Tambang Berlian bagian 1

1177 Words
Ketiganya menyusup masuk ke gubuk itu dan menemukan bahwa yang ada di sama hanyalah sebuah ranjang kayu kecil dan meja. Tidak ada pintu maupun dinding batu yang mereka harapkan sebagai jalan rahasia. "Apakah bukan di sini?" Azure telah berputar di setiap sudut rumah dan tidak menemukan apa-apa. Ruby hanya diam dan masih menyusuri ruangan itu dengan hati-hati, menyentuh setiap celah dengan teliti. "Aku mencium bau darah segar, tapi tidak menemukan apa pun di rumah ini yang berdarah." Ruby bergumam. "Kepala suku itu jelas tidak menempati gubuk ini." Azure mencolek debu tebal di atas meja. "Lalu di mana dia tinggal?" "Dia suatu tempat, pasti ada ruangan lain di sini." Demien membantu Azure menjawab pertanyaan dari Boo. "Geser ranjangnya." Ruby tiba-tiba berkata. Demien dan Azure dengan cepat menghampiri. "Kau menemukan sesuatu?" "Aku mendengar suara tangisan bayi di bawah." Ruby mengarahkan telunjuknya ke bawah ranjang yang sangat rapat di lantai. Azure dan Demien mencoba menggeser ranjang namun seberapa keras pun mereka mengerahkan kekuatan, mereka tidak bisa menggerakkannya. Boo yang masih melihat-lihat berlari untuk membantu. Namun, tanpa sengaja tersandung kaki meja dan kehilangan keseimbangannya. Dia menggapai-gapai di udara dan menangkap obor kayu yang tergantung di dinding namun sebelum dia bisa menghela nafas lega, obor itu tiba-tiba tertarik turun. Boo tidak berhasil menahan tubuhnya dan jatuh berdebam ke lantai. Azure dan Demien menoleh dan melotot marah. Beruntunglah lokasi api unggun cukup jauh sehingga sehingga mereka tidak ketahuan. "Dia jenius." Ruby adalah satu-satunya yang tersenyum dan memandang ranjang yang mulai bergeser dan tenggelam ke lantai, menampakkan lubang gelap yang dalam.. Boo langsung berdiri menghampiri mereka dan berdiri takjub melihat lubang besar di lantai. Ketika dia merasakan tepukan pelan di kepalanya, dia mendongak dan menemukan pangeran Azure tersenyum lebar padanya "Kerja Bagus." "Ehehe... Hanya kebetulan." Remaja itu menggaruk tengkuknya malu. "Sebuah kebetulan yang berhasil menyelesaikan masalah ada keberuntungan." Ruby meraih pelita kecil yang tersedia di dinding dan menyalakannya "Keberuntungan adalah kekuatan." Lubang persegi itu akhirnya diterangi cahaya, menampakkan tangga batu panjang yang entah di mana ujungnya. "Persembunyian mereka sangat detail dan rapi. Berapa lama mereka tinggal di sini?" Demien bergumam. "Mereka jelas bukan suku pedalaman yang asli." Azure menyipitkan mata "Apa yang mereka sembunyikan akan segera kita ketahui." Ketiganya kemudian turun hanya dengan satu pencahayaan. Begitu mereka menginjak anak tangga ke sepuluh. Ranjang di atas mereka secara otomatis bergerak dan tertutup. Tangga itu begitu dalam dan sempit, berliku-liku dan licin. Semakin jauh mereka turun, hawa yang terpancar semakin dingin dan bau busuk dari darah, kotoran dan bangkai mulai menguar. Ketika mereka mencapai sebuah pintu di dasar tangga, ketiga pria yang ada di sana langsung menegang dan secara perlahan kemarahan memenuhi mata mereka. "Apa yang terjadi?" Ruby yang menyadari emosi mereka yang tidak stabil langsung maju melintasi pundak Azure dan Demien untuk meraba daun pintu kayu itu. "Sayap, paruh dan ekor. Seekor burung." Ruby bergumam namun masih tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa ketiga pria itu marah karena gambar ini?. "Itu burung Vermilion." Azure menghembuskan nafas berat "Lambang Kerajaan Selatan." Deg. Ruby merasakan jantungnya berdetak kencang. Samar-samar di dalam ingatannya seekor burung merah yang terbang di lingkaran api terlintas. Hanya sekilas, namun berhasil membuat Ruby bergetar. "Para bandit Vermilion itu, apa yang mereka gali di tanah Kerajaan Timur?" Demien maju, menggeser Ruby ke samping dan langsung membuka pintu. Di balik pintu, mereka di sambut oleh bau yang luar biasa busuk. Menggulung di udara dan membuat Azure biasanya tidak mencium bau seperti di istana, mundur dan hampir mengeluarkan semua makanan yang dia santap sebelum datang ke tempat ini. Demien dan Boo bereaksi sama, sedangkan Ruby yang penciumannya lebih tajam dari mereka telah mundur beberapa meter tepat sebelum pintu terbuka namun masih merasa pusing karena bau yang menguar ke mana-mana. "Tutup pintunya!" Ruby berteriak. Demien dan Boo menutup pintu dengan cepat dan langsung mencari tempat untuk bernafas. "Astaga, aku pikir aku akan menjadi orang yang mati karena keracunan bau." Boo menumpukkan kepala di dinding dan terus meludah. Ruby jangan tanya, ketika pintu tertutup dia langsung terduduk di tangga dan memegangi kepalanya yang masih pening. "Kau baik-baik saja?" Azure yang berwajah pucat datang dan menghampirinya. Mengeluarkan sebotol minyak wangi dari tasnya dan menyerahkannya ke arah Ruby "Semoga ini bisa membantu." Ruby menerimanya tanpa ragu di bawah tatapan melotot Demien dan memercikkan parfum itu ke udara, sehingga dia bisa sedikit lebih lega "Bagaimana kita akan masuk?" Boo yang akhirnya mendapatkan sedikit kekuatannya bertanya dengan lemah. "Kita hanya punya satu cara, terbiasa dengan baunya." Azure mengemukakan pendapat. Demian dan Boo saling memandang enggan sedangkan Ruby hanya menggelengkan kepala namun tidak mengeluarkan suara untuk menyela Azure. "Anggap ini sebagai medan perang, kita tidak bisa pilih-pilih di mana kita akan bertarung. Para suku bergigi runcing itu pasti merasa bau ini biasa saja makanya mereka bisa keluar masuk sesukanya." "Karena mereka tidak waras." Ruby berkata. "Tidak waras tapi mereka bisa mengalahkanmu dalam hal mencium bau busuk. Ruby, kau kuat tapi sekarang kau memiliki kelemahan." Azure menoleh pada gadis yang kini mendongak kepadanya "Jika aku mau mengalahkanmu, maka aku hanya perlu mencari sesuatu yang paling busuk dan menjebakmu dalam ruangan dan kau akan kalah." Ruby berdecak dan memijat kepalanya. Perkataan Azure memang ada benarnya. Menjadi seorang petarung seharusnya tidak memiliki kelemahan seperti ini. "Baiklah, buka pintunya setiap lima menit." Ruby berkompromi. Dan selanjutnya, mereka benar-benar membuka pintu lima menit sekali. Terlihat seperti empat orang bodoh yang membuka dan menutup pintu hanya untuk menghirup bau tidak sedap yang membuat mereka pusing. Namun seperti kata Azure, metode itu sedikit berhasil. Setidaknya pada percobaan yang ke sepuluh, mereka tidak lagi pusing dan mual. Lalu pada akhirnya mereka berhasil melangkah masuk melewati pintu. Di balik pintu jauh lebih lembap dari yang mereka pikirkan. Beberapa binatang pengerat berlarian di lantai dan bercicit tanpa takut pada mereka. Di kanan kiri mereka menumpuk mayat manusia yang membusuk, sedangkan cairan kekuningan mengalir di selokan kecil. Semakin jauh mereka berjalan, mayat yang menumpuk semakin sedikit dan kemudian mereka akhirnya menemukan manusia yang sekarat. Ruby menghampiri mereka dan memeriksa tubuhnya lalu kembali dengan tenang "Para suku bergigi runcing itu tidak bisa memakan mereka karena terjangkit penyakit, tapi tenang saja, bukan penyakit menular." Dia secepatnya menjelaskan begitu Demien berdiri di hadapan Azure untuk menjauhkan pangerannya dari Ruby. "Lalu dari mana kau mendengar tangisan bayi?" "Di depan." Ruby berjalan lebih dulu. "terdengar semakin jelas serta suara bebatuan yang di gali." Tak lama kemudian, Azure juga mulai bisa mendengar suara-suara yang Ruby katakan dan mereka juga telah melihat manusia lemah yang tergeletak begitu saja di tanah. Menatap ke depan dengan tatapan kosong tanpa emosi. Kemudian begitu mereka menemukan bayi yang menangis, Di kanan kiri mereka adalah jeruji besi yang menahan hingga ratusan orang dengan usia yang berbeda. Bayi yang menangis itu sedang berbaring di pelukan ibunya. Namun, wanita itu sama sekali tidak mencoba untuk membuat anaknya diam, hanya menatapnya datar tanpa emosi. Bahkan ketika melihat mereka berjalan, tidak seorang pun dari tahanan itu bergerak ataupun melirik. "Seperti boneka." Boo berbisik. "Penderitaan membuat mereka lupa bagaimana emosi manusia." Ruby mencapai pintu lain, dengan lambang yang sama namun berukuran jauh lebih besar. Tang Tang Tang Suara batu yang bertabrakan dengan besi terdengar dari dalam. Ketika Ruby membuka pintu, keempatnya di hadapkan dengan cahaya paling berkilau yang terpancar dari dalam. Mereka menemukan tambang batu berlian.    Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD