BAGIAN SEBELAS

1049 Words
BAGIAN SEBELAS Suasana hutan begitu terasa mencekam, pohon pohon hijau menjulang tinggi suara burung beradu dengan hembusan angin. Belum lagi binatang binatang yang merayap pada tubuh, gemercik air menjadi irama saat beradu dengan suara daun bambu yang tertiup angin. Suasana hutan begitu nampak terasa saat terdengar suara mengaum milik sang raja hutan. Bulu kunduk mungkin akan berdiri dan telinga seketika menjadi jeli. Namun, semua itu adalah hal yang biasa bagi seorang prajurit. Menjelajah hutan berkemah disana dan bahkan berperang pun bisa saja terjadi disana. Sudah seperti jalan jalan saja bagi mereka, karena itu adalah kewajiban dan mereka didik bukan menjadi anak manja namun menjadi seorang kesatria. Pedalaman hutan yang Iqbaal jaga kali ini adalah daerah yang sering dipakai oleh penyusup sebagai jalan pintas. Menyelundup masuk ke dalam hutan untuk mengecoh dan menggoyahkan kedaulatan negara. Hari semakin petang saat Iqbaal dan rekannya memutuskan untuk mendirikan kemah disana, lokasinya dekat dengan aliran sungai. Memudahkan mereka untuk mengambil air dan kebutuhan lainnya. Sesekali candaan dan guyonan terdengar di sana, mereka bukan prajurit yang kaku dengan kawan mereka adalah manusia biasa yang butuh cara untuk menghilangkan kegelisahan. Wajar saja pasti di setiap benak mereka ketakutan itu akan selalu timbul. Apalagi kepergian mereka diantarkan oleh orang orang tercinta, mengharap kepulangannya dengan selamat. Menjadi seorang prajurit itu bukan hanya sekedar gaya atau mencari pekerjaan terhormat saja. Mencari pangkat dan juga seragam yang gagah namun ini soal hati panggilan dari hati nurani untuk menjaga kedaulatan negeri meski pada akhirnya akan ada yang berkorban untuk ibu Pertiwi. Seperti halnya Iqbaal memutuskan untuk menjadi seorang tentara adalah pilihan yang sulit, awalnya ia sama sekali tidak berminat semasa duduk di sekolah menengah atas Iqbaal lebih suka mengikuti bidang sains daripada fokus bela diri. Namun, kala itu ia mencoba iseng mendaftar dan akhirnya diterima dengan mengikuti berbagai tes yang di adakan. Dari sanalah terbentuk pribadi kesatria dalam dirinya dan itu mendarah daging hingga membuatnya mau berkorban nyawa sekali pun. Satu regu Iqbaal dipimpin oleh kapten tim, dan itu adalah Kapten Yogi. Pria gagah itu kini harus bertugas ke pedalaman dengan meninggalkan seorang istri yang sedang hamil besar. Dan beberapa kali kemarin setahu Iqbaal istrinya sudah mengalami kontraksi palsu. Pilu mungkin dalam hatinya namun apa daya ibu pertiwi sudah memanggil kedatangannya. “Tenda sudah siap ndan.” “Siap, ayo kita bagi jadwal piket malam ini. “ “Siap ndan laksanakan. “ Kapten Yogi duduk dengan beralas daun kering diikuti para prajuritnya yang juga duduk berbanjar rapi. Sepuluh tenda dengan seratus orang prajurit sudah lengkap. “Siap, kali ini kita bertugas dengan seratus orang personel. Masing masing akan mendapat giliran piket dan jadwal memasak.” Ucap Kapten Yogi “Siappp. “ jawab mereka serentak “seratus orang personel ini harus pulang dengan utuh, tidak mengurangi angka namun harus menambah angka. “ tambah Kapten Yogi lagi. Menambah angka artinya membawa tawanan musuh yang mungkin akan menyerang, anggota mereka harus tetap menang dan mempertahankan jumlah personel bagaimana pun caranya. “Siappp. “ Kapten Yogi membagi tugas pada setiap anggota, malam ini Iqbaal bertugas menyajikan makan malam untuk seluruh anggota. Iqbaal dibantu sepuluh personel yang lain untuk memasak, bagi Iqbaal memasak seperti ini tidak ada sulitnya karena ia terbiasa menyajikan makanan dalam satuan tugasnya. Jadi seharusnya Silvia bangga karena Iqbaal adalah pria yang multi talenta. Berbicara tentang Silvia, Iqbaal jadi mengingatnya lepas salat magrib mereka diberi waktu untuk beristirahat sebelum kemudian menjalankan tugasnya masing masing. Iqbaal duduk bersandar pada tas miliknya nyamuk semakin ganas dan menyeramkan padahal Iqbaal sudah memakai lotion pelindung agar dirinya terhindar dari nyamuk. Merasa sudah menemukan posisi yang nyaman Iqbaal merogoh ponsel dari saku bajunya, ia mendapati beberapa pesan w******p dan juga panggilan tak terjawab dari ibunya. Namun saat ia melihat ke arah jaringan tanda x tergambar di sana itu artinya di sini tidak ada jaringan dan Iqbaal harus menunggu esok lusa atau kapan pun untuk mendapatkan sinyal ponsel kembali. Namun Iqbaal membalas pesan satu persatu berharap pesan itu akan terkirim saat ponselnya ada sinyal. Setelah membalas pesan dari ibunya Iqbaal membalas pesan dari Silvia. Wanita itu bertanya apakah Iqbaal sudah sampai. Iqbaal mengetikan pesan balasan untuk Silvia, aku udah sampai udah mulai tugas juga doain yang terbaik yaaa.. Send satu pesan terkirim untuk Silvia, Iqbaal tersenyum setidaknya kali ini ada seorang perempuan yang sedang mencemaskannya dan menunggu kepulangannya dengan selamat. Malam semakin mencekam, Iqbaal sudah bersiap untuk menyalakan api unggun. Ia akan memasak bekal dari rumah rumah masing masing malam ini. Ia hanya perlu memanaskan air dan merebus bekal instan itu. Beberapa regu sudah bersiap dengan senjatanya masing masing ditempatkan dibeberapa penjuru untuk mengamankan perkemahan. Karena kita tidak pernah tahu dari mana musuh itu akan datang dan menyerang. ^^^ Silvia sudah tertidur sejak tadi, selepas salat isya dirinya memilih untuk beristirahat karena besok ia akan kembali memulai rutinitasnya sebagai seorang guru. Meskipun masih merasa malas untuk bertatap muka dengan ibunya Rendy namun Silvia tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja. Toh dirinya tiak bersalah apa yang mesti ditakutkan. Begitu pikir Silvia sejak tadi, tidurnya kali ini sedikit cemas karena lepas siang tadi Iqbaal tidak juga menghubunginya entah pria itu sudah sampai atau belum Sudah makan atau belum, tidur dimanakah dia, dan beralaskan apa pikir Silvia. Namun wanita itu berusaha menepis pikiran buruknya hingga ia terlelap tidur ditemani alunan musik yang hingga kini masih mengalun jelas. Waktu Indonesia Bagian Barat menunjukan pukul sepuluh malam, saat Silvia terbangun karena suara musik yang ia putar sebelum tidur tadi. Dengan cepat ia menghentikan musik itu berputar dan melirik jam diponselnya. Ia membuka matanya untuk melihat apakah ada pesan dari Iqbaal, namun kecewa yang ia dapat tidak ada pesan dari Iqbaal hanya ada pesan dari beberapa grup saja. Rupanya benar pria itu kini akan sulit dihubungi, memang dimana sebenarnya Iqbaal. Pergi bertugas kemana pria itu sampai sulit sekali untuk dihubungi. Jauh dalam hutan disana Iqbaal baru saja akan terlelap tidur saat ia mendengar suara tembakan. Suara itu terdengar begitu jelas dari sudut kanan tendanya dengan cepat ia melompat mengambil s*****a, begitu pun dengan rekannya yang lain bersiap untuk melihat ada apa diluar. “Siap siaga, ada musuh yang sudah mulai menganggu. “ Susana malam yang gelap hanya diterangi cahaya api unggun dan senter temaram membuat semuanya mencekam, dan mungkin ini saatnya ia berperang. Bersambung... Terimakasih untuk kalian yang mau memberikan love pada cerita ini, terus dukung cerita ini yaa semoga juga cerita ini menghibur selalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD