Saat menyusuri jalan kembali pulang, Maki tak lagi tersenyum. Pendar sulur di punggungnya kembali memanjang. Lebih panjang sekarang.
Maki merasakan pundaknya seperti ditekan dengan sangat kuat. Nyeri.
“Terima kasih untuk hari ini,” kata Maki saat mereka berada di depan pintu flat Ola.
Ola mengangguk dan heran dengan energi Maki yang seolah menghilang.
Roh-roh mulai bermunculan di sudut lorong. Ola merasakan hawa di sekitarnya semakin panas. Ada apa ini?
“Istirahatlah,” kata Ola.
Maki pamit dan berbalik. Ola terkejut melihat sulur kutukan itu semakin panjang dan menyebar.
“Apa yang salah?” gumam Ola penasaran sambil melempar pandang mengintimidasi ke setiap roh yang mengintai.
Setelah pintu tertutup, Maniola menyelinap ke flat Maki. Laki-laki itu sedang duduk sambil memeluk lututnya. Meratapi hatinya yang sakit bahkan sebelum mencecap bahagia.
Maniola duduk di sebelah Maki, mencoba mencuri dengar hati laki-laki yang kini tampak kesakitan.
“Mungkin memang, Ola tak menginginkanku,” gumam Maki pelan.
“Maksudmu?” desis Ola penasaran.
“Lupakan, Maki. Lupakan semua keinginanmu. Lupakan fakta bahwa Ola adalah gadis bebas yang berhak melakukan apa saja,” geram Maki mengutuk dirinya sendiri.
“Maksudmu, kamu menyukaiku?” Ola masih penasaran.
Laki-laki itu berdiri dan menuju kamar mandi. Sepertinya, dia harus meredam kepala dan badannya agar dingin.
Maniola sibuk mengusir roh yang sekarang mulai berani menampakkan diri dan berusaha merangsek ke dalam kamar mandi.
“Arnie!” teriaknya kesal.
Seketika sosok yang dia panggil muncul dengan wajah penasaran.
“Kali ini aku akan membantumu menangkap mereka. Namun, tidak akan ada lain kali!” geram Maniola.
“Apakah kamu sedang melindungi manusia itu?” selidik Arnie penuh tanya.
“Bukan urusanmu. Selesaikan saja tugasmu!” desis Maniola sambil melempar tali-talinya dan menangkap lebih dari lima roh yang ada di sana.
Wadah-wadah kaca yang dia munculkan dan mengambang di ruangan itu, segera terisi dengan kupu-kupu hitam.
Arnie hanya menyaksikan Maniola melakukan semua itu. Jika dia ikut campur, maka wanita itu akan membuat masalah.
“Kenapa manusia itu begitu menarik roh-roh ini?” tanya Arnie membuat Ola berpikir.
“Akan kucari tahu, tapi pastikan kamu mengendus setiap roh yang datang. Aku sedang cuti,” ketus Maniola membuat Arnie mengerutkan dahinya.
“Jangan terlibat masalah dengan manusia. Kamu itu juga roh.” Arnie menghilang membawa sepuluh wadah kaca yang berisi roh-roh yang kabur dari pengawasan Hades.
Maniola merenungi kalimat Arnie yang menanyakan soal kenapa Maki menarik banyak roh. Menurut apa yang dia lihat, sulur itulah yang menarik para roh untuk mendekati Maki.
Lalu, kenapa sekarang sulur itu memanjang, padahal dia yakin sulur itu kemarin memudar.
Apa yang sudah terjadi sampai sulur itu kembali?
“Dia sedih. Dia murung. Kenapa?” Maniola berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi.
“Bodoh! Dia terluka karena ucapanmu tadi siang!” Macarie memukul kepala wanita bodoh di depannya itu.
“Apa yang kamu lakukan di sini!” usir Maniola tak suka Dewi Kematian itu terus menguntitinya.
“Dasar bodoh. Dia itu menyukaimu, lalu dengan kamu bilang akan mencarikan seorang gadis untuknya, itu tidak melukai perasaannya?” Macarie duduk di meja makan dengan arogan.
“Aku roh, dan dia manusia. Aku hanya membatasi agar dia tak terlibat terlalu dalam denganku. Agar dia tak kecewa pada akhirnya,” papar Maniola masih berjalan mondar-mandir.
Guyuran air dari kamar mandi membuatnya berpaling.
“Jangan masukkan kepalamu di sana,” cegah Macarie tahu Maniola akan mengintip.
“Kamu lihat, hidupnya sudah ada diujung kematian. Sulur itu semakin memanjang,” oceh Macarie.
Maniola merasakan semuanya menjadi tak enak. Ada was-was yang entah datang dari mana.
“Apalagi yang kamu lihat?” Maniola penasaran.
“Aku tak akan memberitahumu. Fia sangat sedih saat kamu mengatakannya tadi sore,” jawab Macarie sambil melipat tangannya di d**a.
Menatap wanita berbau padang rumput itu dengan malas. Dia selalu bodoh kalau untuk urusan cinta. Macarie tak ingin mengeluh sebenarnya, karena kenyataanya sudah berapa ratus tahun Maniola sendirian? Bekerja menjadi kaki tangan ayahnya yang teledor. Bahkan sepertinya Cerberus saja yang benar dekat dengannya.
Ketiga kepala Cerberus selalu terlihat bagai anak anjing yang terlihat bahagia melihat majikannya jika bertemu dengan Maniola.
Roh padang rumput yang berupa kupu-kupu itu memang selalu terbiasa sendiri. Jadi Macarie maklum kalau dia sekarang bingung dengan semua yang dirasakannya.
Tunggu, bukankah dia roh, seharusnya dia tak merasakan semua itu. Dia harus menanyakan semua ini kepada Hades.
“Aku pergi. Kamu harus mengatasi masalahmu sendiri. Jika memang dia lebih bahagia denganmu, makan apa yang bisa kamu lakukan?” kata Macarie lalu menghilang dari hadapan Maniola.
“Apa benar kamu bahagia bila bersamaku?” gumamnya saat melihat Maki keluar dari kamar mandi.
Sulur itu bahkan menjalar ke lehernya sekarang. Maniola merabanya dan merasakan panas yang sangat di sana.
Maki merasakan dingin saat tangan Maniola menyentuhnya. Panas di tubuhnya mereda. Dia mencium aroma padang rumput yang dia cintai. Menghirupnya dalam dan memenuhi rongga paru-parunya dengan udara itu sebanyak mungkin.
Maki heran bagaimana aroma ini ada di kamarnya belakangan. Tidak, aroma ini menguar di sekitarnya sejak Ola datang.
Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ini tak bisa. Sudah jelas Ola menolaknya. Dia harus mengenyahkan pikiran ini secepatnya.
“Ayah!” teriak Macarie membuat Cerberus mengangkat kepalanya.
“Jangan berisik!” sergah Hades tak suka ketenteramannya terganggu.
“Cer, kamu mendapat salam dari Ola!” seru Macarie membuat Cerberus mencari sosok yang disebut, tapi kemudian melenguh kesal karena Macarie membohonginya.
“Aku ingin bertanya. Maniola bukanlah roh, benar?” tanya Macarie tidak peduli dengan wajah Hades yang kesal.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?” Hades mengangkat kepalanya.
“Roh tidak akan punya perasaan untuk berdebaran, dan jatuh cinta?” tebak Macarie.
“Roh bisa merasakan itu. Mereka hanya tak memiliki emosi. Mereka hanya menuruti hawa nafsunya,” jelas Hades.
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
“Aku juga belum bisa memastikannya,” kata Hades.
Macarie bersungut kesal karena Hades bahkan tak memberinya jawaban yang menyenangkan. Dia harus bertanya-tanya dan mencari jawabannya sendiri.
Sepertinya ini yang membuat Maniola enggan untuk bertanya sendiri pada Hades.
“Cer, kamu mau ikut aku untuk bertemu dengan Ola?” tanya Macarie mengalihkan perhatiannya.
Cerberus menggerakkan ketiga kepalanya dengan antusias. Hades kemudian menarik kalung di leher anjingnya itu.
“Jangan berulah!” teriak Hades mengiringi langkah Macarie meninggalkan ruangan ayahnya itu.
Hades mendengus, masalah ini tak semudah yang dia bayangkan ternyata. Sepertinya dia harus bertemu dengan Poine.
Dalam sekejap mata, Hades sudah berada di samping Persephone yang sedang menyirami bunganya.
“Aku akan bertemu dengan Poine. Kamu mau ikut?” tanyanya lembut kepada wanita yang menawan hatinya itu.
“Mengunjungi padang rumput? Aku siap,” kata istrinya itu dengan antusias.