Hadiah Pernikahan

1017 Words
Pernikahan Rania sudah memasuki bulan ketiga, kebahagiaan selalu melanda dalam kehidupan mereka setiap harinya. Rania selalu menjalankan janjinya, setiap pagi Rania selalu menyiapkan sarapan untuk Aldi, bahkan ketika Aldi lupa membawa bekal makan siang ke kantor, dengan senang hati Rania akan mengantarkan untuknya. Namun berbeda dengan hari ini, Rania begitu malas beranjak dari kasur. Sepertinya Rania sedang kurang sehat, Aldi yang begitu khawatir mengajak rania pergi ke dokter.  "Sayang, kamu pucat sekali? Sepertinya kita haris ke rumah  sakit" ucap Aldi, sesaat sebelum dia pergi ke kantor.  "Aku periksa sendiri saja, kamu sebaiknya pergi bekerja. Aku gak apa-apa kok" ucap Rania, dia sangat tau jika suaminya tidak boleh bolos kerja. Dia sudah cuti minggu kemarin untuk mengajaknya berlibur. Jika hari ini dia bolos lagi, bisa dipastikan Aldi akan kehilangan pekerjaannya.  "Kamu yakin? Aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian di rumah " ucap Aldi.  "Aku gak papa, nanti aku akan meminta Winda menemaniku ke rumah sakit." ucap Rania, namun Aldi melihat kesedihan  dimata istri kesayangannya itu.  "Kamu beneran gak papa kan? Kamu terlihat sedih" tanya Aldi.  "Aku memang sedih, hari ini aku tidak menjalankan janjiku untuk menyiapkan sarapan untukmu" ucap Rania sedih. "Hahaha... Ya ampun, aku kira kenapa. Ya udah aku pergi dulu, kalau ada apa-apa segera kabari aku" ucap Aldi. Dia membelai pucuk kepala istrinya dan mencium keningnya sebelum  pergi ke kantor. *** Winda yang tengah bersiap berangkat menuju butiknya. Butik yang susah payah dia dirikan bersama dengan Rania kini sudah berkembang pesat. Namun semenjak Rania menikah, dia lebih sering mengurusnya sendiri. Jika ada masalah yang serius barulah Rania turun langsung ke butiknya. Winda memang ikut andil dalam mendirikan butik, namun Rania lah yang lebih berperan banyak dalam keberhasilan usaha mereka. Rania banyak menyumbang ide dan juga modal di butiknya, dan Winda lah yang menjalankannya.  Tiba-tiba hp Winda berdering, dilayar tertera nama Rania. Segera dia mengangkat telpon dari sahabatnya itu.  "Iya Ran, ada apa?" tanya Winda, tumben sekali Rania menelpon pagi-pagi begini~ pikir Winda.  "Kamu hari ini gak isah ke butik yah, temenin aku ke rumah sakit." suara Rania dibuat lemas agar Winda mau menuruti perintahnya.  "Kamu sakit? Ya ampun sakit apa Ran?" cecar Winda.  "Ceritanya nanti saja di rumah, kamu cepetan datang kesini" ucap Rania.  "Oke aku segera ke sana." Winda yang sedang tancap gas menuju butik malah berbalik arah menuju rumah Rania, dia merasa sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.  Tak perlu waktu lama, mobil Winda sudah terparkir dihalaman rumah Rania, dia segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Sudah menjadi kebiasaan Winda ketika berkunjung ke rumah Rania, yaitu main nyelosor aja. Bahkan acapkali Winda melihat Rania dan Aldi sedang bermesraan. Bahkan yang lebih menyeramkan lagi saat Winda harus melihat mereka b******u. Dan saat itu juga naluri jomblonya berontak.  "Winda, kamu baik-baik aja?" tanya Winda, sementara Rania tengah duduk santai.  "Iya nih aku kurang enak badan tadi, tapi ini udah mendingan kok." ucap Rania.  "Mungkin kamu kecapean gara-gara gulat semalem lagi" goda Winda.  "Apaan sih, ya udah anterin aku ke rumah sakit yu" ucap Rania.  Akhirnya Winda mengantar Rania ke rumah sakit, di perjalanan keduanya kembali berbincang. "Aldi masih kerja saat kamu sakit gini?" tanya Winda.  "Dia tadinya mau libur dulu, ya tentu saja aku larang. Kamu tau sendiri jabatan dia itu masih bawahan, kalau dia keseringan libur yang ada dia bisa dipecat." ucap Rania, Winda mengangguk paham. Setelah setengah jam membelah jalanan akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Setelah diperiksa, ternyata tidak ada yang perlu di khawatirkan dan Rania sudah diizinkan untuk pulang.  "Apa aku harus menemani sampai suamimu pulang?" tanya Winda saat mereka telah kembali ke rumah  Rania.  "Tidak perlu, suamiku sebentar lagi akan pulang. Aku juga ingin memberikan kejutan untuknya." ucap Rania.  "Yakin, gak mau dibantuin bikin kejutannya?" tanya Winda.  "Gak usah, makasih yah sahabat terbaikku" Rania memeluk Winda.  "Baiklah, kalau ada apa-apa, segera hubungi aku" ucap Winda.  "Siap bos" kekeh Rania. Setelah mobil Winda tidak terlihat, Rania segera masuk kedalam rumahnya. Hari ini Aldi sengaja pulang cepat karena khawatir dengan kondisi Rania, selain itu dia juga ingin mengajak Rania makan malam diluar. Itung-itung merayakan hari ulang tahun pernikahan, walaupun baru berusia tiga bulan. Awalnya Aldi ingin pulang dulu ke rumah  untuk mengganti pakaian dan menjemput Rania. Namun Rania menolak, dia ingin langsung menemui Aldi di resto tempat mereka janjian.  "Assalamu’alaikum sayang, kamu sudah lama menunggu?" tanya Rania. Aldi sedikit  kaget melihat kedatangan Rania, istrinya itu terlihat sumringah sekali.  "Waalaikumsalam Ran, gimana keadaan mu sekarang? Maaf yah, aku masih pake baju kerja kayak gini." ucap Aldi.  "Gak papa sayang, kamu masih terlihat tampan kok." ucap Rania. Kemudian Aldi mempersilahkan Rania duduk. Mereka pun makan malam bersama, sesekali keduanya tertawa dengan obrolan ringan mereka. Saat sedang asik makan Aldi dibuat terkejut dengan kondisi Rania yang tiba-tiba mengeluh sakit perut.  "Kamu kenapa sayang, mana yang sakit?" Aldi panik melihat Rania kesakitan sambil memegang perutnya.  "Perut aku mas," Rania terus saja meringis. Aldi segera menghampiri Rania, Aldi semakin panik. Dia mengutuk dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Rania.  "Mana yang sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang" Aldi hendak menggendong Rania, namun tangan Rania menahannya.  "Ada sesuatu di perut aku sayang," ucap Rania.  "Maksud kamu, sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Aldi. "Ada sesuatu di perut aku, ada janin di perut aku." Aldi masih melongo, mencerna ucapan Rania. Sedetik kemudian, dia tersenyum menatap Rania.  "Maksud kamu, kamu sedang hamil?" tanya Aldi antusias.  "Iya sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." ucap Rania.  "Aku akan jadi ayah?" tanya Aldi, dan Rania mengangguk mengiakan.  Aldi meloncat kegirangan dia begitu bahagia mendengar kabar dari Rania. Aldi memeluk Rania erat, dia beberapa kali mengecup pucuk kepala istrinya itu. Bahkan mereka tidak sadar jika beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.  "Sayang udah, aku malu diliatin banyak orang." ucap Rania. Panji merasa gas pada istrinya itu. Dia mengeratkan pelukannya.  "Terimakasih, aku sangat bahagia." bisik Aldi. Rania tersenyum, dia juga sangat bahagia. Kini kesempurnaan dalam pernikahannya akan segera hadir. Mereka kemudian segera melanjutkan acara makan malam yang sempat tertunda. Keduanya saling melempar pandangan dan juga senyum kebahagiaan. Baik Aldi maupun Rania, dalam hatinya berjanji akan selalu menjaga calon buah hatinya. Setelah selesai, mereka pun pulang dengan kebahagiaan yang baru. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD