Menikmati Waktu

1089 Words
Mereka tiba di flat, Maki mengantar Ola ke flatnya. Melihat isi kamar itu yang sangat rapi, seperti tidak berpenghuni. “Aku menyukai kebersihan,” kata Ola sebelum Maki melontarkan sebuah pertanyaan. Maki mengangguk dan meletakkan daging mereka di meja. “Aku akan mengambil kentang di kamarku.” Maki mengatakan itu seolah meminta persetujuan Ola. Ola mengangguk mengiyakan. Dia meletakkan tas kecilnya di kasur. Membuka tirai di jendelanya dan memandang kota yang beranjak senja. Jika ada yang berusaha melakukan sihir padanya, maka kemungkinan Maki juga tak aman. Terlebih Rita ikut terlibat. Maki kembali dengan kantong bahan makanan. “Duduklah, aku akan membuatkanmu makan. Lebih suka kentang tumbuk atau kentang goreng?” “Tumbuk,” jawab Ola sambil duduk kursi dan memperhatikan laki-laki itu bekerja. “Jangan menatapku seperti itu.” Maki merasa jengah. “Aku ingin menatapmu.” Ola bersikeras. Maki menghela napasnya, percuma mengatakan tidak pada gadis itu. “Kamu membuatku merasa malu,” gumam Maki lirih. “Mulai sekarang biasakan untuk itu,” sanggah Ola. Maki mengupas kentang dan mulai menjerang air. Sementara dagingnya sudah dia bumbui siap untuk di panggang. “Kamu tak pernah menggunakan dapurmu?” Maki heran karena dapur itu masih tertata seperti awal. “Aku malas,” jawab Ola sekenanya. Macarie duduk diam di jendela, memperhatikan interaksi dua makhluk itu. Dia tak ingin mengacaukan suasana romantis yang sedang terjadi. “Dasar Ola,” gumamnya sambil tersenyum. Gadis itu mulai bisa menjalani hidup yang seharusnya. Hades baru saja memberitahukannya tentang apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tak bisa lagi ikut campur dalam masalah ini. Untuk masalah sihir itu, Hades juga tidak tahu menahu. Yang dia paham hanya, sihir roh akan berpengaruh pada roh, tidak untuk lainnya. Jadi orang yang ingin mencelakai Ola tak tahu apa sebenarnya Ola. Macarie meringis saat Ola tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan pandangan tak suka. “Iya, aku pergi. Jaga dirimu!” teriaknya lalu menghilang. Dia datang hanya untuk memastikan Ola baik-baik saja. Dia tak bisa lagi mencampuri semuanya mulai sekarang. Pembuktian itu penentuan selanjutnya. Ola mendesah. Macarie selalu saja muncul tiba-tiba. Untung Maki tak bisa melihatnya. “Apa masih lama?” tanya Ola. Dia menjadi sangat lapar saat mencium bau kentang yang dicampur dengan rempah-rempah. “Tinggal menunggu dagingnya matang,” jawab Maki tanpa menoleh. Dia sibuk menumbuk kentangnya. Ola menopang dagunya, tak melepas sedikit pun pandangannya dari laki-laki yang sibuk itu. Begini rasanya mempunyai seseorang untuk bergantung. “Ternyata, rasanya diperhatikan itu menyenangkan,” celetuk Ola membuat Maki menoleh. “Benarkah?” tanyanya sangsi. Ola mengangguk. Dia tak pernah merasa begitu bahagia seperti hari ini. Maki menyiapkan makanan mereka di meja. “Berhubung, tanganku masih sakit, maka aku ingin disuapi, lagi,” rajuk Ola begitu natural. Seolah-olah dia sudah terbiasa seperti itu. Maki tersenyum melihat tingkahnya yang mendadak menjadi manja. “Apakah aku juga harus siap dengan sikap merajuk seperti ini?” tanya Maki menegaskan. Ola mengangguk dengan semangat. “Ya, kamu harus membiasakannya. Dan besok aku tidak bisa mengantarmu bekerja,” keluh Ola. “Tunggu saja di rumah. Aku tidak ingin keadaanmu bertambah buruk nanti.” Maki memotong daging untuk Ola dan menyuapkannya. “Aku sudah baik,” kata Ola sambil mengangkat tangannya. Dengan cepat Maki menggeleng, “Belum. Dokter mengatakan akan beberapa hari lagi. Jadi tahan dirimu.” Ola mendengus kasar, tapi tak ayal mengangguk juga. Dia akan melakukan apa pun itu jika membuat Maki senang. Itu yang terpenting, dan sepertinya dia harus mencari tahu siapa yang sudah berusaha melukainya. “Setelah ini, aku akan mengganti perbannya,” lanjut Maki. Ola menatap laki-laki yang kini berada di hadapannya itu dengan senyum menggembang. “Aku masih ingat, kamu menolakku,” ujar Ola membuat Maki jengah. “Jangan diungkit. Aku tahu, aku hanya menuruti gengsiku, karena perkataanmu,” ucap Maki menutupi rasa kesalnya. “Lalu sekarang, kamu menerimaku?” desak Ola. Maki menghentikan kegiatannya mengiris daging, lalu menatap gadis itu tak percaya. “Kamu, sangat ingin tahu?” Ola mengangguk cepat. “Mungkin, anggap saja aku menerimamu. Melihatmu begitu lemah, manja, tak punya siapa-siapa,” ujar Maki menahan kesal. Ola tertawa karena nada Maki yang agak meninggi. Dia beranjak dari duduknya, menghampiri laki-laki itu dan mendaratkan sebuah ciuman di pipinya. Maki masih tak percaya Ola selalu mengambil langkah agresif yang membuatnya benar-benar mati kutu. Dia menatap gadis yang tersenyum lebar itu tak percaya. “Biasakan dirimu,” bisik Ola membuat Maki jengah. Dia tak akan menahan dirinya lagi, diletakkannya sendok dan pisau itu di piring, dengan lengannya dia merengkuh gadis itu ke dalam pelukan. “Berjanjilah untuk selalu membuatku percaya, dan terkejut dengan semua sikapmu.” Ola mengangguk di dalam dekapan Maki, merasakan hatinya menghangat, dan menyandarkan semua perasaannya di sana. Maki pun akhirnya menyerahkan semua yang dia rasakan dalam dekapan itu, meluapkan apa yang beberapa ini ditahannya, dan menyatakan perasaannya. “Kamu milikku,” bisik Maki membuat Ola menengang. Pernyataan yang entah bagaimana, membuat senuah simpul di tubuhnya seolah lepas. Ada sebuah aliran yang mendadak memenuhi setiap pembuluh di tubuhnya. Ola merasakan jantungnya kini bekerja sebagaimana detak jantung Maki. Tanpa dia sadari, kutukan di punggung Maki memecah menjadi pendar yang yang menghilang. Bati permata biru di tangan Maki berpendar seiring perubahan itu. Poine merasakan sesuatu di hatinya menjadi lega, sepertinya masalah yang dia buat sudah menemukan cara untuk lepas. “Sepertinya, aku akan bisa segera mengunjungi kalian,” gumam Poine sambil menatap langit yang berbintang di atas padang rumputnya. Keadaan bisa saja menjadi baik atau buruk setelah ini, tergantung dengan apa yang akan mereka hadapi selanjutnya. “Diane, aku mungkin akan segera mengunjungi Ola, apakah kamu ingin ikut?” tanya Poine pada kupu-kupu yang hinggap di pundaknya itu. “Aku akan ikut. Pasti akan sangat seru saat Ola mengetahui semuanya, dan kamu tak bisa mengelak dari umpatan dan kemarahannya,” ledek Diane. “Ya, anak itu memang harus bisa menahan diri dan emosinya,” keluh Poine. “Kalian sangat menyayanginya,” lanjut Diane membuat Poine mengangguk. “Siapa yang tak akan jatih hati pada seorang gadis cantik, periang, keras kepala, dan selalu ingin menjadi sumber kebahagian bagi orang lain itu?” Poine menginggat bagaimana Maniola diciptakan. “Dia memang sangat menyenangkan. Walau dia bukan kupu-kupu asli, tapi dia sudah bersikap melebihi kami,” kata Diane. “Mungkin, nanti dia akan berdiam dis ini, menjaga kalian,” lanjut Poine berharap. Harapan yang mungkin sia-sia, tapi juga mungkin saja menjadi nyata. Harapan akan keberlangsungan padang rumputnya, hidup Ola, dan juga dia. “Kamu pasti sangat merindukannya,” tebak Diane melihat mata Poine berkaca-kaca. “Sudah sangat lama aku tak melihatnya, memeluknya,” gumam laki-laki tua itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD