2 :: Introgasi

1065 Words
Atmosfer rumah terasa begitu dingin saat Diandra menjejakan kaki ke rumah, padahal ia baru keluar selama satu jam. Hujan memang turun begitu deras namun bukan itu yang menjadi penyebab utamanya saat ini. Diandra tahu itu. Sesampai di ruang tengah, Diandra mendapati orang tuanya memberi tatapan tajam mengintimidasi seakan sudah menunggunya sejak lama. Diandra menyunggingkan senyum tipis sebelum pergi ke kamarnya namun langkahnya tertahan. “Duduk dulu. Ada yang mau ibu bicarakan,” ucap sang ayah membuat Diandra meneguk ludah. Ayahnya tak pernah mengajak bicara seperti ini. Biasanya ia akan langsung pada inti pembicaraan. Tangannya juga menunjuk pada jendela dan pintu. Diana, ibu Diandra dengan sigap menutup jendela dan menguncinya rapat. Tak lupa tirai ia tutup dan menyalakan lampu sebagai penerangan. Seakan tak cukup, wanita itu juga bergegas ke pintu utama dan menguncinya. ‘Ini bukan hal bagus,’ batin Diandra merasa sangat asing dengan keluarganya. Dalam hatinya ia sudah ketar-ketir membayangkan apa yang terjadi. Pembicaraan serius apa sampai semua akses terkunci. Sejauh ini, pembicaraan serius yang pernah dilakukan hanya mengenai pekerjaan yang tak kunjung ia dapatkan. “Ibumu menemukan ini,” ucap Candra tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas yang ada di atas meja. Diandra memicingkan matanya. Hanya kertas kosong, itulah yang ia lihat sampai kertas itu diangkat. Mata Diandra membelalak lebar. Kertas yang berada ditangannya jatuh tiba-tiba. “Ayah, ibu, ini ... ini tidak seperti yang kalian kira.” Sebuah alat tes kehamilan berada di atas meja begitu kertas disibak. Diandra menyadari kebodohannya karena membeli banyak alat tes kehamilan untuk memastikan. Ia ceroboh karena hanya meletakan di dalam laci. “Siapa laki-laki itu?” suara Candra meninggi tiba-tiba. Diandra yang duduk di kursi tersungkur, mendekati ayahnya sambil berlutut. Amarah sudah terlihat jelas di raut wajahnya. Bukti terpampang nyata. Diandra tak memiliki daya untuk mengelak. Belum lagi ikatan batin yang terikat kuat. Kebohongan pasti akan mudah diterka. “Ampun yah! Maaf. Aku salah. Maafkan aku.” Diandra berlutut di hadapan ayahnya. Mendekap kaki ibunya meminta perlindungan. Diana tak berkutik saat air mata Diandra keluar. Hatinya sudah terluka oleh fakta. “Sayang duduk dulu bi─” “Siapa laki-laki itu!” suara Candra kian meninggi dengan deru nafas yang tak beraturan. Amarahnya kian tinggi. Diana kelimpungan, ingin menenangkan putrinya yang menangis terisak atau meredakan amarah suaminya. Dirinya juga sakit, kekecewaan menggerogoti mengetahui putrinya telah berbadan dua. “Sayang, tenang dulu. Biarkan Diandra menjawab,” ucap Diana berusaha menenangkan suaminya. Ia mencengkram kuat tangannya khawatir pukulannya akan melayang. Diandra mengatur nafasnya yang tercekat. Pikirannya penuh ingin mencoba beralasan namun sudah terlanjur mengakui kesalahan. “Baru kemarin ayah mengusir dua orang m***m di kontrakan Pak Bagyo dan sekarang! Putri ayah sendiri melakukan hingga hamil? Apa kata orang-orang nantinya! Siapa laki-lakinya! Jangan pernah kamu lindungi dia!” Suara Candra menggelegar membuat suasana mencekam. Diandra menggelengkan kepalanya kuat. Air matanya merembes deras. Apa yang harus ia katakan jika sang penabur benih justru meminta untuk menggugurkan kandungan, enggan bertanggung jawab. Diandra tak sanggup untuk melihat reaksi orang tuanya. Saat ini saja tubuhnya sudah begitu lemah. “Sudah berapa kali ayah bilang! Jangan pacaran dulu. Ayah tahu dia bukan laki-laki yang baik buat kamu. Diovanokan orangnya?!” Deg! Diandra mendongak. Bibirnya terkunci tak berkutik saat ayahnya menemukan jawaban dengan tepat. Hubungan kencan Diandra dan Diovano memang sangat terbuka. Diovano sering menjemputnya di depan rumah, sering menyapa kedua orang tua Diandra. Diandra tercekat. “Tebakan ayah benar. Cepat hubungi pria itu.” “Ka─kami sudah putus.” “Bahkan jika sudah putus, pria itu harus bertanggungjawab! Kamu pikir mudah menjadi orang tua? Ayah sudah kerja keras banting tulang buat masukin kamu ke sekolah favorit, sudah ayah banggakan kemana-mana tapi ini balasanmu! Dalam keadaan seperti ini pun kamu masih melindungi pria b******k itu!?!” Amarah Candra tak terkendali. Jika bukan karena Diana yang dengan erat menggenggamnya, mungkin pria itu sudah lepas kendali. “Ayah ... Dio sudah menikah.” “Apa?!” Tubuh ibunya limbung. Deru nafasnya tak beraturan. Perasaan marah, sedih dan kecewa bercampur padu menyisakan sesak yang tak bisa diutarakan. Air matanya bahkan mengalir begitu saja. Diandra terisak perih. Padahal ia sudah berusaha untuk menyembunyikan dan ingin menuntaskan diam-diam. Usahanya gagal. “Dimana rumahnya?! Akan ayah datangi laki-laki itu! Janji apa yang dia berikan sampai kamu berikan kehormatanmu secara cuma-cuma padanya! Pengangguran banyak gaya.” Diandra menggeleng kuat. “Ayah. Aku mohon biar Diandra yang menyelesaikan masalah ini sendiri. Beri Diandra waktu. Aku ... aku juga takut.” Tangis Diandra pecah, tubuhnya terkulai menutup wajahnya di atas meja. Isaknya kuat dengan derai air mata yang terus mengalir. Baru tadi pagi ketiganya bercengkrama hangat mengomentari sinetron yang mereka tonton bersama. Saling terbahak dengan cerita yang dilontarkan ayah dan ibunya. Penyesalan yang tak bisa diubah. “Cukup! Cukup jangan dilanjutkan lagi. Kumohon cukup!” Diandra menengahi. Tubuhnya tak lagi kuat duduk tegap karena keterkejutannya yang bertubi-tubi. Kepalanya menyandar pada bantalan sofa dengan deru nafas yang memburu. Teriakan Diana membuat siapapun tak berkutik. Isak tangis Diandra redam dengan lengannya. “Ibu ... Diandra minta maaf.” “Pergi ke kamarmu! Ibu tak mau dengar apapun!” Diandra berlari menuju kamarnya, pintu ditutup menimbulkan bunyi debuman yang kencang. Tangis Diandra pecah di dalam kamar, begitupula Diana ... meraung-raung ia dipelukan suaminya. Malam hari, suasana rumah begitu hening. Diandra yang mengunci diri di kamar. Amarah Candra yang tak kunjung reda dan Diana menjadi banyak melamun. Malam itu terlewat begitu saja. Tanpa makan malam, tanpa sinetron kesayangan dan tanpa canda tawa bersama. Tak ada yang berubah di pagi hari. Candra dan Diana yang saling pandangan menatapi kamar putrinya. Diandra melewatkan sarapan bersama, saat pintu di ketuk pun Diandra tak menyahut. Raut kekhawatiran begitu jelas. “Kamu bujuk dia keluar, bagaimanapun juga dia harus makan. Jangan beri ijin jika dia ingin keluar rumah.” Diandra mengangguk mengikuti titah suaminya. Sementara di dalam kamar, Diandra sudah bangun sejak subuh tadi. Semalam ia bahkan tak bisa tidur, menghabiskan malamnya dengan tangis yang tak kunjung reda mengingat raut kecewa kedua orangtuanya. Ia tak punya muka untuk bertemu kedua orang tuanya. Terbesit ingin kabur namun ia sadar tak memiliki siapapun yang sudi menampung. Tangannya mengelus perutnya yang masih rata. “Apa yang harus aku lakukan?” lirihnya menunduk dalam. Menjadi orang tua, ia tak siap jika harus berjuang seorang diri. Ia tak sanggup menerima makian, ia ingat bagaimana ayahnya menceritakan pengusiran sepasang kekasih yang kumpul kebo di kostan pak Bagyo. “Citra ... dimana aku bisa menemui wanita itu, aku bahkan tak tahu alamat rumahnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD