Mereka berjalan pulang ke flat. Ola memesan lagi dua paket makanan untuk cadangan, satu untuknya, satu untuk Maki.
“Terima kasih untuk hari ini,” kata Ola tersenyum manis sekali.
“Dengan senang hati,” jawab Maki ikut tersenyum. Rasanya, saat melihat senyum Ola, tubuhnya meringan. Apa ini?
Ola menutup pintunya. Meletakkan makanan itu di meja, kemudian mengubah dirinya menjadi kupu-kupu kembali. Menyusup dari celah jendela. Kemudian hinggap di jendela Maki.
Maki masuk ke kamarnya, mengingat kebersamaan singkatnya dengan Ola tadi, membuat tubuhnya merasa berenergi. Pundaknya yang kadang sakit kini bahkan membaik.
Macarie duduk di sebelah Ola. Kakinya mengayun di udara. Flat di lantai lima belas itu seolah bukan masalah untuknya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ola tak suka kesendiriannya mengintai terganggu.
“Apa kamu tak lelah?” Macarie malah bertanya balik.
“Ayolah, sejak kapan energiku habis?” sergah Ola.
“Dia, sepertinya sedang bahagia. Kutukan Poine itu hanya terlihat sekepalan tangan sekarang,” desis Macarie sambil memainkan rambutnya. Dia bahkan tak melihat ke arah Maki yang sedang merebahkan dirinya.
“Apalagi yang kamu lihat?” desak Ola.
“Apakah kamu akan membantuku, jika aku mengatakannya?” Macarie menawarkan sebuah kerja sama.
“Aku sudah menangkap satu jika kamu menginginkan roh yang kabur,” kata Ola menampilkan wadah berisi kupu-kupu hitam di depan Macarie.
“Kamu selalu cepat tanggap.” Macarie memasukkan wadah itu ke kantung tak terlihatnya.
Macarie menoleh. Menatap Maki yang kini tertidur. Dahinya berkerut saat kelebatan masa lalu Maki melintas.
“Kelam, Ola. Kelam sekali. Dia tersakiti oleh keadaan. Oleh sekitarnya. Oleh kenyataan.” Macarie mendesis.
Ola tak tahu harus bereaksi apa.
“Aku hanya melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia saat bersama ayahnya. Melintasi padang rumputmu. Hanya itu. Tawa bahagia bersama orang yang dia cintai,” kata Macarie.
“Cinta? Apa dia butuh cinta?” gumam Ola.
“Apa Poine mengatakan syarat untuk mengakhiri kutukannya?” tanya Macarie seolah tahu tujuan Ola.
“Bisakah kamu tak membaca pikiranku?” Ola tak suka saat Macarie selalu tahu apa isi kepalanya.
“Ola, kamu seperti air yang jernih, aku bisa melihat ke dalam tanpa harus mengusiknya,” papar Macarie.
“Apa Arnie tak bisa membantumu?”
“Roh yang melarikan diri gelombang ini, memiliki kekuatan yang lebih dari sebelumnya. Arnie agak kesusahan. Kamu tahu Ayah tak suka keterlambatan,” keluh Macarie.
“Kenapa cutimu masih lama,” geram Macarie sambil berdiri di udara dan menghilang begitu saja.
Ola menatap Maki.
“Cinta. Apakah kamu menginginkannya?” Ola mengubah dirinya, berjalan menuju Maki yang tak menyadari kehadirannya.
Gaun satinnya mengalun lembut seiring langkahnya. Mendekati Maki. Duduk di sebelahnya.
“Lalu bagaimana aku harus membuatmu merasakan cinta?” tanya Ola lebih untuk dirinya sendiri.
Matanya menelusuri lekukan wajah Maki. Terpaku pada segaris senyum yang terlihat samar.
“Apa aku harus meminjam kekuatan Morpheus untuk melihat apa yang sekarang kamu mimpikan?” tanpa sadar jari Ola mengusap senyum di wajah itu.
Maki menggeliat. Ola menarik jarinya dan merutuki dirinya sendiri.
Maki sedang bermimpi, melewati padang rumput masa kecilnya. Banyak kupu-kupu, tapi hanya satu kupu-kupu yang mengikutinya, seolah ingin bersamanya.
Maki menghirup udara pegunungan. Membiarkan paru-parunya mengembang sempurna. Kupu-kupu cokelat itu mengepakkan sayapnya cepat. Menimbulkan dengung di telinganya.
Ola masih duduk di sampingnya. Menikmati wajah Maki yang lebih terlihat berseri.
Macarie menyerahkan wadah itu kepada Hades yang sedang menatap sungai Akharon.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Hades.
“Apa Ayah mengkhawatirkan Ola?” Macarie menatap Hades tak percaya.
“Pershepon akan membunuhku jika anak itu kenapa-kenapa. Aku yang bersikukuh untuk menjadikannya pemburu,” kata Hades.
“Seperti Ayah takut saja dengan Ibu,” gumam Macarie.
“Awasi dia. Ingatkan saat dia mulai lepas kendali. Separuh jiwanya, akan memberontak kepadaku mulai saat ini,” kata Hades membuat Macarie heran.
Hades kemudian meninggalkan Macarie yang masih mencari makna kata-katanya.
Poine menatap langit yang membiru. Pikirannya melayang ke arah utara. Apakah ini takdir yang akan Maniola hadapi? Sanggupkah dia menghadapi kenyataannya nanti?
Poine merasa bersalah dengan takdir yang dia, Zeus, dan Hades kompromikan.
Ide gila mereka membuat Poine harus bersandiwara. Demi keberlangsungan rencana dan rasa sayang mereka yang begitu besar untuk Maniola.
Rumput bergoyang di bawah sana, angin meniupnya, membelai setiap helainya. Kupu-kupu beterbangan.
Poine ingat saat dia melihat setengah roh melintasi padang rumputnya. Dengan bentuk hampir tak sempurna, makhluk itu bahkan tak menyadari apa dirinya.
Saat itu, dia sedang duduk bersama Zeus dan Hades. Menatap Pershepone yang menari bahagia bersama kupu-kupu.
Pershepone terpaku saat melihatnya, kemudian meminta mereka bertiga untuk membuat makhluk itu lebih bernyawa.
Jadilah dia Maniola, kupu-kupu coklat bermata di sayapnya. Membawa hawa gelap dari dunia bawah Hades. Membawa dendam dari Poine, dan keberkatan untuk hidup dari Zeus.
Mereka beberapa dekade kemudian kembali bertemu dan membahas tentang keberlangsungan hidup Maniola pada akhirnya.
Lalu, terjadilah sandiwara yang membuat mereka melahirkan seorang bayi tanpa dosa, dengan segala masalahnya.
Rencana mereka berjalan sekarang, sedang berlangsung, sedang menunggu hasilnya.
Poine menghela napasnya. Mereka bertiga terkadang memang gila. Demi sesuatu, maka apa yang tidak seharusnya, terjadi begitu saja.
Ola masih duduk di samping Maki. Masih mengamatinya. Lalu kenapa sekarang hatinya berdesir? Dia roh, seharusnya tak merasakan semua itu.
Saat Maki berbalik membelakanginya, Ola bisa melihat kutukan itu, merabanya, merasakan panas tubuh Maki. Kutukan itu masih merah. Berpendar. Bagi manusia, kutukan itu hanya akan terlihat seperti tanda lahir yang berwarna merah samar, bukan berpendar seperti yang Ola lihat.
Maki bergerak, karena merasakan dingin di punggungnya. Dingin yang tak biasa. Dia membuka mata, tapi tak ada apa-apa di belakangnya.
“Aku tertidur rupanya. Mimpi apa yang aku lihat tadi. Hanya karena bertemu dengan seorang gadis, kemudian aku bisa memimpikan sebuah harapan?” gumam Maki membuat Ola menahan napasnya. Padahal, Maki tak akan melihatnya. Dia sedang dalam mode hilang saat ini.
Ola kemudian memikirkan kata-kata Macarie dan Maki barusan. Tentang keinginan Maki. Apakah benar itu sebuah cinta? Lalu dia harus bagaimana sekarang, menumbuhkan rasa itu? Menyemainya?
Bagaimana menimbulkan impresi yang bisa membuat Maki tertarik? Apakah dia harus menghubungi Cupid sekarang? Tapi konsultasi dengan Dewa Cinta setengah gila itu mungkin malah akan menyesatkan.
Ola gusar denfan pemikirannya sendiri.