11 :: Batas Wilayah

1091 Words
Diandra menepati janjinya. Ia tak pernah keluar dari rumah melebihi batasan yang sudah ditentukan oleh Citra dan suaminya. Urusan makan pun, ia tinggal menunggu di kamar dan seseorang akan membawakan makanan. Entah itu Diovano, Citra ataupun asisten rumah tangganya. Kebutuhan air minum juga tercukupi karena Diovano membawakannya. Hidupnya terasa begitu damai, beban yang ia pikul hingga membuatnya tertekan hilang setelah tinggal di gudang kecil. Meskipun ia harus menahan jeritan saat kecoa nakal masuk ke wilayahnya. Meksi begitu ia cukup tangguh untuk mengusirnya. Beruntungnya tak ada tikus mengingat gudang menjadi tempat tinggalnya, kamarnya cukup bersih meski banyak tumpukan barang yang belum bisa ia akali. Sekarang senin pagi. Jam di ponselnya menunjukan jam setengah sembilan. Diandra mengembangkan senyumnya melangkah keluar dari kamar. Diandra hanya berani keluar dari gudang pukul enam pagi hingga tujuh kurang lima belas menit untuk berjemur dan saat penghuni rumah bekerja. Seperti sekarang. Ia melangkah kaki untuk bergegas mandi dan mencuci pakaian. Untuk menjemur pemilik rumah yang baik hati memberikan jemuran kecil untuknya. Langkahnya terhenti saat di kolam renang, ia mendapati Indah yang tengah berendam di dalam kolam. Ia memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar sayangnya ia sudah terlanjur tertangkap oleh Indah. “Kamu mau kemana main kabur aja?” tanyanya yang membuat Diandra kembali membalikan badan. Senyumnya canggung mengingat hari pertama ia datang. Diandra berceloteh dengan begitu arogan dan menantang. “Mau kemana kamu?!” tanya Indah lagi kali ini dengan suara lantang. Diandra menghampiri dengan sopan sembari memeluk handuk dan pakaian yang dibawanya. “Ada yang bisa saya bantu, bu?” tawar Diandra. Menjadi kacung adalah jalan yang ia tawarkan. Bukankan orang lain sangat suka jika dilayani? “Ga ada apa-apa. Mandi jangan pake lama dan temui saya di ruang tamu. Ada yang ingin saya bicarakan.” “Baik bu. Kalau begitu saya mandi dulu, terima kasih.” Diandra sesopan mungkin membahagiakan wanita di depannya. Lupakan arogansi yang dilakukannya saat pertama menginjakan kaki di rumah ini. Diandra bergegas menuju kamar mandi. Menyentuh dadanya, merasakan detak jantung yang mulai tak karuan. Pikirannya melayang memikirkan pembicaraan apa yang akan terjadi antara dia dengan Indah, mertuanya. Diandra menatapi pakaiannya. Menimang untuk mencuci sekarang atau nanti. Ia ingin cepat mencuci pakaian karena tak nyaman jika harus ditumpuk dan menimbulkan bau atau jika ia mencuci, ia khawatir akan diamuk mertuanya karena membuatnya menunggu. “Apa yang harus aku lakukan,” gumam Diandra. Mengingat waktu akhirnya Diandra memutuskan untuk tidak cuci baju. Ia bergegas keluar dari kamar mandi. Meletakan asal baju kotornya dan datang menuju ruang tamu. Ia mengetuk pintu utama sebanyak tiga kali. Memencet bel namun tak ada respon dari dalam rumah. Satu menit ia menunggu. Menjaga jarak untuk memencet bel lagi. Ia cukup tahu sopan santun dalam bertamu. Enam puluh detik berlalu Diandra kembali memencet bel dan Indah muncul dari pantulan kaca jendela. Diandra mundur sejenak menunggu pemilik rumah membukakan pintu. “Duduk!” titahnya kasar. Diandra masuk ke dalam ruang tamu dengan mata yang celingukan memandangi furniture yang begitu apik di sekelilingnya. Foto pernikahan Diovano dan Citra yang dicetak dan dipasang di ruang tamu juga sangat besar. Belum lagi lemari kaca di sudut ruangan yang penuh dengan piala dan sertifikat. Dipajang di tempat yang mudah dijangkau seakan memamerkan pada tamu yang datang betapa suksesnya putri mereka dari pendidikan, pekerjaan dan pernikahan. “Ibu hari ini libur kerja?” tanya Diandra basa-basi. “Siapa yang kamu panggil ibu?!” “Nyonya kerja hari ini?” tanya Diandra dengan nada meledek. Indah berdecih kesal mendengarnya. Ejekannya terdengar jelas dan tak bisa disangkal. “Bukan urusanmu.” “Aku cuma tanya karena biasanya nyonya sudah rapi setiap pagi.” Diandra menerbitkan senyum miring di bibirnya sembari menekankan kata ‘Nyonya’ pada wanita di depannya. “Kamu memang semenyebalkan itu ya? Diam di sini. Ada banyak yang ingin kutanyakan.” Diandra mengangguk kecil. Entah apa yang akan dilakukan oleh Indah. Diandra akan menunggu. Tak lama Mahesa muncul dari dalam sontak membuat Diandra bangun. “A─ayah ada di rumah?” “Siapa yang kamu sebut ayah?” ketus Mahesa yang membuat Diandra celingukan. “Tentu saja Bapak Mahesa Yudistira selaku ayah dari Citra dan Mas Dio,” balas Diandra sesantai mungkin. Ia mencoba tegar tak takut apapun. Ia belum pernah bersitegang dengannya namun ia masih ingat luka lebam yang Dio tunjukan karenanya. Agak menyeramkan. “Ayah belum berangkat kerja? Apa senin itu hari libur untuk ayah dan ibu?” “Apa kami terlalu santai atau kamu yang selalu lancang?” desisnya merendahkan suara penuh penekanan. Diandra bergidik mendengarnya. Tak lama Indah keluar dengan bibir mendumal. “Sayang! Kamu ini udah berapa aku bilang! Jangan taruh handuk basah di atas kasur! Basah semua jadinya.” “Aku ga taruh di atas kasur.” “Lalu handuk berwarna biru tua itu punya siapa? Udah hampir tiap hari ku tegur tapi tetep saja.” “Apa kamu tidak mengampuni usia suamimu yang kian menua dan pelupa ini? Aku minta maaf. Lain kali aku letakan di tempat yang benar.” Diandra tertegun dengan interaksi mengejutkan di depannya. Interaksi manusiawi yang tak pernah ia bayangkan dari pemilik wajah serius di depannya. Wajah yang tak pernah ia lihat tersenyum dan tertawa lepas. “Masa mudanya pasti sangat manis.” “Apa kamu bilang?!” “A─apa aku mengatakan sesuatu?” tanya Diandra tak sadar. Seringai muncul di wajah Indah yang kini melupakan pertengkaran kecilnya. Pertunjukan mini itu usai meski Diandra masih ingin melihat seberapa tinggi kuasa yang dimiliki oleh Indah. Indah melemparkan amplop ke meja. “Pergilah dari sini dan jangan ganggu putra putriku. Meski tak sering bertemu tapi keberadaanmu di sini membuatku muak.” Diandra membalas dengan senyum tipis dengan mata yang menyipit. “Ibu ... Diandra juga ga berniat tinggal di sini lebih lama. Hanya sampai melahirkan. Aku tak mau menanggung cibiran tetangga seorang diri jadi bertahanlah. Aku sudah berjanji untuk tidak melewati batas yang sudah disepakati.” Indah mendelik saat amplop yang ia sediakan sama sekali tak disentuh. Nominalnya saja tak dicek. “Kamu!” “Jangan terlalu memikirkan keberadaanku. Aku sudah bersembunyi sebaik mungkin. Daripada itu, apa kalian memaksa Citra untuk punya anak? Dia mengikuti program hamil sementara pernikahannya dengan Mas Dio baru sebentar. Tidakkah kalian terlalu buru-buru untuk menimang cucu?” Diandra melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus. Agak kesal melihat wajah murung Citra yang terlihat iri padanya. “Program hamil? Kapan?” “Ah. Jadi bukan kalian. Apa Mas Dio yang memaksanya? Aku ga tega melihat Citra mengikuti program hamil. Usianya muda, karirnya baik, pernikahannya juga belum lama. Aku khawatir dia tertekan.” Indah dan Mahesa saling pandang tak tahu menahu. “Kalau gitu Diandra permisi dulu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD