BAGIAN ENAM
Berakhir sudah masa rawat inap Silvia, dirinya sudah diperbolehkan pulang.
Sampai dirumah rasanya benar benar seperti terbebas dari penjara. Tangannya seakan menemukan kembali kebebasan setelah hampir empat hari diinfus. Cukup sudah dirinya tidak mau kembali merasakan hal yang sama.
Mungkin besok atau lusa ia akan kembali mengajar seperti biasa, bosan berada dirumah terlalu lama. Tanpa melakukan aktivitas apa pun, rasanya tidak terbiasa banyak berdiam diri.
Silvia meraih ponselnya dari atas meja, membuka aplikasi i********: dan seperti biasa dia akan menulis sedikit caption pada postingannya kali ini.
Begitu baiknya Tuhan, kita mengeluh Dia mengulurkan tangan. Kita menjauh Dia masih menunggu. Kita berputus asa Dia terima. Lalu tanpa rasa malu kita bertaubat dan Dia memaafkan.
Send, dan berhasil terkirim psotingan baru diinstagramnya.
Beberapa detik kemudian akun @Rendy_S22 mengomentari postingan Silvia, padahal akun itu setahu Silvia dahulu sudah tidak aktif lagi. Dan sekarang dengan mudahnya muncul dihadapan Silvia.
@Rendy_S22 masih seperti dahulu selalu tersentuh dengan kata kata kamu.
Silvia hanya membaca saja tanpa ada niatan menanggapi komentar tidak tahu diri itu, ia sudah cukup menderita dan tidak ingin menambah beban apa pun dalam hidupnya.
Karena lembaran baru itu sudah ia mulai tanpa hambatan sebelumnya. Dan lagi akun itu masih membuatnya muak S itu berarti inisial namanya Silvia dan angka dua puluh dua adalah tanggal ulang tahunnya.
Masih dalam postingan yang sama, Iqbaal mengomentari unggahan Silvia beberapa waktu lalu, gadis cantik bernama Silvia benar benar telah memikat hatinya. Dalam beberapa kali pertemuan saja bisa dipastikan Iqbaal tenggelam dalam kekagumannya pada gadis cantik berambut hitam lurus itu.
@Merpati_Putih lalu dengan bodohnya aku mengagumi makhluk Tuhan yang satu ini.
Terdengar tidak nyambung sebuah komentar Iqbaal untuk postingan Silvia, namun ia berbangga diri karena berani mengungkapkan perasaannya walau dengan kata tersirat. Dan dengan nama akun palsu. Alih alih menyesal Iqbaal justrul berlari menghampiri sang ibu yang sedang duduk santai di ruang tamu.
Dengan gerakan cepat Iqbaal duduk disebalah ibunya, sambil tersenyum. Merasa ada yang aneh ibunya siap siaga memasang kuda kuda takut jika anaknya akan berbuat macam macam.
“Kenapa sih?” tanya ibunya lebih dulu
“enggak ada apa apa, orang cuman pengen duduk aja di sini. “ balas Iqbaal
“tumben mau deket deket,”
“kan besok Iqbaal tugas mah, bolehlah kumpul kumpul gini dulu. “
“Tugas lagi tugas lagi, kapan kamu nikahnya.” Celetuk ibunya Iqbaal,
faktanya memang benar anaknya itu libur seminggu tugasnya sewindu. Lama lama ibunya merasa takut jika anaknya tidak laku, padahal banyak gadis di Luar sana yang mencari pacar seorang tentara. Namun sampai saat ini anaknya masih jomblo.
“Pacaranmu sama s*****a terus, hiburanmu ya itu hidup di dalam hutan. “ tambah ibunya Iqbaal lagi.
“lah aku kan tugasnya menjaga kedaulatan NKRI, masa iyah tentara kerjaannya jalan jalan di mall, nongkrong di cafe kan gak lucu. Bagi tentara itu gak perang gak girang mah. “ bela Iqbaal pada ibunya.
“perang pikiranmu,”
“Yaudah sekarang Iqbaal mau minta nomor hp wali kelasnya Devano, “ ucap Iqbaal datar
“lah bu Silvia? Buat apa?” curiga ibunya Iqbaal untuk apa ia menanyakan nomor hp Silvia.
“Buat kenalan lah, “
“Kenalan gimana? “
“Ya kenalan mah, biasalah. “
“kamu jangan macem macem yah, so mau deketin gurunya Devano segala. Naksir kamu? “
“Dikit, hehe” jawab Iqbaal sambil tersenyum cengengesan.
“gurunya Devano itu baik lho, jangan sampai kamu Cuma main main nanti anakmu sendiri yang malu.”
Iqbaal menoleh tersenyum kemudian mengambil air minum diatas meja lalu meneguknya dengan sekali tegukan.
“Enggak akan mah, “ jawab Iqbaal kemudian setelag meneguk satu gelas air putih.
“Yaudah ambil ponsel mamahnya ,” Iqbaal tersneyun penuh kemenangan dirinya begitu girang sekali akhrinya ia bisa mendapatkan nomor Silvia.
^^^
Selepas salat zuhur Silvia duduk di kursi ruang tamu, sambil memakan potongan buah apel yang ia kupas terlebih dahulu.
Sesekali ia menoleh ke arah jam dinding memastikan bahwa jam itu masih berputar sesuai arahnya. Karena sering kali jam dinding itu mati tanpa sebab dan kemudian hiduo lagi, lalu pernah sekali ia harus terlambat pergi kuliah karena ulah jam dinding itu. Kemudian arah matanya berbelok menatap barisan bingkai foto yang tersusun rapi, menampakkan beberapa foto kenangan keluargana.
Ada potret dirinya bersama Agil yang masih bayi, dan tidak terasa sekarang anak itu sudah tumbuh besar melebihi dirinya.
Lalu ada potret sang ayah dan ibunya ketika masi muda, pantas saja ayahnya begitu tergila gila pada sang ibu karena kecantikan ibunya begitu natural.
Terpancar wajah manis alami dalam gurat wajahnya, bahkan kata ayahnya. Sang ayah rela berkelahi dengan orang lain hanya karena berebut untuk mengantar pulang sang ibu waktu itu.
Belum juga lamunan itu selesai Silvia tersentak dengan bunyi notifikasi dari ponselnya. Satu pesan w******p masuk
+628######## Assalamualaikum
Dengan cepat Silvia membuka pesan tersebut, pesan yang dikirim dengan orang tanpa nama. Jelas saja karena itu nomor baru dikontak whatsappnya. Namun foto profil dari kontak tersebut terasa tidak asing lagi dimatanya. Seorang pria berseragam loreng, tengah duduk gagah dan menatap ke arah kamera. Ya Silvia mengingat jelas itu adalah Iqbaal pria yang kini menyandang gelar sebagai wali dari muridnya sendiri.
Tanpa ragu Silvia membalas pesan tersebut, menjawab ucapan salam dari Iqbaal. Sedang disebrang sana Iqbaal tampak begitu girang saat mengetahui pesannya direspon oleh Silvia. Besok Iqbaal akan kembali bertugas dan lusa adalah jadwal keberangkatannya ke medan tugas. Berat dihatinya saat menyadari akan ada perpisahan dengan perempuan yang selama. Beberapa hari ini membuatnya berbunga bunga. Apalagi ditempat tugasnya nanti sinyal ponsel sulit dijangkau dan itu membuat Iqbaal ketakutan jika perempuan yang diincarnya itu direbut orang.
Jari Iqbaal mengetik lagi sebuah pesan, save ya aku Iqbaal. Send pesan itu terkirim dengan dibubuhi emot senyum manis. Silvia harusnya menjadi perempuan beruntung, karena ia adalah perempuan pertama yang singgah dihati Iqbaal. Karena selama ini Iqbaal tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Usahanya fokus untuk menjadi seorang prajurit tni benar benar gigih. Ia mengesampingkan masalah perasaan tidak ingin ada orang yang menghalangi langkahnya untuk menjadi seorang prajurit. Dan kini usaha itu berbuah manis langkahnya mulus, tanpa embel embel disemangati pasangan.
Silvia tersenyum saat menerima pesan dari Iqbaal lagi, padahal dahulu ia begitu menutup rapat dirinya kepada pria yang berusaha mendekatinya. Namun pada Iqbaal berbeda, entah ada gejolak apa hingga dirinya dengan mudah membuka diri dan beradaptasi dengan iqbaal.
Satu jam berlalu, waktu yang cukup lama untuk sekedar menanggapi pesan. Dua insan itu kini tengah diselimuti kebahagiaan seolah keduanya saling menemukan setelah kehilangan. Padahal chat mereka rasanya tidak penting ketika dibaca oleh orang yang tidak merasakan kebahagiaan mereka.
Jika saja adzan tidak berkumandang mungkin keduanya akan larut dalam pendekatan. Iqbaal lebih dahulu pamit karena akan menunaikan salat di masjid. Ia berkata jika nanti selepas salat akan menghubungi lagi Silvia.
Benar saja selepas salat Iqbaal kembali menghubungi Silvia namun kali ini bukan basa basi. Ia meminta alamat rumah Silvia.
Silvia tidak langsung membalas pertanyaan Iqbaal, ia lebih dahulu bertanya pada ibunya. Apakah boleh jika ia mengatakan alamat rumahnya pada Iqbaal. Pertanyaan itu disambut tawa oleh ibunya Silvia.
“Bolehlah,” ucap ibunya Silvia sambil tertawa. Ia sudah menduga sejak kemarin dirumah sakit bahwa Iqbaal memang menaruh hati pada putrinya. Sesuatu yang membuat ibunya Silvia lega karena akhirnya ada pria yang mendekati anaknya dan juga mendapat respon baik dari Silvia.
Pasalnya usia Silvia kini telah matang untuk memasuki jenjang pernikahan, ia takut jika anaknya tidak ingin menikah karena luka dimasa lalu.
Dan sekarang ketakutan itu berlahan memudar saat mendapati Silvia bisa dekat lagi dengan seorang pria.
Harapannya sebagai seorang ibu tentu yang terbaik untuk anaknya meski resiko menjadi seorang istri prajurit itu berat. Namun kembali lagi semua adalah skenario Tuhan.
Tepat pukul delapan kurang sepuluh menit bel diruamh Silvia berbunyi, kedatangan tamu yang begitu diharapkan Silvia. Meski pada akhrinya kecewa yang ia dapatkan, bukan Iqbaal yang berdiri diambang pintu melainkan sosok lain.
Bersambung.