Ep.2 - Karena Billa

1529 Words
*** “Jadi, mulai kapan kita mulai belajar?” Bara terus saja melontarkan pertanyaan itu, bahkan sampai Reina keluar dari kelasnya pun lelaki itu kini membuntutinya. Baru kali ini dia melihat ada orang se-semangat ini untuk belajar bersama. Apa karena bersama orang yang dicinta? Jadi, semangat Bara sangat menggebu-gebu saat dia tahu bahwa yang akan menjadi tutor nya adalah Reina? Begitu? Reina mengabaikan Bara, dia terus melangkahkan kakinya. Tak mempedulikan Bara yang mengekorinya. Disaat dia tak suka akan keputusan yang dibuat Pak Dipa, orang-orang justru menyelamatinya. Ya, berita tentang Reina yang menjadi tutor Bara menyebar begitu cepatnya. Ada yang senang, iri dan bahkan mencaci. Mereka ingin di posisi Reina, tapi tidak dengan si empunya. Kalau bisa, Reina akan berkata. Yaudah, kalian aja. Gue sih ogah. Iya, kalau bisa. Nyatanya? “Rein, gue duluan ya.” Ucap Ayudia, dia melirik Bara di belakang mereka. Tubuhnya sedikit di condong kan pada Reina. “Selamat, ya jadi tutor cogan. Jangan lupa, banyakin doa dan siapin hati Lo. Satu lagi deh, jangan lupa banyak selfie sama dia, ya.” bisik Ayudia diakhiri kekehan, dia langsung melenggang pergi meninggalkan Reina seorang diri. Bara berdiri disamping Reina, dia menatap perempuan yang tengah menatapnya malas itu. “Jadi, kapan?” Reina berdecak, matanya memincing. “Lo tuh, ya. Gue aja belum konfirm sama Pak Dipa. Tapi, Lo udah ngusik-ngusik gue aja.” ketus Reina, dia berdecak. “Lagian nih, ya! Lo pikir gue mau gitu?” tanya Reina mengejek yang justru dibalas senyuman lebar oleh Bara. “Ya, harus mau lah.” “Lo siapa berani perintah gue. Lagipula nih, kalau pun, iya, gak sekarang juga. Lo pikir hidup gue cuma buat ngajarin Lo? Enggak.” ucap Reina, dia menggeleng pelan. “Gue juga punya kesibukan. Jadi, gue harus atur waktu dulu. Lo kan tahu gue selalu ke toko. Ya, kali waktu gue cuma buat ngajarin lo.” Bara terkekeh, dia mengangguk paham. Bara paham maksudnya, dia hanya tak sabar berduaan dengan Reina, menghabiskan banyak waktu dengan perempuan itu. “Oke, oke, gue ngerti. Kalau gitu, gue tunggu kabar dari lo.” ucap Bara, dia menaikkan sebelah alisnya. “Lo save nomor yang selalu Lo kacangin kan? Atau perlu gue telpon sekarang?” tanya Bara, dia bersiap mengeluarkan ponselnya namun di tahan Reina. “Gak usah, gak usah! Nomor Lo ada kok.” Bara tersenyum lebar. ”Bagus kalau gitu. Oh, iya, Lo mau pulang, ya? Yuk, gue antar!” “Gak usah! Gue bisa kok pulang sendiri.” “Yakin ... Gak mau gue antar?” tanya Bara, dia menaikkan sebelah alisnya. “Enggak! Udah deh, sana!” “Oke, oke. Gue pergi. Lo hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa langsung kabarin gue.” “Dih!” “Bye, cantik ...” *** Sambil bersiul, Bara keluar dari mobilnya. Tangannya melempar-menangkap kunci mobilnya. Dia melangkah masuk ke rumah tanpa mempedulikan sekitar, santai saja menuju kamarnya di lantai atas. Awww ... Pekikan keras berasal darinya saat rasa panas menjalar ke telinganya karena seseorang baru saja menjewer telinganya. Dia hendak marah, namun di urungkan saat melihat siapa pelakunya. Tentu saja yang dia lakukan hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya. “Eh, bunda ... Sakit, Bun ...” ringis Bara, dia mencoba melepaskan tangan bundanya dari telinganya. “Salam bang, salam ... Masa lupa.” “Iya, Bun, iya. Maaf.” Aisyah, ibu Bara yang biasa dipanggil Bunda olehnya. Dia mengusap pelan telinganya yang memerah, terkekeh pelan melihat wajah kesal wanita yang hampir menginjak hampir 40 tahunan. “Yaudah, deh. Abang ulang lagi.” ucap Bara, dia membalikkan badannya, berniat kembali menuju pintu depan rumah. Namun, diurungkan saat Aisyah menarik kerah seragamnya. “Gak usah, gak perlu. Lain kali, di biasakan. Masuk rumah tuh bilang salam.” ”Iya, iya, salam.” “Abang ...” Bara terkekeh, dia langsung merangkul pundak Aisyah. “Iya, iya, becanda. Assalamualaikum ..” Aisyah menggeleng tak percaya, berdecak pelan. “Oh, iya. Kamu udah beli roti pesanan adik kamu?” tanya Aisyah, dia mengelus pelan tangan Bara yang merangkul pundaknya. Mendengar itu membuat Bara menepuk pelan jidatnya, dia lupa. Dia merutuki kebodohannya yang bisa lupa dengan pesanan adik kesayangannya yang super duper cerewet. Aisyah mengerutkan keningnya, tersenyum tipis. “Lupa 'kan?” tebak Aisyah yang tentu diangguki Bara bersama senyum lebarnya. Aisyah menggeleng, dia tersenyum menggoda. “Sengaja atau emang benar lupa, hah?” tanya Aisyah, dia sengaja menggoda Bara. Dia tahu, toko roti langganan Bara yang kebetulan juga merupakan toko roti langganannya. Dia juga tahu, anak pemilik toko itu. Beberapa kali mempergoki Bara yang menggoda gadis itu membuatnya yakin, putranya ini jatuh cinta pada gadis itu. Dan, saat bertemu dimana dia dilayani gadis itu, dia jadi tahu kenapa Bara bisa sampai suka. Anaknya cantik, murah senyum, ramah dan tentunya baik. Mungkin karena itu pula Bara bisa sampai suka. Bara terkekeh pelan, dia tahu kemana maksud ucapan Aisyah. “Bunda tahu aja. Tapi, serius Bun, kali ini beneran lupa. Yaudah, deh. Aku beliin sekarang aja, ya?” ucap Bara, dia bersiap pergi namun dicegah Aisyah. Aisyah menggeleng tak setuju. “No .. no ... Kamu baru pulang, belum makan. Belum bersih-bersih juga. Masa iya mau ketemu cem-ceman tapi bau keringat gini? Ilfeel loh nanti dia.” ucap Aisyah yang membuat Bara tertawa. Oke, jiwa narsis dan percaya diri berlebihan Bara akan keluar beberapa saat lagi. “Bun ... Mau mandi kek, enggak kek. Mau bau keringat kek. Aku tetap wangi, tetap ganteng. Gak ada tuh kata ilfeel dalam kamus orang-orang lihat aku.” Ucap Bara begitu percaya dirinya. Aisyah mencebik. “Iya, iya, terserah kamu aja. Yang penting sebelum adik kamu pulang dari rumah Tante May, rotinya harus udah ada. Udah, gitu aja.” "Siap bun!!" “Yaudah, sekarang mending kamu makan dulu. Abis itu terserah, mau langsung mandi atau pergi beli roti buat Bila.” Ucap Aisyah, dia menepuk-nepuk pelan pundak Bara. “Bunda mau ke kebun dulu, lihat tanaman bunda.” lanjut Aisyah yang diangguki Bara. Dia bergegas pergi menuju kebun di belakang rumah yang ditanam berbagai tanaman kesukaannya. Bara bergegas menuju kamarnya. Dia tersenyum senang, bersyukur dalam hati mempunyai ibu seperti Aisyah. Wanita itu memang bukan ibu kandungnya, tapi perilakunya benar-benar tak terasa seperti ibu tiri. Perlakuannya adil, sama seperti ibu kandung pada anaknya sendiri. Dia masuk ke kamarnya, langsung ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia mengangkat wajahnya, mengambil tisu yang selalu ada di wastafel kamarnya. Wajahnya yang basah itu dia lap menggunakan tisu tersebut. Dia terkekeh, menyangga kedua tangannya di sisi wastafel. Kepalanya dia tolehkan ke kanan, ke kiri. Melihat, betapa beruntungnya lelaki di cermin yang memiliki wajah tampan itu. Haha ... Dia baru sadar sekarang, ternyata dia punya wajah setampan ini. Ngidam apa almarhumah Mama nya sampai-sampai mempunyai anak yang begitu tampan sepertinya. Narsis! “Asli, ganteng banget gue.” Puji Bara pada dirinya sendiri, dia menyugar rambutnya. Bara menegakkan tubuhnya, melipat tangan didepan d**a sambil mengerutkan keningnya. “Gus kurang apa sih?" Tanya Bara, dia bingung. “Ganteng? Banget. Pintar? Jangan ditanya. Romantis? Tentu saja. Kaya? Khm, tentu. Tapi, gue gak ngerti sama Reina. Kenapa dia gak mau sama gue? Apa yang kurang dari gue?” “Kurang baik!" Bara seketika menoleh, terkejut mendapati adik kesayangannya ada di belakangnya. Dia keluar dari kamar mandi, tersenyum pada adik satu-satunya yang saat ini tengah berdecak pinggang dengan wajah kesalnya. Billa namanya, anak berumur 6 tahun itu langsung mengeluarkan teriakannya yang membuat Bara harus menutup telinganya. “Abang! Mana roti pesanan aku!? Aku kan minta dari kemarin, tapi kenapa gak di beliin juga sih! Abang niat beliin gak sih? Kalau enggak, jangan PHP in aku dong ...” teriak Billa hanya dalam sekali helaan napas. Dia mengerucutkan bibirnya kesal. Bara membuka telinganya yang sempat dia tutup dengan telapak tangannya, dia berlutut dihadapan gadis kecil yang masih mengenakan dress itu. “Billa cantik gak ada yang ngalahin, yang baik hati, rajin nabung dan tidak sombong—” “Udah tahu!” Bara terkekeh. “Nah, udah tahu tapi kenapa marah-marah coba? Gak baik hati lagi dong. Nanti kalau gak baik hati, si Novel jadi ilfeel loh.” “Noval Abang, bukan novel!” “Iya, iya, Noval. Nanti dia gak suka loh sama kamu.” Billa yang tadinya marah kini penasaran, bingung. “Masa, sih?” Bara mengangguk yakin. “Asli. Nanti dia ilfeel sama kamu karena kamu marah-marah terus. Eh, dia nanti jadian deh sama Sarah, kan Sarah gak suka marah.” ucap Bara, dia tersenyum devil melihat wajah polos Billa yang sepertinya percaya akan ucapannya. “Jadi, Billa jangan marah-marah, ya.” Bill dengan polosnya mengangguk. “Iya, Billa gak marah kok. Berarti, Noval buat Billa?” “Iya lah! Tapi ...” “Tapi?” “Billa mandi dulu, bau asem soalnya. Mandi, ya, yang bersih, wangin terus ganti baju. Dijamin, Noval tambah cinta nantinya.” Billa mengangguk-angguk. “Oke deh, Billa mandi dulu. Pake minya wangi yang banyak supaya Noval tambah cinta.” “Nah, gitu dong.” Bara tertawa puas saat Billa bergegas pergi. Ya, gitulah. Adiknya masih kecil, tapi sok-sokan main cinta. Belum tahu aja dia, gimana sakitnya cinta itu. Bara memilih merebahkan sejenak tubuhnya, belum ada semenit matanya terpejam suara pekikan kembali mengganggu telinganya. “ROTI BILLA MANA!?” Ampun, deh ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD