Diandra menatap puas hidangan yang dibawakan oleh Diovano saat pulang. Tak peduli bagaimana pria itu bisa membelikannya satu loyang martabak manis dengan coklat dan keju sebagai isiannya.
Beberapa hari ini, ia mulai memiliki minat pada makanan. Biasanya ia akan menahan diri namun hari ini, ia memberanikan diri untuk meminta pada Diovano. Pasalnya sudah sejak kemarin ia mengidamkan makanan itu.
“Sayang, makasih ya. Padahal aku udah janji ga bakal ngerepotin tapi kali ini, aku benar-benar lagi pengen.” Diandra mencomot sepotong dan memakannya dengan lahap. Rasa puas membuat matanya berbinar cerah merasakan paduan coklat dan keju yang meleleh di mulutnya. “Enak banget,” ungkapnya dengan bibirnya yang merekah.
“Kamu suka? Lain kali kalau ada yang dipengen bilang aja, tapi sayang ... kamu harus tahu kalau ga ada yang gratis di dunia ini. kamu tahukan?” desis Diovano membisikan jawaban. Diandra tak goyah. Ia masih menikmati makanannya dengan tenang. “Tentu saja aku tahu dan aku juga ga keberatan. Bagaimanapun kamukan suamiku,” sahut Diandra sembari mengerlingkan matanya.
Diovano mengacungkan jempolnya karena kepekaan istri keduanya. “Kalau gitu aku pergi dulu. Citra bisa marah kalau tahu aku ada disini.”
“Iya. Hati-hati jangan sampai kena pukul lagi,” wanti Diandra. Diovano bergegas pergi setelah menutup pintu. Senyum miring terukir di wajah Diandra.
“Tidak ada yang gratis katanya?” decih Diandra kesal.
Keesokan harinya. Diandra seperti biasa berjemur untuk mendapatkan asupan sinar matahari. Bedanya, ia hanya duduk di pinggiran pintu. Ia tak ingin punya masalah dengan berkeliaran. Berbicara dengan keluarga Citra cukup menghabiskan banyak tenaga. Ia lebih memilih untuk menghindar daripada harus bertemu dengan mereka.
Terkejut Diandra kala ponselnya berdering dengan nyaring. Sebuah panggilan masuk dari ibunya. “Halo, Ibu ada apa?” sapa Diandra. Jarang sekali ibunya menelpon. Semenjak pernikahan berlangsung ini baru kedua kalinya ibunya menelpon.
“Ibu cuma mau ngabarin kalau anaknya Tante Rena, si Putri besok nikah. Kamu bisa dateng ga? kemarinkan dia dateng kenikahanmu, ibu khawatir aja kalau kamu ga datang nanti jadi bahan omongan.” Diandra mengerti kulture keluarganya. Satu sama lain begitu dekat hingga pergosipan tak terelakan.
Saat pernikahannya pun, banyak yang membicarakannya dari belakang karena ketidakpuasan pesta yang diselenggarakan. “Iya bu. Nanti Diandra coba bicarakan dengan Mas Dio. Kalaupun ada yang membicarakanku di belakang, abaikan saja. Kita tidak harus selalu mendengarkan ucapan orang lain,” jawab Diandra memberi nasihat pada ibunya.
“Sayang, kamu baik-baik sajakan disana? Ibu khawatir. Ayah juga sepertinya sama karena dia ga akhir-akhir ini ga selera makan mikirin kamu.”
“Aku senang dengerya. Aku disini baik-baik aja kok. Citra, istri pertama mas Dio aja mau anterin aku ke dokter buat cek kandungan. Mas Dio juga baik banget beliin aku martabak manis. Ayah dan ibu Citra juga baik kok meski butuh waktu buat Diandra luluhin hati mereka. Tapi yang jelas aku baik-baik aja disini.”
“Syukurlah, ibu jadi tenang mendengarnya. Kalau gitu coba pertimbangin buat datang yah. Kamu sama Putrikan tumbuh bareng.” Diandra menganggukan kepala meski tahu ibunya tak akan melihat gerak kepalanya. Pergi kondangan? Entah mengapa ia merasa ini hal mudah untuknya. ia sangat yakin bisa membujuk Diovano ataupun Citra untuk mengijinkannya.
“Oke siap bu. Kirimi saja undangan atas namaku dan mas Dio untuk bukti. Istri pertamanya cemburuan soalnya,” kekeh Diandra. Diana ikut tertawa dengan celotehan putrinya. “Oke ibu tunggu kabar kalian.”
Tak butuh waktu lama untuk ibunya mengirimkan foto undangan. Diandra tersenyum tipis. Ia meneruska pesan pada Citra dengan mengetikan pesan. ‘Maaf banget kalau ganggu, apa aku boleh keluar untuk kondangan ke rumah saudaraku? Aku juga harus ajak Mas Dio karena jika tidak akan muncul spekulasi macam-macam. Apa aku boleh datang dengan Mas Dio?’
Diandra mengirimkan pesan sekaligus. Walaupun belum lama kenal, namun satu hal yang Diandra tangkap. Citra tak suka basa-basi. Tak lama pesan yang dikirim berubah menjadi biru tanda Citra telah membacanya.
“Kenapa ga dibales-bales?” gumam Diandra menggoyangkan kakinya menunggu balasan.
“Kamu itu dibaikin dikit ngelunjak yah?!” suara wanita tiba-tiba menegurnya tanpa salam. Diandra langsung bangkit karena kedatangan istri pertama. Pantas saja pesanya tak dibalas. Rupanya wanita itu memilih langsung datang. Satu hal yang Diandra pahami lagi tentang Citra. Daripada komunikasi melalui chat atau telepon, Citra lebih suka berbicara secara langsung.
“Aku baru dikabarin ibuku. Kalau kamu keberatan aku juga ga akan datang. Tapi mungkin Mas Dio bakal jadi bahan perbincangan. Isu kamu jadi istri yang posesive juga mungkin akan jadi topik perbincangan keluargaku.”
Citra terperangah dengan ucapan Diandra yang begitu percaya diri dengan argumennya. Citra bahkan tak berdaya memikirkan hubungannya yang tak jelas. Ia ingin menuduh Diandra sebagai pelakor namun dari segi waktu, dirinya yang datang ditengah hubungan Diandra dan Diovano.
Belum lagi kondisi kehamilan Diandra yang membuatnya bimbang. Alasan itu juga yang membuat Citra bersikap lunak dengan Diandra. Rasa bersalah dan kesalnya campur aduk.
“Dimana, kapan, dan berapa lama?!”
“Pernikahannya ada di dekat rumahku karena emang kita hidupnya sampingan gitu. Acaranya besok dan untuk waktunya belum bisa mastiin berapa lama. Tapi niatku datang cuma untuk absen wajah dan langsung pulang. Akukan lagi hamil, kayanya gampang aja kalau ijin pulang lebih awal.” Citra melipat kedua tangannya mendengarkan penjelasan Diandra yang kelewat detail dan terencana.
“Aku benar-benar membencimu tapi karena kamu lebih muda. Aku juga kesulitan,” lirihnya dan akhirnya menganggukan kepala. “Aku ijinkan asal jangan bermalam. Pikiranku benar-benar kacau setiapkali ga tidur bareng Mas Dio.”
Diandra mengusap bibirnya menahan tawa mendengar ucapan dari istri pertama Diovano. Diovano memang memiliki bakat memikat yang bisa membuat wanita jatuh cinta. Diovano yang selalu memperlakukan wanita layaknya tuan putri menjadi nilai utama kenapa Diandra juga bisa jatuh cinta padanya.
“Aku juga ga ada niatan buat bermalam kok. Kalau kamu mau gantiin juga boleh. Jadi kita datang bareng kesana.”
“Aku? Ogah!” tolak Citra mentah-mentah. Ia bertemu dengan keluarga Diandra saja enggan. Apalagi jika harus bertemu keluarga besar. Ia akan merasa asing. Belum lagi pertanyaan yang dilontarkan mungkin akan membuatnya malu. Bayang cacian pelakor menghantuinya.
“Udah gila kamu ya. Aku beri ijin hanya sampai jam sembilan malam.”
“Jam sembilan malam? Aku ga butuh waktu selama itu. Aku hanya datang untuk setor muka dan kasih amplop habis itu pulang. Dua jam juga udah cukup kok termasuk waktu perjalanan.”
Citra menghela napas berat. Ia menawarkan waktu panjang namun Diandra dengan mudah menegonya. Rasanya ia bisa sedikit tenang karena tak melihat titik keserakahan Diandra untuk menguasai suaminya. “Kandunganmu baik-baik saja?” tanya Citra kali ini melunak. Ia menatap ke gudang yang disulap menjadi kamar. Lampu penerangan yang buruk. Tidak ada ranjang dan pakaian yang tertumpuk di atas koper. Mengingat usia Diandra dua tahun lebih muda darinya, ia merasa iba dan bersalah dengan kondisi kamarnya.
“Aku baik-baik saja. Tentu saja karena kamu orangnya. Terima kasih sudah menerima dan mempedulikanku.”