Ep.4 - Kenapa harus tahan napas?

1579 Words
“Bukan kelewat cantik atau tampan. Tapi, pesona Lo. Pesona Lo yang kuat buat gue gak tahan untuk sekedar gak jatuh cinta.” *** Bara memarkirkan motornya di tempat biasa. Helm full face yang terpasang di kepalanya dia buka, tangannya kini sibuk mengatur rambutnya, menyisirnya dengan acak menggunakan jemari tangannya. Dia bisa melihat banyak pasang mata yang menatapnya, menjerit histeris hanya karena melihat ketampanannya. Dan, itu adalah hal biasa. Tak perlu dipertanyakan. “Bara,” Bara menoleh, menemukan Irene yang menghampirinya. Irene itu salah satu anak hits di sekolah, dia juga cantik dan banyak digilai semua siswa. Dan, Irene juga masuk dalam list kategori mantan Bara, lebih tepatnya perempuan yang ternyata takluk dengan pesona Bara. “Kenapa?” tanya Bara, dia turun dari motornya. Sekarang mereka berhadapan dengan dia yang menatap Irene biasa, sedangkan Irene menatapnya memuja. Lagipula, memangnya Bara harus bersikap bagaimana jika bertemu mantan? Malu-malu karena bertemu? Deg-degan karena masih punya perasaan? Atau, sok jual mahal karena udah jadi mantan? Oh... Ayolah, untuk apa dia bersikap demikian? Lagipula, dia bahkan tak peduli kalau harus bertemu mantan berkali-kali karena itu tak akan memberikan efek apapun. Padanya ataupun hatinya. “Jadi, ada apa sih Rene?” tanya Bara lagi, dia jengah menatap Irene yang masih diam malu-malu itu. Irene meremas roknya sendiri, dia tengah grogi kini karena berhadapan dengan Bara. Apalagi ada niatan dalam dirinya menemui lelaki itu. Dan, tentu saja itu akan merendahkan harga dirinya. Karena dalam sejarah cintanya, ini kali pertama dia melakukan hal gila. “Gue mau balikan sama lo, Bar.” Bara ternganga, dia menarik sudut bibir kanannya, sudut bibirnya bergetar. Dia sudah bisa menebak sebenarnya, tak aneh juga rasanya. Tapi, apa Irene tak punya malu? Apa makeup yang dikenakan perempuan itu terlalu tebal sehingga rasa malu itu tertutup? Entah lah. “Lo kayak baru kenal gue aja. Apa ada dalam sejarah gue bakal balikan sama mantan? Enggak.” ucap Bara, dia menggeleng kemudian berniat pergi hendak meninggalkan Irene. Namun, perempuan itu menahannya. “Tapi, Bar. Gue masih cinta sama Lo, gue mau balikan sama Lo.” Bara melepaskan tangan Irene dari lengannya, menggeleng. “Gue gak peduli.” jawab Bara cepat. “Lagipula, gue gak pernah serius pacaran sama Lo ataupun yang lain. Gue cuma mau pertahanan gelar playboy gue aja. Udah, itu doang.” sambung Bara sambil mengendikan bahunya. Irene ternganga, tak percaya mendengar jawaban itu dari Bara. “Bar, kok lo tega sih bilang gitu sama gue?” lirih Irene yang tak berpengaruh apapun pada Bara. “Kenyatannya begitu. Lagipula, Lo gak usah pura-pura gak tahu.” “Maksud kamu?” Bara memutar bola matanya jengah, dia berdecak. “Berlagak gak tahu lagi,” dengus Bara. “Gimana rasanya cuma jadi mainan?" tanya Bara, dia menatap jengah Irene yang masih juga diam dalam kebingungan. “Cowok-cowok yang udah Lo PHP in, begitu rasanya. Ingat Bryan? Dia juga salah satu korban Lo kalau Lo lupa.” Irene mengerti sekarang maksud ucapan Bara. Lelaki itu seolah ingin menunjukkan bagaimana rasa sakitnya saat hanya dijadikan mainan. Memang sih, dia sering mempermainkan hati laki-laki yang terang-terangan menaruh hati padanya. Tapi, seharusnya Bara tak melakukan ini padanya, toh dia tak mempermainkan hati Bara. Justru dia serius dengan Bara. “Tapi, beda Bar. Gue cewek. Lagipula, gue gak pernah mainin hati mereka. Mereka nya aja yang terlalu baper sama gue.” Bara tertawa mengejek. “Yaitu, Lo juga terlalu baper sama gue. Lagian nih, ya, gue punya yang lain. Gue gak tertarik sama lo.” “Siapa? Reina?" Tanya Irene, dia tersenyum meremehkan. “Lo gak lihat, Bar gimana dia gak sukanya sama Lo? Lo harusnya sadar kalau dia tuh gak mau sama Lo. Jadi, please berhenti Lo kejar-kejar dia.” lanjut Irene kesal. Bara membalas Irene dengan senyum sinisnya. “Lo juga gak sadar, kalau gue gak suka Lo. Jadi, please stop kejar-kejar gue." balas Bara kemudian melenggang pergi meninggalkan Irene yang mendengus kesal. *** Reina yang tengah sibuk dengan tugas-tugas yang belum sempat dikerjakannya semalam, dikejutkan dengan pekikan keras dari Ayudia yang baru saja datang ke kelas. Ayudia langsung duduk dengan kasar di kursi samping Reina, memekik keras sambil tersenyum lebar menatap Reina yang hanya mengerutkan kening bingung melihat tingkahnya. “Kenapa, Lo? Pagi-pagi udah heboh aja.” tukas Reina, dia mengabaikan Ayudia dan memilih kembali fokus pada tugasnya. Masih ada waktu 15 menit untuk dia selesaikan tugas ini. Ayudia mengulum senyumnya, dia memangku dagu tanpa mengalihkan atensinya sedikitpun dari Reina. “Cie ...” Reina tersentak, semakin mengerutkan kening bingung. “Kenapa Lo? Gak jelas banget,” “Tahu gak sih? Gue baru aja melihat sesuatu yang membuat gue ter-wow-wow gitu...” “Maksud, Lo?” Ayudia berdecak pelan, dia menegakkan tubuhnya. “Itu loh... Gue baru aja lihat seorang Bara diajak balikan sama mantannya.” jawab Ayudia yang justru hanya mendapat tanggapan berupa deheman dari Reina. Reina sih biasa saja, tidak ter-wow-wow seperti apa yang Ayudia ucap kan. Rasanya bukan hal aneh lagi saat ada perempuan yang merupakan mantan kekasih dari Bara, ngajak balikan. Dia sudah sering melihatnya secara langsung. Dan, dia juga tahu pasti kalau penolakan selalu dilontarkan Bara. “Cuma heem doang?” tanya Ayudia tak percaya, dia ternganga. ”Gak salah tuh?” “Ya, terus gue harus gimana? Ter-wow-wow kayak Lo gini?” tanya Reina, sia meringis pelan sambil menggeleng. “Sorry, gue sih bukan lo.” lanjutnya. Ayudia berdecak, dia kadang suka kesal dengan respon yang diberikan Reina jika itu berhubungan dengan Bara. “Ya, seenggaknya Lo tanya kek. Kenapa gitu?” tukas Ayudia, dia mendengus. Reina terkekeh, dia menggeleng dan melanjutkan kembali mengerjakan tugasnya. “Buat apa gue tanya, gak ada gunanya.” Ayudia memutar bola matanya jengah, dia akan tetap menjelaskan meskipun menurut Reina tak ada gunanya. Masa bodo. “Bara gak mau balikan sama mantannya, itu karena lo.” ucap Ayudia yang sama sekali tak berpengaruh pada Reina. “Sweet gak sih, Rein menurut Lo?” “B aja sih menurut gue,” Lagi, Ayudia ternganga mendengarnya. Disaat dia tersanjung melihat bagaimana diperjuangkannya Reina oleh Bara. Justru berbanding terbalik dengan Reina yang memberikan respon biasa-biasa saja. “Gue gak ngerti deh sama Lo. Disaat yang lain benar-benar tersanjung dengan apa yang Bara buat, justru Lo enggak. Lo malah ogah-ogahan tentang apapun yang berhubungan sama Bara. Lo sadar gak sih, gimana Bara itu perjuangin Lo? Dia gak main-main tahu, Rein.” ucap Ayudia panjang lebar, dia mendesah pelan sambil memutar tubuhnya menghadap lurus kedepan—menghadap papan tulis. Reina mengentikan coretan pulpennya, dia melirik sekilas Ayudia. “Gue cuma gak mau berharap,” balas Reina. “Berharap apa?” “Ay, Lo tahu gimana Bara? Lo juga tahu predikat apa yang melekat sama dia. Dan, gue cuma gak mau jadi salah satu korban dia, ogah banget.” Ayudia menggeram kesal, bagaimana bisa Reina berpikir demikian. Oke, Bara memang playboy, lelaki itu memiliki mantan dimana-mana. Tapi, seharusnya Reina sadar dan paham betul serta memperhatikan, bagaimana sikap Bara selama ini padanya serta pada perempuan lain. Apa sama? Jawabannya tidak. Bara bersikap lain pada Reina. Karena apa? Karena Reina berbeda, perempuan itu spesial di mata Bara. Dan, seharusnya Reina paham betul akan hal itu. “Gue gak ngerti sama jalan pikiran Lo. Gini loh, Rein. Coba Lo perhatiin perhatian dan cara Bara natap Lo? Apa sama kayak ke cewek lain? Apa terkesan pura-pura?” tanya Ayudia yang justru tak bisa Reina jawab iya. Ayudia tersenyum melihat diamnya Reina. “Gue tanya sama Lo. Sejak kapan Bara kejar-kejar Lo? Apa setelah dia dapat pacar, dia berhenti kejar Lo? Apa pernah sekalipun dia gak godain Lo? Apa dia juga ngelakuin hal sama ke cewek lain? Enggak, jawabannya enggak. Dia ngelakuin itu, cuma sama Lo, cuma buat Lo. Karena apa? Karena Lo spesial buat dia. Jadi, apa lagi coba?” Reina masih diam, hatinya membenarkan ucapan Ayudia. Hanya saja, mulutnya enggan mengiyakan, dia hanya tak mau kecewa. “Udahlah, ngapain sih pagi-pagi ngeributin yang begituan? Lagian gak guna tahu. Udah, ah! Gue mau lanjutin ngerjain tugas.” Ayudia mencebik. “Terserah, Lo!” “Yaudah, diam.” *** Netranya dia edarkan di sepanjang penjuru kantin, mencari keberadaan orang yang biasanya ada disini. Senyum lebar tercetak jelas di bibirnya dan langkah kakinya segera menghampiri objek yang menjadi tujuannya. Reina. Bara menghampiri Reina yang duduk dipojok kantin bersama temannya. Ada Bryan yang mengerkorinya di belakang. “Hy, Rein...” Bara duduk begitu saja, begitupun Bryan. Reina mendongak, dia menatap jengah Bara dihadapannya. Dia hanya melirik sekilas Bara dan Bryan, memilih fokus pada makanan dan cepat-cepat menyelesaikan makannya. Dia ingin pergi sekarang juga. Berbeda dengan Reina yang jengah dengan kehadiran mereka, Ayudia justru tersenyum lebar, menatap kagum dua manusia ciptaan Tuhan yang terlihat sempurna dimatanya. Terutama Bara tentunya. “Nama Lo siapa? Gue sering lihat Lo sama si cantik, tapi gue gak tahu siapa nama Lo. Siapa tahu, gue bisa jodohin Lo sama teman gue yang jomblo ini.”ucap Bara, dia melirik Bryan disamping yang mendengus kesal. “Anjir, apaan sih Bar!” “Dih, ngapa? Emang gue mau jodohin sama Lo? Kegeeran Lo!” tukas Bara, dia terkekeh. “Sadar! Teman Lo cuma gue!” balas Bryan yang membuat Ayudia tersenyum lebar. “Jadi, nama Lo siapa?” ”Gue, Ayudia.” jawab Ayudia susah payah, dia rasanya sulit bernapas jika dihadapkan langsung dengan dua lelaki tampan sekaligus. Reina memutar bola matanya jengah melihat respon Ayudia. Kenapa juga temannya bersikap demikian, kenapa harus malu-malu, susah napas dan bersemu merah, kenapa coba? Kenapa semua cewek harus tahan napas mereka setiap kali melihat Bara? Why? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD