Pagi hari, Diandra bangun lebih awal. Senyum terukir tipis mendapati seorang pria yang tidur dengan memeluk tubuhnya erat. Ketakutan yang ia bayangkan sama sekali tak terjadi. Diovano yang beberapa waktu lalu menolak bertanggungjawab semalam bahkan mengungkapkan rasa bahagianya. “Aku tak menyangka bisa menikahimu semudah ini, meskipun ayah mertuaku marah besar tapi aku sangat senang sekarang. Kamu tahukan sebesar apa aku mencintaimu?”
Diandra mengulum senyum mengingat ucapan suaminya tadi malam. Diandra mulai memunguti pakaian yang tergeletak di kasur dan lantai. Langkahnya tertatih pelan. Membuka tirai membiarkan sinar matahari memenuhi ruangan. Ia melanjutkan langkahnya menuju balkon. Udara pagi begitu segar pagi ini. Hatinya juga begitu riang secerah matahari yang bersinar.
“Good morning sayang.” Suara Diovano menyapa begitu halus di telinganya. Tangannya melingkar dan menggelitikan jemarinya membuat Diandra mengulat kegelian. Tawa Diandra tak tertahankan, tubuhnya sensitif oleh sentuhan selembut apapun. “Ih jangan gelitikin,” sahut Diandra mencoba menangkap tangan Diovano. Suaminya.
“Kamu gemes banget. Sarapan yuk? Ah kelupaan.” Diovano tanpa aba langsung menyambar bibir istrinya, melumat ringan. Diandra sendiri tak kaget, bukan hal baru Diovano menyambarnya. Ia sudah terbiasa.
“Aku ganti baju dulu,” ucap Diandra bergegas menuju kamar mandi. Diovano hanya mengangguk kecil dan mengikuti langkah istrinya masuk ke kamar. Matanya menjelajah mencari ponselnya. Ada rasa was-was saat layar ponselnya menyala. Diovano mengambil ponselnya. Matanya bergetar melihat pesan yang tertulis di layar notifikasi. Pesan masuk dari istrinya.
‘Sayang, kamu ingat ucapanku bukan? Kalian tak melakukan hubungan suami istrikan?’
‘Aku akan menjemput kalian pagi ini.’
Diovano tanpa ragu langsung mendial nomor kontak istri pertamanya. Citra. Wanita yang ia nikahi bulan lalu. Menakjubkan bukan? Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan ia bisa menikah dengan wanita yang menguntungkan dalam semua hal dan menikah dengan wanita yang bertahun-tahun ia kencani. Mengingat itu, Diovano merasa semesta berpihak begitu baik padanya.
“Halo sayang,” sapa Diovano merebahkan tubuhnya dengan nyaman. “Kenapa telepon? Video call!” Citra meninggikan suara. “Aku mau mastiin apa yang kalian lakukan tadi malam.” Diovano tak butuh waktu lama langsung melemparkan selimut ke lantai beserta bantal dan guling. Ia mengaktifkan kameranya. Merebahkan tubuhnya dengan nyaman sambil melambaikan tangan pada istrinya yang sudah begitu rapi dalam balutan seragam dinas berwarna khaki. Rambutnya di sanggul rapi membuatnya begitu berkarisma.
“Apa yang mau kamu lihat sayang? Aku menyuruhnya tidur di lantai semalaman dengan AC full. Jalang itu sekarang sedang berendam air hangat karena kedinginan.” Citra menganggukan kepala menatap puas tindakan suaminya. “Kalau gitu aku jemput kamu. Biar dia tahu rasa pulang sendirian.”
Diovano menggelengkan kepalanya cepat. Menolak perintah istrinya. “Sayang, jangan begitu. Bukannya aku tak mau. Aku juga tak tahan berduaan dengan jalang itu. Tapi apa yang akan dikatakan orang tuanya jika aku meninggalkan dia di sini. Belum lagi ada kerabatnya. Jalang itu tukang adu, bahaya kalau tiba-tiba mereka datang ke rumah kita dan buat keributan di sana,” terang Diovano sedetail mungkin. Citra memajukan bibirnya, merajuk tak sepakat dengan ucapan suaminya.
“Sayang fokus kerja aja ya, jangan sampai terlambat. Muach! Aku sayang banget sama kamu,” rayu Diovano agar istrinya berhenti merajuk. Tatapannya begitu hangat membuat Citra salah tingkah sendiri. “Sayang juga. Cepet pulang. Aku ga bisa tidur semalaman karena mikirin kamu.” Diovano mengangguk mendengarkan ucapan istrinya.
“Kalau gitu kumatiin dulu ya. Aku mau sarapan. Laper banget dari semalam ga makan karena seleraku hilang karena saudaranya norak banget, segala lauk dibungkus. Bikin malu. Aku matiin teleponnya ya sayang. Love you.”
“Love you too.”
Ciuman di ponsel menjadi akhir dari panggilan mereka. Diovano menyamankan posisi tidurnya sembari menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Diandra keluar dengan homedress yang dibawanya. Motif bunga-bunga kecil bahkan membuat parasnya kian ayu. “Hei, mana boleh perempuan secantik ini. Aku jadi ingin sarapan yang lain,” goda Diovano membuat Diandra terkekeh kecil. “Jangan gombalin aku kaya gitu. Ayo sarapan.”
“Ayo.”
“Ga mandi dulu?” tanya Diandra. Diovano menggelengkan kepalanya. “Ga usah, biar orang-orang tahu kalau kita pengantin baru, kabarin orang tuamu juga. Sarapan di lantai satu.” Diandra langsung menghubgungi keluarga dan kerabatnya melalui pesan grup chat. “Karena hari ini kita pulang. Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui.” Diandra menoleh sambil jalan. Genggaman tangannya tak pernah lepas.
“Pertama, kamu akan tidur terpisah. Aku juga ga tahu ruangan mana yang akan jadi kamarmu jadi aku harap kamu tidak menuntut terlalu banyak.” Diandra mengangguk. Lagipula yang ia inginkan hanya pernikahan. “Aku ga akan protes.”
“Kedua, jangan membantah ucapan orang tua Citra. Kamu tahu gimana babak belurnya aku kemarin. Kamu juga tahu sendiri luka-luka di tubuhku tadi malam. Mereka yang paling buruk, jadi hindari masalah sekecil apapun dengan mereka.” Diandra kembali mengangguk. Ia juga tak berniat untuk membuat keributan yang tak perlu. “Yang terakhir, selama di rumah apalagi ada Citra, tidak ada interaksi diantara kita. Citra pencemburu handal. Sekecil apapun perhatian, dia akan merajuk. Merepotkannya lagi jika dia mengadu paa orang tuanya. Aku akan kena lagi.”
Diandra menganga mendengar penuturan dari suaminya. Wanita karir yang cantik dengan seragam kedinasan yang membuat berwibawa ternyata pencemburu. Hal yang tak terduganya adalah orang yang membuatnya cemburu adalah Diovano? Dalam hati Diandra ingin tertawa selepas mungkin.
“Oke. Aku bisa lakuin tiga-tiganya.”
“Terakhir. Aku mencintaimu. Aku akan memperlakukanmu dengan baik selama tidak ada mereka. Jadi penuhi kewajibanmu untukku.” Diandra bergelayut manja di lengan suaminya. “Oke siap!”
Siang hari pukul setengah sepuluh. Diandra dan Diovano tiba di kediaman Citra. Tempat yang akan menjadi tempat tinggal Diandra. “Jangan kaget jika aku tiba-tiba membentakmu. Aku akan membuat ekspresi kesal. Kita harus berakting sebaik mungkin jika pernikahan kita hanya sebatas memenuhi ancamanmu.”
Keduanya memasuki rumah. Diovano berjalan lebih dulu meninggalkan Diandra yang tertinggal beberapa langkah dibelakangnya. Keduanya sama-sama dilanda oleh ketakutan yang berbeda. Diandra yang takut mengingat luka lebam yang ia lihat di tubuh suaminya sementara Diovano takut, karena jika tidak ada Citra. Tak ada yang melindunginya.
“Rumahnya luas sekali.” Gumam Diandra tak bisa mengelak kekagumannya kala menginjakan kaki di rumah istri pertama. Desain rumah yang serba putih membuat bangunan rumah begitu mencolok. Taman yang luas dilengkapi dengan perosotan, ayunan dan permainan anak-anak lainnya.
Tap! Tap! Tap!
Suara pijakan kaki begitu jelas disertai aura menegangkan. Begitu kepalanya mendongak, di depannya hanya beberapa langkah seorang wanita paruh baya datang menghampiri dengan senyum antagonis sambil bertepuk tangan. Sorot matanya begitu tajam penuh ancaman.
“Wah! Pengantin baru sudah datang.”