Insiden Kecil

1024 Words
Winda sudah tinggal dua hari di rumah Rania. Kehadiran Winda membawa suasana baru di rumah Rania, tidak bisa dipungkiri, jika keberadaan nya memang mengurangi pekerjaan rumah Rania. Sebagai tamu yang baik, Winda sering membantu beberes rumah, Winda sadar jika dirinya hanya numpang. Dengan membantu mengerjakannya pekerjaan rumah, setidaknya Winda mempunyai etikat baik sebagai seorang tamu.   Seperti saat ini, Rania yang masih selalu berkutat membuatkan sarapan untuk suaminya. Sedangkan Winda tengah menjaga syifa di kamarnya. Namun entah ada masalah apa tiba-tiba Syifa menangis, Winda sudah berusaha menenangkannya namun dia tetap saja nangis. Tidak ada pilihan lain selain membawa Syifa pada Rania.   "Ran, coba kamu susui Syifa sebentar, mungkin dia haus. Dari tadi nangis terus gak bisa berhenti" ucap Winda.   "Tapi aku lagi masak tanggung, coba sini biar sambil digendong" ucap Rania.   "Aduh bahaya Ran, kalau masak sambil bawa bayi gitu. Udah kamu tenangin aja Syifa, biar aku yang lanjutin masak." ucap Winda.   "Ya udah, maaf yah jadi ngerepotin kamu" Rania kemudian mengambil alih Syifa dari gendongan Winda.   "Iya, tenang aja. Kayak sama siapa aja" ucap Winda, dia kemudian meneruskan masak. Sementara Rania membawa Syifa ke kamarnya.   Setelah Syifa tertidur Rania bermaksud hendak meneruskan kembali aktifitas masaknya, namun ternyata Winda sudah menghidangkan masakan di atas meja. Winda sangat pandai menata makanan sehingga yang melihat akan langsung tergiur untuk menyantapnya.   "Wah sudah selesai yah. Aduh aku gak sempet bantuin masak, maaf yah" ucap Rania tidak enak.   "Udah gak usah dipikirin, aku bersih-bersih dulu ya. Kamu sama Aldi makan aja duluan" ucap Winda. Kemudian berlalu menuju kamarnya, sementara Rania menyiapkan sarapan untuk suaminya. Aldi kemudian datang dengan setelan lengkap menuju kantor, mencium aroma masakan membuat perut Aldi meronta untuk diisi.   "Seperti biasa, masakan kamu itu selalu terasa enak sayang" ucap Aldi memuji masakan yang tengah di santapnya.   "Enak yah mas? Itu Winda yang masak, aku belum sempat meracik bumbunya tadi" ucap Rania, dia sedikit ragu untuk mengatakan itu pada suaminya. Rania sangat tau jika Aldi hanya ingin makan masakannya ketika berada di rumah, Rania yakin jika kali ini Aldi juga pasti akan protes kepadanya. Sementara Aldi yang sedang asik makan, tiba-tiba terhenti saat mendengar penuturan dari istrinya. Dia segera meneguk minum dan melangkah pergi menuju kamarnya. Merasa ada yang tidak beres Rania segera pergi menyusul.   "Mas, kamu kenapa?" tanya Rania.   "Kamu tau kan aku hanya mau makan sarapan buatan kamu aja. Aku gak mau makan masakan orang lain, apalagi Winda yang buat." ucap Aldi, suaranya memang masih terdengar lembut namun ada gurat kecewa yang terlihat dimatanya.   "Maaf mas, tadi saat aku lagi masak Syifa nangis. Jadi aku minta tolong Winda buat bantuin masak. Lagian masakan Winda kan enak mas." tutur Rania.   "Aku tau, tapi aku gak suka." tegas Aldi. Dia segera pergi menuju kerjanya, bahkan Aldi sampai melupakan kebiasaan nya untuk mencium kening Rania dan memintanya memasangkan dasi. Melihat kepergian Aldi membuat Rania sedikit tertegun, tidak biasanya Aldi sampai semarah ini. "Apa Aldi sedang ada masalah? Atau ada yang dia sembunyikan dariku? Tapi apa?" Rania bertanya dalam hatinya.   "Sebaiknya nanti aku tanya saat mas Aldi pulang. Mas Aldi kan kalau marah gak lama" ucap Rania pada dirinya sendiri. Rania sampai tidak sempat untuk mengantarkan Aldi ke depan rumahnya, dia terlalu kaget akan sikap Aldi barusan. Saat Rania keluar dari kamarnya, dia melihat Winda baru masuk kedalam rumahnya. "Darimana Win?" tanya Rania heran. "Aku tadi lihat Aldi terburu-buru pergi, sepertinya dia marah. Maaf yah, tadi gak sengaja denger pembicaraan kalian. Aku cuma mau jelasin aja sama Aldi apa yang sebenarnya terjadi." jelas Winda.   "Gak papa Win, nanti juga pas mas Aldi pulang dia bakal baikan. Maafin mas Aldi yah, mungkin Mas Aldi lagi ada masalah. Gak biasanya juga dia marah-marah kayak gitu" ucap Rania. Winda memeluk Rania.   "Besok aku akan segera kembali ke rumah, sepertinya masalah butik juga sudah selesai." ucap Winda. "Alhamdulillah jika masalah butik sudah teratasi. Makasih yah, semoga butik kita semakin maju" ucap Rania.   "Aamiin, kalau gitu aku pergi ke butik dulu yah." ucap Winda, Rania mengangguk.   Sepanjang hari Rania terus saja kepikiran akan sikap Aldi tadi pagi, jika Rania ingat Aldi nampak lahap makan masakan Winda. Masakan Winda juga rasanya sama seperti masakannya. Dulu Rania dan Winda sering masak dan berbagi resep bersama, makanya rasa masakannya pasti akan sama. Tapi setelah Rania bilang jika itu masakan Winda, Aldi tiba-tiba marah. Apa yang sebenarnya terjadi yah?   Hari sudah sore, Rania sangat menanti kepulangan Aldi, dia sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan masalah yang telah terjadi diantara mereka. Saat suara mobil telah terdengar dihalaman rumahnya, Rania segera menyambut kepulangan Aldi dengan membukakan pintu. Seperti yang sudah di bilang sebelumnya, kalau Aldi itu tidak pernah marah dalam waktu yang lama. Lihat saja, sekarang senyumnya sudah terukir di wajahnya. Dia juga tidak melupakan kebiasaan mengecup kening Rania saat pulang kerja.   "Sayang, aku sudah siapkan makan malam buat kamu, aku juga sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi." ucap Rania sambil membawa tas kerja Aldi.   "Makasih ya sayang, tapi aku mau bicara dulu sebentar sama kamu" ucap Aldi. Rania mengangguk, dia mengikuti langkah Aldi menuju kamarnya dengan bergandeng tangan.   "Ada apa mas?" tanya Rania, setelah tiba di kamar. "Maaf yah tadi pagi aku marah-marah sama kamu" Aldi menatap mata Rania.   "Gak papa kok mas, aku hanya sedikit heran aja, gak biasanya kamu marah sampai segitunya, bahkan kamu lupa buat cium kening aku." ucap Rania, dia mengerucutkan bibirnya membuat Aldi merasa gemas. Aldi menatap wajah istrinya, ingin rasanya Aldi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Aldi rasa sekarang belum waktunya. Aldi akan tunggu sampai waktu nya tiba.   "Aku kepikiran soal kerjaan aja, oh ya apa urusan butik sudah selesai?" tanya Aldi.   "Alhamdulillah sudah, besok Winda akan segera pulang." ucap Rania.   "Benarkah?" raut gembira nampak jelas terlihat di wajah Aldi, membuat Rania geli.   "Kamu bahagia sekali" selidik Rania.   "Tentu saja, kan tidak akan ada yang mengganggu kita berdua." ucap Aldi.   "Maksud kamu? Kamu lupa kalau sekarang sudah ada Syifa di kehidupan kita?" tanya Rania.   "Syifa kan masih kecil, dia gak akan ngerti juga pas liat kita lagi bermesraan" Rania memutar bola mata malas dan meninggalkan Aldi sendirian di kamar, sementara Aldi malah tertawa.   "Aku harap kamu tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Winda." ucap Aldi dalam hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD