“Eng-enggak, Kak. Nadine cuma—” Haha, Rendy tertawa. Berkata, “Nggak apa, Nad. Lagi pula, aku senang saat mendengarmu memberiku pujian seperti itu.” APA? Issh! Dia cukup percaya diri juga rupanya. Pada saat bersamaan, Rendy justru melempar senyum sembari melayangkan telapak tangan untuk mengusap puncak kepalaku. Berkata, “Terima kasih ya, Nad. Berkat ucapanmu baru saja, Kak Rendy menjadi kembali percaya diri. Kau benar-benar pandai dalam membantu orang lain untuk memudarkan rasa pesimis, Nad.” Hh! Aku berdecak melalui hembusan kasar. Kemudian, kuarahkan dia untuk menyudahi obrolan dengan dalih jika aku harus kembali ke dalam kelas. Saat itu, Rendy memutuskan untuk menyampingiku berjalan. Dia berkata, jika hendak menuju ruang kelas juga. Beberapa langkah kemudian, Seseorang terdeng

