BAGIAN EMPAT

1300 Words
"Aku gak nyangka bisa ketemu lagi sama dia, di saat aku benar benar gak mau liat muka dia lagi." Ucap Silvia. "Ada saatnya kalian kembali di pertemukan untuk mengingat bahwa kalian memiliki hubungan yang baik dimasa lalu bukan menjadi musuh waktu udah pisah. Lanjut aja silaturahmi kita gak boleh memutus hubungan, karena itu dosa. " "Tapi aku gak mau liat Rendy lagi mah," balas Silvia Ibunya tidak menyahut jawaban anaknya, tanganya terulur untuk memegang kening Silvia. "Badan kamu panas banget kak, apalagi yang sakit." Tanya ibunya cemas. Silvia terdiam, "gak ada lagi." Jawabnya. "Beneran? Kita ke dokter aja yah, mamah siapian mobilnya dulu." Silvia menggeleng lemas, rasanya sekarang tenanganya benar benar terkuras. Di tambah matanya terasa buram akibat menangis semalaman. "Aku mau makan bubur aja mah," tanpa membalas ucapan Silvia ibunya keluar dari kamar Silvia. Silvia menatap kosong kepergian ibunya, sambil meruntuk jika Tuhan benar benar tidak adil, untuk apa Silvia harus bertemu kembali dengan orang yang sudah membuat hatinya hancur dan menyakitinya. Namun Silvia lupa tentang sebuah hikmah, ia mungkin akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dimasa depan untuk menebus lukanya dimasa lalu. Sudah cukup meruntuk Silvia merasakan badannya semakin sakit dan lemas. Ditambah perutnya begitu perih, ia yakin jika magnya kambuh. Satu detiik, dua detik, tiga detik, penglihatannya mulai suram dan kabur hingga Silvia tak sadarkan diri. * "Aww," Silvia tersentak bangun dari pingsannya saat menyadari tangan sebelah kanannya terpasang infusan. "Udah sadar kak?" ibu Silvia menghampiri dirinya yang terbaring di atas ranjang. "Aku kenapa mah?" Tanya Silvia, sambil mencari posisi yang nyaman, kepalanya terasa berat. Di tambah tangannya yang terpasang infusan. "Tadi kamu pingsan, kata dokter kamu kena penyakit tifus." papar ibu Silvia sambil meraih air di atas nakas lalu mencoba memberikannya pada Silvia. Silvia mencoba meneguk air mineral yang di berikan ibunya. Rasanya pahit tak sesegar ketika ia minum air biasanya, perutnya malah terasa perih dan sakit saat air minum itu masuk kedalam perutnya. "Ini minum obatnya dulu!" Perintah ibunya pada Silvia sambil menyodorkan beberapa kapsul dan obat tablet. "Pait mah," tolak Silvia. "Paksain biar cepet sembuh." Dengan terpaksa Silvia mencoba menelan pil pahit itu, ia menganggapnya sedang memakan coklat yang manis. Teringat dahulu ketika sedang bersama Rendy pria itu yang akan selalu ada saat Silvia sakit, membujuknya untuk makan dan minum obat. Rendy selalu punya cara untuk meluluhkan tanpa memaksakan. Dan kini semuanya sudah berbeda, Silvia sudah ditampar keadaan dan seharusnya ia sadar bahwa bumi masih berputar tidak mesti semua yang terlewati itu terulang kembali. "Barang kamu apa aja yang mau di bawa, nanti mamah suruh Agil bawain. Kata dokter kamu harus di rawat tiga sampai empat hari di sini." Silvia menggeser posisi berbaringnya sambil mengehela nafas berat. Bagaimana mungkin ia akan di penjara ditempat yang sama sekali tidak ia suka. Bau obat obatan dan juga selang infus yang menghalangi pergerakannya. "Bawain buku, jaket sama boneka aja." jawab Silvia "Ponsel aku mana mah?" tanya Silvia , saat menyadari dirinya belum mengecek hapenya sejak Kemarin malam. Ibunya tidak menjawab pertanyaan Silvia, wanita itu langsung menyerahkan ponsel milik Silvia. Saat Silvia hendak menggapainya tiba tiba uluran itu ditarik kembali oleh ibunya. "jangan dulu main hp, tidur dulu kamu kan abis makan obat. Lagian hp kamu lowbat biar mamah charger dulu." oceh ibunya. Lagi lagi dan lagi Silvia hanya mampu menghela nafas, kali ini nafas pasrah. Karena percuma saja ia berontak tak ada hasilnya. Satu jam telah berlalu saat Silvia bangun dari tidurnya, ia mendapati ibunya sedang duduk sambil mengupas buah apel. Belum juga kesadarannya pulih sepenuhnya, tiba tiba pintu ruang rawatnya terbuka menampakkan sosok pria dengan pakaian casual. Kaos oblong putih, celana coklat muda, dan jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Hampir saja Silvia menjerit, begitu indah ciptaan Tuhan yang kini berdiri diambang pintu itu. “Permisi, eh maaf saya salah ruangan ternyata.” Iqbaal kikuk saat menyadari dirinya salah masuk ruang rawat. “Eh pa Iqbaal,” balas Silvia Ibunya Silvia yang tidak tahu siapa hanya diam sambil memperhatikan keduanya. “Bu Silvia?” tanya Iqbaal meyakinkan apakah wanita di depannya benar benar guru anaknya. “Iyah pa,” dengan ragu akhirnya Iqbaal memberanikan diri melangkah ke dalam, lalu menyapa ibu Silvia yang sedang duduk. “Perkenalkan saya Iqbaal bu, ayahnya Devano muridnya bu Silvia disekolah. “ tutur Iqbaal memperkenalkan diri. “Oh nak Iqbaal, saya ibunya SilvIa. Sedang ada keperluan apa dirumah sakit? “ tanya ibu Silvia penasaran. “Kebetulan Devano sakit bu, dirawat di kamar nomor sembilan tapi ternyata bukan malah masuk ke sini.“ jawab Iqbaal diiringi tawa renyah karena merasa malu telah salah masuk kamar orang. Ibunya Silvia menyuruh Iqbaal duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan, Iqbaal yang tadinya buru buru hendak menjenguk Devano berakhir dengan mampir dikamar Silvia. Mereka bertiga terlibat pembicaraan ringan, hingga akhirnya Agil adik Silvia datang bersama Rendy. Aura wajah Silvia seketika berubah, ada gurat emosi disana. Iqbaal yang merasa mulai canggung akhirnya pamit dari ruangan Silvia. Iqbaal melangkah keluar, sambil sesekali tersenyum tipis entah apa yang membuatnya bahagia namun ia merasa ada yang berbeda dari dirinya semenjak pertemuannya dengan Silvia waktu itu. Dan berlanjut membaca bait puisi dalam postingan i********: Silvia. Akan tiba saatnya orang yang paling kamu sayangi pergi bukan karena Tuhan tidak sayang tapi karena Tuhan ingin mempertemukan dengan makhluk ciptaanya yang tepat untukmu. Bait itu diunggah beberapa bulan lalu dengan foto Silvia yang sedang tersenyum menghadap kamera, pemandangan gung teh belakangnya membuat fose wanita itu tambah manis dimata Iqbaal. Tida lupa Iqbaal menyertakan likenya di foto tersebut. Fokus Iqbaal mulai terbagi, seharusnya ia sudah berada diruang rawat Devano, karena nomor kamar yang diberikan tadi tidak sesuai akhirnya Iqbaal menelpon ibunya kembali memastikan berapa nomor kamar rawat devano yang benar. Tidak mungkin ia harus salah masuk ruang rawat untuk kedua kalinya sungguh memalukan rasanya. Namun pengecualian untuk kesalahan yang tadi, ia merasa bersyukur bisa masuk kedalam ruangan Silvia. Kembali pada ruangan Silvia, wanita itu masih diam tidak berkata sedikit pun, Agil yang merasa bersalah karena membiarkan mantan kekasih kakaknya ikut dengannya. Sementara Rendy mencoba basa basi pada ibunya Silvia yang ditanggapi ramah seperti biasa oleh ibunya. “Maaf saya ke sini gak bawa apa apa tante, “ “Gak papa, lagian tante udah nyuruh Agil buat bawa semua keperluan Silvia." Agil, adiknya Silvia pura pura cuek dengan aura kebencian itu, ia menyibukan diri mengeluarkan semua barang yang dibawanya dari rumah. “Kok kamu bisa ikut Agil ke sini? “ tanya ibunya lagi “Tadi rendy gak sengaja sih ketemu Agil di lobi, terus nanya siapa yang sakit. Kata Agil Silvia sakit, yaudah Rendy sekalian ikut mau jengukin Silvia." Pria ini, benar benar membuat Silvia muak. Setelah semua kesalahannya dia datang kembali seolah tidak pernah terjadi apa apa. Dan bodohnya lagi pria itu kini mencoba bersikap baik pada Silvia, padahal tanpa sadar dialah yang membuat Silvia menderita seperti sekarang. Setengah jam ibunya Silvia harus berbasi basi dengan Rendy, meski pria itu sesekali mencoba melayangkan pertanyaan pada Silvia tetap saja jawabannya adalah diam. Dan berkahir dijawab kembali oleh sang ibu. Atau Agil yang sesekali mengiyakan atau hanya tersenyum sebagai jawaban. Hingga kemudian Rendy pamit, karena jam keluarnya sudah hampir habis. Pria itu harus kembali ke kantor untuk bekerja. Dan tapat didetik Rendy Resmi pergi dari hadapan Silvia, ia merasa oksigen kembali memenuhi ruangan setelah beberapa saat harus tertahan karena kehadiran Rendy. Dan semua u*****n kesal terlontar pada Agil, adiknya yang telah membiarkan Rendy ikut dengannya. “Agil gak enak nolaknya ka, bingung harus kek gimana. Yaudah Agil biarin dia ikut ke sini. Agil kira kakak bakalan seneng ditengokin bang Rendy. “ Alasan itu memang benar, karena Agil merasa tidak enak jika menolak Rendy ikut dengannya. Namun perkiraan Rendy salah besar karena nyatanya Silvia tidak berharap sama sekali perihal kedatangan Rendy. Belum juga Silvia mengeluarkan jawaban untuk Agil, ponselnya berbunyi menampilkan notifikasi instaram yang membuat Silvia tidak jadi mengumpat pada Agil. ❤❤ Terimakasih bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD