Malam hari di gudang yang dingin. Diandra kedatangan tamu yang tak diundang. Diovano tiba-tiba datang dengan mengetuk pelan pintu saat Diandra mencoba untuk tidur.
“Kenapa kamu muncul tiba-tiba! Jangan melanggar batas. Kamu tidak ingat bagaimana wajahku sampai lebam?! Jangan buat aku khawatir,” lirih Diovano frustasi. Ucapannya penuh penekanan dan keputusasaan. Diandra hanya meringis kecil. Ia memang sengaja datang ke ruang makan karena tahu anggota keluarga akan lengkap di jam itu. Anggap saja memperkenalkan diri secara tidak langsung.
Diandra meraih tangan suaminya dan mengelus pelan. “Sayang, kamu mengkhawatirkanku?” tanyanya dengan nada lembut. Tatapannya teduh dengan senyum tipis di bibirnya.
“Tentu saja! Aku suamimu.”
“Aku senang sekali mendengarnya. Boleh aku memelukmu?” tanya Diandra meminta ijin. Diovano langsung mendekap tubuh istrinya. Mendusal di ceruk leher Diandra. “Memang aku pernah menolak menikah denganmu, tapi kamu tetap orang yang paling aku cintai. Jangan berbuat sesuatu yang akan merugikanmu,” lirihnya memberi nasihat. Diandra mengangguk paham.
“Aku juga mencintaimu. Sayang ... Kalau gitu apa bisa belikan aku ranjang? Kasur lantai juga tidak apa-apa. Aku bisa kedinginan jika seperti ini.”
“Akan kubelikan. Hubungi aku ke nomor ini. Aku peringatkan sekali lagi. Jangan muncul tiba-tiba dan membuatku jantungan. Setelah aku berhasil, aku akan pergi denganmu. Kamu yang paling tahu aku mau menikahinya karena dia keluarga yang mapan.” Diandra mengangguk.
“Jawab kalau kamu paham.”
“Aku mengerti. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”
***
Cklek!
Blam!
“Sayang, kamu darimana?” tanya Citra dengan kecurigaan penuh. Diovano menggelengkan kepalanya. Wajahnya murung dengan bahunya yang turun seakan ada beban berat di pundaknya. “Aku menerima panggilan.”
“Dari siapa? Coba kulihat siapa yang menel─”
“Kamu tidak percaya denganku? Aku minta maaf pernah berbohong sebelumnya, tapi bukan berati aku akan berbohong setiap saat,” balas Diovano tanpa sadar meninggikan suara. Citra merengut mendengar suara suaminya yang meninggi. Citra menghela napas berat. Ia beranjak dari ranjang menghampiri suaminya. “Maaf membuatmu marah, aku takut kamu berpaling.”
“Mana bisa aku berpaling saat Tuhan memberiku istri sempurna sepertimu? Aku bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena melihatmu. Kalau saja kita bertemu lebih cepat, aku siap melajang hanya untuk menjadi milikmu seorang,” balas Diovano merengkuh mesra tubuh istrinya. Mengusapi punggung meyakinkan jika ucapannya adalah sebuah ketulusan. Bukan semata untuk menghibur atau pembelaan.
“Apalagi keluargamu menyambutku dengan sangat baik disaat aku tak punya apa-apa. Aku selalu penasaran bagaimana bisa kamu mencintaiku seperti ini saat aku bukan orang yang hebat.” Citra menggelengkan kepalanya. “Aku merasa keluargaku tak tahu malu karena melanjutkan perjodohan yang tidak menguntungkan keluargamu.”
“Cukup. Aku tidak mau dengar yang seperti itu,” balas Citra. Ia mendongak dan dengan cepat Diovano menyambar bibir istrinya, kecupan singkat yang membuat keduanya tertawa. “Aku sangat bersyukur karena ayah membuat perjanjian perjodohan di masa lalu. Suamiku sangat hebat. Ayah bilang penjualan sekarang meningkat pesat karena suamiku yang sangat cemerlang.” Diovano berdehem pelan mendengar pujian dari istrinya. Penjualan pesat karenanya? Itu memang benar.
Jika dulu Maheswari Mebel fokus pada sofa, ranjang dan lemari dengan menguatkan desain ukiran yang rumit semenjak kehadiran Diovano, mebel Maheswari menjadi lebih bervariasi.
Mahesa dan Indah masih fokus pada desain ukiran dan Diovano diberi kepercayaan untuk melakukan beragam inovasi untuk menggaet pasar remaja hingga dewasa awal dengan konsep modern dan minimalis.
“Aku bahkan mendapat proyek baru.”
“Proyek apa?” tanya Citra antusias. Diovano menuntun istrinya untuk duduk di bibir ranjang. Keduanya saling berhadapan dengan senyum mengembang seakan pertengkaran kecil tadi tidak pernah ada. “Ada pengantin baru yang ingin mengisi perumahannya. Mereka minta dibuatkan ranjang anak yang menyatu dengan lemari dan meja belajar. Mereka juga minta dibuatkan untuk furniture dapur yang elegan dan ga makan tempat, ruang tamu dan kamar utama.”
Citra menatap kagum suaminya yang sangat pandai. Padahal belum lama suaminya ikut bekerja di perusahan mebel ayahnya namun tawaran proyek sudah banyak. Setelah ranjang laci dan meja rias minimalis rilis. Penjualan menaik pesat meski sistem pre-order diterapkan. Para pekerja seringkali harus begadang demi menyelesaikan target.
Belum lagi kemudahan untuk merangkai sendiri yang membuat pengiriman semakin mudah. “Aku berencana untuk mendesain tangga kali ini, pasti banyak yang sukakan? Karena kebanyakan orang mengabaikan kolong tangga dengan membiarkan tempat itu kosong. Padahal bisa dimanfaatkan dengan baik.”
Citra mengangguk setuju. Ia punya gambaran dari setiap ucapan suaminya. “Kalau gitu mau coba kerjakan sekarang?” tanya Citra. Wanita itu tak pernah keberatan meski diajak begadang hanya untuk membantu membuat desain.
Diovano mengambil secarik kertas dan mulai menggambar. Citra menemani suaminya. Gambarnya cukup buruk karena Diovano memang tidak ahli dalam menggambar namun imajinasinya cukup baik dan Citra akan memperbaiki gambarnya dengan lebih baik. “Karena tangga ini kita tidak bisa buat jadi, harus custom. Agak sulit sebenarnya tapi rasanya kalau aku ga menuangkan pemikiranku dan merealisasikannya aku bisa uring-uringan.”
Citra tergelak mendengar jawaban suaminya yang begitu menggebu. “Jadi jelaskan fungsinya.”
“Bisa apapun. Untuk perpustakaan mini, menyimpan barang besar seperti helm, payung atau menyembunyikan barang yang tak boleh diketahui orang lain. Anak-anak juga cenderung suka bermain kemah-kemahan. Sepertinya menarik jika dibuat layaknya rumah tenda tapi resiko terbentur. Itu pasti akan menjadi protes utama.”
Diovano kembali berkutat dengan pena dan kertas. Ia tiba-tiba menjadi semangat jika berkaitan dengan imajinasi yang ingin ia tuangkan. Sebenarnya ini memang bukan ide baru. Sudah banyak pengusaha mebel yang berfokus pada desain minimalis modern.
Hanya saja Maheswari Mebel memiliki nama yang sudah besar dan relasi yang luas. Keheningan terjadi kala Diovano mulai asyik dengan dunianya sendiri. Citra bahkan tak berkutik, hanya menatapi coretan pena yang dibuat oleh suaminya.
Deg!
Diovano menghentikan coretannya. Ia melirik istrinya yang masih menungguinya sedang ia asyik sendiri. Diovano meringis kecil dan menyudahi aktivitasnya. “Maaf, aku keasyikan sendiri padahal aku sudah punya jam kerja untuk melakukan ini. Sayang mau tidur sekarang?” Citra menimang. Ia melirik jam dinding yang baru menunjukan pukul sembilan.
Belum terlalu malam. “Sebenarnya belum lama ini aku bertemu dengan tante Anna,” lirih Citra membuat Diovano memfokuskan perhatiannya. Tante Anna adalah adik dari ayahnya. Wanita yang terkenal dengan cara bicaranya yang santun namun menusuk dengan pertanyaan yang merujuk pada sindiran pedas.
“Dia bilang apa sampai bidadariku murung begini,” gombal Diovano sembari menangkupkan wajah istrinya. Citra merengut meski jantungnya berpacu cepat ingin mengutarakan maksud dari ucapannya. “Dia menyinggung lagi tentang anak.”
“Anak? Kita bahkan baru dua bulan menikah. Bukankah wajar jika masih belum. Jangan dengarkan itu, kita saling mencintai saja sudah cukup, aku bahagia seperti ini denganmu,” ucap Diovano mencoba meyakinkan istrinya jika ia selalu berada dipihaknya. Yang akan selalu mendengarkannya.
Citra menatap ragu suaminya. Menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Ia kehilangan kepercayaan diri apalagi sekarang ada Diandra yang sudah membawa bayi dalam perutnya. Rasa tersaingi itu hinggap setelah mendengar ucapan tante Anna yang memiliki pengaruh besar terhadapnya.
“Meski begitu ... aku ingin berusaha. Besok aku libur jadi kita bis─”
Diovano mendaratkan bibirnya, ia paham maksud istrinya. Sangat paham dan ia selalu menyukai moment ini. Jika biasanya ia harus merayu dulu agar istrinya mau memenuhi kebutuhan biologisnya. Kali ini ia tak mungkin mengabaikannya.
“Ayo kita lakukan. Aku juga akan berusaha yang terbaik untuk ini.”