BAGIAN DELAPAN

1183 Words
“kenapa Bal? “ tanya Silvia berusaha menenangkan dirinya. “Aku mau pergi.” Deg ucapan Iqbaal membuat memori kelam beberapa tahun silam kembali memutar dikepalanya. Ucapan yang Iqbaal lontarkan sama persis dengan ucapan Rendy dahulu. Hal itu sontak membuat Silvia tidak berkutik, ia diam tidak mampu lagi wajahnya menyembunyikan kekecewaan. Sadar dengan perubahan raut wajah Silvia Iqbaal dengan cepat menambahi ucapannya, “aku mau pergi tugas. “ tambah Iqbaal lagi. Silvia tersadar bahwa pria di depannya ini adalah seorang prajurit TNI yang bisa kapan saja lenyap dari hadapannya. “Kemana? “ “Pedalaman.” “Berapa lama?” tanya Silvia lagi, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan mimpi. “Tiga bulan, “ jawab Iqbaal mantap. Tiga bulan, kata yang terdengar ringan ditelinga Silvia namun berat diterima oleh hatinya. “Tiga bulan? “ ulang kembali Silvia. “Iyah, tiga bulan.” Jawab Iqbaal meyakinkan Hanya helaan nafas panjang yang Iqbaal dengar karena wanita di depannya ini sama sekali tidak merespon lagi ucapannya. “Iyah, selama itu mungkin aku selalu berharap bahwa kamu mau menunggu aku balik lagi. “ ucap Iqbaal sambil menghela nafas. “Dan semoga kamu juga mau berbaik hati memberikan dukungan dan doa buat aku.” Tambah Iqbaal. Silvia tidak paham dengan ucapan Iqbaal apa maksud pria itu jika dirinya harus nenunggu kepulangannya sedangkan mereka saja tidak memiliki ikatan atau hubungan apa pun. “Aku pasti doain kamu yang terbaik,” “Kamu belum jawab pertanyaan aku.” “pertanyaan yang mana? “ “Pertanyaan bahwa kamu mau nunggu aku pulang. “ “kenapa nanyain itu ke aku? “ “Aku mohon Vi, waktu ku gak banyak. Tolong jawab aja, “ Mohon Iqbaal matanya terus melirik ke arag jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Silvia tidak menafik bahwa ia juga menginginkan Iqbaal kembali, dan menemui dirinya lagi meski waktu tiga bulan itu bukan bilangan yang sedikit. “Ayo Vi, bentar lagi aku harus kumpul. “ ucap Iqbaal lagi, wajahnya terlihat memelas namun Silvia seolah menangkap permintaan tulus yang tergambar diwajah Iqbaal. Pria yang sudah rapi dengab pakaian dinasnya itu. Akhirnya Silvia menghela nafas panjang dan menganggukan kepala, “Iya aku pasti nunggu kamu pulang lagi ke sini. “ ucap Silvia “Namun dengan syarat, tanpa kurang suat apa pun. Dan kamu harus selalu berjuang untuk bisa selamat agar bisa pulang lagi ke sini. “ tambah Silvia, sinyal perhatian sudah ia tunjukan pada Iqbaal. Seketika itu Iqbaal merasa lega, akhirnya wanitanya itu mau menunggu kepulangaanya. Rasa bahagia menyeruak dalam hatinya. Rasa yang baru pertama kali ia rasakan, dan itu ia dapatkan dari Silvia wanita yang baru dikenalnya beberapa harj lalu. “Makasih Vi, kamu jaga diri baik baik. “ Iqbaal kikuk sendiri pasalnya ia tidak pernah memberikan perhatian pada seorang perempuan kecuali ibunya. Iqbaal merogoh bungkusan berwarna putih dan menyerahkannya pada Silvia. “ini sebagai hadiah atas kesembuhan kamu. “ ucap Iqbaal. Silvia tersenyum, “makasih Bal, jadi ngerepotin kamu. Harusnya aku yang kasih hadiah karena kamu yang mau berangkat.” Baru saja akan menjawab ucapan Silvia. Alarm di ponsel berdering pengingat waktu sudah habis. Dengan cepat Iqbaal berdiri dan mematikan alarm kemudian mengehela nafas kasar. “aku harus pergi sekarang, salam sama semuanya.” Pamit Iqbaal cepat Silvia paham Iqbaal tidak boleh terlambat meski masih banyak kata yang ingin Silvia ucapkan akhirnya ia hanya bisa mengiyakan ucapan Iqbaal. “Iyah, hati hati. “ setelah perkataan itu Iqbaal tersenyum mengangguk dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Badan tegapnya membuat Silvia ragu sekaligus takut jika nanti ia tidak akan kembali. Namun dengan cepat ia menepis pikiran buruk itu seharusnya ia memberikan pikiran positif untuk dirinya. “Iqbaal, bye” teriak Silvia sambil melambaikan tangan pada sosok Iqbaal yang sudah diambang pintu mobil dan bersiap untuk masuk kedalamnya. Iqbaal tersenyum melihat wajah Silvia yang juga tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Bagaimana mungkin wanita itu terlihat begitu cantik dengan rambut lulus yang diikat asal dan baju tidur yang masih melakat ditubuhnya tanpa ada polesan make up. Iqbaal mebalas lambaian tangan Silvia dan dengan cepat membalikan badan membuk pintu mobil dan masuk kedalamnya. Mobil berwarna putih yang dikenadarai Iqbaal sudah hilang dari pandangan Silvia. Bagaimana mungkin pria itu rela datang kerumahnya pagi buta seperti ini hanya untuk berpamitan pada dirinya. Lupakan persolaan itu Silvia masuk kembali kedalam rumahnya sambil menjingjing bingkisan dari Iqbaal. Ibunya Silvia yang sedang duduk diruang tamu merasa heran darimana datangnya Silvia. “Habis dari mana ka?” tanya ibunya Silvia penasaran apalagi anaknya datang dari luar dan membawa sebuah bingkisan. “Dari luar,” jawab Silvia sambil mendekat ke arah ibunya kemudian duduk di kursi sebrang . Tangannya meraih segelas air putih yang tadi ia letakan dimeja dan meneguknya hingga habis. “Ngapain dari luar? “ tanya ibunya lagi. “Barusan ada Iqbaal. “ jawab Silvia jujur “Kok sepagi ini, Iqbaalnya mana? “ “Udah pulang lagi, hari ini dia mau berangkat tugas jadi barusan pamit sama aku. “ jelas Silvia pada ibunya. “Tugas apa? “ ibunya Silvia bertanya lagi, kini ia sengaja menghadap fokus ke arah Silvia penasaran dengan jawaban anaknya itu. “Ya tugas tentaralah, mamah gimana sih kan Iqbaal tentara. “ jawab Silvia memang benar tugas tentarakan meski Silvia tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Iqbaal disana nanti, berperangkah, latihankah, atau mungkin liburan dihutan sana. “Ya tugas tentara kan banyak. “ seketika raut wajah ibunya Silvia berubah. Jawaban yang dilontarkan Silvia rupanya tidak sesuai dengan ekspektasinya. “aku juga gak tau orang dia gak bilang tugasnya ngapain aja. “ “Tentara itu punya banyak rahasia yah. “ ucap ibunya Silvia sambil bergidig seolah olah Perkatanyaan itu horor. “terus itu apa? “ tanya ibunya Silvia merasa penasaran dengan isi bingkisan yang dipegang Silvia. “gak tau ini dari Iqbaal. “ “Cie, dapet hadiah dari gebetan. “ “Apa sih mah, udah ya aku ke kamar dulu. “ tutup Silvia, ibunya memang sering menggodanya jika ada teman pria yang dekat dengannyan namun kembali lagi nasib pria yang mendekatinya selalu tragis karena gagal mendapatkan hatinya. Silvia dengan cepat berjalan menuju arah tangga, sedangkan ibunya masih tersenyum memperhatikan kelakuan pitri satu satunya itu. Bayangan Silvia kecil melintas dikepala ibunya, anak kecil cantik dan mungil yang manja itu kini menjelma menjadi gadis cantik yang tangguh. Meski pernah terjatuh namun anaknya itu mau bangkit dan berusaha mendapatkan kembali hari harinya yang hilang. Ia selalu meyakinkan Silvia bahwa dunia ini tidak berakhir hanya karena kepergian seorang pria yang kita cintai. Memang berat bagi ibunya Silvia untuk membesarkan dua anak tanpa seorang ayah namun ia mampu membuktikan bahwa ia bisa. Dan bersyukur sekali ketika Silvia dan Agil tumbuh menjadi anak yang baik. Berlanjut pada Iqbaal, pria itu sudah sampai ditempat pemberangkatan. Tas ransel besar sudah bertengger rapi dipunggungnya. Keberangkatannya kali ini akan menggunakan pesawat terbang sekitar lima jam perjalanan. Lain dari tugas yang biasanya, kali inj ada rasa berat untuk berangkat bertugas. Ada rasa tidak ikhlas yang mengganjal hatinya. Padahal dia selalu bersemangat untuk menjalankan misi dan diturunkan bertugas. Mungkin efek seseorang yang kini menghantui pikirannya. Bersambung... satu love dari kalian itu sangat berharga untuk saya. dan sekali lagi semoga kita semya tetap diberikan keselamatan dan kesehatan. salam sayang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD