10 :: Janji Diandra

1129 Words
“Apa yang kamu lakukan disini?” Suara Diovano terdengar nyaring di awal namun seketika pria itu menurunkan suaranya. “Akukan udah bilang jangan keliaran di rumah ini!” geram Diovano melihat istrinya yang begitu bebal tak mau mendengarkan peringatannya. “Apa aku ga boleh naik ayunan? Ibu hamil mana boleh diam di dalam kamar terus. Cahaya mataharikan juga butuh. Aku hanya berjemur sampai jam tujuh kok. Ga perlu khawatir, aku udah janji ga akan masuk ke dalam kok.” Diovano mengangguk lemah. “Tidurmu nyenyak?” Diandra menggelengkan kepalanya. Tak bohong. Selimut yang diberikan memang tebal dan cukup menghangatkan namun gudang terlalu dingin, apalagi langsung bersentuhan dengan lantai. “Dingin. Aku ga boleh ngelunjakkan? Apa uang mahar darimu kemarin boleh untuk aku beli kasur? Aku lihat ukuran kecil ada yang di bawah lima ratus ribu.” “Sebebasmu asal jangan melewati batas.” Diandra tersenyum begitu manis. Diovano celingukan menatap sekeliling. Pria itu masih sangat mencintai wanitanya setelah menikah. Rasanya bahkan seperti mimpi yang tak nyata. Ia menghela nafas panjang mengurungkan niat untuk mengecup wajah menggemaskan di depannya. “Sudah ke dokter?” “Belum. Tapi Citra bilang mau mengajakku kesana. Dia mau mengantarku.” “Citra bilang gitu? Kapan?” Diandra mengangguk. Raut wajah Diovano berubah. Entah apa yang ada dipikirannya, Diandra tak merasa perlu tahu. Namun ia sedikit paham kekhawatirannya. Bukan hal mudah untuk seorang istri pertama dan istri kedua bisa akur hingga jalan bersama. “Tadi pagi dia mengajakku.” Diovano frustasi sendiri mendengarnya. Entah apa yang direncanakan oleh istri pertamanya, namun pikirannya tak bisa tenang. “Kamu ga ngidam aneh-anehkan?” “Aku bisa menahannya. Sudah kubilang, aku tidak akan merepotkanmu.” “Tetap saja aku khawatir.” “Mendengar kamu mengkhawatirkanku saja sudah cukup. Aku sangat senang. Aku ga merasa kesepian lagi.” *** Sesuai dengan ucapan Citra yang tadi pagi mengajaknya pergi ke dokter. Keduanya pergi berboncengan dengan Citra yang menyetir. Mau bagaimana lagi? Citra tak memberi ijin untuk Diandra menyentuh barang miliknya. Tingkat kepercayaannya rendah apalagi ini bersangkutan dengan nyawa karena jalanan yang dilaluinya cukup padat. Ruangannya agak lenggang namun begitu melihat daftar registrasi, sudah banyak naman-nama yang mendaftar. Citra mengeluarkan kartu asuransi dan menuliskan namanya di daftar registrasi. “Kamu juga daftar? Kamu lagi hamil juga? Wah ... subur sekali. Pasti rumah kit─” ucapannya terpotong kala Citra berlalu meninggalkannya. Diandra maju dan menuliskan namanya di daftar registrasi. “Berapa us─” “Aku belum hamil. Aku datang untuk konsultasi karena ingin ikut program hamil,” balas Citra mencoba tenang dalam gempuran pertanyaan. Diandra mengangguk paham. Bibirnya kini rapat tak lagi mengajak bicara. ‘Padahal baru dua bulan, sayang sekali. Bukannya lebih baik menikmati waktu berdua dulu,; batinnya mengayunkan kaki. Ia tak paham dengan jalan pikiran wanita di sampingnya. Jika jadi dia, Diandra ingin menikmati waktu sepanjang hari hanya berdua. Saling mengenal memupuk cinta hingga perasaan keduanya sudah meluap-luap. Kepuasan mereka terpenuhi. Ia baru akan memikirkan anak. Setidaknya itu yang ada dalam pikirannya. “Bagaimana awal pertemuanmu dengan Dio. Aku penasaran karena aku diputuskan tepat di hari pernikahan. Tanpa kata-kata hanya dengan foto kalian berdua. Kalau ini perjodohan, pasti proses pengenalannya cukup lama bukan?” “Enam bulan.” Diandra meneguk ludah kasar mendengar jawaban dari Citra. Enam bulan? Haha! Diandra mengusap perutnya miris. Kebodohannya atas nama cinta begitu kuat. Membuat pertemuan diam-diam selama enam bulan? Diandra bahkan tak memiliki firasat buruk kekasihnya bermain di belakang. Keduanya hening tak lagi saling bicara. Diandra larut dalam kekesalannya. Citra tak karuan dengan perasaannya. Tak percaya jika selama enam bulan menjalin hubungan dengan Diovano, statusnya adalah seorang selingkuhan. Kini posisi istri pertama pun tak terasa menyenangkan terlebih wanita di sampingnya sudah hamil. Citra lebih dulu di panggil. Diandra masih menunggu antrian. “Selama enam bulan kita masih bertemu secara rutin. Gimana bisa aku ga sadar sama sekali? Apa aku selamban itu?” gumam Diandra kesal. Ia menghentakan kakinya gelisah. Menggigit bibir pun bak kebiasaan yang tak bisa ia hindari. Selang lima belas menit, Citra keluar dari ruangan. Wajahnya datar seperti biasa. Diandra tak bisa bertanya karena gilirannya masuk. Senyum ramah menyapa dokter yang menyambutnya. “Selamat siang, silahkan duduk. Bisa dijelaskan keluhannya?” *** Entah kejutan apalagi yang akan Citra berikan pada Diandra. Walaupun belum lama tinggal, ia merasa nyaman dengan keberadaan Citra yang tidak memihaknya namun membatasi keluarganya untuk ikut campur. Setelah kemarin ia mendapatkan selimut hangat lengkap dengan bantal guling tanpa perdebatan, setelah pagi tadi ia diantarkan ke dokter meski tak diminta dan kini wanita itu mengajaknya untuk makan siang bersama sebelum pulang. Diandra tentu tak mungkin menolak apalagi setelah mendengar perut Citra yang keruyukan minta diisi. “Kamu makan sup ayam aja,” ucap Citra memilihkan menu. Diandra yang notabennya tak pilih-pilih makanan terima jadi apapun yang dipesan oleh partnernya serumahnya. “Dokter bilang kandunganku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Ga ada masalahkan? Kamu suka anak kecil?” Diandra mengakrabkan diri. Celah selebar ini terbuka untuk saling dekat tak mungkin Diandra menyia-nyiakannya. “Orang dulu bilang kalau toge bisa bikin subur. Coba aja, sekalipun orang dulu mengatakan berdasarkan asumsi tapi suka bener.” Citra berdehem tak tertarik dengan pembicaraan tersebut. “Pekerjaanmu sedang bagus-bagusnyakan? Menurutku lebih baik untuk menikmati moment berdua lebih banyak daripada harus memikirkan anak.” Citra berdecih tak suka. Sudah diberi kode untuk berhenti namun wanita seakan tuli tak peka dengan kode yang ia berikan. “Kamu anak kecil tahu apa. Aku nikah karena merasa udah mampu tapi kamu? Belum kerjakan? Diovano juga sama hanya membantu kerjaan orang tuanya tapi kenapa bisa berhubungan seperti itu hingga arggh! Aku benar-benar kesal memikirkannya.” Diandra langsung bungkam diserang seperti itu. Kerja? Tidak mudah untuknya mendapat kerja. Kualifikasinya tak pernah cukup hingga ia tertekan sendiri mencari kerja. Menikah adalah jalan pendek yang ingin ia tempuh agar bisa seperti ibunya, menjadi ibu rumah tangga yang siap menampung dan mengelola gaji suami. “Lalu apa alasanmu mau menerima perjodohan sementara dia belum mapan?” “Tentu saja karena keluargaku berkecukupan. Anggap saja dia tak mendapat tempat yang tepat untuk menggali potensinya. Buktinya setelah menikah denganku, bergabung dengan perusahaan yang ayah bangun. Bakat yang dimilikinya muncul. Awalnya aku juga menolak perjodohan karena tak ingin menikah. Tapi saat tahu siapa laki-lakinya, orang tuaku dengan orang tuanya juga kenal dekat. Aku ... aku memilih untuk percaya dengan pilihan orang tuaku.” Mereka larut dalam perbincangan yang membuat mereka semakin mengenali satu sama lain. Mendengarkan kisah dari dua belah pihak. Semakin diulik semakin sulit untuk disalahkan. Diandra dengan posisi dan masalahnya begitupula dengan Citra. “Padahal keluargaku cukup harmonis sebelum kamu datang dan merusak semuanya.” Diandra tersenyum tipis. Semua akar masalah memang Diovano penyebabnya. Menuduh Citra menikung atau parahnya dengan sebutan pelakor pun tak pantas. “Tenang saja. Aku akan keluar dari rumah itu setelah melahirkan. Aku hanya ingin melindungi nama baik keluargaku. Aku janji.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD