Sang Buah Hati

1011 Words
Kabar kehamilan Rania tentu saja membuat kebahagiaan baru dalam rumah tangga mereka. Cinta Aldi juga semakin  bertambah besar untuk Rania, apapun yang Rania minta akan dengan sepenuh hati Aldi lakukan. Kondisi psikologis Rania semenjak hamil juga lebih sensitiv.   "Mas mau kemana?" tanya Rania saat Aldi hendak beranjak dari tempat tidur.   "Mau ke kamar mandi sayang, sekarang sudah subuh." ucap Aldi.   "Gak mau, kamu temenin aku dulu disini. Subuh nya juga kan masih lama." Rania malah bergelayut manja ditangan suaminya itu. Melihat sikap Rania membuat Aldi menjadi gemas, dia mengurungkan niatnya pergi ke kamar mandi, Aldi malah menarik Rania kedalam pelukannya. Begitu pun Rania, dia langsung membenamkan wajahnya di d**a bidang suaminya itu. Semenjak hamil, Rania memang menjadi manja pada Aldi. Entah mengapa anak dalam perutnya itu begitu ingin selalu berdekatan dengan Aldi.   "Sudah yah, kita shalat subuh berjamaah dulu yah" ucap Aldi, setelah dirasa Rania cukup tenang. Rania memeluk erat tubuh Aldi sebelum melepas nya pergi ke kamar mandi. "Ya ampun Ran, aku cuma pergi ke wc, bukan mau pergi ke amerika" gumam Aldi dalam hati. Aldi juga mencubit pipi Rania sebelum meninggalkan nya.   Aldi dan Rania kemudian shalat subuh berjamaah, dalam do'a mereka mengucap banyak syukur kepada sang pencipta atas semua nikmat yang telah diberikan untuk mereka. Nikmat kebahagiaan yang berlimpah dalam kehidupan mereka. Tak lupa keduanya berdo'a agar selalu diberikan kesehatan dan keselamatan untuk calon anak mereka. Setelah selesai berdo'a Rania mencium tangan suaminya dengan takdzim.   Seperti biasa Rania selalu menyiapkan sarapan untuk Aldi. Dia berkutat dengan perkakas dapurnya sejak selesai shalat subuh. Dengan cekatan Rania membuatkan dua piring nasi goreng untuk sarapan. Setelah selesai Rania menatanya di atas meja makan.   "Sudah selesai masaknya" Aroma wangi masakan Rania sudah mengundang Aldi menuju meja makan terlebih dahulu sebelum Rania sempat memangilnya.   "Sidah dong sayang," ucap Rania. Aldi segera menyantap makanan yang sudah tersaji.   "Makanan kamu memang selalu enak." puji Aldi. Rania memang sangat pandai dalam memanjakan lidah suaminya. Itulah sebabnya Aldi jauh lebih suka makan di rumah, hanya jika ada acara tertentu saja keduanya makan diluar.   "Mas, hari ini kan kamu libur. Gimana kalau kita jalan-jalan, sekalian beli perlengkapan bayi yang kurang." ucap Rania.   "Gak mau ngabisin waktu di rumah  aja, mumpung aku lagi libur juga kan. Jadi aku bisa nemenin kamu seharian dikamar nanti" goda Aldi.   "Maaass... " pipi Rania langsung saja memerah.   " Ya udah, nanti kita jalan." ucap Aldi sambil tertawa.   "Tapi nanti kalau jalan, kamu gak usah ganteng-ganteng. Biar gak ada cewe yang naksir." ucap Rania.   "Iya sayang. Tapi beneran nih, kita gak menghabiskan waktu di rumah aja?" tanya Aldi.   "Maass ih, buruan siap-siap. Aku pengen cepat jalan nih" ucap Rania.   "Iya-iya." Aldi pun pergi bersiap.   Setelah siap mereka pun berangkat menuju tempat tujuan. Sebenarnya Rania sudah mempersiapkan peralatan bayi sejak jauh-jauh hari. Hari ini hanya ada beberapa barang saja yang dirasa kurang. Namun yang sebenarnya ingin dilakukan  oleh Rania adalah menghabiskan waktu seharian bersama suaminya. Saat ini kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga. Kelahirannya pun hanya tinggal menghitung hari lagi. Rania merasa ini adalah saat terakhir untuk jalan hanya berdua dengan Aldi, jelas saja setelah bayinya lahir mereka kan akan jalan bertiga.   "Mas, belanjanya nanti aja yah. Aku mau ke taman bentar, aku mau ke tempat kamu nembak aku waktu pertama kali dulu" ucap Rania sambil bergelayut manja pada tangan suaminya. "Hah? Bukannya kita mau belanja keperluan bayi sayang?" tanya Aldi heran.   "Belanjanya kan bisa nanti mas, aku pengen main-main bentar ke sana" pinta Rania.   "Ya udah iya," ucap Aldi pasrah, sementara Rania tersenyum bahagia.   Sesampainya di taman Rania meminta Aldi membelikannya es krim, dan mereka menerbangkan balon bersama. Persis seperti apa yang mereka pernah lakukan pada saat masih pacaran dulu. Begitu banyak waktu yang mereka habiskan di taman, bahkan keduanya sampai lupa dengan tujuan awal mereka.   "Udah sore nih, nanti tokonya keburu tutup." ucap Aldi.   "Oh iya, sampai lupa kalau kita mau pergi ke toko. Gak jadi aja deh, kapan-kapan aja. Kalau kamu ada libur lagi" ucap Rania dengan cengengesan.   "Ya ampun, kalau kamu mau minta jalan-jalan ya tinggal bilang sayang" ucap Aldi.   "Hehe, maaf sayang." ucap Rania.   "Ya udah, kita pulang aja yah. Aku lelah nih, mau istirahat." ucap Aldi. Namun tiba-tiba perut Rania berkontraksi, sepertinya sudah waktunya untuk Rania melahirkan.   "Aduh mas, perut aku sakit. Sepertinya aku mau lahiran mas" mendengar itu Aldi menjadi panik, dia segera menggendong Rania menuju mobil, dan mendudukannya dengan sangat hati-hati.   "Sabar ya sayang, kita akan segera menuju rumah sakit." Aldi segera tancap gas, dan membelah jalanan kota menuju rumah sakit bersalin. Kebetulan kelengkapan alat untuk bersalin sudah dipersiapkan satu minggu dari taksiran persalinan. Jadi sekarang saat ada kejadian mendadak tidak perlu repot lagi, tinggal langsung ke rumah sakit saja.   Disepanjang perjalanan Aldi tidak henti memberi dukungan psikologis untuk Rania, dia dengan sabar menyemangati Rania, menanamkan pada diri Rania bahwa dia mampu dan kuat melewati semua ini. Tangannya juga tidak pernah lapas menggenggam tangan Rania. Hanya perlu waktu 30 menit diperjalanan, mobil mereka telah sampai ditempat tujuan. Segera Aldi memanggil suster, dan menggendong Rania kedalam brankar, segera para suster membawa ke ruang tindakan. Di luar tak hentinya memohon do'a demi keselamatan isti dan anaknya.   "Pak, silahkan temani istri bapa dalam proses persalinan di dalam" ucap seorang bidan pada Aldi. Aldi pun segera masuk dan mendampingi Rania, dia memegang erat tangan Rania ketika sedang mengejan. Dia usap semua peluh yang ada di kening Rania dengan penuh kasih sayang.   Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya terdengar suara tangis bayi. Aldi baru bisa bernafas lega. "Pak ini bayinya Alhamdulillah perempuan, sehat dan lengkap. Silahkan untuk di adzani terlebih dahulu." suster menyerahkan bayi tersebut. Ada rasa haru ketika Aldi pertama kali menggendong bayinya, air matanya menetes haru tanpa permisi. Segera dia mengadzani bayi tersebut.   "Sayang, Alhamdulillah kamu dan bayi kita selamat." ucap Aldi pada Rania, kemudian Rania segera melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini.   "Mau kita beri nama siapa mas?" tanya Rania.   "Syifa" senyum sang suami.   Asyifa Nur Baiti Asyifa dalam bahasa Arab memiliki arti obat atau penawar atau penyembuh. Nur memiliki arti cahaya, dan Baiti memiliki arti rumah. Harapannya, anak perempuan diberi nama tersebut dapat menjadi obat dan cahaya di rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD