***
Bara tersenyum senang saat dirinya berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring dari jarak yang cukup jauh. Memang, dia itu punya bakat dalam bermain basket. Beberapa kali diajak bergabung tim basket sekolahnya, tapi dia menolak dan tetap stay pada ekskul kebanggaannya, futsal.
"Bar, mending lo ikut basket aja. Lo punya skill, tampang apalagi? 11 12 sama gue." ucap Bryan yang sedari tadi duduk di kursi penonton di pinggir lapangan, memerhatikan Bara yang memasukkan bola basket tepat di hadapannya.
Bara tersenyum, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Bryan, dia duduk di samping lelaki itu. “Lo tahu gue, Bry. Gue gak terlalu berminat sama basket, lebih keren futsal.” tukas Bara, dia menyugar rambutnya.
Bryan terkekeh, dia berdecak. “Ada-ada aja Lo tuh, ya. Lo bahkan tahu, basket tuh paling diidam-idamkan cowok di sekolah kita. Ya, secara Lo tahu kan reputasi cowok-cowok yang masuk basket nanti? Dan, jelas dong, lebih keren daripada futsal.” Ucap Bryan, dia mengatakan yang sebenarnya. Asli, siapa saja yang masuk tim basket sudah dipastikan dia akan masuk di jajaran orang-orang terkenal disekolah.
Bara terkekeh, dia menggeleng tak percaya. “Bahkan, tanpa masuk tim basket pun reputasi gue udah bagus. Gue udah dikenal dimana-mana. Jadi, apa lagi?” tukas Bara, dia menaikkan sebelah alisnya.
Bryan berdecak, dia tak berkata apa lagi. Apa yang diucapkan Bara benar adanya. Tanpa masuk tim basket pun Bara sudah di kenal dimana-mana. Bukan hanya sekolah mereka, tapi sekolah tetangga juga.
Tak ada percakapan apapun lagi. Bryan sibuk dengan game onlinenya yang kebetulan juga sampingannya, dengan game online itu dia bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Memang tak seberapa, tapi lumayan untuk tambahan uang jajannya. Sedangkan, Bara hanya memperhatikan siapa saja yang melewatinya.
Bara rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana pada siswi di sekolahnya sengaja melenggak-lenggokkan tubuh mereka saat melewatinya. Mungkin, berharap dia terpikat atau terpesona, padahal nyatanya tidak. Justru itu terlihat lucu baginya. Tubuh di lenggokkan, riasan wajah yang berlebihan, itu serius mereka datang ke sekolah untuk belajar? Belajar apa?
"Bara,"
Mendengar namanya dipanggil membuat dia bergegas duduk sigap, tersenyum lebar menatap si empu yang baru saja memanggilnya. Perempuan berbeda dari kebanyakan, seragam biasa dengan riasan wajah yang tak berlebihan, benar-benar berbeda dari yang lain. Dan, justru dia suka melihat perempuan seperti ini.
Bryan yang tadinya fokus pada game onlinenya, kini tidak. Dia menatap Bara yang tersenyum lebar menantikan kehadiran Reina yang tengah berjalan menghampirinya. Dia mengerutkan keningnya, menganga tak percaya. Bagai sebuah keajaiban disaat Reina dengan suka hati menghampiri Bara. Ya, secara dihampiri Bara saja perempuan itu ogah-ogahan dan sekarang justru menghampiri Bara begitu saja. Aneh dan ajaib.
Bara mengulum senyumnya. “Kenapa, Rein? Tumben banget Lo nyamperin gue. Sadar, ya, gak ada gue gak asik.” Ucap Bara begitu percaya dirinya. Dia menaik-turunkan alisnya.
Reina berdecak, memutar bola matanya jengah. Benar-benar, wajah perempuan itu tak ada manis-manisnya sama sekali. Disaat semua wanita mencoba bersikap manis pada Bara, justru lain dengan Reina. Perempuan itu selalu saja menunjukkan wajah masamnya.
“Gak usah ge-er deh! Lagian kalau gak terpaksa, gue juga ogah.”
“Oke ... Oke ... Jadi, ada apa?”
“Kata Pak Dipa, Lo keruangan nya sekarang.”
Bryan mengerutkan keningnya. “Mau ngapain Bara kesana?” tanya Bryan.
“Ya, mana gue tahu.” ketus Reina.
“Wih ... Biasa aja dong neng.” balas Bryan, dia terkekeh pelan.
“Apaan sih Lo!” kesal Reina, dia menatap kesal Bryan. Lelaki itu sama sebelas dua belas nya seperti Bara, sama-sama menyebalkan. Dia menatap Bara. “Udah, deh. Mending sekarang Lo ke ruangan Pak Dipa.” ucap Reina, dia segera membalikkan tubuhnya berniat pergi.
“Eh, Lo gak mau nganterin?”
“Ngapain gue nganterin Lo?”
“Gue lupa, ruangan pak Dipa.”
“Bodoh amat!”
“Seriusan bodoh amat? Nanti kalau Bara ada yang godain di jalan, gimana?” ujar Bryan, dia tersenyum menggoda yang terlihat menjengkelkan di mata Reina.
“Diem, Lo!” sengit Reina, dia menatap tajam Bryan yang masih juga terkekeh.
Bara terkekeh, dia menatap Bryan sambil memainkan alisnya. “Bener, Rein. Kalau gue di goda di jalan gimana? Nanti gak ada lagi yang godain Lo. Hidup Lo hampa deh tanpa godaan gue.”
Reina tertawa kikuk, tawa mengejek untuk mereka. “Bodoh amat. Justru dengan Lo gak ngerecokin hidup gue dengan gombalan unfaedah Lo itu, gue justru senang.” Ucap Reina, dia bergegas pergi saja. Kalau sampai di ladeni terus, tak akan pernah habis.
Bara hanya tertawa dibuatnya, dia beranjak berdiri, memukul pundak Bryan dengan kerasnya. “Gue ke ruangan Pak Dipa, dulu.”
“Yoi... Hati-hati, hukuman menanti.”
“Gak akan pernah woy...”
***
Sesekali dia tertawa, menyedot minuman jus jeruk dalam cup di genggamannya. Di sampingnya ada Ayudia, teman sekelasnya. Mereka baru dari kantin, habis menikmati semangkuk bakso dengan kuah pedas yang lumayan membuyarkan kepusingan mereka tentang ulangan matematika tadi.
“Sumpah, Rein! Bakso Mbak Eni tuh enak poll .. bikin gue ketagihan.” Ucap Ayudia, dia mengecap-ngecap. ”Jadi pengen nambah deh jadinya. Tapi, takut gendats.” lanjut Ayudia, dia mengerucutkan bibirnya mengingat lemak-lemak yang akan tumbuh di tubuhnya kalau dia terus-terusan makan makanan berlemak itu (read:bakso).
Reina terkekeh, Ayudia memang sering seperti ini. Apa-apa mau tambah lagi, tapi diurungkan saat ingat tubuhnya sendiri. “Yaudah, kalau gak mau gendut, gak usah makan, pusing amat.”
“Mati dong gue.”
Reina terkekeh, dia menggelengkan kepala tak percaya. Obrolan mereka terus berlanjut sambil kaki melangkah menuju kelas mereka. Reina mengeluarkan permen karet dari sakunya, membuka bungkusan tersebut dan langsung melahapnya.
"Hai Rein.."
Mereka mengentikan langkahnya. Dan, tentu saja, kedatangan dan sapaan orang itu membuat air wajah mereka berubah. Yang satu terlihat bahagia dan yang lainnya justru menatap jengah.
Reina menatap datar Bara yang baru saja menyapanya, dia menatap jengah lelaki itu. Lain halnya dengan Ayudia yang justru menatap penuh kekaguman pada ciptaan Tuhan yang terlihat sempurna di matanya.
“Rein, kenapa hidup gue di kelilingi sama cogan sih? Meresahkan tahu.” cicit Ayudia pelan yang masih terdengar oleh mereka, dia menarik tipis bibirnya membentuk senyuman.
Sontak saja, Reina berdecak. Dia menyenggol pelan lengan Ayudia, mencoba menyadarkan perempuan itu dari halusinasi nya. Dia bingung, kenapa juga orang-orang bahkan Ayudia menatap memuja Bara. Oke, Bara tampan, tapi gak segitunya juga kali. Di dunia ini, masih banyak lelaki tampan. Tapi, kenapa semua orang justru bersikap seakan hanya ada satu lelaki tampan, yaitu Bara. Tck.
Reina mendongakkan wajahnya angkuh. “Bisa, minggir? Kita mau lewat.” Ucap Reina.
“Bisa, tapi setelah urusan gue selesai sama lo.”
“Urusan apa, ya? Gue rasa, gue gak punya urusan sama lo.”
Bara tersenyum lebar, dia berjalan mendekat pada Reina. Diambilnya begitu saja permen ditangan Reina, bahkan tanpa izin perempuan itu dia langsung melahapnya. Tentu saja, itu membuat Reina kesal bukan main.
“Lo tuh, ya! Punya orang main ambil-ambil aja, mana gak izin lagi! Meskipun Lo tahu, dengan Lo izin pun gue gak akan ngasih.” ketus Reina, wajahnya benar-benar masam.
Bara tersenyum lebar, mulutnya mengunyah permen di mulutnya. “Lo tahu, Rein. Permen karet ini tuh, manis. Kayak lo.” ucap Bara yang langsung mendapat delikan dari Reina dan sipuan malu dari Ayudia.
Reina menatap tajam Ayudia yang tersipu malu, sedangkan Ayudia langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Reina kembali menatap tajam Bara, tersenyum meremehkan.
“Lo tuh gak punya gombalan lain, ya? Atau Lo emang gak berbakat?” ejek Reina, dia berdecak. “Bosan tahu gue dengarnya. Manis, kayak Lo. Basi tahu!” kesal Reina, dia menirukan bagaimana biasanya Bara berucap manis padanya.
Bukannya marah karena di ejek, Bara justru tertawa dibuatnya. Asli, apa yang mereka lakukan itu jadi tontonan orang-orang yang berlulalang. Ada yang memang kebetulan lewat dan pergi begitu saja, ada yang kebetulan lewat namun berhenti hanya untuk menyaksikan ini semua. Karena menurut mereka semua, pertengkaran diantara Reina dan Bara itu lucu. Bara yang digandrungi banyak wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang selalu mengejeknya. Menarik.
“Tenang aja, setelah Lo terima cinta gue dan kita pacaran. Gombalan gue bakal bervariasi. Gak bakal yang itu-itu lagi. Dan, gue pastiin Lo akan baper dengan gombalan gue selanjutnya.”
Reina tersenyum kikuk, mengejek. “Sayangnya, gue gak berminat dengar gombalan Lo. Udah, deh. Minggir!”
“Yakin, gak mau dengar? Meskipun kita udah bareng-bareng nantinya?” tanya Bara yang seketika menghentikan langkah Reina. “Gue sih, yakin. Rasa cinta Lo tuh akan tumbuh dengan sendirinya selama kita bareng-bareng itu.”
Reina membalikkan tubuhnya, mengerutkan keningnya. “Maksud Lo apa?”
“Lo jadi tutor gue, itu perintah pak Dipa.”
“Hah!?”