Mulai Tumbuh

1111 Words
Maki bangkit, kemudian beranjak ke kamar mandi. Hari sudah sangat malam. Tapi hawa yang panas membuatnya berkeringat. Sosok gelap datang mengendap. Namun, melihat Ola yang melotot sosok itu seketika menghilang. Biar Arnie yang menangkapnya nanti. Ola menutup matanya melihat Maki keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk menutup bagian bawah tubuhnya. Maki mencium aroma padang rumput di kamarnya. Wangi yang dia suka. Tapi dari mana asalnya? Maki menghampiri meja makan. Di mana dia meletakkan burger dan coke yang mereka beli tadi. Maki mengunyah makanannya sambil membayangkan Ola yang seperti baru pertama kali memakannya. Ola duduk di depan Maki. Mengamati. Menelisik. Mencoba masuk ke dalam pikiran laki-laki itu. Maki mengetikkan pesan, menghapusnya, mengetik lagi, menghapusnya. Mengembuskan napasnya kasar. “Jangan berharap banyak, dia mungkin sudah memiliki seseorang,” desis Maki. “Aku, tak memiliki siapa pun,” gumam Ola. “Pasti dia sudah tidur,” desis Maki sambil menyesap cokenya. “Aku masih di sini,” kata Ola menopang dagu. Matanya lekat menatap laki-laki itu. Rasa penasarannya, malah kini membuatnya merasa terikat. Arnie terlihat di jendela, mungkin karena mengikuti roh yang tadi Maniola lihat. Melihat Maniola sedang berada di dunia atas dan memandangi manusia tanpa berkedip, membuat Arnie masuk. Maniola menyadari kehadirannya, seketika menggumam tak jelas. “Apa yang kamu lakukan di sini, Ola?” tanya Arnie membuat Maniola memutar bola matanya. “Roh itu mungkin bersembunyi di sekitar sini. Segera tangkap, sebelum Hades murka,” kata Maniola membuat Arnie tak suka. “Kamu, jangan bilang cuti hanya untuk mendekati manusia ini?” tanya Arnie curiga. “Bukan urusanmu,” desis Maniola mendengar nada mengancam dari kata-kata Arnie. “Arnie, cepat!” Suara geraman Macarie membuat Arnie meninggalkan Maniola dengan sebuah keingintahuan yang menyesaki kepalanya. “Apa yang Ola lakukan di rumah seorang manusia?” gumam Arnie pada dirinya sendiri. Maki merasakan hawa di sekitarnya bertambah panas. “Sepertinya, pendingin udara sedang rusak,” desisnya, beranjak dari meja makan dan menuju tempat pendingin udara berada. Tak ada yang salah, masih menyala. Saat dia mengubah pengaturannya, tetap saja dia merasakan dingin. Tapi juga panas. Maniola segera pergi dan mengusir beberapa arwah yang mendekat ke tempat itu dan membuat hawa panas. Dia tak ingin menangkap mereka, karena itu tugas Arnie untuk sekarang. Maniola, beranjak kembali ke ruangannya, mencoba merebahkan diri, dan tak memikirkan Maki. Tapi, semakin dia berusaha untuk biasa saja, maka dia semakin penasaran. Maniola tak sadar kapan matanya terpejam. Pagi itu dia bangun karena dering benda aneh yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia kebingungan bagaimana mengangkatnya. Di layar kaca itu terdapat nama Maki. Terpaksa dia memutar kembali ingatannya kemarin. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mengangkat panggilan itu. “Ya, ada apa?” tanya Maniola dengan gugup. Ada apa dengan dirinya? “Baik. Kita bertemu setengah jam lagi,” kata Maniola. Dia kemudian bangkit dan menuju kamar mandi yang terasa aneh baginya. Biasanya dia akan berendam di danau luas di dunia bawah, bercanda bersama Macarie. Menyadari keberadaannya di dunia atas, dia gegas membasuh tubuhnya dan mengganti bajunya dengan sekali kibas tangan. “Baju kasual, cocok untuk hari ini, ‘kan?” gumam Maniola pada dirinya sendiri. “Hari ini akan turun hujan, jadi bawalah payung,” kata seseorang membuatnya kaget. Macarie sudah duduk di ranjangnya dengan santai. “Apa kamu tak punya kerjaan?” sungut Maniola kesal. “Kamu tahu, itu bahkan membosankan. Tanpa dirimu. Ayah terus saja mengomel, Ibu sibuk dengan kebun bunganya,” keluh Macarie sambil merebahkan tubuhnya di kasur. “Kamu bisa mengajak Cerberus berjalan-jalan,” usul Maniola sama sekali tidak menarik. “Cerberus? Dia hanya ramah kepadamu.” Macarie memutar bola matanya. “Apa kamu akan pergi kencan?” lanjutnya melihat Maniola berpakaian modis layaknya manusia. “Kencan? Apakah itu semacam makanan?” tanya Maniola sambil berjalan ke arah pintu. “Aku, akan mengawasimu.” Macarie menatap wanita di hadapannya itu dengan tajam. “Pulanglah,” usir Maniola. Dengan gerakan kibasan tangan, dia menghembuskan angin untuk membuat Macarie pergi. Hatinya berdegup lebih kencang saat membuka pintu, dan mendapati Maki sedang bersandar di dinding. “Aku akan bekerja di resevartori, apakah kamu mau menunggu hingga jam kerjaku selesai?” tanya Maki dengan pasrah. “Aku punya banyak waktu,” jawab Ola. Senyum mengembang di wajah tampan itu. Membuat Ola salah tingkah. “Aku melakukan ini demi kutukan k*****t itu,” geram Ola dalam hati. Mereka berdua berjalan dalam diam. Maki tak pernah merasakan langkahnya meringan, ada hal yang tak bisa diungkapkan. “Kamu ingin menunggu di luar atau di dalam? Aku bisa menggunakan kartu aksesku untukmu,” tawar Maki. “Aku akan menunggu di sini. Es krim itu menggoda,” jawab Ola. “Hari ini tak akan lama. Jam kerjaku hanya untuk memastikan taman kupu-kupu,” papar Maki yang membuatnya merasa bodoh. Ola mengangguk. Mereka berpisah. Maki menoleh sekali lagi, memastikan gadis itu masih di sana. Entah kenapa hatinya lega saat Ola masih menatapnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya terikat. Apakah, ini cinta? Ola masih berdiri di sana, menatap sulur yang kian memudar dan menjadi kepalan. Cinta? Apa itu yang membuatmu bahagia? “Kalaupun dia menginginkan wanita, aku rasa, kamu bukan targetnya,” desis Macarie yang sudah ada di depan Ola dengan dua es krim di tangannya. “Rasa ini akhirnya bersahabat dengan lidahku,” lanjut Macarie sambil menyodorkan es krim coklat ke arah Ola yang mendelik kesal. Tak urung dia menerima es krim itu dan mencari bangku yang ada di sepanjang jalan. Duduk di sana dan menatap lekat ke arah gerbang resevatori. “Kamu yakin akan terus begini? Ini sudah hari ketigamu untuk cuti,” kata Macarie. “Dia menginginkan cinta? Seseorang yang menyayanginya,” desis Ola tak peduli dengan pertanyaan Dewi Kematian itu. “Lalu kamu akan berusaha menimbulkan itu? Poine bahkan memperdayaimu.” Macarie mendengus. “Poine hanya mengatakan kutukan akan hilang jika dia menemukan sesuatu yang dia inginkan.” Ola menjilat es krimnya dengan enggan. “Apakah kamu tahu roh bisa merasakan debaran jantung?” tanya Ola teringat dengan keadaannya sendiri. “Setahuku tidak. Bukankah kalian dilahirkan tanpa wujud padat, dan tanpa perasaan?” Macarie balik bertanya dengan mata coklat yang membulat. “Aku merasakan semua perasaan dan debaran jantung seakan aku adalah manusia,” gumam Ola semakin heran. “Apakah kamu ingin aku bertanya kepada Ayah?” usul Macarie. “Tidak usah. Aku akan mencarinya sendiri,” tepis Ola. Dia tak yakin Hades akan mengatakan semuanya. Dia yang harus mencari sendiri ada apa dengannya. Sebagai roh yang terbiasa mandiri, maka bertanya adalah jalan terakhir untuknya. Dia akan mencari jawaban ini nantinya, setelah urusan kutukan Poine ini selesai. Dia tak ingin memikirkan hal lain untuk saat ini. Kutukan itu harus terpecahkan segera. Agar semuanya menjadi jelas dan dia bisa memikirkan hal lain, dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD