Pertemuan

1022 Words
Hari ini Rania sudah diizinkan untuk pulang setelah melahirkan putri mereka yang bernama syifa. Kondisi keduanya pun sudah stabil dan tidak ada komplikasi. Winda pun turut hadir untuk menjemput Rania pulang dari rumah sakit.   "Win, jagain Rania dulu yah. Aku mau beresin administrasi dulu." ucap Aldi.   "Ya udah, pergi aja" jawab Winda. Aldi kemudian keluar. Sementara di dalam Rania dan Winda tengah asik melihat sang bayi yang mungil.   "Lucu banget sih bayi kamu Ran." ucap Winda, ketika melihat Syifa tengah tertidur di box bayi.   "Ya iyalah, lihat dari ayah dan ibunya dong. Aku dan mas Aldi kan cantik dan tampan, jadi wajar aja kalau anaknya juga sama." ucap Rania dengan percaya dirinya. Sementara Winda yang mendengar hanya memutar bola matanya malas.   "Siapa namanya?" tanya Winda.   "Asyifa, panggil aja syifa." jawab Rania, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya.   Tapi jauh dilubuk hatinya Winda berkata ~beruntung sekali kamu Ran, bisa mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Melihat Winda yang tengah melamun Rania pun mengajaknya kembali berbincang.   "Kamu gak mau cepat-cepat dapet yang kayak gitu juga Win?" ucap Rania.   "Maksud kamu?" Winda pura-pura tidak tahu.   "Ya itu cepat punya baby, kapan dong kamu kenalin aku sama calon suami kamu?" ucapan Rania sontak membuat Winda kaget, dia merasa miris dengan nasib yang tengah menimpa dirinya. Dalam hatinya dia bergumam, "Boro-boro calon suami, pacar aja aku gak punya."   "Aaahh itu mah gampang, tinggal menunggu persetujuan saja" ucap Winda. Dia mencoba menghibur diri dan tersenyum agar terlihat kuat didepan Rania. "Benarkah? Berarti hubungan kalian sudah sangat serius dong. Kok kamu gak pernah cerita sama aku sih. Terus tinggal menunggu persetujuan siapa?" tanya Rania antusias.   "Menunggu persetujuan sang pemilik hati, entah kapan aku akan disetujui untuk segera bertemu dengan jodohku." ucap Winda. Awalnya Rania hanya ingin mengajak sahabatnya bercanda, namun ternyata pertanyaan nya justru membuat Winda terlihat sedih.   "Kamu sabar yah, aku percaya suatu saat kamu akan mendapatkan jodoh yang akan mencintai kamu lebih besar dari cintamu kepadanya." ucap Rania, dia memeluk Winda.   "Terimakasih" Winda juga membalas pelukan Rania dengan erat. Rania adalah satu-satunya sahabat yang Winda punya. Kebahagiaan Rania adalah bahagianya juga. Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka, ternyata Aldi yang masuk.   "Aduh aku ganggu acara dua sahabat yang lagi bersama nih" ucap Aldi meledek. Sementara kedua sahabat itu malah tertawa.   "Sudah selesai mas?" tanya Rania.   "Sudah, sekarang ayo kita pulang." ucap Aldi. Aldi dan Rania telah berkemas sejak tadi pagi, jadi sekarang mereka tinggal pulang saja ke rumah.   "Win, kamu pulang bareng kita kan?" tanya Rania.   "Enggak, aku bawa mobil. Aku nanti ke rumah kamu deh nyusul. Aku mau ke butik bentar" ucap Winda. Kemudian mereka pun pulang dengan mengendarai mobil masing-masing. Aldi membelah jalan menuju rumahnya, sementara Winda menuju butiknya.   "Kamu tadi lagi ngomongin apa sama Winda, kelihatannya winda seperti sedang sedih" tanya Aldi, meskipun terkesan sering berdebat dengan Winda, namun sebenarnya mereka sahabat yang saling perhatian.   "Biasa mas, masalah perempuan. Aku tadi cuma tanya mengenai pasangan hidupnya." ucap Rania.   "Ya, kita juga kan sudah sering menjodohkan dia dengan banyak cowok. Tapi tidak pernah berhasil." ucap Aldi.   "Iya, aku juga gak pernah tau alasannya apa sampai dia menutup hatinya untuk laki-laki yang mau mendekatinya." ucap Rania.   "apa mungkin Winda pernah terluka dalam cinta, sehingga dia trauma." lanjut Rania.   "Sudah lah, mungkin Winda punya alasan kenapa dia bersikap seperti itu." ucap Aldi.   "Kamu benar mas" ucap Rania.   Perjalanan menuju rumah terasa lebih lama karena mereka terjebak macet, karena berasa lelah akhirnya Rania memejamkan matanya dan terlelap ke alam mimpi. Sementara si mungil masih betah terlelap dalam tidurnya. Memandangi dua wanita yang dicintai tengah terlelap, membuat Aldi tersenyum. Aldi masih ingat saat pertama kali aku melihat Rania, saat itu Aldi hendak berangkat ke sekolah dengan menggunakan bis. Saat sedang menunggu di halte tak sengaja matanya menangkap seorang perempuan sedang membantu menyebrangkan nenek tua. Sejak saat itu Aldi jatuh cinta pada Rania, saat Aldi berniat menghampiri Rania, saat itu juga bis yang dia tunggu berhenti di depannya. Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan Rania saat itu Aldi berharap suatu hari nanti dia bisa melihat gadis itu kembali. Siapa sangka, gadis yang tadi ditemui Aldi, kini tengah berada di depan kelas sedang memperkenalkan diri. Ternyata dia anak pindahan dari Bandung dan diketahui bernama Rania. Ternyata takdir memang menghendaki kita untuk bertemu. Karena semua bangku telah terpenuhi, dan hanya menyisakan satu bangku yang kosong, yaitu sebangku dengan Aldi.   "Perkenalkan nama saya Aldi," ucap Aldi mengulurkan tangan.   "Oh" ucap Rania jutek. Aldi terlihat kaget dengan respon Rania. Perasaan tadi Rania menolong seorang nenek, itu berarti hatinya begitu lembut, tapi mengapa dia jadi berubah menjadi jutek gini? ~pikir Aldi. Dulu tidak ada keberanian bagi Aldi untuk mendekati Rania, Aldi hanya bisa mengaguminya secara diam-diam. Makin hari Aldi makin jatuh cinta pada Rania, selain cantik dan pintar, Rania juga peduli pada orang lain. Hingga suatu hari saat aku sedang berjalan pagi dihari minggu, aku tidak sengaja melihatnya terjatuh, kakinya sampai terluka. Aku segera menghampiri Rania dan menolong nya. Kakinya terkilir, kebetulan sekali nenekku tukang pijat jadi aku membawa dia ke rumah nenek. Ada satu yang menyita perhatian ku, saat kakinya terluka ada setitik air mata yang menetes di pipinya. Pasti karena kakinya terasa sakit, tapi kalau hal itu menimpa wanita lain pasti sudah berteriak histeris karenanya.  Semenjak kejadian itu, hati Rania menjadi luluh. Kita semakin dekat setelah nya. Aku sering mengajak nya berangkat dan pulang sekolah bareng. Saat hari libur, kita biasa berjalan pagi bersama dan menghabiskan waktu di taman dekat komplek.   Keduanya masuk ke perguruan tinggi yang sama hanya saja beda jurusan, tapi keduanya tetap dekat bahkan menjadi semakin dekat. Hingga suatu hari Aldi memberanikan diri untuk menjadikan Rania belahan hatinya. Siapa sangka Rania akan menerima itu. Keduanya resmi pacaran selama 7 tahun dan berakhir di atas pelaminan.   Kini Rania telah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya, bahkan kebahagiaan itu menjadi kian sempurna semenjak hadir nya bidadari kecil dalam rumahnya. Mengingat masa lalu, membuat Aldi tidak sadar bahwa dia sudah terbebas dari kemacetan,  dan mobilnya telah terparkir di halaman rumahnya. Di pandangannya wajah Rania yang tengah tertidur, Aldi menerapkan sebuah kecupan di kening nya. "Sudah sampai?" tanya Rania. Aldi hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dengan suasana baru yang akan hadir di rumah mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD