Winda tengah menikmati sore dengan menikmati teh di dalam kamarnya, Winda meminum secangkir teh hangat sambil mendengarkan suara hujan diluar rumahnya. Suara hujan begitu terdengar merdu ditelinga Winda. Membawa pikirannya terhanyut dengan kejadian yang telah menimpa dia, Aldi dan juga Rania. Winda masih sangat ingat saat dirinya membuang harga dirinya di depan Aldi beberapa hari lalu.
"Al, aku ingin berbicara denganmu sebentar saja. Kamu bisa kan?" tanya Winda lewat sambungan telepon. Saat itu Rania baru saja pulang dari rumah sakit pasca melahirkan.
"Ada apa Win? Tumben banget." tanya Aldi heran.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, penting" ucap Winda.
"Kalau besok gimana? Rania baru aja pulang dari rumah sakit." ucap Aldi.
"Yaaahh Al, padahal aku ingin membicarakan masalah aku dan Rania." Winda masih saja terus membujuk Aldi untuk mengikuti ajakannya.
"Memangnya tidak bisa bicara lewat telepon aja?" tanya Aldi.
"Aku ingin bicara secara langsung Al" pinta Winda.
"Baiklah, kita ketemu dimana?" tanya Aldi.
"Nanti aku share alamatnya yah" ucap Winda. Tak berapa lama sebuah pesan masuk ke hp Aldi, dia segera pergi ke alamat yang dituju.
Setelah sampai Aldi segera mencari keberadaan Winda, terlihat Winda tengah duduk di bangku taman menunggunya. Aldi menghampiri kemudian duduk di sampingnya.
"Al, kamu masih ingat kan tempat ini?" tanya Winda, matanya lurus menatap hamparan rumput di depannya.
"Tentu, mana mungkin aku lupa" jawab Aldi. Bagaimana Aldi lupa, saat dia masih remaja mereka sering bermain dan menghabiskan waktu di sini bersama. Namun semenjak Aldi dan Rania pacaran mereka tidak pernah kesini bersama lagi. Hanya Winda yang masih setia datang kesini sendirian.
"Oh ya, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aldi, nampak Winda menarik nafasnya dalam kemudian menatap Aldi.
"Aku cinta kamu Al" Aldi sampai terperanjat mendengar ucapan Winda, sejenak dia tertegun namun tertawa setelahnya.
"Kamu bercanda Win? Sudah gak lucu" Aldi masih saja terbahak sampai tawa nya terhenti setelah mendengar Winda kembali bersuara.
"Aku serius Al, jujur aku tidak mau mengatakan ini. Tapi saat ini aku sudah cukup lelah untuk memendam semuanya. Aku lelah harus pura-pura tersenyum melihat kamu bahagia bersama Rania, aku lelah menangis dalam diam saat aku berusaha menghapus paksa namamu di dalam hatiku. Aku juga mau bahagia Al, aku mau bahagia dengan pria yang aku cintai. Aku sudah berusaha melupakan kamu, tapi aku sadar aku gak bisa." Aldi membeku mendengar perkataan Winda, dia sangat bingung apa yang harus dikatakan. Aldi sangat sadar jika dirinya sedang menghadapi seorang wanita lemah, dia gak boleh gegabah.
"Win dengar, satu hal yang harus kamu tau. Aku sangat-sangat menyayangi kamu, rasa sayang itu tidak akan pernah berubah dari semenjak kita memulai persahabatan sampai sekarang. Tapi kamu juga harus ingat rasa sayang itu hanya sebatas sahabat, ada seseorang yang jauh lebih aku sayangi dan orang itu adalah Rania. Kita sudah menikah dan aku yakin suatu saat kamu juga akan menemukan cinta yang tepat suatu hari. Seseorang yang jauh lebih baik dari pada aku." Aldi masih bisa bersuara lembut, mencoba memberikan pengertian pada Winda.
"Apa kamu gak bisa buka hati kamu buat aku Al?" Winda menatap bola mata Aldi.
"Gak mungkin Win, aku udah nikah. Aku gak mungkin menghianati Rania" ucap Aldi. Winda tidak tahan dengan jawaban Aldi, "kenapa harus selalu Rania?" tanyanya dalam hati. Hatinya kini telah dibutakan kabut amarah, dalam sekejap Winda mendaratkan sebuah ciuman di bibir Aldi. Aldi melongo tak percaya, dia bangkit dari duduk nya dan sebuah tamparan mendarat di pipi Winda.
"Kamu gila!" bentak Aldi.
"Heem... Aku memang gila Al, aku terlalu jatuh cinta sama kamu" ucap Winda.
"Kamu berubah Win, aku gak nyangka kamu bisa melakukan hal serendah itu. Mulai saat ini kita bukan sahabat lagi. Kamu dengar itu!" ucap Aldi dengan nada tinggi.
"Hahaha... Dengar ya Al, jika aku tidak bisa bahagia aku juga tidak akan biarkan kalian bahagia. Akan aku pastikan hubungan rumah tangga kalian akan berantakan." ancam Winda, Aldi makin tersulut emosi.
"Coba aja kalau kamu bisa! Dasar wanita gila." ucap Aldi kemudian meninggalkan Winda seorang diri.
Winda tersadar dari lamunan nya, dia tersenyum getir mengingat kejadian hari itu. Dia seruput teh yang ada di tangannya. Pikirannya kembali melayang mengingat kejadian yang telah dia lakukan berikutnya, saat dia membujuk Rania untuk membawanya masuk ke dalam rumahnya. Untung saja Winda bisa menggunakan nama butik sebagai celah, Winda sangat tau jika Aldi tidak akan setuju Winda tinggal bersama mereka. Tapi Winda juga tau kalau Aldi tidak akan bisa menolak permintaan Rania. Dan terbukti usaha Winda berhasil, saat ini dia tengah berada satu atap dengan orang yang dia cintai. Dan dia akan menaburkan bubuk masalah dalam rumah tangga mereka.
Awalnya Rania bersikap sangat baik dihadapan Rania agar tidak menimbulkan kecurigaan. Hingga suatu hari Winda menggunakan Syifa sebagai alat untuk mengganti posisi Rania di dapur.
"Syifa anak baik maaf ya tante harus mengganggu tidur nyenyak mu." Winda mencubit Syifa yang sedang tertidur pulas, sontak saja Syifa menangis keras dan tidak mau berhenti.
Jelas saja usahanya berhasil, Winda akhirnya bisa menyajikan makanan untuk Aldi. Satu hal yang membuat Winda bahagia adalah ketika Aldi memuji hasil masakannya. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, Winda sangat kecewa saat Aldi memilih meninggalkan sarapannya saat itu. Usahanya berhasil, Aldi sangat marah pada Rania. Dia meninggalkan Rania tanpa pamit untuk pergi ke kantor.
"Al, aku gak nyangka kamu ternyata sangat menyukai masakan ku" ucap Winda dengan senyuman di wajahnya.
"Jika aku tau itu masakan yang kamu buat, aku tidak akan sudi memakan nya. Aku lebih baik kelaparan, ingat itu!" Aldi segera meninggalkan Winda, hati Winda bak tersambar petir. Hatinya sangat sakit sekali. Tapi dia tidak kehabisan akal, membuat dirinya Alergi dan sengaja membiarkan buku diary terbuka termasuk bagian dari rencananya untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Tapi sepertinya Winda gagal, cinta mereka tidak akan bisa dipisahkan, dan Winda sadar itu.
Winda segera menghapus air matanya, dia kembali menyeruput teh yang dipegang nya, hujan diluar semakin deras, seakan tau bagaimana perasaan Winda saat ini. Winda menatap Foto yang terpangpang di kamarnya, disitu terlihat jelas bagaimana ketiganya tersenyum lepas dan bahagia dengan persahabatan yang dibangunnya. Saat ini Winda sadar, jika dia tidak seharusnya melakukan kebodohan itu. Winda seharusnya tetap memilih diam dan hanya dia yang tersakiti, daripada dia berontak dan ada tiga hati yang akan tersakiti. Dalam hatinya dia berkata, "Aku tidak sejahat itu!"