DUA BELAS

1151 Words
Dari kejauhan musuh memang sudah mengintai pasukan Iqbaal sejak tadi, mereka bahkan sudah bersiap untuk berperang karena persenjataan mereka cukup kuat untuk menghadapi pasukan Iqbaal. Bagi mereka mungkin mati tidak masalah, karena tidak ada keluarga yang menunggu mereka untuk pulang. “Sepertinya mereka sudah tahu keberadaan kita.” Ucap seorang pemberontak yang bersenjata lengkap. “Haha santai saja, mereka hanya akan menyerang jika kita melakukan pergerakan.” Balas seorang pemberontak lainnya yang sedang mengamati peregrakam dari pasukan Iqbaal. Pasukan pemberontak terdiri dari banyak orang, yang mustahil untuk gampang dikalahkan oleh pasukan Iqbaal namun setidaknya pihak Iqbaal berada di jalan yang benar. Sebagai seorang pejuang bukan pemberontak. “Jam berapa kita turun?” tanya seorang dari belakang. “Sebentar lagi saja, menunggu mereka lengah.” Jawab seseorang yang lain. “Siap.” “Hey persiapkan s*****a lengkap kita.” “Dimana pistol?” “Di dalam peti kemarin.” “Tas yang kemarin berisi timah dimana?” “Ada di si Kalin.” Suara riuh itu terdengar sedikit ke dalam tenda Iqbaal. Beruntung prajurit yang kebagian berpatroli tidak sampai tertidur dan tetap terjaga kemudian menyadari bahwa musuh sudah mulai mempersiapkan diri. “Lapor ndan, pasukan musuh sepertinya sudah mulai bersiap. Ada getaran suara yang kami dapatkan barusan.” Lapor seorang prajurit pada Iqbaal. “Pasukan bersiap.” Ucap Iqbaal berteriak. “Siap Ndan.” Jawab mereka serentak. “Komando satu?” “Siap.” “Ambil arah selatan, amankan bagian tersebut.” “Komando dua?” “Siap.” “Ambil arah barat!” “Siap?” “Siap,” jawab semua serentak. Mungkin bagi mereka pekerjaan tersebut adalah suatu adrenalin yang memicu semangat mereka untuk terus mempertahankan keutuhan negaranya. Tidak ada rasa takut, sepertinya yang ada hanya rasa bangga karena telah berjuang. Dor... Satu tembakan dilayangkan oleh musuh pada pasukan Iqbaal, beruntung tidak ada satu pun dari pasukan Iqbaal yang terkena dampaknya. “Waspada.” Teriak Iqbaal memperingatkan pasukannya untuk terus hati – hati. Karena dalam keadaan gelap seperti itu musuh tidak terlalu terlihat dengan jelas. “Arah Barat ndan,” teriak seorang prajurit yang mendengar ada pergerakan dari musuh. “Siap,” “Lengkapi s*****a kalian,” “Awas arah belakang,” “Biarkan musuh menampakkan diri terlebih dahulu.” Dan benar saja jika musuh sudah mulai turun satu persatu, sepertinya sejanta yang mereka pakai sudah lengkap. Terbukti dengan adanya rasa berani untuk menghadapi pasukan Iqbaal yang memiliki persenjataan lengkap. “Ndan mereka turun.” “Siap jangan lengah,” “Lepaskan satu tembakan ke arah selatan.” Teriak pemimpin pasukan mengambil tindakan. “Jangan,” “Ambil jalur aman, ketika musuh datang baru tembak mereka.” “Arah Barat,” “Siap.” “Lirik arah jam dua!” Dan duarrr, satu tembakan dilayangkan oleh pasukan Iqbaal dan membuat musuh kocar kacir, sepertinya ada yang terluka di pihak musuh. Beberapa tembakan juga dilayangkan musuh pada pasukan Iqbaal namun selalu bisa dihindari dengan mudah oleh pasukan Iqbaal. ^^ Silvia tiba-tiba bangun dari tidurnya karena suara berisik yang berasal dari bawah. Terdengar seperti suara Agil dan mungkin teman – temannya yang lain. Agil jarang sekali membawa temannya untuk bermain atau sekedar berkumpul dirumah. Mungkin saja ada acara atau temu kangen mungkin yang sedang berlangsung di bawah. Bodo amat dengan suara bising di bawah, Silvia kemudian mengambil ponselnya untuk melihat jam berapa saat itu. “Baru jam delapan,” ucap Silvia pada dirinya sendiri padahal ia merasa sudah tertidur sejak tadi dan merasa sudah tidur sangat lama. Tapi ia hanya tertidur satu jam saja, hanya saja mungkin ia tidur dengan lelap. “Mah di mana?” Silvia berinisiatif untuk mengirim pesan pada ibunya yang entah berada di mana. “Di dapur,” balas ibunya Silvia cepat, memang ibunya ini handal sekali seperti tidak pernah meninggalkan ponselnya. Maklum saja ibunya tersebut bekerja sebagai bos di perusahaan keluarganya. “Aku laper,” balas Silvia lagi “Turun ini banyak makanan.” Tanpa membalas lagi pesan ibunya Silvia kemudian masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya agar tidak terlalu terlihat muka bantalnya yang tidak enak di pandang. Selesai mencuci wajahnya Silvia kemudian turun ke bawah, menapaki anak tangga satu persatu. Makin bawah semakin terdengar suara teman Agil yang besar khas suara lelaki. “Eh kak apa kabar?” tanya teman Agil saat melihat kedatangan Silvia yang baru saja turun dari tangga. “Hai baik kok,” jawab Silvia sambil tersenyum pada teman – teman Agil. “Baru bangun lo kak?” tanya Agil pada Silvia kakaknya. “Hm kebangun,” jawab Silvia. “Sorry kak kita berIsik yah,” ucap teman Agil yang merasa tidak enak karena mengganggu Silvia yang sudah tertidur. “Haha dikit kok, ini laper.” Balas Silvia menepis rasa tidak enak mereka sambil mengusap perutnya. “Yaudah pamit yah,” ucap Silvia hendak berlalu menuju ke dapur untuk makan karena cacing diperutnya terdengar seperti sedang konser. “Iyah, sory yah kak.” “Iyah.” Jawab Silvia sebelum berlalu. Setelah itu Silvia berjalan menuju dapur untuk makan, di sana ibunya dan mbak Narti asisten rumah tangga mereka sedang membersihkan kulkas yang entah apa penyebabnya sampai semua isi kulkas mereka keluarkan. “Kok ini dikeluarin semua sih?” tanya Silvia heran. “Inimau beresin aja biar lebih rapih.” Jawab ibunya sambil memasukkan makanan ke dalam toples agar terlihat rapi. “Oh kirain kenapa.” Balas Silvia, sambil duduk di kursi meja makan setelah itu menuangkan air ke dalam gelas untuk diminum. “Makanan disana kak.” Tunjuk ibunya ke atas meja makan yang sudah tersaji banyak makanan “Itu temennya Agil udah makan?” tanya Silvia. “Udah barusan mereka habis makan,” jawab ibunya. “Eh mbak ini paling atas yah,” lanjut ibunya menyuruh mbak Narti menaruh toples dibagian paling atas. “Baik bu,” “Kamu tidur dari tadi?” tanya ibunya Silvia kembali fokus pada puterinya. “Iyah ketiduran, tapi kebangun berisik di bawah.” Jawab Silvia jujur karena ia terbangun oleh suara teman – teman Agil yang sedang berkumpul di ruang tamu. “Mereka seru banget kayaknya dari tadi,” balas ibunya Silvia. “Iyah biarin aja mah kasihan juga mereka jarang ke sini.” Ucap Silvia kasihan pada adiknya itu karena memang jarang sekali ada perkumpulan teman – temannya yang datang ke rumah mereka. “Iyah dari tadi juga dibiarin seru banget kan kayaknya.” “Eh mbak udah dikasih buah mereka?” tanya ibunya Silvia saat melihat persediaan buah mereka masih banyak sekali. “Udah bu tadi saja bawain buah ke depan.” Jawab mbak Narti. “Oh iyah kirain belum ini buah masih banyak, besok kasih ke keluarga kamu aja.” “Beresin semua mbak.” Timpal Silvia. “Iyah buk.” “Mah aku makan yah.” Ucap Silvi. Akhirnya Silvia yang tidak berniat makan malam berakhir dengan makan malam juga. Karena merasa begitu lapar dan tidak ada jalan lain kecuali makan apalagi melihat makanan yang sudah tersaji di meja makan. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD