Udara pagi masih lembab ketika mobil hitam itu berhenti perlahan di depan gerbang kampus. Cindra menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan mahasiswa yang lalu-lalang dengan wajah yang setengah ngantuk, setengah bersemangat. Ia menarik napas panjang—membuka pintu mobil hati-hati, takut membangunkan Leo yang bersandar di kursi dengan mata terpejam. "Ingat, jangan telat pulangnya." Suara Leo membuat Cindra spontan menoleh. Leo sudah menatapnya. Wajahnya serius. "Kita harus ngejar latihan nyanyi. Tinggal dua hari lagi," tambahnya mewanti-wanti. "Iyaaa, Pangeran Leo!" Cindra menyahut dengan nada kesal, lalu melompat turun dan menutup pintu mobil dengan sedikit keras. Sejak berangkat dari rumah, Leo tak henti-hentinya mengomel gara-gara ia tidak ikut latihan karena cuti kemarin. Dasar

