bc

Mengendap di Antara Kata

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
family
time-travel
love after marriage
fated
second chance
friends to lovers
single mother
drama
tragedy
sweet
lighthearted
mystery
campus
city
office/work place
small town
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Apa jadinya jika dua jiwa yang terluka tidak saling menyembuhkan, tapi saling menemani dalam diam?

Bagaimana jika cinta tidak datang sebagai pelarian, tapi sebagai cermin—yang justru menunjukkan bagian diri yang selama ini kita hindari?

Tama & Laras bukan sekadar cerita tentang pertemuan, perpisahan, dan cinta. Ia adalah perjalanan batin dari dua manusia yang mengajarkan kita: bahwa rumah bisa rapuh, cinta bisa lelah, dan pulang... kadang justru ke dalam diri sendiri.

Bagi Tama, menulis bukanlah sebuah hobi, melainkan satu-satunya cara agar ia tidak gila oleh sepi. Jurnal berkulit cokelat di lacinya penuh dengan cerita yang menggantung—paragraf-paragraf tanpa akhir yang mencerminkan hidupnya sendiri: tidak selesai, buntu, dan penuh tanda tanya.

Hingga sore itu, di bawah langit jingga yang perlahan meredup, sebuah pertanyaan sederhana dari Laras menghantam inti jiwanya: “Tama, kamu pernah merasa gagal?” Pertemuan tak sengaja dengan Laras di sebuah taman baca kota mengubah segalanya. Laras adalah pembawa cahaya, sementara Tama adalah sang penyimpan mendung. Bersama Laras, hal-hal remeh-temeh berubah menjadi tidak sederhana. Melalui interaksi yang sarat emosi dan ketegangan batin yang halus, novel ini mengajak kita mengintip ke dalam bilik paling sunyi dari hati manusia. Kisah ini adalah pengingat bahwa di balik setiap perih yang kita sembunyikan, selalu ada kekuatan tipis yang menolak untuk padam.

chap-preview
Free preview
Episode 1 : Coretan yang Tak Pernah Sampai
Kamar itu sederhana, seolah seluruh isinya adalah pantulan dari jiwa penghuninya. Dindingnya tidak banyak hiasan, hanya rak buku kayu yang mulai rapuh di pojok ruangan, dan sebuah meja kecil yang penuh dengan tumpukan kertas kusut, seakan tiap lembar menyimpan rahasia yang enggan dibuka. Sebuah jam dinding berdetak lambat, seakan turut tenggelam dalam waktu yang terasa beku. Tama duduk di sana, membungkuk di hadapan secarik kertas. Tangannya menggenggam pena hitam yang sudah kehilangan tutupnya. Ia tak tahu kenapa menulis menjadi satu-satunya cara untuk tidak larut dalam sepi. Bukan puisi. Bukan surat. Hanya kalimat-kalimat yang tak punya alamat, tidak pernah dikirimkan ke mana pun. "Kadang aku merasa, seandainya aku hilang esok pagi, mungkin tidak ada yang akan benar-benar mencariku. Dunia akan tetap sibuk, dan aku hanya akan jadi debu yang disapu angin." Ia berhenti menulis. Menatap huruf-huruf yang tampak seperti bekas luka. Lalu menggulung kertas itu dan melemparkannya ke dalam kotak kayu di bawah meja—kotak yang penuh dengan catatan serupa, catatan yang tak pernah dibaca ulang. Hari-hari Tama selalu seperti ini. Pagi yang ia lewati dengan sisa mimpi buruk, dan malam yang berakhir dengan secarik keputusasaan. Hidupnya begitu datar, bukan karena tak ada yang terjadi, tapi karena terlalu banyak yang pernah ia alami—dan semuanya meninggalkan luka. Ia pernah mencoba bicara, membuka diri. Tapi penolakan datang terlalu sering, seperti musim yang tak pernah absen. Kata-kata jadi hal yang menakutkan. Ia lebih nyaman menyembunyikan isi kepalanya daripada harus menjelaskan pada orang yang tak akan benar-benar mengerti. Dari meja itu, ia menatap jendela. Langit masih abu-abu, seperti perasaannya. Angin berdesir perlahan, menyentuh kelopak daun di pohon depan rumah. Tama menarik napas panjang. "Apa hidup hanya tentang bertahan? Kalau iya, untuk siapa sebenarnya aku bertahan?" Di atas mejanya, tergeletak sebuah buku usang—"Demian" karya Hermann Hesse. Tama membacanya berulang-ulang. Bukan karena ingin paham seluruh isinya, tapi karena di antara halaman-halaman itu, ia menemukan dirinya sendiri. Seorang anak muda yang mencari arti keberadaan, melawan takdir yang membisu. Tak ada yang tahu bahwa di balik diamnya, Tama menyimpan dunia yang luas. Dunia yang dipenuhi pertanyaan dan kerinduan akan sesuatu yang belum pernah ia temukan: pemahaman. Ia menulis lagi. Kali ini bukan untuk mengeluh. Tapi untuk mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup, masih merasa. "Mungkin suatu hari nanti, ada yang membaca ini dan merasa, 'Aku juga pernah merasa seperti itu.' Lalu entah bagaimana, aku tidak akan merasa sendirian lagi." Dan tanpa ia sadari, catatan kecil itu menjadi awal dari perjalanan yang akan mengubah segalanya. Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan. Tama bangkit dan berdiri di ambang jendela. Ia tak tahu bahwa di tempat lain, di bawah langit yang sama, seseorang tengah berjalan ke arah yang akan mempertemukan takdir mereka. Seseorang yang kelak akan membaca catatan itu dan mengerti. Langit masih mendung, seperti menggantungkan sesuatu yang tak selesai. Dan di dalam kamar sempit itu, Tama duduk bersila di lantai, di antara buku-buku tua dan kertas-kertas yang sudah menguning. Dinding kamarnya dipenuhi tulisan kecil, kutipan dari buku, lagu, atau entah dari mana—semuanya seperti suara-suara sunyi yang hanya ia dengar. Tama mulai menulis lagi. Sebaris kalimat, lalu berhenti. Ia bukan penulis, bukan pula pujangga. Tapi ia menulis untuk menjaga kewarasannya. Sebuah catatan di kertas robek: “Tidak semua luka berdarah. Ada yang diam, tinggal, dan menjelma rumah.” Tangannya ragu, lalu menambahkan garis di bawah kalimat itu. Ia menatap kertas itu lama, seolah berharap ada seseorang yang akan membacanya suatu hari nanti—atau mungkin tidak sama sekali. Kertas itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu kecil di pojok kamar. Kotak itu sudah hampir penuh. Isinya: serpihan-serpihan hati yang tak pernah diucapkan. Di meja belajarnya, ada satu buku yang tak pernah pindah tempat. Man’s Search for Meaning – Viktor E. Frankl. Ia belum selesai membacanya, tapi halaman-halamannya sudah penuh coretan. Di sampul dalamnya, tertulis satu kalimat dengan tinta yang mulai pudar: “Yang paling membuatku takut bukan kesepian, tapi jika semua ini tak berarti.” Tama menarik nafas panjang. Ada keheningan yang tidak nyaman di dadanya. Bukan karena ia sendiri, tapi karena terlalu sering merasa tidak ada. Monolognya dimulai. Bukan dalam kata-kata yang keras, tapi dalam gumaman hati: “Apakah semua orang pernah merasa seperti ini? Seperti hidup terus berjalan tapi kau tertinggal di satu titik. Membeku. Mengulang dialog yang tak pernah selesai.” Dan sore itu, tanpa alasan yang jelas, ia berjalan keluar. Sepasang sepatu lusuh, ransel berisi satu buku catatan, dan satu pena. Langkahnya mengarah ke tempat yang tak asing: taman baca di pinggir kota. Ia tak tahu kenapa kakinya ke sana. Mungkin karena di sana ia bisa merasa tenang. Atau karena ia ingin merasa 'ada' di antara orang-orang yang sibuk mencari makna. Dan di taman itu, takdir mulai menulis ulang cerita yang selama ini hanya ada di kepalanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
714.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
953.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
343.6K
bc

Not just, the Beta

read
340.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook