BAGIAN TUJUH KEPERGIAN IQBAAL

1227 Words
Rizki lebih tepatnya pa Rizki teman kantor Silvia yang datang malam ini. Rizki memang sudah berniat untuk datang menjenguk Silvia saat perempuan itu kembali dari rumah sakit. Silvia memang kagum pada sosok Rizki sebagai guru yang tampan dan mapan. Namun kali ini kedatangan Rizki tidak diharapkan oleh Silvia karena nyatanya ia menunggu seseorang yang lain untuk datang kerumahnya. “Pak Rizki masuk pak! “ Silvia berusaha menyembunyikan raut wajah kecewanya, bagaimana pun Rizki sudah berniat datang untuk menjenguknya. “Iyah makasih bu.” Rizki masuk kedalam dan dipersilahkan duduk diruang tamu oleh Silvia, kemudian Silvia berpamitan sebentar untuk mengambil air minum. Lebih tepatnya untuk mengajak ibunya supaya menemani dirinya diruang tamu. Takut jika Iqbaal tiba tiba datang dan mendapati dirinya tengah bersama seorang pria. Silvia menyangka kalau Iqbaal akan datang kerumahnya setelah tadi menanyakan alamat, namun rupanya pria itu tidak datang sama sekali. Setelah satu jam kehadiran pa Rizki saja dan jam sudah menunjukan pukul sembilan malam Iqbaal belum juga menampakkan diri. Silvia mungkin begitu berharap Iqbaal yang datang malam ini, menjenguknya kembali dan bertukar lagi cerita. Mengapa Silvia bisa begitu mengharapkan Iqbaal padahal ia bukan orang penting dalam hidup iqbaal jadi wajar saja jika Iqbaal tidak akan datang. Ibunya Silvia terlibat pembicaraan ringan dengan rekan kerja Silvia, Pa Rizki. Pria yang sempat Silvia kagumi setiap pagi ketika datang kesekolah. Tutur katanya yang sopan juga membuat siapa saja akan nyaman berbicara dengannya dan Silvia salah satunya. Namun, seketika kekaguman itu hilang saat Iqbaal datang ke dalam hidupnya. Membawa warna baru yang membuat paginya terasa ringan, siangnya terasa cepat, dan malamnya penuh dengan pengharapan. Harapan tentang hari esok untuk tetap bernafas dan melihat sosok itu kembali. Malam yang semakin larut, dan Iqbaal tidak sama sekali datang. Pesan yang dikirim Silvia tidak juga menampakkan centang dua biru. Artinya pesannya belum dibaca olegh Iqbaal. Hal itu membuat Silvia gelisah, harapan tentang kedatangan Iqbaal justrul berbuah kekecewaan. Seharusnya dari awal ia tidak berharap pada pria itu. Silvia enggan memikirkan Iqbaal ia merebahkan badannya diatas kasur menyelimuti badannya dengan bad cover pink kesayangannya. Satu menit, dua menit matanya terpejam. Namun rasa kantuk itu tidak juga menghampiri dirinya. Silvia tidak kehilangan akak ia membalikan tubuhnya kearah kiri, lalu memejamkan kembali lagi matanya yang kehilangan rasa kantuk. Padahal dari tadi rasa kantuk itu begitu menyerangnya sampai ia malu pada pa Rizki. Hingga pria itu memutuskan untuk pulang mungkin karena ulah Silvia yang terus terusan menguap. Silvia merogoh ponsel dari nakas didekatnya membuka layar kunci dan mencari daftar musik disana. Mencari lagu yang mungkin pas dengan suasana hatinya saat ini. Ia butuh kedamaian untuk menenangkan malamnya. Lebih tepatnya untuk menghilangkan rasa galaunya. Beberapa lagu sudah ia putar acak dan tidak juga menemukan lagu yang pas ditelinganya. Matanya malah semakin fresh dan jernih. Mata Silvia melirik buku diary berwarna pink berpolet putih dan bercorak bintang. Buku kesayanganya semenjak dahulu, begitu banyak coretannya didalamnya dan kenangan yang tetulis didalamnya begitu rapi. Silvia senang dengan tulisannya meski kenangan yang ia tulis itu sebagian besar adalah kenangan kelamnya dahulu. Pulpen cair bergambar beruang pink telah menari cantik ditangannya malam ini ia ingin menggorekan sedikit puisi singkat dan kegundahannya terhadap Iqbaal pria yang tidak jadi mengunjunhinya malam ini. ^^^ Selepas salat isya Iqbaal diharuskan berkumpul dengan teman temannya yang akan menjadi rekannya besok bertugas. Malam yang membosankan bagi Iqbaal, padahal tidak biasanya Iqbaal merasa malas untuk sekedar berkumpul dengan temannya. Pikirannya begitu terfokus pada Silvia, ia yakin wanita itu pasti berharap kedatangannya. Ia bahkan tidak sempat mengabari Silvia karena ponselnya lowbat. Iqbaal berharap pertemuan ini cepat usai. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan komandan batalyon belum juga mengakhiri pertemuannya. Secangkir kopi yang dipesan Iqbaal bahkan hanya ditenguk sekali saja, tak ada niatan untuk kembali meminumnya bahkan kini secangkir kopi itu sudah dingin tersaji dengan satu piring roti bakar yang juga belum dilahapnya. Padahal dari tadi Iqbaal belum makan, namun benar saja kata orang cinta memang membuat semuanya buta. Dan kini Iqbaal memang merasakannya rasa laparnya hilang, dan pikirannya hanya terfokus pada satu wanita. “Yah, sepertinya pertemuan malam ini harus saya akhiri. Saya mau istirahat dulu.” Usai ucapan itu terlontar dari mulut komandan Iqbaal membuatnya begitu lega dan bersemangat. Sebentar lagi ia bisa pulang dan mengabari Silvia jika dirinya baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan rekannya. “Siap komandan. “ balas semuanya serentak “Ndan, saya nebeng pulang ya? “ “motormu mana? “ tanya Iqbaal pada Alvin, rekan seperjuangannya. Suka duka yang telah dilewati begitu nyata terasa bersama Alvin. Dan bersyukur sekali jika kini ia selalu ditempatkan bersamaan dan berbarengan dengan Alvin. Karena ketika ia down Alvin akan selalu menyemangatinya dan membuatnya kembali bangkit. “Ada dirumah dipake istri.” Balas Alvin, ia memang sudah memiliki istri dan juga seorang anak perempuan yang baru berusia tiga bulan. “Suami takut istri. Hahah. “ tawa Iqbaal meledek Alvin “Ndan, saya duluan bro. “ Rico pamit pada Iqbaal dan Alvin yang masih setia berbincang. “Siap, kami juga mau cabut ini. “ “Yoi, bro hati hati. “ Iqbaal bersiap pulang, ia mengenakan jaket dan juga helmnya kemudian mulai beranjak untuk pulang. Iqbaal pulang ditemani Alvin, awalnya ia akan berbelok arah menuju rumah Silvia namun ketika dipikir kembali tidak mungkin baginya bertamu selarut malam ini. Tidak sopan dan bisa saja wanita itu telah tidur. Selepas mengantarkan Alvin kerumahnya, Iqbaal dengan cepat memacu motornya untuk pulang kerumah. Untung saja semua barang telah ia siapkan dan malam ini ia hanya tinggal beristihat. Jalanan begitu sepi, efek ditiadakannya kerumunan karena virus corona benar benar terasa. Merski ada beberapa warung dan perkumpulan yang masih berkerumun tanpa menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan. Tepat pukul sebelas lebih lima menit Iqbaal sampai dirumahnya, ia memarkirkan motornya digarasi. Berlari cepat untuk membuka pintu, dan masuk kedalam kamar. Semua orang dirumahnya mungkin sudah tertidur kecuali pembantunya karena pintu depan belum dikunci. Iqbaal membuka pintu kamarnya dan dengan sigap mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk dicharger. Bisa bisanya ponselnya lowbat saat dibutuhkan Dilain tempat Silvia sudah merebahkan dirinya kembali, setelah menulis beberapa bait kata rasa kantuk itu mulai sedikit menyerangnya. Dan baru saja ia akan memejamkan mata ponselnya berbunyi menampilkan satu notifikasi pesan yang terbaca tanpa harus ia buka. Maaf ya aku baru selesai kumpulan dari tadi ponselku lowbat. Satu pesan dari Iqbaal, dengan dibubui emotican sedih yang membuat Silvia lega, setidaknya pria itu baik baik saja. Silvia tidak berniat membalas pesan Iqbaal, biar saja pria itu merasakan apa yang dia rasakan dari tadi menunggu sebuah jawaban. Iqbaal menunggu cukup lama pesan dari Silvia namun tak kunjung ada balasan, besok pagi ia harus bersiap untuk berangkat dan malam ini ia harus istirahat yang cukup. Pukul lima pagi, pintu rumah Silvia diketuk. Bertepatan dengan Silvia yang baru saka keluar dari dapur mengambil ari minum. Merasa masih terlalu pagi Silvia tidak langsung membuka pintu, ia lebih dahulu mengintip dibalik tirai jendela. Pria yang berseragam tni lengkap berdiri diluar sana, langit masih gelap namun cahaya lampu yang terang mampu membuat Silvia yakin siapa yang datang diluar sana. Dengan cepat Silvia membuka pintu. “Assalamualaikum.” Ucap Iqbaal “Wa’alaikumsalam, pagi banget kamu ke sini?” “Ayok duduk. “ tambah Silvia lagi sambil mengajak Iqbaal duduk dikursi depan. “Iya aku mau langsung aja ke intinya. “ ucapan Iqbaal membuat Silvia bergetar ada apa dengan Iqbaal datang sepagi ini dan tiba tiba bicara seperti itu. “Kenapa bal? “ tanya Silvia berusaha tenang “Aku mau pergi.” Deg Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD