Roh itu membuat Maki tak nyaman, bulu kuduknya berdiri. Berulang kali dia mengusap pundak dan punggungnya.
Maniola segera melempar talinya, roh itu memberontak kuat, membuat Maki semakin merasa aneh. Mau tak mau, Maniola mengerahkan kekuatannya sehingga roh itu kalah. Sekali lagi, roh itu diubahnya menjadi kupu-kupu hitam dan memasukkannya ke dalam wadah.
Maniola kembali menjadi kupu-kupu dan hinggap di jendela kembali.
Maki sedang libur, dia menunggu penyewa flat di sebelahnya.
Seorang gadis tampak berjalan ke arahnya, hanya membawa diri dan tas kecil di pundaknya.
“Halo, saya penyewa flat 07, apakah kamu orang yang dikatakan pemilik?” tanya gadis itu membuat Maki kaget.
“Oh, iya, saya Maki. Penjaga flat ini. Kamu tak membawa barang?”
“Aku akan membelinya nanti,” desis gadis itu menyadari kebodohannya dalam berakting.
“Kenalkan, aku Ola,” lanjutnya menyodorkan tangannya ke arah Maki.
“Maki.” Dia menerima uluran tangan itu dan menggenggamnya.
“Ini kunci flatmu, kamu bisa mengetuk pintuku jika ada masalah. Tapi, aku akan ada di rumah sore hari,” lanjut Maki membuat Ola mengangguk.
“Oh ya, kamu punya ponsel? Berikan aku nomornya biar kita mudah berhubungan,” imbuh Maki membuat Ola kebingungan.
“Aku berencana membelinya nanti, karena aku baru saja kehilangan benda itu,” keluh Ola jengah.
“Oh baiklah. Apakah ada yang bisa aku bantu lagi?” tanya Maki membuat Ola menggeleng.
Maki kemudian undur diri.
“Oh, bolehkah aku mengganggumu, menemaniku untuk membeli benda itu?” tanya Ola.
“Hm ....” Maki menimbang ajakan Ola.
“Lupakan, tak apa, nanti aku bisa membelinya sendiri.” Ola membuka pintu kamarnya dan menutupnya sebelum Maki memberinya jawaban.
“Ola bodoh! Kamu tak butuh benda itu untuk berkomunikasi,” desis Ola kesal pada dirinya sendiri.
Dua belas harinya akan sangat sibuk dengan mencari tahu apa keinginan Maki.
Ketukan pintu membuat Ola tersadar. Dia mengintip dari lubang pintu. Maki terlihat di sana menggaruk kepalanya, yang mungkin tidak gatal.
“Ada apa?”
“Ayo, aku antar membeli ponselmu,” kata Maki sambil tersenyum.
“Sial. Jangan tersenyum, wajahmu itu tampan,” batin Ola kesal dan merasakan pipinya memanas.
“Oh okay,” kata Ola kemudian keluar dan mengunci kamarnya.
Mengikuti Maki yang berjalan di depannya. Sulur merah itu memudar. Meninggalkan nyala merah sebesar kepalan tangan di punggung Maki.
“Ini pertama kalinya aku keluar dengan seorang gadis. Aku juga tak punya kendaraan, apakah masalah bagimu jika kita berjalan kaki?” tanya Maki menoleh ke arah Ola yang berada di belakangnya.
“Oh, tak masalah. Aku lebih suka berjalan kaki,” kata Ola. “Aku lebih suka terbang aslinya,” batin Ola.
Mereka menyusuri trotoar menuju pusat perbelanjaan terdekat. Ola bahkan heran kenapa manusia memerlukan benda itu untuk berkomunikasi.
“Pilihlah,” kata Maki begitu mereka memasuki toko yang berisi benda aneh bagi Ola.
“Mana yang harus aku pilih?” tanya Ola dengan bodohnya.
“Kamu mau spesifikasi yang bagaimana?” tanya Maki malah semakin membuat Ola kebingungan.
“Aku tak paham. Yang paling mudah untuk berkomunikasi saja,” kata Ola pasrah.
Maki menatap heran ke arah Ola. Dia bahkan bukan gadis yang terlihat kuno, tapi kenapa begitu tidak mengikuti perkembangan jaman.
“Aku, tipe yang tak suka aneh-aneh,” jelas Ola begitu wajah Maki terlihat menatapnya dengan heran.
“Oh,” gumam Maki maklum.
Maki memilihkan ponsel yang tak terlalu canggih dan juga tak terlalu ketinggalan jaman.
Kini mereka duduk di taman. Maki mengajari Ola memakai teknologi itu.
“Kamu benar-benar gadis yang aneh. Saat gadis lain seusiamu berlomba dengan teknologi terkini. Kamu, malah terlihat kesulitan,” kata Maki sambil tersenyum.
“Aku tipikal gadis desa yang tak tahu apa-apa,” desis Ola jengah.
Ola memperhatikan Maki yang menerangkan padanya dengan sabar fungsi dari ponsel itu. Ola sibuk mencari isi kepala Maki.
“Apakah kamu mendengarkanku?” tanya Maki membuat Ola tersadar.
“Aku mendengarkan,” kata Ola gugup.
Beruntung otaknya bisa merekam otomatis percakapan itu, dia akan mengulangnya nanti.
“Ngomong-ngomong. Kamu berasal dari mana?” tanya Maki penasaran.
“Aku berasal jauh dari timur.” Ola tak bohong, karena memang kediamannya berada di timur tempat ini jika digaris peta.
Maki menyerahkan ponsel itu ke tangan Ola, yang memegangnya dengan gamang. Benda aneh.
“Kamu bilang dari selatan?” tanya Ola mencoba mengorek keterangan.
“Dari mana kamu tahu?” Maki heran.
“Bukankah, kita pernah bertemu di reservatori?” kata Ola membuat ingatan Maki berkelebat.
“Oh, kamu gadis yang tersesat,” gumam Maki saat mengingatnya.
Ola mengangguk.
“Apakah kamu lapar?” tanya Ola kemudian.
“Oh, aku bisa makan di flat,” kata Maki sungkan. Dia tak punya cukup uang bila harus membayar makanan berdua.
“Aku akan menjamumu. Ayo,” kata Ola bersemangat.
“Ah tidak usah. Merepotkan,” cegah Maki.
“Ayolah. Sebagai ucapan terima kasih,” kata Ola membuat Maki akhirnya mengangguk.
Senyum Ola mengembang. Maki terkesiap. Gadis ini cantik. Lebih cantik dari gadis yang biasa dia temui.
“Hai, ayo,” kata Ola menarik tangan Maki yang kini hatinya berdesir.
Maki mengikuti langkah mungil Ola yang ringan. Dia menatap genggaman tangan Ola di tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Hatinya berdesir.
Selama ini dia benar-benar menghindari romansa dengan seorang gadis. Karena dia sadar tak akan bisa membahagiakan mereka dengan keadaannya sekarang.
Mengurus diri sendiri saja masih kelimpungan.
“Di mana tempat makan yang menyajikan daging dan wine?” tanya Ola membuat Maki ternganga. Dia tak salah dengar, kan?
“Apa itu tak berlebihan?” Maki memasang wajah herannya.
“Ah masa? Aku terbiasa memakan daging, kami berburu, hm ....” Seketika Ola menyadari kebodohannya.
“Owh, mau mencoba yang lebih fancy?” tanya Maki pelan, takut jika Ola tersinggung.
“Fancy?”
“Sesuatu yang baru,” kata Maki sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara tangan satunya masih bertaut dengan tangan Ola.
“Oh okay, ayo. Di mana tempatnya?” Ola sangat bersemangat. Dia melihat sulur itu benar memudar. Tak bertambah.
Maki ganti menarik tangan Ola ke restoran cepat saji terdekat. Mereka mengantre, Ola bersemangat. Ini pengalaman baru untuknya.
Kini masing-masing menghadap burger dan coke. Ola meringis saat merasakan coke yang menggelitik lidahnya.
Maki tertawa melihat reaksi Ola. Entah hatinya sangat hangat melihat seorang gadis yang begitu polos dan menggemaskan.
“Aku tak pernah merasakan ini,” kata Ola sambil membolak-balik burger di tangannya.
“Ini adalah roti, itu daging,” kata Maki menahan senyumnya.
Ola membuka bibirnya dan menggigitnya.
“Ini enak,” kata Ola kaget dengan makanan aneh di tangannya.
Maki memakan burgernya sendiri. Mulai menikmati kebersamaan singkat dengan gadis yang baru dikenalnya.