Pernyataan

1063 Words
Maki menatap jendela flatnya, sinar matahari pagi menyeruak di sana. Membuat matanya silau. Dia merasakan tubuhnya meringan. Ketukan pintu membuatnya terbangun dan bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya sepagi ini. Dia tak pernah punya kolega yang ingin bertamu ke flat sempitnya itu. Saat mengintip dari lubang pintu, dia melihat Ola berdiri di sana dengan menawan. Rambut brunete itu tergerai, dengan kulit putih secantik pualam, senyum manis semanis madu. Itu semua membuat Maki merasakan nyeri di hatinya. Gadis itu sudah dengan jelas menolaknya kemarin. Walau dia belum mengatakan secara gamblang tentang perasaannya. “Ada apa?” tanya Maki kaku. Dia harus meredam degup jantungnya sendiri, dan juga meredam sakit hatinya. “Aku hanya ingin memastikan, dirimu baik-baik saja.” Ola dengan pasti masuk ke dalam tanpa diundang. Maki salah tingkah karena dia tak pernah menerima seorang gadis di flatnya. “Aku baik-baik saja,” kata Maki jengah. Ola mengedarkan pandangnya. Dia kemudian menuju dapur. Meletakkan kantong yang dia bawa di sana. “Aku akan masak untukmu. Hari ini, kamu tidak ada jadwal kerja?” tanya Ola. Maki semakin salah tingkah. Apa maksud gadis ini, kemarin dengan jelas dia mencampakkannya, sekarang dia bersikap manis? “Aku baik-baik saja, sungguh. Jadi kamu tak perlu repot,” kata Maki pada akhirnya. “Kamu terlihat tidak baik-baik saja saat kita pulang kemarin. Mukamu berbeda dari awal pagi dan di ujung hari,” kata Ola sambil melipat tangannya di d**a. Menatap Maki tajam. “Apa ada kata-kataku kemarin yang salah?” lanjutnya meminta penjelasan. Maki menggeleng. Dia tak mungkin mengatakan perasaannya sekarang. “Jangan berbohong. Aku bukanlah seseorang yang peka. Jadi aku terkadang tidak tahu mana perkataan dan perbuatanku yang menyakiti orang lain,” imbuh Ola semakin membuat Maki salah tingkah. Ola maju mendekati Maki yang terpaku di sana. Badannya seolah memberontak, tak mau bergerak. Dia masih terpesona dengan gadis di depannya itu. Tapi, otaknya mengatakan lain. Maki ingin lari saat itu juga. Dia ingin menghindari mata yang sudah membuatnya bermimpi buruk semalam. Ola menangkup wajah Maki dengan kedua tangannya yang dingin. Membuat tubuh Maki bereaksi. “Tidak. Ada yang salah dengan sikapmu kemarin. Entah perkataan mana, tapi aku minta maaf. Mari memulai hari ini dengan bahagia,” pinta Ola. Tubuh Maki menegang. Bagaimana dia harus bereaksi sekarang. Tubuhnya menolak bergerak. Otaknya memberontak. Ola lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah benang merah dengan permata biru di sana. “Sebagai permintaan maafku. Pakai ini. Agar mimpi burukmu hilang,” kata Ola sambil memasukkan gelang itu ke tangan Maki. Beruntung Poine tidak menempatkan permata terbesarnya di sana, gelang itu tampak serasi di tangan Maki. Tanpa terlihat menonjol. Bagi Ola, yang terpenting adalah fungsi gelang itu sekarang. Itu yang bisa dia berikan untuk saat ini. Hawa di sekitar mereka mendadak dingin, Maki merasakan semilir angin padang rumput. Aroma segar yang dia rindukan menyeruak. “Aku tidak bisa menerimanya,” elak Maki berusaha melepaskan gelang itu. Tangan Ola segera mencengkeramnya, dengan tatapan tajam dia menatap mata coklat Maki. “Jangan pernah melepaskannya.” Ola menegaskannya dengan nada yang meninggi. “Terimalah. Aku menarik semua kalimatku kemarin. Karena aku yang akan membuatmu tersenyum seperti pagi kemarin.” Imbuhan kalimat Ola semakin membuat tubuh Maki menegang. Ola mengabaikan segala kecanggungan yang terjadi dan mulai memasak. Dia sudah menyiapkan sayuran dan bahan yang dia munculkan begitu saja, karena malas harus berbelanja dengan cara manusia. Maki menatap punggung Ola dengan degup jantung yang tak karuan. Gadis itu sudah memorak-porandakan hatinya kemarin. Kini, dia datang untuk menyerahkan dirinya. “Mandilah. Jangan menatapku terus,” ucap Ola menyadarkan Maki akan kebodohannya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menuju ke kamar mandi. Entah kenapa kata-kata Ola seakan sihir yang menggerakkan tubuhnya. “Kamu berubah pikiran soal kalian berbeda?” tanya Macarie yang sudah duduk di meja dapur. Ola hampir saja melemparnya dengan pisau jika saja tak sadar siapa yang sudah mengganggu paginya. “Mungkin, aku akan mencoba semampuku sekarang, perkara nanti biar saja nanti. Yang terpenting sekarang adalah melenyapkan kutuk Pak Tua itu,” sergah Ola sambil mendesah. “Apakah terjadi sesuatu sehingga kamu mengubah pendirianmu?” selidik Macarie curiga. “Apakah kamu tidak punya pekerjaan selain mengangguku?” Ola mencibir Macarie yang seperti pengangguran. “Semalam kirimanmu sudah sampai. Banyak sekali,” kata Macarie mengingat berapa wadah berisi kupu-kupu hitam semalam yang diterimanya. “Aku ingin mengutuk Arnie. Dia bahkan tak terlihat,” geram Ola. Macarie menghilang begitu Maki keluar dari kamar mandi. Ola mendengus. Sungguh Dewi Kematian itu tak punya sopan santun. Jika saja dia bukan anak Hades, Ola sudah mengutuknya. Masakan Ola sudah siap, dia menatanya di meja makan. Maki masih berdiam di depan pintu kamar mandi, karena asing dengan pemandangan, ada seorang wanita yang menyiapkan makan untuknya. Dia sudah kehilangan ibunya dari lahir, tumbuh dengan kasih sayang dari ayahnya saja. Pemandangan itu membuatnya terpaku. “Duduklah,” panggil Ola menyadarkannya. Maki beranjak mendekat, lalu duduk di kursinya. Menatap Ola dengan tak percaya, bagaimana bisa gadis ini bahkan bersikap begitu manis. “Aku mungkin akan membuatkanmu makanan mulai hari ini,” kata Ola membuat Maki tersedak. “Jangan lakukan hal itu jika kamu hanya merasa bersalah padaku,” kata Maki sambil meminum airnya. “Bukan. Mungkin aku merasa bersalah karena sikapku kemarin. Namun, keputusanku kali ini karena aku sudah memutuskannya. Untuk bersamamu.” Ola mengerjapkan matanya. Maki terdiam. Tak jadi menyendokkan makanan ke mulutnya. Imbas dari perkataan Ola sudah melumpuhkan sarafnya. Ola duduk di depan Maki. Bersikap seolah semuanya wajar. Tak melihat betapa canggungnya Maki sekarang. Maki hanya merasakan badannya kembali meringan, punggungnya tak memanas, dan hawa di sekitarnya sangat sejuk. Lagi-lagi aroma padang rumput menguar di sana. Dia luput melihat pendar biru dari gelang yang Ola kenakan di tangannya. Matanya tertuju pada sosok wanita yang kini entah harus dia sebut apa. “Apa maksud dari perkataanmu tentang bersamaku?” tanya Maki mencoba menegaskan pendengarannya tak salah. “Entah lah. Aku hanya merasa, setelah semalam merenungi semuanya, kamu sudah membuatku memutuskan untuk bersamamu, membuatmu tersenyum lagi seperti kemarin,” papar Ola. Maki merasakan hatinya meluruh. Pernyataan Ola semakin membuatnya tak tahu harus bagaimana. Perubahan sikap Ola yang begitu cepat malah membuatnya bingung bagaimana menghadapi wanita itu. Ola berdiri dan menghampiri Maki. Apa yang sudah membuatnya memutuskan memberi Maki harapan adalah sebuah tindakan berani untuknya sendiri. Melangkahi batasnya. Apa yang sudah menggerakkan tubuhnya. Ola membingkai wajah Maki dan mendaratkan sebuah ciuman ke bibir laki-laki itu. Mata Maki melotot, tak menyangka akan mendapatkan sebuah sikap yang agresif dari Ola. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD