Maki mengerjakan semua tugasnya dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.
“Apa yang membuatmu begitu bahagia?” tanya John melihat perubahan pada wajah Maki.
“Kenapa?” tanya Maki kikuk karena pertanyaan itu.
“Dari tadi kamu terus memasang senyummu, tidak seperti biasanya.” John melipat tangannya di d**a sambil memandang Maki yang kini salah tingkah.
“Kamu sedang dekat dengan seorang wanita?” tebak John membuat Maki semakin rikuh.
“Tidak,” elak Maki sebisa mungkin mengubah sikapnya.
Namun, perilakunya benar-benar berbeda. Dia lebih bersemangat, dan lebih ramah dari sebelumnya.
Bahkan dia tak mengomeli anak-anak yang berusaha mengejar kupu-kupu. Hal itu membuat John penasaran.
“Senyummu itu tidak akan mengembang tanpa alasan,” kata John kesal karena Maki mengelak.
“Pasti ada wanita yang sedang memenuhi kepalamu,” imbuhnya.
Maki menjauh, tak ingin ditelanjangi habis-habisan oleh atasannya itu.
“Hei, jangan mengelak!” teriak John kesal.
Namun, senyum tak ayal mengembang juga di wajahnya. Maki yang selama ini dia kenal begitu pendiam, tak berinteraksi dengan banyak orang, bahkan terlihat takut dengan seorang wanita. Kini, bisa tersenyum lebar sepanjang hari, maka itu bagus.
Maki seolah menari, berjalan sepanjang koridor taman dengan langkah yang sangat ringan. Kupu-kupu beterbangan di sekitarnya seolah tahu suasana hatinya.
Dia tak sabar menunggu jam kerjanya selesai. Membayangkan Ola menunggunya dengan es krim di tangan.
Sementara Ola masih duduk sambil menikmati es krimnya. Mendengarkan Macarie yang mengeluh karena Arnie terlalu lamban bekerja.
“Kamu tahu, Arnie bahkan melewatkan roh yang menyusup melalui sungai Akharon. Dan, kamu tahu kalau Kharon akan diam saja,” keluh Macarie panjang lebar.
“Kamu bisa protes padanya,” tukas Maniola kesal karena telinganya berdengung karena suara Macarie.
“Kalau bisa ingin kucium saja dia,” kata Macarie.
Maniola bergidik ngeri membayangkannya. Jangan kira ciuman yang dimaksud oleh Dewi Kematian adalah ciuman yang b*******h dan seksi. Ciuman itu akan mengantarmu langsung ke dunia lain, alias mati.
“Lakukan saja, nanti Hades pasti akan memarahimu,” ejek Maniola.
“Ola! Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu!” teriak Macarie membuat mereka menjadi tontonan orang-orang.
Orang-orang baru menyadari keberadaan wanita yang terlihat menonjol itu. Bagaimana tidak, kulit yang sehalus dan seputih pualam, dengan rambut panjang berkilau, suara yang berbeda, dan paras yang bak dewi.
Maniola membungkam mulut Macarie agar dia tidak mengeluarkan sepatah kata lagi yang akan membuat orang-orang curiga dengan mereka.
“Kemarin Arnie melihatku di tempat Maki. Semoga saja dia tidak berpikir yang aneh-aneh,” kata Maniola.
“Coba saja kalau dia berani.” Macarie bahkan berdiri dan berkacak pinggang di depan Maniola.
“Tapi berhati-hatilah. Ayah hanya berpesan itu,” imbuh Macarie.
“Tumben Hades memberiku perhatian.” Maniola menelengkan kepalanya tak percaya.
“Dia itu perhatian terhadapmu. Melebihi perhatiannya padaku,” oceh Macarie.
Maniola tercenung. Apa itu perhatian? Apa itu cinta? Apa itu perasaan? Selama ini dia bahkan tak tahu dengan semua itu. Dia hanya tahu menangkap roh untuk Hades, bermain dengan Cerberus, atau menikmati waktu bersama Macarie.
Lalu kenapa semuanya terasa berbeda sekarang? Hanya karena satu hal, kutukan Poine di punggung Maki.
Kutukan yang membawanya ke dalam hal-hal yang menurutnya baru. Merasakan sebuah getaran perasaan yang aneh.
“Dia datang, aku pulang,” kata Macarie lalu menghilang begitu saja dari hadapan Maniola.
Maki terlihat di gerbang depan resevatori. Maniola menatapnya dengan sangsi. Melangkah menemuinya atau pergi.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Tanpa mengangkat benda pipih di kantongnya itu, Maniola berjalan menghampiri Maki yang berdiri mencari-carinya.
“Apa kerjamu sudah selesai?” tanya Ola membuat Maki menarik napasnya lega.
Dia sudah takut Ola tak ada di sana. Menunggunya.
“Apa kamu sudah membeli es krim?” Maki balik bertanya karena Ola tak membawa makanan itu di tangannya.
“Sudah kuhabiskan tadi. Sekarang aku lapar.” Ola mengeluhkan perutnya yang keroncongan.
Maki merasakan hatinya berbunga ada seseorang yang manja kepadanya. Hal yang selama ini dia hindari karena tak ingin berharap terlalu banyak.
Apakah ini akan berhasil? Apakah ini akan berlanjut? Semua pertanyaan meragukan batinnya.
Ola menggandeng tangannya, menuju gerai makanan kemarin.
“Aku ingin makan itu lagi,” kata Ola membuat Maki tersadar dari pikirannya.
“Aku yang akan membayarnya. Kamu belum menerima gajimu, ‘kan?” tebak Ola.
“Maaf. Aku yang mengajakmu keluar, tapi aku tak bisa membelikanmu makanan,” ucap Maki menahan malu.
“Apa aku mengeluh?” tanya wanita yang membuat hati Maki berdentang lebih keras itu.
Kini Ola menghentikan langkahnya dan menatap laki-laki yang tampak salah tingkah.
“Aku tak pernah keberatan untuk membayar makanan. Bukankah tidak semua orang berkecukupan?” Ola tersenyum.
Maki mengangguk. Untuk kali ini dia berharap akan berakhir dengan bahagia. Dia melupakan segala kekhawatirannya akan hidup saat melihat senyum Ola.
“Aku ingin mencoba itu!” Ola menunjuk gambar paha ayam di display. “Aku ingin minuman yang kemarin, lagi!” lanjutnya dengan bersemangat.
“Maaf. Aku jarang berinteraksi dengan orang lain. Aku mungkin terlalu canggung untuk mengatakan semuanya,” kata Maki setelah mereka duduk berhadapan di meja dekat dengan jendela.
“Hm ... aku tak tahu kenapa, tapi kamu terlalu menyendiri.” Ola sibuk mengunyah makanannya.
“Aku terlalu takut untuk dekat dengan orang lain. Terlebih seorang wanita. Karena aku takut tak sesuai dengan harapan mereka tentangku,” papar Maki sambil menundukkan kepalanya.
“Maksudmu?” desak Ola.
“Aku terlahir dari keluarga miskin. Tak punya sesuatu selain pekerjaan di mana sebagian uang gajinya lebih banyak untuk membayar tagihan flat, dan lainnya. Aku tak punya sesuatu untuk kujanjikan.” Maki menatap wanita yang kini menyesap cokenya.
“Apakah wanita yang dekat denganmu selalu memikirkan uang?”
“Aku bahkan tidak berani memikirkannya. Aku selalu menghindari,” kata laki-laki itu.
“Aku yakin banyak wanita yang ingin dekat denganmu,” tebak Ola.
“Aku tak tahu. Aku menutup diriku,” jawab Maki.
Ola menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya bergerak dengan sangat indah.
“Aku akan mencarikanmu wanita yang bisa membuat hatimu tergerak,” janji Ola membuat Maki kaget.
“Dirimu yang kuinginkan,” erang Maki dalam hatinya.
Pernyataan Ola barusan membuatnya kembali menciut. Itu adalah pertanda Ola tak menginginkannya.
“Hei, ada apa?” Ola melihat perubahan wajah Maki. Senyum itu memudar.
“Ah, tak apa,” kata Maki berusaha mengelak.
Hatinya sakit bahkan sebelum mencecap kebahagiaan itu sendiri. Entah, perasaan ringan yang tadi pagi dia rasakan, kini menguap begitu saja.
“Aku berjanji akan membuatmu merasakan kebahagiaan,” ucap Ola sekali lagi.
Hati Maki tak bahagia mendengar janji itu, karena semakin dia mendengarnya, sesak di dadanya bertambah. Punggungnya memanas.
Dia melahap makanannya dengan enggan. Mengunyah dengan perlahan. Ola yang tak menyadari, sibuk menikmati cokenya.
Maki menatap wanita itu dengan sendu. Menikmati sebelum wanita itu menghilang dari hadapannya.
Hatinya kembali layu, mengubur harapan yang sempat ada. Dia tak menginginkan orang lain. Dia hanya ingin orang yang sekarang ada di hadapannya itu. Sangat ingin.