7 :: Ibu Baru

1115 Words
Ketegangan terjadi melihat mertuanya yang kini menyapa. Keberanian Diandra bulan lalu kini tak ada lagi. Ia sangat takut dengan raut antagonis yang terpatri di wajah ibu barunya. Jantungnya berpacu begitu cepat dengan nafas terengah meski ia tak berlari. Diovano tampak santai dan mendatangi Indah, ibu mertuanya. “Pengantin baru apanya, istrikukan cuma Citra,” balas Diovano dengan senyum lebar. Indah menepuk pundak menantunya. “Jadi kita harus memanggil wanita itu apa?” tunjuk Indah dengan jari telunjuk yang teracung tegas. Diovano melirik pelan dengan senyum miring di bibirnya. “Anggap aja ga ada. Kalau emang butuh banget. Panggil aja hei! gimana?” Diandra menghela nafas berat. Ia melanjutkan langkahnya sembari menyeret koper berukuran besar. Tangannya menjulur untuk menyalami namun ditepis kasar. “Mau ngapain kamu.” “Bertemu orang lain tentu salaman menjadi sopan santun yang ga boleh dilupakan. Ibu tak tahu?” tanya Diandra mencoba menepis detak jantung yang mulai berdisko tak karuan. Sikap arogan dan berani yang sudah pernah ditunjukan bulan lalu, ia tak mau kehilangan citranya. “Kamu mengejek? Sopan santun mana yang kamu maksud setelah merusak hubungan putri saya?” “Saya hamil anak Mas Dio, saya hanya ingin bertanggungjawab sebagai ibu yang baik untuk anak kami.” Indah berdecih. Tangannya berpindah ke pinggangnya. Kesal dengan ucapan orang baru yang tak tahu malu. “Mana ponselmu?” “Ponsel?” “Kamu harus menyerahkan ponselmu jika ingin masuk rumah ini. kamu tak tahu?” Indah menodong dengan tatapan terus mengintimidasi. Ia melirik menantunya yang berada di sebelahnya. Diandra merogoh saku bajunya. “Apa ponselku akan diperiksa secara rutin?” tanya Diandra dengan enteng. Indah mengecek langsung. Membuka galeri dan mendeletenya tanpa ijin. Diandra menganga melihat tindakan ibu barunya namun ia mencoba untuk bersikap tenang. Ia menatap ponsel. Ibu-ibu memang gagap teknologi. Mereka mana tahu kalau file yang terhapus bisa dipulihkan. Menghapus file sama sekali tak membuat Diandra sedih. “Laptopmu mana?” “Laptop juga?” “Tentu saja!” bentak Indah emosi. “Sayang sekali. Aku ga punya. Apa aku harus beli dulu?” indah mengangkat ponselnya tinggi. Hanya tinggal menambahkan ucapan provokatif mungkin ponsel Diandra akan terlempar dan remuk. “Jalang rendahan! Jangan berpikir kamu bisa tersenyum setelah ini. Ikut!” Diandra mengangguk dan menyeret kopernya. “Ibu juga jangan melakukan hal buruk pada ibu hamil. Ibu juga pernah hamilkan? Ibu tahu dong rasanya orang hamil sensitifnya kaya ap─” Plak! Tamparan tanpa aba didapatkan Diandra. Diovano yang ada di sampingnya ikut tersentak karena suara yang ditimbulkan cukup keras dan mendadak. Lengguhan kecil terdengar dari Diandra. Air matanya bahkan menetes pelan. Sekuat tenaga ia mencoba tenang namun gagal oleh tamparan keras ibu barunya. Entah ia harus menyebutnya apa? mertua? Yang jelas Indah akan menjadi ibu untuknya juga. “Ga ada yang nyuruh kamu ngomong!” desisnya sambil menunjuk muka Diandra. Wanita paruh baya itu membalikan badan dan melanjutkan langkahnya. Kediaman Citra memang sangat luas. “Ibu mau nunjukin kamarku?” “Ibu? Siapa yang sudi menganggapmu anak.” Ketus Indah. “Kamu didiemin ngelunjak yah! Ga usah bersikap sok akrab disini!” bentak Diovano. Ia sudah ketar-ketir setiap kali Diandra melontar kata memancing emosi ibu mertuanya. Ia sudah ketakutan namun Diandra justru begitu santai seakan itu bukan apa-apa. “Ah ibu pasti butuh waktu. Kalau gitu aku akan bersabar sampai ibu mau menganggapku sebagai anak.” Diovano mengacak rambutnya frustasi. Gadis manis nan penurut yang dikencaninya dulu telah hilang menjadi gadis pembangkang yang membuatnya khawatir. Keduanya berjalan hingga mentok ujung rumah. Sebuah pintu terlihat. Indah membukakan pintu itu. Tampaklah sebuah gudang kumuh penuh dengan debu dan kardus yang lapuk. Diandra menganga. Meski belum dijelaskan namun ia sudah bisa menebak pikiran Indah. Ruangan kotor ini akan menjadi kamarnya. Ia bisa menebak itu. “Bersihkan. Kamu bisa tidur di sana.” “Tapi saya lagi hamil bu. Kalau keguguran gimana?” “Bagus dong. Kamu bisa langsung pisah karena ga ada alasan untuk tinggal di sini.” Diandra meneguk ludah kasar gagal memprovokasi Indah. Manik matanya mengedar dengan senyum kecut melihat debu yang lebih tebal dari perkiraannya. “Mana barang yang boleh dan tidak boleh dibuang? Aku harus memilahnya. Di dalam ada kasur dans selimutkan? Aku gampang kedinginan.” Indah menulikan pendengarannya. “Bersihkan dan jangan sampai kamu berkeliaran di dalam rumah. Tamparan tadi hanya pemanasan, aku bisa melakukan lebih dari itu.” Indah berlalu begitu saja. Diovano langsung mengikuti ibu mertuanya karena tak ingin disalahpahami. Berpihak kepada Diandra sama dengan menggali kuburnya sendiri. Itu berbahaya untuk kelangsungan hidupnya. Diandra mengedarkan pandangannya. Membersihkan gudang sendiri tentu ia tidak akan sanggup. Terlalu banyak barang di dalam sana. Ia memilih untuk duduk di bangku taman yang ada tepat di depan gudang. Tangannya menscroll ponsel. Ia tak sanggup untuk membersihkan gudang dan memilih untuk memanggil jasa kebersihan. Range harganya cukup terjangkau baginya. Ia mendudukan tubuhnya dengan nyaman. Mengabaikan terik matahari yang begitu panas. Tak lama sebuah pesan masuk. Dari Diovano. ‘Sayang maaf aku tak bisa membantumu. Aku harus berpihak pada keluarga ini karena jika tidak kita akan terusir.’ Diandra tak menanggapi pesan yang dikirimkan suaminya. Ia tak peduli. Lagipula yang ia inginkan sudah tercapai. Pernikahan. Meski tak begitu indah namun setidaknya tak akan ada yang mencurigai jika ia hamil di luar nikah. Tak sampai lima belas menit. Dua orang dari petugas kebersihan yang ia pesan jasanya tiba. “bersihin gudang bisakan Pak?” tanya Diandra membuat dua laki-laki yang datang saling pandang. Gudangnya cukup luas dan barangnya begitu berantakan. Seakan setiap ada barang yang sudah jarang digunakan di lempar begitu saja. Pecahan kaca dan guci besar yang sudah retak juga ada di dalam gudang. “Barang-barangnya dibuang semua?” Diandra menggeleng cepat. Ia juga tak seberani itu untuk membuang baran gyang bukan miliknya. “Dipilah saja Pak. Kalau sekiranya masih bisa dipakai ditumpuk aja di kardus.” “Tapi kardusnya udah lapuk lho mba.” “Kalau gitu sisakan barang-barang yang besar. Selain itu buang. Untuk barang besar di sisihkan bisa? Karena ruangan ini mau saya ubah jadi kamar biar tinggal disekat pakai partisi. Saya juga maaf banget ga bisa bantu karena lagi hamil muda. Takut kenapa-napa. Ga papakan Pak?” “Sudah tugas kami untuk mengerjakan semua. Kalau begitu kami mulai beres-beresnya ya mba.” Diandra merasa lega. Era digital memang membuat semua menjadi mudah. Tak hanya ojek online yang siap siaga mengantar kemanapun customer pergi. Tak sekedar makanan yang siap mengirim kemana pun tempatnya. Jasa kebersihan bahkan mulai banyak digunakan. Diandra melangkahkan kakinya menuju bangku taman. Sekalipun belum menjelajah Diandra meyakini jika rumah barunya dikelilingi oleh taman, terlihat dari jangkauan pandangannya. Sekelilingnya penuh dengan pepohonan rindang dan tanaman hias yang membuat adem. Diandra mengamati dari bangku taman yang tak jauh dari gudang. “Ga sabar pengen tidur. Udah capek banget.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD