Kebetulan?

1121 Words
Maki sedang mengganti perban di tangan Ola, mengoleskan salep luka bakar dis ana dan membalutnya lagi. “Jangan kena air dulu ya,” kata Maki lalu mengelus punggung tangan Ola. “Oke,” jawab Ola singkat, karena dia menyadari ada yang aneh di tubuhnya, dia merasakan desir darah mengalir, jantung yang memompa, dan berdetak. Ini tidak benar. “Minum obatmu, lalu tidurhlah, aku akan membereskan sisa makan kita,” perintah Maki. Ola membuka mulutnya, dan merasakan obat itu di lidahnya. Pahit. Seperti dia merasakan tanganya agak berdenyut sakit. Dia berjalan menuju tempat tidur dan duduk di pinggirannya, memperhatikan Maki dan menyadari bahwa kutukan itu sudah terpecah. Matanya kemudian mencari batu permata di tangan laki-laki itu dan melihat pendar birunya berbeda. “Ada apa ini?” desis Ola lirih, bingung. Maki sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia menghampiri Ola dan berjongkok di depan Ola. “Tidurlah, aku akan kembali,” kata Maki mengelus tangan Ola. Dia tak tega membiarkan gadis itu sendirian sebenarnya. Namun, dia tak mungkin tidur di sana. “Temani aku,” pinta Ola dengan wajah memohon, dia masih ragu dengan apa yang terjadi padanya. Maki tercenung, masih berusaha memahami permintaan Ola. “Mungkin nanti aku butuh bantuan. Jadi, tidurlah dis ini bersamaku,” upang Ola. Maki berdiri dan bingung harus menjawab apa. Rasanya ini tak benar. Mata Ola yang memohon tapi tak juga bisa ditolaknya. “Baiklah, tidurlah. Aku akan menungguimu,” jawab Maki pada akhirnya. Ola mulai merebahkan dirinya, kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya. “Kemari,” rajuknya. Maki mendekat dan duduk dis ana. Ola memegang tangannya, berusaha merasakan perbedaan antara tubuhnya dan tubuh Maki. Namun, persamaan itu semakin sama. Tubuhnya kini terasa nyata, bahkan untuknya sendiri. “Tidurlah, aku akan berada di posisi ini,” kata Maki lalu bersandar pada dinding. Jantungnya berdetak tak karuan karena genggaman tangan Ola. Gadis itu bahkan tak melepaskannya. “Berbaringlah. Posisi itu akan membuat tubuhmu tak enak saat bangun besok pagi,” kata Ola. Dia malah kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Maki. Laki-laki itu bahkan sekarang sangat salah tingkah. Jantungnya benar-benar berdetak tak menentu. “Tak apa.” Dia bersikeras tetap pada posisinya. Ola kemudian bangkit, “Kalau begitu, aku juga akan duduk.” Maki mendesah, gadis ini sangat memaksa, padahal dia sedang menahan dirinya sendiri. “Baiklah, tidurlah lagi.” Maki menyerah dan membaringkan dirinya dis amping Ola. Gadis itu berbaring menyamping, Maki berusaha menutup matanya agar tak membuat sebuah gerakan yang salah. Ola tersenyum saat melihatnya salah tingkah. Dengan sadar, Ola malah menyandarkan kepalanya di lengan Maki. “Hm ….” Maki berusaha memberi kode kalau dia tak nyaman. “Aku ingin seperti ini,” desis Ola. Mau tak mau Maki diam dan merasakan gadis itu menempel di tubuhnya. Membuat suhu tubuhnya mendadak panas, jantungnya memompa darah dengan cepat, napasnya memburu dan paru-parunya bekerja maksimal. “Aku selalu membayangkan memeluk seseorang. Menyandarkan semua kegelisahan yang tak tahu kenapa datang. Menanyakan mimpi yang tak sempat kurajut. Jadi biarkan aku seperti ini, untuk saat ini,” papar Ola panjang lebar. Tangannya yang terluka entah kenapa terasa lebih nyeri. Apakah dia sekarang adalah manusia? “Aku tak pernah bermimpi untuk menjadi sandaran seseorang. Hidupku tak karuan. Bermimpi saja aku tak berani,” kata Maki pada akhirnya menyahut omongan Ola. “Lalu, kenapa kamu biarkan aku memasuki hidupmu?” tanya Ola ingin tahu. Kepalanya mendongak menatap Maki yang memejamkan matanya dengan paksa. “Kamu yang memaksa masuk,” sanggah Maki. “Namun, jika aku tak memaksa, kita tak akan pernah tahu hasilnya,” gumam Ola. Maki mendesah mengiyakan perkataan gadis keras kepala itu. Kemudian dia mengangkat kepala Ola, meletakkannya di bantal, lalu tangannya membelai kepala gadis itu. “Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan kengototanmu, atau harus menyesalinya. Yang sekarang aku rasakan hanya, ingin bersamamu, entah bagaimana nantinya,” kata Maki. Ola menyusupkan di leher Maki. Kemudian melingkarkan tangannya di d**a laki-laki itu. “Tidurlah. Besok kamu harus bekerja,” ucap Ola memejamkan matanya. Ola bisa merasakan jantung Maki berdetak lebih keras. Begitu pula dengan jantungnya. Dia, menjadi manusia? Ini yang harus dia cari tahu besok. Maki merasakan napas Ola mulai teratur, gadis itu sudah tertidur. Sementara dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Sedari tadi dia mencium aroma padang rumput yang nyata, merasakan angin padang rumput di wajahnya. Nyaman. Dengan hati-hati dia memindahkan kepala gadis itu, kemudian menatapnya tak percaya. Sentuhan-sentuhan mereka seolah terjadi begitu saja. Maki mengelus pipi yang seputih pualam itu. Lembut. Membelai rambut kecoklatan dan halus itu. Benarkah dia sekarang sedang berhubungan dengan gadis ini? Ola memimpikan berada di padang rumputnya, bersama Poine dan Diane, serta Maki yang menatapnya dari jauh. Mereka berkumpul, dan membuat Ola kebingungan, karena seolah-olah Maki tak terusik dengan keberadaan Poine. Kemudian mimpinya menjadi samar, saat dia terbangun, dan mendapati Maki sedang berbaring di sampingnya. Tangan laki-laki itu berada di pinggangnya. Memeluknya. Ola membelai pipi Maki dan kemudian mengecup keningnya. Menyusupkan kepalanya ke leher Maki dan berusaha memejamkan matanya lagi. Berharap tak memimpikan hal aneh lagi. Sinar matahari yang menyusup dari jendela, membuat Maki memicingkan matanya. Dia menatap langit-langit kamar yang tidak dia kenali. Saat kepala menoleh, dia menemukan gadis cantik yang tertidur berbantalkan lengannya. Pantas tangannya terasa kebas. Kemudian dia mencoba mengingat apa yang terjadi dan kenapa dia berada dis ini, bersama Ola. Setelah kesadarannya terkumpul, dia dengan hati-hati menyingkirkan kepala Ola. Lalu duduk dan menarik napasnya, berusaha mengabaikan Ola yang masih tertidur di sana. Namun, entah kenapa dia malah berbalik dan kemudian mencium bibir gadia itu dengan lembut. Sesuatu yang ingin dia lakukan dari semalam. Ciuman itu membuat Ola terbangun dan kaget. Seketika matanya membelalak, tapi saat melihat siapa laki-laki itu, dia kemudian mengikuti ritmenya. Tangannya menggalung di leher Maki, memberikan tekanan, sehingga ciuman mereka semakin dalam. Maki mengambil jeda, menatap manik kecoklatan Ola, lalu tersenyum. “Selamat pagi,” bisiknya. “Pagi,” balas Ola dengan senyumyang langsung membuat Maki ingin sekali lagi melumatnya. “Maaf. Aku tak bermaksud membangunkanmu, tapi aku harus bekerja, sementara aku masih ingin—.” Ucapan Maki terhenti karena bibir Ola sudah kembali berada di bibirnya. “Aku tak keberatan terbangun setiap pagi seperti ini,” desis Ola setelah menghentikan ciumannya. “Aku yang tak akan bisa meninggalkanmu jika terus begini,” sergah Maki. “Mandilah. Aku akan mengganti perbanku nanti sendiri,” usir Ola. Maki masih enggan beranjak, tapi jam sudah menunjukkan waktunya untuk pergi. “Tunggu aku pulang. Jangan ke mana-mana,” pinta Maki. Dia merengkuh Ola ke dalam pelukannya. Merasakn degup jantungnya dan jantung Ola seolah bersahutan. Sungguh, jika boleh, dia ingin bergelung seharian dengan gadis itu saja. Namun, pekerjaannya tidak akan memaklumi hal itu. Untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke kamarnya, dia melumat bibir Ola dalam. “Aku akan merindukanmu.” Ola tertawa. Dia suka, saat Maki akhirnya bisa meluapkan perasaannya, tanpa batasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD