"Ran, semenjak kamu hamil, kamu jadi jarang ngurus butik. Dan saat ini pemasukan di butik tuh lagi seret banget. Boleh gak kalau misalnya beberapa hari ini aku nginep di rumah kamu untuk mendiskusikan rencana yang akan kita lakukan untuk kedepannya." ucap Winda saat dia berkunjung ke rumah Rania saat kepulangannya dari rumah sakit.
"Jadi kamu mau tinggal disini?" tanya Rania.
"Itu juga kalau kamu mengizinkan, gak lama kok. Paling cuma satu minggu." ucap Winda.
"Kalau aku sih boleh aja, tapi nanti aku coba tanya mas Aldi dulu deh" jawab Rania. Sebagai seorang istri, Rania memang selalu meminta persetujuan Aldi dalam mengambil keputusan.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti kabari aku yah jika kamu sudah bicara dengan suamimu." ucap Winda, Rania mengantar Winda pulang sampai ke depan rumahnya.
Setelah makan malam selesai, dan Syifa sudah tertidur pulas Rania segera mengutarakan pembicaraannya dengan Winda siang tadi. Saat Winda memasuki kamarnya, terlihat Aldi tengah membaca buku sambil menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Rania segera menghampiri kemudian duduk disampingnya, dan tentu saja kebiasaan nya yang selalu bergelayut manja pada tangan Aldi.
"Ada apa?" tanya Aldi, dia seolah sudah paham betul mengenai istrinya. Aldi tau jika Rania berniat untuk mengatakan sesuatu pada dirinya.
"Mas, boleh gak kalau Winda untuk sementara waktu tinggal di rumah kita?" tanya Rania dengan hati-hati, wajahnya terangkat dan pandangan mereka bertemu.
"Kenapa memangnya?" tanya Aldi heran.
"Aku kan sudah lama gak mengurus butik, saat ini butik agak sedikit terbengkalai. Ya, Winda bilang kita harus menyusun rencana untuk mengatasi ini semua." ucap Rania.
"Sebaiknya Winda gak perlu sampai nginep disini deh, kalau masalah butik kan bisa di selesaikan di luar. Lagian gak baik juga kalau ada orang lain yang masuk dalam rumah tangga kita, meskipun dia itu sahabat kita sendiri." jelas Aldi. Rania tertegun, benar juga apa yang dikatakan suaminya itu, tapi Rania juga tidak mungkin berkata tidak pada Winda. Rania berpikir jika Winda sudah terlalu banyak berjuang sendirian untuk kemajuan butiknya, gak mungkin juga saat butiknya dalam masalah Rania tidak turun tangan untuk memperbaikinya.
"Tapi kan mas, Winda cuma tinggal sebentar disini. Kalau urusannya sudah beres, dia akan kembali ke rumahnya. Lagian sekarang kan aku harus mengurus Syifa, aku gak mungkin pergi membawanya ke butik kan. Kamu tau aku kan, aku sangat tidak bisa berkata tidak. Apalagi pada Winda, dia sahabat terbaik ku mas. Boleh ya" Rania memohon pada Aldi, dia sangat berharap Aldi mau menuruti keinginan nya.
"Memang kamu sudah pikiran baik-baik keputusan kamu itu?" tanya Aldi lembut.
"Iya mas, semuanya kan demi butik yang aku dan Winda dirikan. Aku gak mau butik itu bangkrut gara-gara aku" ucap Rania.
"Tapi sayang..." ucapan Aldi terhenti saat matanya melihat wajah istrinya, entah mengapa dia tidak tega menolak keinginan istrinya itu.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama yah. Begitu urusan nya beres, Winda harus segera pulang. Bukan apa-apa sayang, Winda kan orang lain, takutnya dia akan mengetahui bagaimana isi rumah tangga kita." Aldi membelai kepala istrinya.
"Iya mas, aku janji akan menyelesaikan urusan kita secepatnya." ucap Rania, dia memeluk erat suaminya dan Aldi membalas pelukan itu. Tiba-tiba suara bayi mengganggu keduanya, mereka pun tertawa.
"Makasih ya mas, aku bahagia banget" Satu kecupan mendarat di pipi Aldi, sebelum Rania pergi untuk melihat Syifa.
Pagi harinya Rania segera menghubungi Winda untuk menyampaikan kabar baik dari suaminya, Rania mencoba mendial nomor Winda.
"Assalamu’alaikum Win, aku mau kasih kabar nih. Mas Aldi udah ngizinin kamu buat nginep di rumahku sampai urusan butik selesai." ucap Rania.
"Benarkah?" tanya Winda.
"Iya, tapi mas Aldi bilang jangan lama-lama katanya" kekeh Rania.
"Baiklah, setelah urusannya selesai aku akan segera pulang." ucap Winda.
"Kapan kamu akan datang kesini?" tanya Rania.
"Siang nanti, sepulang dari butik aku akan langsung ke rumah mu." ucap Winda.
"Baiklah aku akan menunggumu, sudah dulu ya. Aku harus menyiapkan sarapan untuk mas Aldi." ucap Rania.
"Baiklah" jawab Winda singkat, kemudian menutup sambungan teleponnya.
Winda nampak tersenyum bahagia saat mendengar kabar dari Rania, sementara Rania kini sedang berkutat dengan perkakas di dapur memasak sarapan untuk suaminya. Rania kali ini hanya menyiapkan sarapan untuk Aldi, dia tidak menemaninya di meja makan. Tiba-tiba Syifa menangis, mungkin dia juga lapar dan ingin menyusu. Setelah selesai makan Aldi pamit untuk berangkat kerja.
"Sayang aku berangkat yah" ucap Aldi, Rania segera menghampiri Aldi dan memakaikan dasi di lehernya. Suaminya itu memang tidak bisa mengenakan dasinya sendiri.
"Hati-hati dijalan, cepat pulang yah" Rania mencium punggung tangan Aldi, kemudian Aldi mencium kening Rania dan putri kecilnya sebelum berlalu.
Kehadiran Syifa membuat aktivitas Rania menjadi sedikit sibuk, Aldi menyarankan untuk mencari asisten rumah tangga. Namun Rania menolak, dia yakin jika pekerjaan rumahnya masih bisa di handle. Namun akibat fokus menjadi istri yang baik, butik yang dia kelola jadi terbengkalai. Tapi bisa melayani suami dengan sepenuh hati membuat Rania bahagia dan melupakan rasa lelah yang dideritanya.
Sesuai rencana Winda datang ke rumah Rania sepulangnya dari butik. Rania menyambut kedatangan Winda dengan suka cita, bagaimana tidak. Sewaktu belum menikah Rania dan Winda sering melakukan suatu hal bersama. Winda juga sering menginap di rumah Rania, mereka juga biasa makan makanan yang sama. Namun setelah Rania menikah, semua keseruan itu hilang. Rania sudah mempunyai kebahagiaan nya sendiri, mereka jadi jarang bertemu.
"Ran, gak papa nih aku nginep di rumah kamu?" tanya Winda.
"Gak papa dong, aku justru bahagia. Kita udah lama banget gak menghabiskan waktu bersama"ucap Rania.
"Iya yah, kita udah lama gak seneng-seneng kayak dulu. Rasanya keadaan kita sudah berubah yah" ucap Winda.
"Hehe iya... Maaf yah, aku terlalu sibuk dengan kehidupan aku" ucap Rania.
"Aku ngerti kok, oh ya. Syifa mana? aku pengen gendong deh, kangen banget sama dia" tanya Winda dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Dia lagi tidur, ayo aku antar kamu ke kamar." Rania pun mengantarkan Winda ke kamarnya. Beruntung di rumahnya terdapat dua kamar tamu. Kamar tamu nya memang gak cukup luas tapi lumayan lah.
"Ini kamarnya, anggap aja rumah sendiri." ucap Rania.
"Iya, Ran. Makasih ya" Winda memeluk Rania.
"Ya udah kamu istirahat dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa panggil aku dikamar depan." ucap Rania.
"Siap." Rania meninggalkan Winda untuk beristirahat. Dalam hatinya Winda berkata, "Semoga kamu tidak akan pernah menyesal katena telah membiarkan aku masuk kedalam rumahmu" Winda tersenyum sinis kemudian masuk ke dalam kamarnya.