bc

Cinderella Tanpa Pangeran

book_age16+
50
FOLLOW
1K
READ
HE
heir/heiress
drama
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Bagi Cindra, menjadi asisten pribadi Leo Atmaja itu bukan soal karier, tapi soal uji nyali. Leo bukan pangeran berkuda putih, melainkan Pangeran Kodok super manja yang punya hobi aneh: merusak kehidupan asmara Cindra!

Sudah tiga kali Cindra mencoba menjalin hubungan dengan cowok lain, hanya agar hidupnya bisa sedikit berwarna di luar tembok Istana Atmaja. Namun, tiga kali berpacaran, tiga kali pula ia diputuskan tanpa alasan yang jelas. Ternyata, dalangnya cuma satu: Leo.

.

Dengan 1001 cara ajaib dan akal bulus, Leo sukses "membeli" para mantan Cindra supaya menghilang dari hidupnya. Bagi Leo, bersaing secara sehat itu membosankan. Kalau bisa disabotase dengan uang dan kekuasaan, kenapa tidak?

.

Namun, permainan Leo kali ini kebablasan. Saat dia mencoba menggunakan cara yang sama untuk menyingkirkan Chef Pram—Chef pribadi keluarga Atmaja yang justru mendapat restu penuh dari Mama Cindra—segalanya meledak.

.

Sepatu kaca itu akhirnya pecah karena ego dan obsesi. Cindra memilih melangkah pergi dengan luka yang teramat dalam, meninggalkan Leo yang tertinggal dalam kehancuran dan penyesalan. Sang Pangeran Kodok kini benar-benar sendirian, dipaksa belajar mandiri dan melangkah di atas kakinya sendiri tanpa harus menyabotase hidup orang lain. Dan yang paling menyakitkan: ia harus melangkah tanpa Cindra.

.

Dua tahun berlalu. Di sebuah pesta yang tak terduga, sebuah sepatu terjatuh di tengah kesunyian malam. Leo berdiri di sana, memungut sepatu yang di dalamnya terukir namanya: Leo.

.

Tapi kali ini, ia bukan lagi Leo yang dulu.

chap-preview
Free preview
Leo Si Pangeran Usil
Suara gedoran di pintu yang berulang-ulang terdengar seperti buldozer yang siap merobohkan kamar jika tak segera dibuka. Cindra mengernyit, membenamkan wajahnya lebih dalam ke bantal. Ia melirik jam. Masih pukul tujuh pagi. Seharusnya ia bisa menikmati satu hari penuh tanpa gangguan, membenamkan diri dalam selimut tebal dan melanjutkan mimpi indahnya. Namun, ia sudah hafal siapa pelakunya. Satu-satunya orang di dunia ini yang tak rela jika ia bisa menikmati hari liburnya sebentar saja tanpa dirinya. Dialah Leonardo Marlon Atmaja, si pangeran manja dari Istana Atmaja. Cindra mencoba mengabaikan suara itu, membiarkannya terus bergema semakin kencang hingga dinding kamarnya terasa ikut bergetar. Ia tak peduli. Hatinya sudah kembali ke alam mimpi, di mana pangeran tampan berkuda putih sedang menunggunya. Ia tersenyum, memejamkan mata erat-erat. "Woi, Cinderella! Banguuun!" Tiba-tiba saja teriakan melengking menusuk telinga, jauh lebih dekat dari yang ia duga. Cindra terlonjak, membuka mata. Dan terbelalak mendapati wajah menyeringai sang pengganggu sudah berada di jendela kamarnya yang terbuka. Entah bagaimana, Leo berhasil membukanya tanpa suara. "Astaga! Leo?!" Cindra menjerit. Buru-buru ia merapatkan selimut ke tubuh, lalu melemparkannya kembali saat menyadari ia masih memakai pakaian yang sama seperti tadi malam. Pakaian yang ia kenakan saat membantu Mama menyiapkan pesta keluarga Atmaja "Makanya bangun, pemalas! Udah siang!" Leo membuka daun jendela lebar-lebar, membiarkan udara dingin menyergap masuk ke dalam kamar, membuat bulu kuduk Cindra merinding. "Mau apa sih, Leo? Masih pagi!" Cindra menatap wajah Leo dengan kesal, kembali menarik selimut untuk membungkus seluruh tubuhnya yang kedinginan. Udara pagi itu benar-benar menusuk tulang setelah semalaman diguyur hujan lebat. "Berenang, yuk?" Leo membuka sedikit selimut yang menutupi wajah Cindra, mengedipkan mata usilnya. "Enggak! Aku baru tidur jam tiga, Leo! Dan hari ini aku kan libur!" sergah Cindra, menarik kedua kakinya hingga meringkuk. "Ya, aku tahu! Makanya aku mau ajak berenang, habis itu sarapan bareng. Kita akan bersenang-senang hari ini." "Aku enggak mau berenang. Dan hari ini aku mau 'me time' seharian. Jangan ganggu!" "Ya, udah kalau gitu kamu enggak usah ikut berenang. Temenin aku aja!" paksa Leo lagi. "Ya Tuhan, Leo! Kamu kan bisa berenang di dalam rumah? Mami Papi kamu kan ada?" "Tapi aku mau berenang di kolam outdoor. Biar seger! Ayo cepetan!" "Dingin begini kamu mau berenang di luar?" Akhirnya Cindra benar-benar melempar selimutnya. Rasa kantuknya tiba-tiba menguap. Ia tahu, cowok manja ini tidak akan berhenti mengganggunya hingga ia menuruti keinginannya. Dipaksanya tubuhnya bergerak, bersandar di tempat tidurnya yang kecil. Dipandanginya Leo yang ikut duduk di ujung tempat tidur. "Tumben banget berenang di air dingin? Nanti hidung kamu mampet lagi!" tukasnya. "Ini tuh enggak dingin, pemalas. Makanya cepetan bangun!" Suara Leo kini terdengar kesal. Cindra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memang tidak pernah punya privasi di rumah ini. Meskipun ia paham paviliun yang ditempatinya selama sepuluh bersama Mama adalah bagian dari Istana Atmaja, tapi seharusnya Leo mengerti jika mereka berdua sudah bukan anak-anak lagi. Mereka sudah beranjak dewasa, dan orang dewasa butuh privasi. Tapi ia juga tahu, si usil ini selalu saja mencari-cari alasan untuk mengganggu hidupnya. Padahal biasanya dia selalu berenang di kolam air hangat di dalam istananya. Dan dia juga tahu Hari Minggu adalah liburnya— ia berhak menikmatinya sendiran tanpa diganggu. Tapi seperti yang sudah-sudah, Cindra akhirnya menyerah. Ia masuk ke kamar mandi—membasuh wajah dan berganti baju hangat. Tapi Leo malah bergulingan di atas kasurnya, seperti yang biasa dilakukannya sejak kecil. Leo memang menganggap kamarnya adalah kamar dia juga. Dia bahkan lebih betah berada di sini daripada di kamar mewahnya. "Kok malah tidur? Ayo cepetan aku udah siap!" teriak Cindra melihat Leo yang kini malah meringkuk memeluk guling dengan mata terpejam. "Mau enggak tukeran kamar?" tanya Leo dengan wajah serius. "Jangan aneh-aneh! Cepetan!" Cindra menarik paksa tangan Leo, menyeretnya keluar menuju sebuah kolam renang besar di belakang Istana Atmaja. Sambil menunggu "sang pangeran" berenang Cindra merebahkan tubuhnya di kursi malas, lalu memejamkan matanya kembali. "Loh, katanya mau tidur sampai siang?" Sebuah suara lembut memaksa Cindra kembali membuka mata. Mama sudah berada di sampingnya, memegang beberapa batang Bunga Tulip segar yang baru dipetik di taman. Cindra menjawab dengan lirikan mata ke arah Leo yang sudah bersiap-siap melompat ke dalam kolam. Mama tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Cindra, memintanya bersabar. Mama tahu Leo selalu mengganggu hidupnya. Itulah yang membuat Mama akhirnya menolak tawaran Mami Renata yang meminta ia kuliah di kampus yang sama dengan Leo. Mama juga menolak saat Mami ingin membiayai kuliahnya. Mama tidak mau berutang budi lebih banyak lagi. Sudah cukup keluarga Atmaja membiayai sekolahnya sejak ia masih kecil. Mama takut tidak bisa membalasnya. Lagipula Mama sudah menabung bertahun-tahun supaya ia bisa masuk ke kampus pilihannya sendiri. "Leo, apa sarapanmu mau dibawakan ke sini?" Mama menghampiri Leo yang sudah menceburkan dirinya ke dalam kolam. "Boleh, Tan. Leo mau sarapan di sini aja bareng Cinderella," sahut Leo dengan suara gemetar. Cindra menutup mulut melihat Leo yang gemetaran, menyembunyikan tawa. Dasar sok jagoan! Syukurin kedinginan, rutuknya senang dalam hati. "Oke, Tante akan minta pelayan bawakan ke sini." Mama berlalu pergi sambil menahan senyum. Mama memang selalu tersenyum saat Leo memanggil dirinya dengan sebutan Cinderella. Hanya Leo lah satu-satunya orang yang seenaknya menyingkat nama indah pemberian Mama 'Cindra Estella' yang artinya 'bintang yang bersinar' menjadi Cinderella. Untung dia tidak memanggilnya Upik Abu. Mama adalah kepala urusan rumah tangga di rumah besar ini. Mami Renata menyebutnya sebagai House Manager. Mama lah yang mengatur seluruh kegiatan dan aktivitas dua puluh satu pegawai yang bekerja di Istana Atmaja. Mulai dari pelayan, house keepers, laundry attendants, chef, tukang kebun, tulip gardener, satpam, supir, montir mobil sampai teknisi listrik. Mami Renata adalah seorang wanita cantik yang baik hati. Dialah yang telah membantu kehidupan mereka selama lebih sepuluh tahun ini. Wanita yang sudah menganggapnya sebagai anaknya juga. "Hei! Ngelamun aja!" Sebuah suara kencang bersamaan dengan cipratan air dingin di wajahnya menyadarkan Cindra dari lamunan. Dari tepian kolam, Leo memandanginya sambil cengengesan. Tangannya sibuk menyipratkan air ke arahnya. Menyebalkan sekali. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun, keusilannya masih saja selevel anak sekolah dasar. "Kalau kamu enggak berhenti, aku pergi!" teriak Cindra kesal. Tapi Leo tak peduli. Dia malah semakin menjadi, membuat kesabaran Cindra habis. Ia segera beranjak untuk meninggalkannya. Tapi, baru juga kaki Cindra melangkah tiba-tiba terdengar suara bersin-bersin— Leo mengusap-usap ujung hidungnya dengan kesal. Dengan sigap Cindra mengambil handuk kering lalu menyelimuti tubuh Leo yang menggigil. Dikeluarkan juga sebuah inhaler dari saku celana yang selalu dibawanya ke mana-mana. "Aku kan udah bilang airnya terlalu dingin untuk berenang. Hidungmu bisa mampet!" omelnya seraya menempelkan pelega pernapasan itu ke hidung Leo. Leo mendengus. "Bilang aja kamu enggak mau diganggu. Enak-enakan tidur. Aku sendirian," gerutunya sambil merebut inhaler itu dari tangan Cindra dan memasukannya ke dalam lubang hidungnya. Sesaat kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi— berbaring malas sambil memainkan inhaler-nya. Memasukannya bergantian ke hidung dan telinganya. Cindra kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi, menghembuskan nafas dengan kesal. Ia tahu, Leo sebenarnya memang tidak berniat untuk berenang. Dia hanya ingin menganggunya saja. Tapi ia enggan berdebat. Percuma, hanya buang-buang waktu. Padahal ia sudah menyusun rencana untuk melakukan kegiatan seharian tanpa Leo. Termasuk berkencan dengan Andra siang nanti. Ia akan menyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan Leo. Lagipula sekarang status Leo adalah bosnya juga. Lebih tepatnya Asisten Pribadi pangeran menyebalkan bernama Leonardo Marlon Atmaja. Putra tunggal Marlon dan Renata Atmaja. Sebenarnya ia terpaksa menerima tawaran Mami Renata untuk menjadi asisten Leo karena kasihan padanya. Saat itu Mami benar-benar sudah hilang kesabaran menghadapi Leo yang kembali membuat ulah dengan memecat asisten pribadinya yang kesebelas, tanpa alasan yang jelas. Sejak kecil, Leo memang sudah mempunyai asisten pribadi yang mengatur seluruh jadwal dan rutinitas hariannya. Tapi sejak beranjak remaja ia mulai tidak suka hidupnya diatur. Dan memecat asistennya adalah salah satu bentuk pemberontakan terhadap aturan yang dibuat kedua orang tuanya itu. Tapi sejak ia menjadi asistennya, sifat pemberontak Leo mulai berkurang. Karena ia sudah mengancam akan meninggalkannya kalau dia tidak mau berubah. Tapi akhirnya ia malah kerepotan sendiri, karena Leo selalu saja mencari-cari alasan agar ia selalu menemaninya. Makanya ia selalu merasa bahagia berada di kampus. Apalagi sejak ia mulai berpacaran dengan Andra. Teman sekelasnya yang manis.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook