Bara tersenyum pada Billa, tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil milik Billa. Mereka berjalan beriringan memasuki toko roti milik Reina. Keduanya pun langsung mengambil alih duduk di kursi pojok, seperti biasa.
Billa mengedarkan pandangannya, tertarik dengan tempat ini. Sedangkan, Bara. Dia pun mengendarkan pandangannya, bedanya dia mencari keberadaan seseorang. Orang pemilik tempat ini.
“Bang, jangan lupa ya. Rotinya harus yang rasa keju, tapi keju nya sedikit aja terus diluar harus ada kacangnya yang banyak. Terus—”
“Sttt ... ” Bara mengerutkan keningnya. Bingung dia, bagaimana bisa dia punya adik secerewet Billa. “Berisik. Kita lihat aja nanti, ada atau enggak." Ucap Bara yang membuat Billa mengerucutkan bibirnya.
Bara mengedarkan kembali pandangannya, tersenyum lebar saat melihat Reina yang baru saja keluar dari pantry. Dia dengan cepat beranjak, berniat menghampiri perempuan itu. Namun, Billa mencegahnya, gadis itu menahan tangannya.
“Abang mau kemana?”
“Tadi katanya mau roti keju ... Apalah gitu. Ini mau dipesenin.”
Billa ber'oh'ria, dia mengangguk-angguk. “Jangan lama-lama.”
Bara berdehem, beranjak pergi. “Gak, janji.” ucap Bara kemudian melenggang pergi. Dia menghampiri Reina yang saat ini tengah memasukkan beberapa roti dan cookies dibalik etalase.
”Hai cantik ...”
Reina harus menunjukkan wajah terkejutnya yang justru terlihat menggemaskan di mata Bara. Perempuan itu terkejut saat dirinya menyapa begitu saja di balik etalase, tepat di hadapan Reina yang memasukkan roti dan cookies ke etalase.
Reina berdecak, dia menegakkan tubuhnya kemudian menatap kesal Bara yang justru terkekeh pelan karenanya. Dia masih memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Bukan karena kedatangan Bara atau perasaan aneh pada lelaki itu, bukan. Gemuruh hebat ini murni karena keterkejutannya.
“Lo ngapain sih!? Ngagetin aja.”
Bara terkekeh. “Ya, sorry. Gue gak sengaja. Gue kira Lo gak akan sekaget ini. Ya, secara Lo udah terbiasa lihat tampang ganteng gue ini.”
Reina mendengus, dia memutar bola matanya jengah. Sepertinya, dua hal itu menjadi kebiasaannya setiap kali dia berada di dekat Bara. “Mau ngapain sih Lo kesini? Kalau cuma mau recokin gue, ganggu kerjaan gue. Mending sekarang Lo pergi.”
“Santai dong Rein, gue kesini tuh mau beli roti.”
Reina menghela napas kasar. “Roti apa? Rasa apa?” tanya Reina, kali ini dia yang akan melayani. Dia tak mau membuang waktu seperti kemarin-kemarin, meminta yang lain untuk melayani lelaki itu namun pada akhirnya dia juga yang melayani dengan alasan Bara hanya mau dilayani oleh Reina.
“Roti cinta ada gak?” tanya Bara, dia menaik-turunkan alisnya menggoda Reina.
Reina salah percaya begitu saja. Mana mungkin seorang Bara datang ke tokonya hanya untuk sekedar membeli sesuatu tanpa ada basa-basi seperti sekarang ini.
Reina berdecak kesal, dia membalikkan tubuhnya berniat pergi. Namun, Bara mencegahnya.
“Eh, enggak. Serius, serius.” Ucap Bara cemas, dia cemas saat melihat Reina yang sepertinya hendak pergi meninggalkannya. “Gue mau pesan."
“Yaudah, buruan, serius! Jangan bercanda Mulu!”
“Ya ampun, Rein. Kalau mau di seriusin nanti aja deh, tunggu kita lulus SMA dulu. Gak baik tahu nikah di usia kita. Kan, iklan di tivi aja suruh nikah umur 21 25. Jadi—”
“Nyebelin!”
Bara tertawa puas. “Oke, oke, sekarang serius. Gue pesan roti apapun, rasa keju tapi kejunya sedikit aja. Terus, untuk topping luarnya kasih remahan kacang yang banyak. Terus—”
Reina berdecak, pesanan Bara ini tak ada. Bahkan tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. “Lo ngerjain gue, ya?”
“Enggak kok.”
“Terus, itu maksudnya apa? Minta rasa keju tapi kejunya sedikit aja, minta—”
“Yaudah, silahkan Lo ngomong langsung sama tuan putrinya.” Ucap Bara, dia menggeser tubuhnya agar Reina bisa melihat adiknya yang merupakan alasan dia memesan menu demikian.
Reina mengerutkan keningnya, senyumnya tercetak tipis melihat gadis kecil yang saat ini tengah bertopang dagu di meja yang lebih tinggi dari tubuhnya. Dia keluar dari bilik etalase, melenggang melewati Bara begitu saja hanya untuk menghampiri gadis kecil dan manis itu.
“Hai,”
Billa mendongak, dia mengerutkan keningnya.
“Kamu, yang pesan roti rasa keju tapi kejunya sedikit terus kasih topping kacang yang banyak di luarnya. Benar?”
Billa mengangguk begitu polosnya.
Reina tersenyum simpul, dia mengusap pelan pipi kemerahan gadis itu. “Sayang, rasa itu gak ada di toko kakak. Disini gak jual.” ucap Reina, dia tersenyum manis pada gadis itu. Dan, tentu saja itu semua tak luput dari pandangan Bara.
“Masa, sih!? Orang Sarah aja bisa ada, kenapa buat Billa gak ada?”
“Tapi—”
“Billa mau itu Kakak, Billa mau rotinya. Nanti, kalau sampai gak ada, Noval pasti dekatnya sama Sarah aja.” Rengek Billa, dia mengerucutkan bibirnya dan terlihat menggemaskan di mata Reina.
“Tapi, cantik. Toko kakak gak jualan roti kayak gitu.”
Billa menggeram, dia langsung menarik Reina untuk duduk disampingnya. Reina tak berbuat apapun, dia hanya duduk dan mendengarkan keluhan yang saat ini dikeluarkan Billa.
“Tapi, kakak cantik. Billa mau roti itu. Nanti kalau enggak, Noval pasti dekat-dekat nya sama Sarah. Kemarin Sarah bawain itu buat Noval terus mereka dekat. Billa kan juga mau kayak gitu, kan Billa mau dekat-dekat sama Noval.”
Reina mengerutkan keningnya. “Emangnya Noval siapa?”
“Teman Billa, tapi Billa suka sama dia."
Reina ternganga, tak percaya. Dia melirik sekilas Bara yang terkekeh. Dia tak percaya, gadis sekecil ini sudah memikirkan sampai tahap seperti itu. Rela mencari sesuatu demi orang yang dia suka.
“Bisa ya kakak cantik, ada in dong ...”
Reina bergumam, nampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk. “Oke, Kakak buatin. Tapi, harus nunggu dulu, ya. Agak lama. Gakpapa?”
“Gakpapa.”
***
Cukup lama. Akhirnya, Reina keluar dari pintu yang bertuliskan 'kitchen'. Di tangannya ada roti pesanan Billa yang sudah selesai dibuatnya, sudah tak begitu panas, hangat dan siap di kemas. Dia segera membungkus roti tersebut, kemudian membawanya kearah Billa dan Bara yang tengah menikmati minuman mereka.
“Ini rotinya,”
Billa mendongak, tersenyum senang dan langsung turun dari kursinya. Dia mengambil paper bag yang diserahkan Reina padanya. “Wah, udah jadi kak?” tanya Billa antusias, dia begitu senang roti ini ada.
“Iya.”
“Makasih, ya Rein.”
Reina mendongak, menatap Bara. Tak lama karena kemudian dia kembali menatap gadis kecil itu. “Iya,” jawab Reina acuh, dia tersenyum pada Billa yang terlihat begitu senangnya.
“Ini berapa kak?”
“50 ribu aja.”
Billa mengangguk, dia melirik abangnya. “Yaudah, bang bayar!" Titah Billa pada Bara.
Bara mendelik, berdecak. “Dih, yang beli siapa? Masa yang bayar harus Abang.”
Billa ikut mendelik, dia mengerutkan keningnya kesal. “Yang kasih uang siapa? Ayah. Tadi, kata ayah apa? Beliin apapun yang aku minta."
Tck, Bara terjebak dengan otak cerdas adiknya. Dia menggeram kesal, dia di permalukan. Lain halnya dengan Reina yang justru diam-diam tersenyum. Senang melihat bagaimana gadis kecil itu berbicara pada Bara. Sekarang dia tahu, kenapa Bara bisa songong. Toh, adiknya pun demikian.
Reina terkekeh, sukses membuat Bara tersenyum lebar. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya pada Reina, berbisik pada perempuan itu. “Lo cantik kalau senyum.” Bisik Bara yang seketika membuat Reina menegang, membuat senyum perempuan itu perlahan pudar.
Reina menggeser tubuhnya, jauh dari Bara. Dia berdehem. “Yaudah, Kakak ambil struk nya dulu, ya.” ucap Reina, dia bergegas pergi saat Bara terkekeh dan menyerahkan selembar uang kertas lima puluh ribu padanya.
Dia kembali dengan struk tersebut, menyerahkannya pada Bara.
“Yaudah princess, kita pulang sekarang?”
Billa mengangguk, mengiyakan.
“Makasih, ya kakak cantik.”
“Iya, sama-sama.”
Reina hendak pergi, namun tangannya dicekal Bara. Lelaki itu kembali berucap yang membuat Reina mengerutkan keningnya.
”Besok gue kesini, mau pesan roti.”
“Roti apa?”
“Roti biasa.”
Reina terdiam, dia mengangguk kemudian. “Oke.” balas Reina, dia melepaskan cekalan Bara dan berniat pergi. Namun, lelaki itu justru kembali menahannya.
“Apa lagi?”
“Lo gak mau tanya, rotinya rasa apa?”
Reina menghela napas kasar, dia melepaskan cekalan Bara di tangannya. Menarik datar kedua sudut bibirnya. “Enggak,” jawab Reina, dia menggeleng. “Karena gue udah tahu, apa yang mau Lo bilang. Gue pesan roti rasa yang gak pernah hilang. Basi tahu.” lanjut Reina, dia menirukan bagaimana biasanya Bara berucap padanya.
Mendengar ucapan Reina membuat Bara tak bisa menahan senyumnya. Tak menyangka, ternyata perempuan itu akan sampai paham dan hapal apa yang akan diucapkannya. Apa sangat lama dia berusaha mendekati perempuan itu? Apa terlalu sering dia menggodanya? Sampai-sampai hal seperti itu terlihat sangat dihapal Reina, bahkan mungkin di luar kepala perempuan itu.
Apa itu artinya rasa cintanya pada perempuan itu juga sangat besar? Sampai-sampai penolakan yang diterimanya cukup lama tak membuat dia putus asa.