Pertemuan 2

1123 Words
Hades menggenggam tangan Persephone dengan lembut. Mereka sudah sangat lama tak berkunjung ke tempat Poine. Ini akan membuat kenangan mereka kembali. Pertemuan pertama mereka, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya. “Pak Tua itu pasti akan sangat terkejut dengan kedatangan kita,” bisik Persephone. “Kupu-kupunya yang akan berisik dengan kedatanganmu,” kata Hades tersenyum. Padang rumput itu masih sama, hamparan hijau dengan bunga liar bermekaran. Kupu-kupu beterbangan dengan riang. “Anak yang kita temukan di sana, sudah bisa melalang dunia,” keluh Persephone mengingat Maniola. “Itulah kenapa aku ingin membicarakannya dengan Poine sekarang.” Hades menatap pintu gua Poine yang gelap. Kupu-kupu menyambut Dewi cantik itu dengan suka ria. Mereka mengelilingi dan mengajaknya ke padang rumput. “Pergilah, menarilah bersama mereka,” kata Hades mengizinkan istrinya itu pergi bersama kupu-kupu yang merindukan sosok cantik itumereka. Hades mengembuskan napasnya sebelum dia melangkah masuk ke dalam gua yang gelap itu. “Ada apa?” tanya Poine tanpa basa-basi saat Hades memasuki guanya. “Pantas saja tak ada yang mengunjungimu, masih saja ketus,” kata Hades membuat Poine mendengus. “Tidak usah membahasku. Kenapa kamu biarkan Persephone bermain di padang rumput?” desak Poine. “Kamu bahkan tak menyuruhku untuk duduk,” desis Hades lalu duduk di sembarang batu yang ada di sana. Poine menjentikkan jarinya, seketika gua itu terang benderang layaknya suasana siang di luar sana. Dia kemudian duduk dekat dengan Hades. Dewa Bawah Tanah itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Apa tindakan kita terhadap Maniola, sudah benar?” tanyanya. “Benar dalam konteks mana yang kau pertanyakan?” Poine malah balik bertanya. “Dia sepertinya sedang bingung dengan identitasnya,” gumam Hades. “Apa dia bertanya padamu?” “Macarie yang mengatakannya. Anak itu tak akan pernah mau bertanya padaku, karena tahu jawabannya tak akan kuberikan percuma.” Hades menarik anggur yang Poine letakkan jauh darinya. “Aku juga sedang berpikir apakah ini akan berakhir sesuai dengan keinginan kita?” Poine menerawangkan matanya ke atap gua yang sudah sangat melekat di ingatannya itu. “Aku hanya takut dia tidak siap saat mengetahui kebenarannya. Mungkin dia akan mengutuk kita semua setelah itu,” gumam Hades. Poine tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang Dewa Agung takut dikutuk oleh roh rendahan? “Kita menciptakannya karena keinginan Persephone. Kemudian aku jatuh sayang kepadanya,” lanjut Hades. “Dia akan menjadi seseorang yang bisa kita andalkan, nantinya. Aku bahkan mengantungkan harapanku padanya,” gumam Poine miris. “Kita terjebak dalam permainan yang kita buat sendiri.” Hades mendengus. “Hanya Zeus yang sepertinya tak terusik dengan semua ini,” keluh Poine membuat Hades tertawa keras. “Jangan membuatnya datang ke sini. Dia sibuk mengurus langit,” sergah Hades mengingat saudaranya itu. “Ya, terlalu banyak menebar masalah sampai lupa dengan masalah lainnya,” timpal Poine. “Semoga saja Hera tak menemukan masalah baru,” ledek Hades. Keduanya kemudian tertawa. Beruntung untuk masalah ini Hera tak akan marah, karena ini adalah ulah mereka bertiga. Hera akan sungkan untuk mengonfrontasi mereka. “Apa kita akan menunggu ini, diam saja dan mengikuti alurnya?” Hades kembali ke pokok permasalahan mereka. “Aku juga masih bingung memikirkan ini. Ini semua sebenarnya bagus untuk perkembangan jiwanya. Melalui semua masalah dengan mencari jalan keluarnya sendiri,” kata Poine. “Baiklah, mungkin memang kita hanya harus menunggu.” Hades bangkit dan beranjak keluar. “Kamu sudah akan pergi?” tanya Poine. “Persephone mungkin sedang menunggu,” jawabnya terus melangkah keluar. “Sesekali, datanglah ke tempatku. Di sini terlalu silau untukku,” lanjut Hades. Poine mendesah malas. Dia sudah sangat lama tak pergi ke mana-mana. Padang rumput itu sudah sangat menenangkannya. Dia tak ingin mencari masalah. Mereka berdua berdiri di tebing, memandang Persephone yang sibuk menciumi setiap bunga dan kupu-kupu di sana. “seharusnya kamu lebih sering mengajaknya ke dunia atas,” saran Poine. “Aku takut dia akan berpaling dariku,” elak Hades. “Ayolah. Kalian sudah berapa lama bersama? Ribuan tahun?” Kepala Poine menggeleng tak percaya Dewa Agung itu bahkan takut kehilangan istrinya. Hades tersenyum tipis mendengar ejekan Poine. “Lalu, dirimu, apakah akan terus sendiri?” Hades menatap sosok tua itu. “Siapa bilang aku sendiri. Banyak yang menemaniku di sini. Mereka.” Tangan Poine membentang menangkup hutan, padang rumput dan seisinya. ‘Hah. Katamu saja,” sergah Hades. Persephone bergabung dengan mereka. Poine mencium tangan Sang Dewi dengan takdim. “Sudah sangat lama,” kata Persephone. “Apakah dia mengurungmu lagi?” tanya Poine membuat Hades berdecih. “Untuk belakangan, dia sibuk dengan roh yang semakin lama semakin banyak yang kabur,” jawab Persephone. “Apakah kerinduamu terhadap padang rumput sudah tuntas?” tanya Hades sebelum mereka membahas lebih lanjut tentang keposesifan yang tak perlu dari Dewa Pemarah itu. “Aku masih ingin di sini sebenarnya. Tapi, jika urusanmu sudah selesai, maka ayo kembali,” kata Persephone. Hades mengangguk dan berpamitan kepada Poine. Meninggalkan sosok tua itu sendirian. Kembali hanya bersama alam yang dia lindungi. Belakangan sudah tak banyak orang yang memberi persembahan kepadanya. Tugasnya untuk membalas dendam sepertinya sudah terlupakan. Manusia sudah pandai membalas dendam mereka sendiri. Dengan lebih kejam tentunya. Poine menghela napasnya berat. Manusia, semakin tua bumi, bahkan semakin tak terkendali. Hutan tak lagi bisa menampung kerakusan mereka, membuat banyak lahan baru dan menghilangkan pepohonan. Maniola masih menunggui Maki yang tertidur dengan gelisah sekarang. Keringat mengembun di dahinya. Sulur itu bahkan semakin memanjang dan menyebar. Dia teringat dengan gelang yang diberikan oleh Poine. Gelang benang merah dengan batu permata biru. Dia lupa memberikannya kepada Maki. Roh mulai berdatangan lagi, tak sebanyak tadi siang. Namun, cukup membuat Maniola kewalahan. Dia bergadang semalam suntuk untuk memastikan Maki tak terganggu. Sebenarnya dia sangat ingin mengetahui mimpi Maki, kenapa dia begitu gelisah dalam tidurnya. Sulur-sulur itu semakin berpendar seiring dengan keringat yang makin berembun di dahinya. Dahinya berkerut, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Maniola tak tahu harus bagaimana. Dia ingin membuat laki-laki tidur dengan nyaman, tapi dia tak tahu caranya. Dia hanya bisa menyentuh punggung Maki dengan tangannya, membuat udara panas itu berkurang. Karena Maki tak kunjung tenang, entah mendapat pemikiran dari mana, Maniola kemudian memeluknya, menyalurkan hawa dingin, dan semilir angin padang rumput yang membuat aroma itu masuk ke hidung Maki. Alam bawah sadar Maki mencium aroma yang membuatnya tenang, mimpi buruk itu perlahan menghilang. Udara semakin dingin dia rasakan. Keringat tak lagi membanjiri dahinya. Dia bisa tidur dengan tenang sekarang. Maniola lega saat melihat Maki mulai tenang, sulur itu tak lagi menyala dengan terang, mulai meredup, walau masih sangat panjang. Dia bisa merasakan nyaman saat memeluk lelaki itu. Menyelusupkan kepalanya di punggung Maki, dan memejamkan matanya. Menikmati apa yang dia rasakan. “Aku masih waras, ‘kan? Rasa apa ini? Bagaimana bisa aku merasakan semua ini? Aku seorang roh,” gumam Maniola masih tak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD