Puas mengurung diri di kamar, Diandra keluar dari kamarnya. Mata sembab dan bengak ia tutupi dengan riasan wajah dan kacamata lensa coklat. Perasaannya kikuk mendapati wanita paruh baya yang menatapnya penuh arti. Seulas senyum Diandra ukir dibibirnya memberi tanda jika saat ini ia baik-baik saja. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir.
“Sarapan dulu, ada yang mau ibu bicarakan,” ucap ibunya menunjuk ke arah dapur. “Ibu aku harus keluar dulu.” Diandra menolak dengan tegas. Matanya berkaca-kaca tak sanggup lama-lama berhadapan dengan ibunya.
“Ayahmu ga beri ijin dan ibu ga berani kecuali kamu bilang alasannya.”
“Aku ... aku akan temui mereka. Aku akan minta pertanggungjawaban mereka. Sebenarnya ... kemarin aku sudah menemui Dio tapi hasilnya nihil. Aku akan coba menemuinya lagi. Ibu tolong ... ijinkan aku,” lirih Diandra dengan suara bergetar. Ia mengusap ingus dihidungnya. Memaksakan senyum sekali lagi berharap ibunya mau memberi kelonggaran.
Jika harus menunda lebih lama, Diandra akan terus diselimuti kekhawatiran. “Kalau begitu pulang sebelum jam istirahat ayahmu.” Diandra mengangguk senang. Ia punya waktu tiga jam untuk menyelesaikannya. Ia menyalami ibunya.
Begitu melangkahkan kaki keluar, Diandra menjadi gugup. Keceriannya luntur, ketakutan mendera setiap kali berpas-pasan dengan tetangganya. Perasaan dijudge terus menyerangnya meski sejauh ini tak ada yang tahu kebenaran jika ia hamil.
Tangannya refleks memegangi tangan.
Nafasnya naik turun. Hingga ia tiba di cluster perumahan kediaman mantan kekasihnya, langkahnya ragu. Bibirnya terus berkomat-kamit mencoba untuk mengutarakan keinginannya secara rinci tanpa bertele-tele.
Beruntung jika mantan kekasihnya orang yang selalu mengupload segala kebahagiaan hingga ia bisa dengan mudah menemukan alamat. Security perumahan bahkan berbaik hati menjelaskan arah secara rinci hingga Diandra kini berdiri di depan rumah megah nan tinggi.
Manik matanya mengedar ke kanan kiri, sangat sepi. Diandra mendekat menuju bel. Menyunggingkan senyum pada intercom yang ada di depannya hingga suara wanita menyapanya. “Kediaman Maheswari, dengan siapa?” tanyanya dengan begitu ramah. Diandra meneguk ludah berat.
“Sa─saya Diandra, ingin bertemu dengan Citra. Istri mas Dio. Ada yang ingin saya bicarakan,” ucap Diandra mengumpulkan keberanian. Mengabaikan rasa sesak yang mendera dengan mata yang tak berhenti berkaca-kaca. Setelahnya hanya ada keheningan. Diandra bergerak gelisah khawatir jika Dio ada di dalam dan mencegah istrinya untuk menemuinya.
“Seharusnya aku bisa bertemu dengannya,” gumam Diandra mengingat sekarang jam kerja. Kedua tangannya bertaut melampiaskan gugup hingga suara dentingan terdengar, pintu gerbang terbuka lebar. “Silahkan masuk, temennya mas Dio ya?” sapa Citra dengan ramah. Diandra salah tingkah dibuatnya. “Saya Citra, istri Mas Dio,” ucapnya menjulurkan tangan.
“Diandra,” balasnya tanpa embel-embel di belakang. Mungkin ia tak akan diperkenankan masuk jika dengan lancang mengenalkan diri sebagai mantan pacar yang ditinggal menikah. Diandra tak mengharapkan keributan. “Jadi mau ketemu Mas Dio?” tanyanya to the point.
Diandra meggeleng cepat. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Citra mengedarkan pandangannya dan kembali menatap Diandra dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tak kenal dan tak berani membawa masuk orang tak dikenal ke rumahnya. “Kalau gitu kita bicara di depan,” putus Citra tak memberi ijin untuk masuk. Diandra tak keberatan.
Gazebo kecil yang begitu teduh menjadi tempat yang dituju Citra. Wanita itu terus menyunggingkan senyum. Ramah, itulah kesan pertama yang begitu kuat. “Aku minta maaf, tapi aku langsung ke inti pembicaraan.” Diandra menyodorkan ponsel. Menunjukan foto kemesraannya dengan Diovano.
Senyum ramah yang sedari awal tercetak di bibir Citra lenyap dengan keterkejutannya. “Jangan salah paham. Itu bukan perselingkuhan. Hubungan kami sudah berakhir sebulan yang lalu, tepat saat pernikahan kalian.”
“Bohong! Suamiku adalah jomblo seumur hidup dan aku cinta pertamanya,” suara Citra melirih melihat foto dua insan yang tidur dalam satu ranjang dan bersembunyi di dalam selimut. Diandra menunduk dalam.
“Aku datang untuk memberikan ini.” Diandra menyodorkan amplop putih. Citra begitu tergesa membukanya hingga tubuhnya terkulai dengan mata membelalak lebar. Alat test kehamilan. “A─apa ini maksudnya?!”
“Aku hamil anak mas Dio dan aku datang untuk meminta pertanggungjawaban.”
“Suamiku tak mungkin melakukan itu! Ini pasti editan.”
“Kalau tak percaya cek saja. Mungkin fotoku tak ada di galeri ponselnya tapi aku yakin masih ada di akun yang tertaut dengan email. Ini diambil dengan ponselnya.”
“Gak! Gak mungkin! Ga mung─”
“Ada apa ini, kenapa kamu teriak-teriak kaya gini?” suara wanita lain terdengar. Wanita paruh baya. Diandra menyunggingkan senyum canggung. Bodoh! Ia lupa jika saat ini Diovano tinggal dengan mertuanya. Gugup takut namun sisi hatinya yang lain mengatakan jika ini adalah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan.
“Selamat siang tante, saya Diandra. Mantan kekasih mas Dio. Saya ingin mengabari jika saya tengah mengandung anaknya dan saya datang kemari untuk meminta pertanggungjawaban.”
“Apa?! Kamu bilang mantan kekasih? Menantu saya itu anak yang polos dan ga mungkin bergaul seperti ini. Kamu mau memeras keluarga saya ya?!” suara wanita paruh baya itu meninggi tanpa aba. Siapapun yang mendengar pasti akan terkejut. Hati Diandra memang lemah saat di rumah, namun tidak saat ini. Entah mengapa ia senang melihat reaksi dua orang di depannya.
“Saya hanya minta pertanggungjawaban berupa pernikahan. Jika dalam sebulan saya tidak menikah dengan Mas Dio, saya akan membeberkan cerita ke internet beserta bukti foto. Apa jadinya jika dunia gempar seorang pegawai negeri sipil muda yang baru diangkat menjadi seorang pelakor. Apalagi perusahaan kalian cukup besar.”
“Kamu! Berani mengancam saya!”
Plak!
Tamparan keras mendarat Diandra, wanita itu sedikit terhuyung dan hampir terjatuh. Beruntung keseimbangan tubuhnya cukup baik.
“Ah! ini menyakitkan, tapi dengan ini aku bisa membuat cerita semakin menarik. Saat aku mengutarakan pendapatku, wanita paruh baya yang tidak lain ibu dari wanita yang dinikahi kekasihku, menamparku. Mereka tidak menerima dengan baik. Bukankah itu sangat menarik? Aku bahkan masih menyimpan pesan dari mas Dio yang memutuskan hubungan denganku tepat di hari pernikahan kalian. Orang-orang pasti akan berpihak kepadaku.”
Diandra semakin berani. Abaikan kakinya yang gemetar tak karuan. Raut kekecewaan tercetak jelas di wajah Citra, tapi sayang sekali Diandra harus melakukan ini untuk kebaikan hidupnya. Ia tak ingin di cerca seorang diri. Ia tak ingin jatuh sendiri. “Tolong sampaikan pada Mas Dio.” Diandra menyunggingkan senyum tipisnya.
“Dio itu melajang seumur hidup. Orang tuanya mengatakan begitu. Bagaimana mungkin dia berpacaran dengan jalang sepertimu.”
“Jalang? Hah! Pria itu yang merayuku. Orang tuaku pasti akan sakit hati jika mendengar itu,” kekeh Diandra mengambil ponselnya. Ia mundur selangkah dan membuka galeri ponsel. Ia berjaga menjaga jarak. Khawatir ponselnya direbut tiba-tiba dan menghilangkan barang bukti.
“Jika masih tak percaya, hubungi saja teman-temannya. Kami sering bepergian bareng.” Diandra merapikan tasnya. “Kalau begitu saya pamit pulang. Saya harap, akhir bulan ini saya bisa menikah dengan Dio agar tangan gatal ini tak membuat postingan yang membuat keluarga kalian hancur lebur. Terima kasih.”