BAGIAN ENAM PULUH SATU Sejak pengakuan dari ibunya Silvia malam tadi, Agil dan Silvia seolah kehilangan semangat mereka. Bahkan Agil dengan sengaja membalik lukisan besar wajah alm.ayahnya yang menggantung di tembok dengan alasan tidak ingin lagi mengingatnya. Rasa sakit itu menjadi cambukan berat bagi Agil apalagi itu melanda hubungannya dengan Nadira. Ia tidak pernah berfikir jika masa lalu orang tuanya sekelam itu dan menjadi penghalang cintanya kini. Tangan kanan Agil memegang sebuah gunting dan tangan kirinya memegang sebuah foto keluarga mereka, di mana di dalamnya mereka tampak Bahagia. Ibunya yang duduk manis dengan sang ayah sementara Silvia kakaknya bersama dirinya masing masing berdiri dan memegang Pundak kedua orang tuanya. Pemandangan yang selalu Agil rindukan untuk terula

