Gedoran pintu besi menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Diandra yang sedang menjelajahi alam mimpi kini harus bangun mendengar pintunya digedor kasar. Saat matanya terbuka, jelas sekali terlihat pintunya digedor hingga bergetar hebat. Entah siapa pelaku yang begitu tak sabar ingin bertemu dengannya.
Diandra merenggangkan tubuhnya. Baru satu jam ia tidur setelah gudang selesai dibersihkan. “Iya sebentar,” sahut Diandra namun nampaknya ucapannya tak merubah apapun karena gedoran pintu kian menjadi. Diandra membukakan pintu. “Ah, istri pertama mengunjungi istri kedua,” ucap Diandra tersenyum seramah mungkin.
Citra yang masih menggunakan seragam kedinasan tampak geram mendengar perkataan Diandra yang terdengar meremehkannya. “Aku datang kesini untuk memperingatimu?!”
“Memperingati kedatanganku? Apa kamu memang suka merayakan sesuatu?”
“Apa kau suka kekerasan?” garang Citra membuat Diandra menampilkan senyum tipis. Dadanya bergejolak tak tenang. Ia baru bangun tidur, tak lucu jika ia harus mendapatkan tamparan sekarang. “Aku tak suka kekerasan. Kalau memang ada yang mau dibicarakan. Bicaralah. Aku ga keberatan.” Diandra melunak. Ia mempersilahkan untuk Citra masuk namun wanita itu justru menatap jijik.
‘Padahal ini masih bagian rumahnya.’
“Keluarlah!” titah Citra. Diandra mengangguk kecil. Tanpa membawa apapun ia mengikuti langkah Citra. Wanita itu duduk di bangku taman dengan meja panjang di depannya. “Aku boleh duduk di sini?”
“Duduklah. Aku bukan orang yang kejam pada ibu hamil.” Diandra tersenyum tipis. Wanita itu tampak sibuk mengambil secarik kertas. “Ada aturan yang harus kamu tepati selama tinggal di sini.”
Diandra tak menyahut. Tanpa dikatakan pun ia sudah menduga itu. beberapa aturan yang sudah ia ketahui sejauh ini dilarang melakukan kontak fisik, berdekatan ataupun bercanda ria dengan Diovano. Suami Citra dan Diandra.
“Batasanmu hanya dari pintu gerbang hingga tempat ini. Kamar mandi kamu gunakan ruang bilas kolam renang. Di sana juga sudah ada toilet kecil. Jangan gunakan selain itu.”
Diandra mengangguk. “Akhirnya aku punya kamar mandi,” balas Diandra dengan tenang. Kali ini Citra tak ingin mendebatnya. Tangannya kembali sibuk memikirkan aturan apa saja yang pantas untuk diberlakukan di kediamannya.
“Jangan pernah keluar saat ada tamu. Jangan pernah berkeliaran di depan keluargaku. Jangan seenaknya keluar masuk rumah.”
“Kenapa? Aku juga punya kehidupan.”
“Mau kuusir?”
“Kenapa sampai mengusir. Aku bisa membantu pekerjaan di sini. Tidakkah itu menguntungkan?” tawar Diandra. Ia keberatan jika harus mendekam terus-terusan di dalam kamar yang sumpek. Tak ada jendela, hanya ventilasi yang bahkan tak cukup untuknya.
“Keluar di jam semua orang bekerja.”
“Itu jam berapa?”
“Simpan pertanyaanmu! Kenapa terus bertanya! Aku belum selesai bicara!” Citra meninggikan suara. Nafasnya naik turun menahan emosi. Tak lama dari belakang, Diovano datang memeluk istrinya. “Sayang ada apa? kenapa marah-marah begitu.”
“Kamu tanya kenapa?! Jalang itu tinggal bersama kita dan kamu masih tanya kenapa?”
“Mana jalang yang kamu maksud? Dia?! Bukankah dia pembantu di rumah ini?” Diovano merangkul istrinya. Membuat wanita yang ada di depannya menatap jijik. Diandra memilih diam untuk tidak menyahuti. “Sayang, ga perlu kita nguras energi buat orang yang ga penting.” Diovano berbalik badan.
Pandangan Diandra dan Diovano saling bertubrukan. “Dengar ya. Kamu hanya mendapatkan satu ruangan di tempat ini. Jangan pernah masuk ke dalam rumah kecuali ada perintah. Untuk makan, ambil sendiri di dapur. Pastikan tidak ada orang di sana. Entah aku, istriku atau mertuaku.”
“Kamu memperlakukanku seperti pencuri?” protes Diandra tak terima. Urusan makan bahkan ia harus mengendap-endap.
“Bukannya kamu sendiri yang bilang hanya perlu menikah untuk menutupi perutmu?” Diandra tak lagi membantah. Cukup lelah berdebat dengan dua orang sekaligus.
“Baiklah. Lagipula aku juga bukan orang yang suka berkeliaran. Hiduplah seperti biasa sebelum ada aku di sini. Aku janji tidak akan mengusik kalian.” Diandra berdiri dan berlalu pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Citra yang belum selesai menulis surat perjanjian.
“Ini gimana?”
“Ga perlulah surat-surat kaya gitu. Langsung tegur saja. Sayang juga capekkan baru pulang. Istirahat dulu.”
“Aku overthinking karena semaleman kamu ga pulang. Pernikahan argh! kita bahkan baru satu bulan menikah.” Citra mengacak rambutnya frustasi. Diovano mengusap rambut istrinya. Mendaratkan bibirnya, mengecup ringan kening istrinya.
“Ga ada yang perlu dikhawatirin.”
***
Pukul tujuh malam menjadi rutinitas makan malam bersama. Diovano dan istrinya duduk berdampingan. Tepat di depannya Indah Iswari dan suaminya Mahesa Yudistira tengah menikmati makan malam. Suasananya berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tak ada obrolan atau celotehan riang seperti biasanya.
Mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing. Citra merasa pening tiba-tiba mendapati suasana canggung yang teramat asing baginya. Helaan nafas berat keluar dari bibirnya. “Apa karena wanita itu? kalau memang ada yang ingin dibicarakan langsung saja. Kepalaku pusing kalau semua orang hanya diam seperti ini,” rajuknya tak berselera makan.
Indah melirik putrinya sedih. Begitupula dengan Mahesa. Ia kebingungan dalam bersikap. Membayangkan berada di posisi istrinya tentu tidak mudah. Belum lagi Diovano yang selalu tegang setiap kali berhadapan dengan Mahesa. Insiden pemukulan yang pernah terjadi membuat Diovano tak bisa lupa. Beruntung istrinya mau menengahi.
“Ayah dan ibu ga perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku juga sudah bertemu dengannya tadi setelah pulang kerja. Beberapa peringatan sudah kusampaikan. Citra bisa pastikan dia tidak akan muncul di hadapan kita.” Citra berbicara panjang lebar.
Ia meneguk minumnya hingga habis.
“Permisi,” suara wanita mengalihkan perhatian semua orang. Diandra, wanita yang berjanji tak akan berkeliaran di dalam rumah kini justru muncul dari dapur. “Aku udah bilangkan? Kalau mau makan, ambil nanti saat tidak ada orang!” sarat emosi terdengar jelas dari jawaban Citra. Wajahnya berubah murung, gemas dengan tangan yang mengepal kuat.
“Kalau itu aku sudah makan. Aku butuh sesuatu.”
“Cepat katakan! Jangan basa-basi tak jelas!”
“Siang hari aku bisa tidur di lantai karena tidak terlalu dingin, tapi untuk malam ... boleh saya minta selimut? Saya khawatir bisa mati kedinginan. Mungkin rumah ini akan jadi berhantu nantinya.” Diovano mencelos mendengar jawaban Diandra yang semakin menantang. Wajahnya saja yang polos namun kata-kata yang dilontarkan seakan mengajak perang.
Diovano langsung berdiri sambil menunjuk. Matanya menatap begitu tajam penuh amarah. “Kau!”
“Hanya aku yang boleh bicara dengannya!” bentak Citra pada suaminya. Diovano tak berkutik. Indah dan Mahesa pun terkesiap dengan amarah putrinya yang jarang ditunjukan. Apalagi kali ini suaminya yang ia bentak.
“Aku sudah memperingatimu untuk tidak muncul dihadapanku.” Citra mengalihkan perhatiannya pada Diandra. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri. Tak ada senyuman sama sekali.’
“Ikuti aku,” ucap Citra. Selera makannya sudah hilang. Ia tak mungkin melanjutkan meski piring nasinya. Tiga pasang mata menatapnya dengan tegang penuh kekhawatiran.
Citra membawa Diandra menuju kamar tamu yang terletak tepat di samping ruang tamu. Diandra berbinar melihat ruangan yang begitu terang tak seperti kamarnya. “Aku boleh tidur di sini malam ini?” tebak Diandra sumringah.
“Ambil selimut dan bantal, setelah itu keluar. Jangan pernah muncul di depan keluargaku lagi,” desis Citra penuh penekanan. Kedua tangannya mengepal membuat Diandra sedikit ngeri namun ia harus mempertahannya image-nya.
“Ini peringatan serius dariku!”