BAGIAN 5

1340 Words
Hari ini Iqbaal memutuskan untuk kembali mampir ke ruang rawat Silvia. Tentu saja dengan alasan ingin menjenguk. Satu keranjang buah sudah Iqbaal beli untuk sekedar mengurangi rasa malu saat bertemu wanita yang semalaman ini membuatnya berbunga bunga. Kesempatan libur satu minggu ini akan Iqbaal maxsimalkan untuk terus bertemu Silvia. Agar saat ia kembali turun bertugas lagi rasa ingin bertemu dengan wanita itu berkurang. Devano anaknya dijaga oleh pengasuhnya karena ibunya Iqbaal pulang ke rumah untuk beganti pakaian. Tubuh Devano sudah mulai membaik srjak kemarin sore dan itu membyat Iqbaal lega karena meninggalkan Devano dengan pengasuhnya sejak bayi. Lagi pula anak itu sedang tertidur pulas. “Aku keluar dulu bentar ya mba, titip Devano. “ “Iyah pa, “ “Nanti kalau Devano nyariin saya tinggal telphone! “ perintah Iqbaal Keluar dari ruang rawat Devano, Iqbaal berjalan lurus melewati beberapa ruang rawat kemudian berbelok ke kiri kemudian mengetuk pintu sebelum akhirnya memutuskan masuk kedalam. Ia mendapati Silvia sendirian, dengan posisi berbaring menghadap tepat ke arah pintu. Iqbaal tersenyum dan mengucapkan salam. Yang dijawab oleh Silvia dan dipersilhkan untuk duduk. “Gimana udah baikan? Ini saya bawain buah bu. “ “Udah agak mendingan sekarang, makasih pa ngerepotin pula. “ “Lagian jangan panggil saya bu, berasa tua saya. “ lanjut Silvia Iqbaal tersenyum kecanggungan masih terjadi diantara keduanya. “Eh kan ibu guru nya Devano masa saya panggil nama. “ balas Iqbaal “Panggil mama aja gak papa saya lebih enak dipanggil nama biar gak terlalu formal, oh iya istri bapa mana kok gak sekalian diajak mampir ke sini? “ tanya Silvia penasaran pasalnya ia tidak ingin dianggap kegatelan pada suami orang. Apalagi melihat perhatian Iqbaal padanya. Iqbaal tertawa renyah, ia tidak menjawab langsung pertanyaan Silvia. Tubuhnya bangkit dari kursi sofa yang didudukinya melangkah mendekati ranjang Silvia menarik satu kursi ke ujung ranjang kemudian mendudukan badannya disana. “ibu sama adek kamu kemana? “ tanya Iqbaal lebih duli, Silvia merasa tidak enak mengapa Iqbaal tidak menjawab pertanyaannya ia mulai takut jika Iqbaal akan bermacam macam pada dirinyw. “lagi makan diluar” Iqbaal menganguk, lalu menarik nafas panjang. Silvia melihat ada rasa tidak nyaman pada raut wajah Iqbaal. “Saya tidak punya istri. “ sontak jawaban itu membuat Silvia kaget, jadi pria yang berada saru ruangan dengannya adalah seorang duda? Iqbaal mmpu membaca kemana arah pikiran Silvia, wanita itu pasti akan mengira dirinya seorang duda beranak satu. Sebelum membuat Silvia makin penasaran Iqbaal Akhirny melanjutkan pembicaraan. “Devano bukan anak kandung saya.” Entah ada kepercayaan dari mana sehingga Iqbaal bisa sejujur ini pada Silvia. Wanita yang baru ditemuinya tiga kali tersebut. Lalu dengan mudahnya Iqbaal menjawab pertanyaan Silvia tanpa rasa takut dengan kejujurannya. Silvia dibuat kaget lagi dengan ucapan Iqbaal yang setengah setengah Jadi ada apa ini? Merasa tidak enak juga pada Iqbaal karena telah mengajukan pertanyaan seperti itu “Tapi saya mohon jangan bilang sama Devano kalau saya ini bukan ayahnya.” Pinta Iqbaal sedikit memohon yang terdengar tulus dihati Silvia. Eh, untuk apa sebenarnya Iqbaal memohon kepercayaan dari Silvia karena dirinya bukan siapa siapa Iqbaal. “Saya kira Devano anak kandung bapa. “ “Bukan, Devano itu anak kandung kakak saya yang sudah meninggal dunia. Sewaktu Devano masih berusia satu tahun ayah dan ibunya pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis mereka. Tapi takdir berkata lain saat pesawat yang dikendarai mereka jatuh dan bahkan sampai saat ini keberadaan mereka tidak diketahui. Entah mereka selamat atau tidak, tapi kami dari pihak keluarga mengambil keputusan buruknya jika mereka tidak selamat. Karena itu saya mengambil alih peran sebagai ayah untuk Devano. “ jelas Iqbaal panjang lebar pada Silvia. Pria itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu. Silvia mencoba bangkit dari posisi tidurnya, sebagai respon pada Iqbaal. Ia kemudian menyandarkan badanya pada ujung ranjang. Merasa iba dengan cerita yang Iqbaal katakan dan kenyataan bahwa Devano itu bukan anak Iqbaal cukup membuat Silvia terkejut sekaligus senang karena ternyata pria didepannya ini bukan berstatus suami orang. “Maaf pa. Saya jadi ngerasa gak enak udah nanya kaya gitu. “ “Gak papa kamu berhak tau, “ Perbincangan mereka terpotong karena ibunya Silvia dan Agil adiknya datang membuka pintu. “Eh ada pa Iqbaal.” Heran ibu Silvia, sejak kapan pria itu berada diruang rawat anaknya. “Iyah tante, tadi sengaja mampir ke sini.” Jawab Iqbaal yang dibalas anggukan dan senyum dari ibunya Silvia. “Agil kenalin ini wali murid kakak di sekolah, “ ucap Silvia saat merasa kalau adiknya belum berkenalan dengan pria ini. Agil dengan cepat menyodorkan tangannya pada Iqbaal, “Salam kenal bang. “ ucapnya. “salam kenal juga,” balas Iqbaal “Eh kamu masih sekolah? “ tanya Iqbaal kemudian pada Agil “Masih bang kelas dua belas sekarang,” “Mau lanjut kemana? “ “Maunya sih tes jadi tentara aja bang, “ Iqbaal tersenyum penuh harap. “saya tentara juga,” ucap Iqbaal, yang disambut antusias Agil sebenarnya dari perawakan badanbta Agil bisa menebak jika pria dihadapanya adalah seorang tentara “wah keren bang, kapan kapan bisalah bagi tipsnya. “ “Siap, asal ada imbalanya. “ ucapan Iqbaal sontak membuat satu ruangan tertawa, termasuk Silvia. Berada didekat Iqbaal membuat dirinya bisa melupakan segala macam masalah hidupnya. Ia merasa seperti dihidupkan kembali. Karena merasa sudah cukup lama berada diruangan Silvia akhirnya Iqbaal memutuskan untuk pamit kembali keruang rawat Devano. Selama berada diruangan Silvia Iqbaal berbincang banyak pada Agil memberikan sedikit motivasi pada adik Silvia jika ingin lolos menjadi tentara. Iqbaal juga merasa lega karena Silvia tidak perlu lagi cemas perihal statusnya. Meski Iqbaal tidak tahu apakah informasi itu berguna untuk Silvia atau tidak. Namun yang pasti Iqbaal berharap wanita itu juga memiliki keyakinan yang sama. Setiap orang pernah terjatuh pada jurang permasalahan, setiap orang juga pasti pernah hampir menyerah merasa gagal dan tidak berguna. Karena itu manusiawi, perasaan yang dibekali Tuhan pada makhluknya. Setiap orang yang bernyawa pasti merasakan ujian, terjerat masalah, merasa putus asa atau bahkan lebih parah dari itu. Setiap orang juga pernah merasa ditinggalkan, diabaikan dan dicampakan. Namun itu bukan sebuah alasan untuk berputus asa. Kamu boleh jatuh cinta, namun tempatkan cinta pada tangga yang seharusnya. Dimana kamu tidak boleh merasa yakin sepenuhnya bahwa dimasa depan cinta akan abadi. Yang semestinya adalah menempatkan cinta pada Tuhanmu lebih dahulu, dimana kamu akan merasa aman bahwa cinta pada makhluknya telah kamu pasrahkan pada pemiliknya. Membiarkan takdir yang membawa jalannya padamu. Karena semakin kamu mencintai makhluk-Nya dan mengabaikan penciptanya maka percayalah kekecewaan yang akan kamu dapatkan. Dan untuk kalian yang pernah berada disemua posisi di atas, percayalah kalian manusia pilihan yang telah terpilih untuk menjadi kuat lewat ujian itu. Semangat dan jadilah pribadi yang lebih baik setiap harinya. Post, akhirnya tulisan itu berhasil Silvia posting diakun instagramnya. Silvia memang aktif diakun i********:, mengisi postingannya dengan kata kata atau puisi karyanya. Entah bakat darimana ia menyukai menulis, dahulu waktu akan kuliah dirinya pernah berfikir untuk masuk kedalam jurusan bahasa Indonesia atau sastra. Namun entah ada keberanian dari mana dirinya bisa mengambil jurusan matematika. Pernah merasa putus asa ketika menghadapi materi yang rumit namun berkat keluarga dan teman temanya ia bisa semangat lagi, dan pada akhirnya ka menyakinkan dirinya bahwa dibalik setiap kesulitan ada kemudahan. Dan hal itu yang menjadikan dirinya bertahan dan lulus dalam study bidangnya. Meski menurut sebagian orang pelajaran matematika itu sulit dan memusingkan, tapi menurutnya orang itu salah. Karena jika dia bersungguh sungguh, kemudian belajar dengan teliti pasti hasil dari setiap persoalan itu akan ditemukan. Seperti halnya hidup, seperti dirinya dulu juga dan mungkin sekaranh masih. Sering merasa kesulitan dan putus asa ketika ditimpa masalag namun sebenarnya dia lupa bahwa Tuhan tidak akan memberikan masalah tanpa solusi, dan seperti itu juga soal matematika tidak akan ada soal jika tidak ada jawaban. Dan Tuhan selalu menyediakan solusi, ketika kita sudah berusaha dan berdoa. Meyakinkan diri bahwa masalah itu ada solusinya. Namun sebagian orang memang sering berputus asa seperti dirinya dahulu saat ditinggalkan Rendy merasa bodoh bahwa dunia seperti akan berkahir. Dan tidak ada solusi untuk kepergian Rendy. Padahal Silvia salah ia seharunya hanya tinggal berusaha melupakan, berdoa untuk kebaikan dirinya dan bertawakal untuk masalah yang dihadapinya. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD