan cintanya. Dan aku harap kamu bisa sedikit memahami perasaan aku," ucap Winda dan pergi meninggalkan Rania.   "Aku hanya perlu sedikit waktu untuk berpikir Ran, setelah hatiku tenang semua akan menjadi baik-baik saja." gumam Winda dalam hati.   Rania kembali menuju rumahnya, sepanjang perjalanan dia terus saja melamun. Perkataan Winda terus saja terngiang di telinganya. "Haruskah?" tanyanya pada hati. Sesampainya di rumah Aldi segera menghampiri Rania, dia yakin jika usahanya untuk memperbaiki persahabatan mereka telah gagal.   "Mas, jika aku meminta kamu untuk menikahi Winda, apakah kamu bersedia." saking kagetnya, tanpa sadar gelas yang Aldi pegang jatuh saat mendengar ucapan Rania.   "Kamu apaan sih Ran, kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya Aldi sedikit emosi, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.   "Ya aku gak mau kehilangan Winda mas, dia sahabat terbaik aku. Aku juga gak mungkin terus bahagia di atas penderitaannya. Aku mohon mas, kali ini kabulkan keinginan aku" ucap Rania.   "Kamu bilang gak mau kehilangan Winda, berarti kamu lebih milih kehilangan aku?" tanya Aldi. Rania menangis, dia tidak tau harus bagaimana. Aldi segera membawa Rania masuk ke dalam dekapannya. Membiarkan Rania menangis di d**a bidangnya, Aldi sangat tau betapa tulusnya hati Rania. Rania tidak akan pernah tega membiarkan orang lain terluka, apalagi itu sahabat nya sendiri. Bisa di bilang nyawa pun akan Rania berikan.   "Untuk saat ini, kita tidak boleh sampai gegabah dalam mengambil keputusan. Aku gak mau kita mengorbankan pernikahan kita. Kamu lihat Syifa, dia yang akan kadi korban. Aku tau ini sangat berat bagi kamu, Winda sahabat kamu. Dia juga sahabat aku, kita pasti sama-sama ingin dia bahagia. Tapi kebahagiaan itu bukan dari kita, nanti kita minta solusi terbaik menurut Allah yah" ucap Aldi menenangkan Rania.   Rania segera menggendong Syifa yang dari tadi tengah tertidur, dia peluk erat tubuh mungil itu. "ya, Aldi benar. Aku tidak boleh membiarkan keluarga ku hancur berantakan. Maaf untuk saat ini aku bersikap egois!" ucap Rania dalam hatinya.   "Aku yakin tadi Winda hanya tersulut emosi, jadi dia mengatakan hal itu. Aku sahabatan sama dia sejak SMP Ran, aku tau bagaimana dia. Dia sebenarnya orang yang baik, dia tidak akan mampu melakukan hal k**i seperti kemarin, semua terjadi karena dia sudah lelah dengan hatinya. Aku tau itu, aku yakin nanti dia akan kembali seperti biasanya lagi. Kita hanya perlu memberinya sedikit waktu untuk berpikir" ucap Aldi masih dengan suara lembut.   "Kamu akan menempati janji untuk setia kan mas?" Rania menatap mata suaminya. Aldi mengangguk dan memeluk Rania.   "Pasti akan ku tepati!" ucap Aldi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD