BAGIAN SEMBILAN
Biarlah semua skenario ini berjalan di atas takdirnya, sebagai lakon kita hanya mampu menjalani semuanya dengan ikhlas. Karena tak ada gunanya juga berkeluh kesah meratapi takdir sedang kita tidak pernah tahu jika dibalik itu selalu tersimpan sebuah hikmah....
^^
Silvia masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia duduk di kasur tangannya masih menggenggam sebuah bingkisan dari Iqbaal tadi. Wanita itu tidak berhenti tersenyum rupanya, mungkin ada perasaan bahagia yang kini menelusup ke dalam hatinya. Sebuah kebahagiaan yang hampir tidak pernah ia dapatkan setelah kepergian Rendy. Dan kini ada pelangi baru yang mengganti kepergian pelanginya dahulu.
Iqbaal pria itu rupanya tidak perlu bersusah payah mendapatkan hati Silvia, karena sepertinya hati Silvia mampu luluh begitu saja. Silvia seolah lupa dengan rasa sakit yang diberikan Rendy, namun dirinya juga merasa heran bagaimana ia bisa membuka hatinya kembali dengan begitu mudah sedangkan Iqbaal adalah pria yang baru ditemuinya belum lama ini.
Bingkisan dari Iqbaal sudah Silvia buka, isinya sebuah buku diary berwarna pink lengkap dengan sticker tempel dan pulpen beruang. Merasa heran bagaimana Iqbaal bisa mengetahui jika Silvia menyukai pulpen beruang atau semuanya hanya kebetulan saja.
Buku diary itu masih kosong rupanya, tak ada catatan atau tulisan apa pun yang tergores di sana. Namun ada secarik kertas yang terlipat rapi terselip dihalaman pertama buku diary itu. Silvia mengambilnya meniliknya secara berlahan kemudian membuka lipatan itu dengan hati hati.
Aku Iqbaal, namaku Iqbaal. Salam kenal ya Silvia. Baru saja dua kalimat yang Silvia baca sudah cukup membuatnya terkekeh. Bagaimana mungkin pria itu kembali memperkenalkan dirinya, sedangkan mereka sudah saling mengenal. Tanpa harus berkenalan lagi pun Silvia tahu bahwa itu Iqbaal.
Aku adalah seorang prajurit tni angkatan darat, bertugas menjaga kuutuhan daratan Indonesia. Namun, aku rasa sekarang aku mendapatkan tugas baru yang jauh lebih berat dari tugas lainnya. Tugas ini harus benar benar aku emban dan aku laksanakan dengan sebaik bajknya. Kamu mau tau gak tugasnya itu apa?
Lagi lagi Iqbaal membuat Silvia tertawa, sambil tersenyum Silvia bangkit dan mengambil kursi lalu membawanya tepat ke arah jendela. Ia ingin membaca tulisan itu sambil melihat pemandangan pagi yang terlihat cerah dengan sedikit angin sepoi yang segar.
Tugas aku tambahan aku sekarang adalah jagain salah satu rakyat Indonesia, namanya Silvia kalau kamu kenal bilangin yah aku akan jagain dia dari musuh musuhnya. Hehe bercanda.
Pipi Silvia menghangat tiba tiba saja bibirnya tertarik lagi, membentuk sebuah senyuman. Bukan lagi kekehan seperti tadi.
Tapi dengan satuan tugasku yang selalu sejauh aku berharap kamu mau sabar nunggu aku pulang. Dan selalu berdoa agar tidak ada bendera yang dikibarkan setengah tiang. Karena sekarang aku takut itu terjadi.
Bendera setengah tiang, ya Silvia tahu itu pernghormatan jika adapasukan yang gugur dimedan perang.
Namun aku harap aku selalu bisa kembali, menjelma setiap pagi menjadi pelangi. Agar ketika kamu terbangun yang kamu dapati adalah keindahan. Dan aku tidak berharap menjelma menjadi senja yang meninggalkan mu saat gelap malam.
Pelangi pagi kata yang terdengar unik, Silvia suka pelangi dan setiap hadirnya selalu ia kagumi. Matanya menatap langit pagi seolah membayangkan di sana terlukis sebuah pelangi. Terbentang indah dan cantik.
Dan sekarang izinkan pelangi pagi ini pergi bertugas terlebih dahulu karena ibu pertiwi sudah memanggil. Aku akan kembali dengan selamat, dan berusaha untuk tidak terluka. Dan buat kamu jaga diri baik baik, tetap jalani hari dengan semangat. Tiga bulan ini akan cepat berlalu.
Mantap sekali rasanya membaca kata tiga bulan yang Iqbaal tulis, pria itu lupa jika tiga bulan bukanlah hitungan jari. Ada sembilan puluh hari yang harus dilewati dan itu bukan waktu yang singkat. Belum lagi pikiran buruk yang mungkin nanti akan menghantuinya. Pantas saja mental seorang istri prajurit itu harus tangguh, Mengiklaskan kepergian suaminya untuk bertugas.
Rasa takut dan ragu muncul dibenak Silvia apakah ia sanggup menerima Iqbaal, jika sewaktu waktu ia pergi dan mungkin tidak akan kembali. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Pintu kamar Silvia diketuk, sudah pasti itu adalah ibunya yang menyuruhnya untuk sarapan dan minum obat. Lelah rasanya memakan menu makan yang sehat ia merindukan jajanan favoritnya seblak. Rasa makanan itu terasa sangat menyiksa karena untuk beberapa hari ini ia akan libur dahulu untuk tidak mencicipi makanan itu.
“Ka ayo makan dulu, “ teriak ibunya dari luar pintu
“Iyah mah,” jawab Silvia sambil bangkit dari duduknya menaruh surat dari Iqbaal dan kemudian berjalan ke arah pintu.
Saat Silvia masuk ke arah dapur menuju meja makan ia mendapati Agil dan ibunya yang sudah bersiap untuk sarapan. Silvia mengambil tempat duduk tepat di depan Agil. Adiknya yang kini sudah sangat rapi dengan pakaian casualnya.
“Tumben hari minggu udah rapi, mau kemana? “ selidik Silvia, pasalnya hari minggu adiknya itu akan bersantai ria sampai siang dan hanya akan mandi di sore hari kecuali jika ia akan pergi keluar saja.
“Liburan donk, mau ikut gak? “
“ikut gimana kaka kamu baru aja sembuh, “ pungkas ibunya.
Silvia sudah yakin bahwa ibunya akan berdalih demikian, “Kemana emang liburannya? “ tanya Silvia lagi karena Agil belum juga menjawab kemana ia akan pergi.
“Lembang,” jawab Agil sambil memasukan sesendok nasi kedalam mulutnya.
“Wish, keren beliin bolunya nanti ya .” pinta Silvia pada Agil, lebih tepatnya perintah mungkin.
“Oke kalau nemu, “ jawab Agil santai, masih dengan suasana menikmati sarapan paginya.
“Dikira ada orang yang buang, yah beli lah masa nemu. “
“Ish udah udah, Agil beliin yah kasian kaka kamu. “
“Iya iya, cerewet banget sih ka.” Tuduh Agil pada Silvia karena sang ibu lebih membela kakak perempuannya.
Selalu seperti itu kehangatan yang tercipta di dalam keluarga Silvia, apalagi mungkin jika ayahnya masih ada suasana meja makan akan lebih hangat lagi. Namun, meskipun demikian Silvia bersyukur karena ia masih memiliki seorang ibu yang berjuang untuknya tidak mengenal lelah dan selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya dan Agil adiknya.
“Oh iyah ka, yang kemarin bang Iqbaal itu lumayan ganteng ya. Meskipun gantengan aku sih, “ Agil kembali memulai topik pembicaraan.
“Iyahlah gantengan dia malahan, kamu mah jelek. “ balas Silvia simple
“kalau aku jelek, berarti kakakku juga jelek ya kan. “ Ucap Agil tidak mau kalah dari ledekan sang kaka.
“mana ada, aku cantik gini heh. “
“cantik sih kalau diliat dari atas monas pake sedotan teh gelas. “ tawa Agil seketika pecah membayangkan amarah kakaknya.
“Biarim yang penting laku, tuh buktinya anggota tni aja deketin kaka. “ balas Silvia mencoba tenang, jangan sampai dipagi hari ini tensi darahnya naik hanya karena ledekan adiknya.
Belum sempat Agil membalas lagi ucalan kakaknya Karen ponselnya berbunyi menampilkan satu pesan chat w******p.
Aku udah siap. Pesan itu terbaca oleh Agil tanpa harus mambuka layar kunci dengan cepat Agil meneguk segelas air putih di depannya kemudian bangkit dari duduknya.
“Aku berangkat ya mah, ka.” Pamit Agil pada Silvia dan ibunya sambil menyalami keduanya.
“oh iyah aku pake mobil kamu ya ka, “ Silvia membelalakan mata,
“lah kamu kan juga punya, “
“sekali kali yah, oke, nanti jaminannya bolu khas lembang, udah yah bye Asalamualaikum.” Pungkas Agil sambil berlari meninggalkan Silvia dan ibunya.
“Walaikumsalam” jawab Silvia dan ibunya serentak, ia tidak dapat menghentikan kepergian Agil.
“Dasar aneh. “ runtuk Silvia
“udahlah biarin aja, sekali kali mungkin dia mau nyobain nyetir mobil kamu. “ bela ibunya.
Bersambung....