Aku telah mendapatkan informasi banyak tentang Pak Lukman, lelaki tua buta itu merawat masjid dan masyarakat bergiliran memberikan dia makanan. Lelaki buta itu, tak tahu asalnya dari mana, tahu-tahu sudah ada di masjid desa Cahaya, sejak dia ada, masjid itu selalu digunakan shalat berjamaah, walau hanya segelintir orang, enam hingga tujuh orang. Aku tepat duduk bersila di depannya, sebentar-sebentar kepalanya meliuk, seperti memerhatikanku. Ada keheranan di wajahnya, seperti orang normal bisa melihat saja. ”Kau sudah paham sekarang?” ”Maksud Pak Lukman?” ”Seperti langit yang bertugas memayungi kehidupan, seperti bumi yang dihamparkan sebagai tempat berpijak, seperti pula angin yang berhembus untuk mengisi kosong, seperti pula dermaga tempat berlabuhnya kapal-kapal.” ”Saya tidak menger

